Laman

Kamis, 30 Mei 2013

Salah Sangka

"Hey, penyanyi dangdutnya jangan dicolek!" Mas Alim menegurku.


"Sorry, Mas. Abis nafsu sih. Field job berminggu-minggu nggak ketemu istri begini... berasep juga deh pala," aku beralasan.


"Iya, aku ngerti. Tapi jangan ama si Neneng, dia nggak bersih, lagian nggak cantik juga." Mas Alim menasehati lagi. Lalu dia berbisik, "Ssst, kalo emang udah nggak tahan, ada kok solusinya," begitu dia bilang.


Dalam hati aku kaget juga. Masak sih Mas Alim yang beneran alim ini nawarin 'solusi'? nggak salah?!

 

"Ssst, denger ya... dari basecamp ini, kamu jalan deh ke bawah sana. Temui Mbak Ratna, wanita cantik yang baru pindah dari kota. Ama dia bereslah... sabtu-minggu dia bebas, kita-kita sering kok pake jasa dia," katanya mengedip.


Ya udah. Mengikuti rekomendasi Mas Alim, sabtu pagi, blas! Aku menghilang, turun menuju kantor desa itu. Pas ketemu Mbak Ratna, kaget juga. Ternyata dia cantik sekali, sangat putih dan manis, tubuhnya juga seksi abis, tinggi dan sangat montok walau agak sedikit gemuk. Tak apa, yang penting perabotnya tetap bulat dan membusung, tipe kesukaanku. Sayangnya, dia agak sulit dirayu. Tapi karena sudah telanjur konak, ditambah sudah direkomendasi sama Mas Alim, maka aku pun nekat. Kudekati dia.


“Malam, Mbak.“ sapaku dengan sopan.

“Malam juga,“ sahut Ratna yang kemudian memperkenalkan diri, nama lengkapnya ternyata Ratna Dumilah, kelahiran Surabaya, 20 Desember 1983. Kujabat tangannya yang halus saat dia mengulurkannya sambil sekaligus kulirik besaran buah dadanya yang sedikit terbuka. Hmm, cukup montok dan bulat juga.

“Kamu kerja sama Mas Alim ya?” tanyanya kemudian.

“Iya, saya temennya.“ sahutku dengan tersenyum.

Dengan tidak canggung, kami mulai saling ngobrol. Kubelikan dia minuman agar kami menjadi semakin akrab.

”Nggak usah, Mas. Jangan repot-repot.” dia menolak dengan halus.

“Nggak apa-apa, Mbak... saya senang dapat teman baru,“ sahutku dengan senyum menggoda sambil terus mencuri-curi pandang ke arah buah dadanya yang over size itu, kubayangkan kepalaku tenggelam dalam belahannya yang curam dan lembut, ugh betapa nikmatnya.

”Betah kerja disini?” tanya Ratna lebih jauh.

“Yah, lumayan. Apalagi kalau ditemenin wanita cantik seperti Mbak.“ kataku menggoda sambil menaikkan sedikit kepalaku sehingga bisa melihat lebih dalam tonjolan buah dadanya.

Ratna ikut tersenyum sambil semakin merendahkan dadanya, membuat segala yang ada disana jadi menggantung sangat indah. “Ah, mas bisa aja,” sahutnya.

“Mbak disini kerja apa?” tanyaku penasaran.

“Saya ngajar kesenian di SD, cuma bantu-bantu, biar ada kegiatan sambil nungguin anak saya yang lagi diterapi.” jelasnya.

”Diterapi?” tanyaku tak mengerti dengan mata kembali mencuri ke arah belahan buah dadanya.

”Iya,” ia mulai menjelaskan segala tentang Alya, putri kecilnya yang divonis autis oleh dokter. ”Begitu mendengar kalo disini ada terapi autis yang bagus, saya langsung kesini.” tambahnya.

Aku ikut simpati mendengarnya, tapi tetap tak menyurutkan niatku untuk bisa menikmati kesintalan tubuhnya. Habis sudah telanjur konak sih. Sore itu kami ngomong banyak, Ratna curhat banyak kepadaku bak teman lama yang baru bertemu kembali. Tapi saat kuutarakan niatku, dia langsung menyuruhku untuk diam.

”Iya, saya mengerti.” potongnya. ”Seperti yang biasa dilakukan mas Alim dan teman-temannya kan?” tebaknya.

Aku mengangguk. ”Jadi, kita langsung aja?” tanyaku sambil melirik paha mulusnya yang dibalut rok pendek ketat selutut.                    

”Tarifnya tigaratus ribu sehari, sudah tahu kan?” tanyanya.

Aku mengangguk lagi. Uang segitu sih kecil buatku, malah menurutku sangat murah bila dibanding tubuhnya yang sintal. “Jadi kalau sampai minggu sore, saya harus bayar enamratus ribu gitu?” tanyaku.

Dia mengangguk. ”Dan dibayar di muka, hehe” Ratna tertawa.

Kukeluarkan dompetku dan segera membayarnya. Setelah menerima dan menghitungnya, Ratna kemudian menyelipkannya ke balik saku. ”Saya senang berbisnis dengan orang-orang kayak, Mas.” dia tersenyum.

”Saya juga, senang bisa mengetahui ada orang secantik mbak di desa terpencil seperti ini,” sahutku.

”Kalau bukan karena mau mengobatkan anak saya, nggak mungkin saya berada disini, Mas.” balasnya.

Kami kembali saling menatap dan tersenyum. “Hmm, suami Mbak dimana?” tanyaku mulai merayu. Aku tidak ingin pas lagi enak-enaknya tiba-tiba suaminya datang mengusirku.

“Suami saya ada di Jakarta, bisnisnya nggak bisa ditinggal,” jawaban yang cukup melegakanku.

Tidak berkata lagi, segera kupegang kedua tangannya. Ratna sedikit terkejut menerimanya, mungkin karena baru kali ini ada calon pelanggan yang lebih nakal dari dirinya, hehe.

“Maaf, jangan seperti ini.” Ratna tersenyum, namun kemudian menunduk. Saat itulah, dia tanpa sengaja menatap selangkanganku yang sudah menonjol indah, batang kontolku yang sudah ngaceng berat tercetak jelas disana.

”Kenapa tidak? Saya kan sudah membayar mbak.” kulancarkan serangan susulan, cepat kulingkarkan tanganku ke pinggangnya yang ramping.

“Iya, tapi bukan... Jangan nakal, Mas!!“ tolak Ratna ketika aku berusaha mengusap bokongnya.

”Saya cuma pingin meluk mbak aja kok,” sahutku pendek dengan tetap tersenyum. Ratna terdiam, membiarkan tanganku menempel di pinggangnya. Perlahan aku mendekat ke tubuhnya yang harum, rambut pendeknya yang dicat coklat membuatku semakin mabuk kepayang. Aku terus melancarkan gerilya, tanganku yang nakal mulai merambat ke atas menuju ke tonjolan buah dadanya.

“Tolong, Mas. Kita tidak boleh melakukan ini.” kata Ratna dengan nafas memburu, ia tampak mulai tak tenang. Tangannya berusaha menekan tanganku yang sudah sangat dekat dengan buah dadanya yang besar itu.

“Sudahlah, saya sudah bayar Mbak untuk melayani saya ngentot malam ini.” jawabku enteng sambil langsung memegang buah dadanya.

“Jangan kurang ajar, Mas...
Mas salah paham!” hardik Ratna sengit.

Namun aku tak peduli. Aku sudah telanjur konak dan kepalang basah, segala omongannya tidak lagi aku dengarkan. Yang ada di pikiranku cuma bagaimana bisa secepatnya merasakan tubuh montok wanita yang satu ini. Jadi langsung kubekap mulut manis Ratna dan kutekan tubuhnya ke sofa. Ratna awalnya berusaha memberontak, namun tentu saja kalah tenaga denganku. Aku sudah memeluknya erat sambil terus memegangi buah dadanya yang besar itu, tanganku meremas dan memencet-mencet lembut disana.

“Aku aku ingin dirimu, Mbak... kau sungguh menggodaku!“ bisikku dengan nada pelan sambil tanganku meluncur nakal menuju ke arah selakangannya. Ratna berusaha terus memberontak, namun rontaannya itu lama-lama menjadi lemah dan akhirnya berhenti sama sekali. Mungkin dia sadar kalau usahanya itu akan sia-sia belaka.
 

“Jangan... saya wanita baik-baik... mas sudah salah paham!“ jerit Ratna panik saat tanganku mulai melepaskan kancing kemejanya satu per satu.

”Sudah terima uang, tapi nggak mau melayani... apa itu yang disebut wanita baik-baik?!” tuduhku dengan mata tak berkedip memandangi buah dadanya yang mulai menyembul indah.

Ratna terlihat marah sekali, wajah cantiknya sampai merah padam dibuatnya. ”Mas tidak mengerti, uang itu....”

“Untuk membayar tubuhmu, Mbak!” kupotong ucapannya sambil tersenyum, lalu kuangkat dagunya yang lancip dan langsung kuserbu bibirnya yang merah tipis.

Awalnya Ratna terlihat sangat terkejut, dia menolak keras lumatanku, sekuat tenaga dia berusaha mendorong tubuhku yang kini sudah menindih tubuhnya. Tapi saat tanganku dengan kurang ajar menyelinap ke dalam roknya dan langsung masuk ke balik celana dalamnya, dia langsung terdiam. Bahkan desah dan rintihannya yang mulai terdengar, menggantikan umpatan-umpatan kasar kepadaku sebelumnya. “Ooh... ooo... ooh... Mass... jangan!“ bisiknya dengan nada lemah.


“Jangan apa? Jangan berhenti?!” sahutku nakal sambil mengelus-elus lubang memeknya yang terasa hangat di telapak tanganku. Ratna hanya terdiam pasrah menerimanya. Kembali aku menunduk untuk melumat bibirnya, untuk kali ini, Ratna tidak menolak. Kami saling beradu bibir. Dia menanggapi ciumanku dengan perlahan-lahan, sementara di bawah, tanganku semakin gemas mencolek-colek liang memeknya.

“Mass... oughh... s-sudah... aah… aku...“ rintih Ratna kegelian.

“Sst... diam, mbak nikmati aja.“ sahutku sambil menurunkan cup bra ke bawah sehingga bagian dadanya yang besar itu menjadi tontonanku. Di bawah, kutarik celana dalamnya hingga ke lutut, membuatku bisa semakin nakal mempermainkan lubang vaginanya.

“Duuh… kok kamu nekat sih, Mas... kalau ketahuan orang gimana?“ tanya Ratna dengan mata merem melek keenakan.

Bukannya menjawab, aku malah membuka resluting celanaku dan mengeluarkan kontolku yang sudah menegang dahsyat. Mata Ratna langsung melotot begitu melihatnya, dia sampai menutup mulutnya dan mundur sejengkal begitu menatap kontolku yang sudah ngaceng besar.

Aku kemudian berdiri di depannya, “Emut kontolku, Mbak!!“ pintaku sedikit memaksa.

“Mas, ini bukan urusan seks, tapi...“ elak Ratna.

Tapi aku segera memotongnya kembali, “Lupakan... rasakan kontolku dulu. Mbak juga nakal, dari tadi lirak-lirik selangkanganku terus.“ sahutku sambil menekan kepalanya, memaksa Ratna untuk menelan batang penisku. Sadar kalau tidak bisa mengelak, diapun menurut. Ratna mulai menjulurkan lidahnya untuk menjilati ujung kontolku, kusingkapkan rambutnya agar dia bisa leluasa bergerak, aku juga ingin melihat bagaimana wanita cantik itu mengulum kontolku.

Dengan tangan gemetar, Ratna memegangnya. Setelah dia menjilati kontolku empat kali, dia mulai membuka mulut dan mengulumnya. Tapi baru sebentar saja, dia sudah merasa jengah dan meludah ke lantai. Rupanya kontolku yang besar itu tidak sanggup disantap olehnya. Namun aku yang sudah kepalang basah terus memaksanya. Sambil kembali kubuka mulutnya, mulai kulepas kemeja hijau yang ia kenakan, kulepas benda itu hingga kini kebesaran buah dada Ratna benar-benar terekspos indah, membuatku langsung gila dan lupa daratan.

Kususupkan tanganku kesana untuk memegangi bulatannya yang over size, kuremas-remas pelan benda itu sambil kuelus-elus ringan putingnya. Rasanya yang begitu lembut dan kenyal semakin membuatku bergairah dan penasaran, cepat kupelorotkan celanaku hingga kami jadi sama-sama telanjang. Ratna memandang tubuh bugilku dengan sinis, terlihat sekali kalau dia masih belum rela melakukan ini. Dalam hati aku bingung juga, apa sih yang dia inginkan? Uang sudah ia terima, tapi kenapa masih belum total dalam melayaniku?

Kontolku yang besar menjulang karena ngaceng kembali kusodorkan ke mulutnya, Ratna menampiknya hingga benda itu jadi menempel di pipinya. Aku tersenyum kepadanya, namun Ratna segera memalingkan mukanya ke samping.

“Ayo dong, Mbak... kan sudah kubayar sesuai tarif, emang uangku kurang ya? Tuh lihat kontolku sudah ngaceng pengen ngewe memek Mbak Ratna.“ rajukku sambil semakin kalap memeluk dan mengelus-elus kemontokan buah dadanya yang terburai ke keluar.

”Sudah, Mas... jangan! Bukan masalah uangnya, tapi...” tolaknya dengan setengah hati.

“Hmm... susu Mbak gede banget! Saya suka bermain di susu yang gede, nanti kontolku kugesek-gesekkan kesitu ya?!“ kataku, membuat Ratna cepat-cepat menutupi kedua buah dadanya dengan tangan, dia  tampak ketakutan dengan bibir bergetar, tidak menyangka ada laki-laki yang begitu nekad ingin menyetubuhi dirinya. Aku kemudian berjongkok untuk menatap matanya, namun Ratna menolak tatapanku dengan memalingkan mukanya. Kulihat lubang di memeknya sudah mulai basah, aku ganti mengalihkan tatapanku ke situ.

“Kok sudah basah, Mbak... jangan-jangan sudah nggak sabar ya pengen disodok-sodok sama kontolku?” tanyaku sambil memamerkan kontolku yang masih menegang dahsyat di depan hidungnya, membuat Ratna makin terdiam saat memandanginya.

“Jangan cuma dilihat, Mbak... dipegang juga boleh!“ godaku sambil menggerakkannya naik-turun, membuat benda itu jadi makin kelihatan jantan dan menarik.

“Buka mulutmu. Mbak... emut lagi kontolku.” pintaku. ”Nanti aku oral memek Mbak sebagai balasannya,“ rayuku semakin menggila, namun Ratna hanya menutup mulutnya. Kusodorkan kontolku, dia malah menutup mata dan menggeleng-geleng. Kutekan kontolku ke bibirnya yang rapat, kutatap lagi wajahnya yang cantik, Ratna memejamkan matanya semakin erat, sama sekali tidak berani menatap penisku. Aku tersenyum, dasar wanita munafik! Kalau memang menolak, kenapa tidak berteriak dan kabur saja, pintu rumahnya kan tidak terkunci!

Kupandangi buah dadanya yang besar, yang menggantung sangat indah di depan dadanya. Putingnya yang bulat tampak segar, dengan warna merah muda yang begitu cerah. Keringat yang mulai mengalir di seluruh tubuhnya makin menambah daya tarik benda itu. Bagian memeknya yang penuh jembut juga terlihat begitu menggoda, dan makin lama kulihat semakin basah seiring rangsanganku yang membuatnya semakin terbuai oleh nafsu.

“Ayo emut, Mbak!“ kataku lagi.

Ratna memundurkan kepala dan membuka matanya, lalu berkata, “A-aku nggak sanggup, Mas... kontol mas gede banget... bibirku kelu!“ rintihnya dengan bibir gemetar.

“Kalau gitu, aku langsung coblos memek Mbak aja ya?” ajakku sambil mendorong pundaknya agar ia berbaring telentang di sofa.

“Jangaan!!” tolak Ratna gelagapan.

“Berarti emut kontolku dong!” kataku lagi.

“T-tidak!!“ sahutnya sekali lagi, matanya kembali terpejam.

Cukup sudah, aku kehilangan kesabaran! Tanpa berkata, cepat kumajukan selangkanganku dan kutekan kuat kontolku sampai menyentuh bibirnya. “Ayo buka, Mbak!!“ hardikku dengan nada tinggi sambil kupencet hidungnya hingga mau tak mau terpaksa Ratna membuka mulutnya.
.
”Hmm,” perlahan bibirnya terkuak, namun sangat kecil.

“Kurang lebar, Mbak!!“ perintahku lagi, yang disusul terbukanya mulut Ratna lebih lebar lagi. Aku langsung mendorong masuk kontolku dengan paksa, membuat Ratna membeliakkan mata karena saking besarnya.

“Mmpphmp!!“ lenguhnya, sama sekali tidak menyangka kalau kontolku akan melesak keras ke dalam mulutnya, dia berusaha menahan dengan menekan pinggangku agar benda itu tidak masuk lebih dalam lagi.
Saat itu, sudah hampir separo batangku yang menancap.

“Ayo, Mbak... buka mulutmu… tinggal sedikit lagi! Buat apa mbak kubayar kalau bukan buat ini?!” bujukku tak sabar sambil menekan kontolku kuat-kuat hingga benda itu amblas lebih dalam ke mulutnya. ”Diperkosa itu tidak enak lho, Mbak... mending nikmati aja kontolku!!” kataku lagi membujuknya.
 
Perlahan Ratna mulai menjulurkan lidahnya dan menjilati kepala kontolku, kurasakan sentuhan dan gesekan lidahnya yang begitu nikmat, membuat kontolku jadi seperti dielus-elus daging halus mulus. Sontak aku merasakan horny yang luar biasa, kontolku semakin mengacung tegak dan mengeras tajam. Perlahan kutarik dan kumajukan di mulut Ratna yang mungil, wanita itupun mengikuti gerakanku, kepalanya mulai bergerak pelan mengulum kontolku yang tertanam sesak di dalam mulutnya. Dia mulai mengemut dan mempermainkannya. Ugh... membuatku suka dan tergila-gila.

“Iya... terus, Mbak... enak... hisapan Mbak enak banget... arghh!!“ racauku sambil merogoh buah dadanya yang bergelantungan indah, perlahan kupijit dan kuremas-remas hingga membuat Ratna menggeliatkan tubuhnya. Sedikit merintih, dia terus mengulum kontolku.

”Sambil dikocok, Mbak! Aku pengin Mbak bermain dengan kontolku!!“ perintahku kemudian.

Tidak membantah, Ratna kemudian mengocok kontolku pelan-pelan. Tangannya yang lentik itu tampak tidak sanggup melingkari batangku. Sambil mengocok, kuminta dia untuk menjilati ujung dan kantung kemihnya juga. ”Yah, bagus... terus begitu, Mbak... ughh... enak banget!” rintihku suka. Kontolku yang sudah basah oleh air liur itu jadi terasa mudah dikocok olehnya.

“Kita enam sembilan, Mbak... siap yaa?“ kataku sambil mendorong tubuhnya agar tiduran kembali. Ratna pun menurut, dia menggeser duduknya lalu rebahan kembali di sofa.

“Aku suka memek Mbak yang penuh jembut ini, “ ujarku sambil naik ke kursi dan mengangkangi tubuhnya. ”Buka pahanya, Mbak... uuuh... sudah basah banget... Mbak sudah nggak tahan ya? Sabar deh… aku bikin memek Mbak lebih basah lagi!“ kataku sambil membungkuk dan langsung menjilati memeknya yang basah itu dengan penuh nafsu. Ratna mendesis dan menggelinjang tak karuan menerimanya, tangannya sampai menggapai-gapai meja yang ada di sampingnya. Sementara aku terus menyapu memek yang basah itu dengan lidahku, juga kujilati lubangnya yang sempit berkali-kali, serta kuhisap dan kucucup cairan yang keluar dari dalam sana dengan sangat rakus.

“Ooh... aahh... aaah... aduh... jangan keras-keras, Mas... geli... geli banget... aku nggak tahan... ughhh...” desis Ratna dengan kepala menggeleng-geleng, mulutnya terus menceracau sampai akhirnya kuturunkan selangkanganku tak lama kemudian. Tanpa kuminta, ia langsung melahap dan menghisap kontolku yang berada tepat di depan mulutnya.

“Hmm... Mbak sudah doyan kontol rupanya,“ godaku sambil kembali mempermainkan lubang memeknya, aku makin bersemangat menggarap tubuh perempuan cantik yang satu ini. Dengan rakus terus kujilati lubang memeknya, benda itu menjadi semakin basah dan memerah seiring aksi nakalku. Belum lagi pahanya yang montok, yang terus kuelus-elus dengan lembut, sambil jari-jariku meraba dan mengusap-usap bulatan bokongnya, lengkap sudah aku menjelajahi seluruh tubuhnya.

Tubuh kami juga sudah penuh oleh keringat. Sekarang, tidak cuma menjilat, aku juga mulai mempermainkan biji klirotisnya itu. Kucucup dan kusedot-sedot benda mungil itu hingga membuat Ratna makin cepat bermain dengan kontolku. Kami sudah sama-sama dibuai oleh nafsu.

“Sudah, Mbak!“ kataku saat sudah tak tahan, “Aku sudah pengin ngentotin memekmu.” ajakku sambil menahan mulutnya yang masih asyik mengulum penisku.
Ratna pun menurut, dia memberikan penisku.

Aku pun memutar tubuh dan menindihnya, sekarang kami berbaring saling berhadap-hadapan. “Lebarkan pahanya, Mbak... wuih, pasti nikmat ngegenjot tubuh Mbak dari atas.“ pujiku tulus.

“Iya... genjot aja tubuhku sepuasmu.“ sahut Ratna, inilah kalimat pertama yang ia ucapkan dalam sepuluh menit terakhir.

Puas aku mendengar jawabanku, berarti dia sudah sepenuhnya bisa menerima kehadiranku. Kalau begini kan uang yang aku keluarkan jadi tidak sia-sia. Sambil menurunkan pinggul, kulumat bibirnya yang tipis. Ratna membalas pagutanku dan membimbing tanganku agar meremas-remas buah dadanya yang sebelah kiri. Dia sedikit menggeliat saat aku melakukannya, apalagi saat kudesakkan kontolku pada lubang memeknya yang basah, dia langsung merintih dan menjerit kecil.

“Aaaah... s-sakit, Mas!! Aaaa... sssh... pelan-pelan!” lenguhnya merasakan tusukan kontolku. “Tarik dulu! Ughhh...“ tambahnya kemudian. Tidak ingin membuatnya kesakitan, segera kutarik kontolku hingga ke ujung tapi tidak sampai lepas. Saat dia sudah agak tenang, baru kutekan lagi, dan kali ini dengan sekuat tenaga hingga membuat Ratna mendongak dan menjerit panjang.

”Auooughhhh.... Maass!!” teriaknya pilu. Segera kubungkam mulutnya dengan ciuman sambil kuatur rambutnya agar tidak menutupi kecantikan wajahnya. Kubiarkan penisku tetap tenggelam di lubang memeknya, tapi tidak kuapa-apakan, kutunggu hingga ia tenang dan santai. Sambil menunggu, daripada nganggur, aku bermain dengan gundukan payudaranya. Kuremas-remas benda bulat empuk itu sambil tak lupa kucium dan kujilati putingnya hingga membuat Ratna menjerit lagi karena kegelian.

Setelah dia agak tenang, baru kutarik dan kutekan kontolku. Kulakukan secara perlahan, tapi tak urung tetap membuat Ratna gemetar dan merintih tak karuan. Bahkan dia sampai membusungkan dadanya ke atas. Segera kuhisap semakin rakus sambil kugerakkan kontolku keluar masuk di lubang vaginanya semakin cepat. Rasanya luar biasa sesak, tapi sungguh sangat nikmat sekali. Keringat semakin membanjiri tubuh kami berdua, padahal hawa saat itu lumayan dingin. Berkali-kali aku terus turun naik di atas tubuh sintal Ratna, dengan tenaga besar kuhujamkan kontolku dalam-dalam agar amblas mentok ke dalam memeknya.

“Aaaaaaaahh...!!!!” lenguh Ratna dengan nafas ngos-ngosan itu, aku terus memberondongnya, sama sekali tidak memberinya jeda untuk bernafas. Kukejar bibirnya yang menganga tipis dan kulumat sekali lagi sambil pantatku terus naik turun menggenjot tubuh sintalnya.

“Aaah... Mass... a-aku... aku nggak kuat... aaah!!“ erang Ratna dengan tubuh kelojotan tak karuan, sementara genjotan demi genjotan terus aku lakukan. Susu besarnya yang tampak bergoyang indah segera kupegangi dan kuremas-remas lembut. Kami terus berpacu dalam gerakan yang saling berlawanan

“Uuh... memek Mbak enak banget... uuuh...” merasa nikmat, aku menggenjot semakin cepat, aku juga sudah merasa tak tahan. Ratna berusaha mengontrol agar kontolku tidak sampai muncrat di dalam, namun karena terbuai oleh serbuan, ia pun hilang akal dan akhirnya pasrah jika aku menggelontorkan spermaku menembus rahimnya.

Kurasakan memek sempit Ratna sangat kuat menjepit kontolku, matanya yang bulat tampak terpejam rapat menikmati apa yang sedang kulakukan, sementara tubuhnya yang sintal sampai tergoncang-goncang akibat begitu kerasnya tusukan penisku. Saat itulah, ia tiba-tiba menjerit keras sambil merangkul tubuhku. Rupanya Ratna sudah mencapai orgasme. Dadanya membusung tegak saat cairan cintanya menyembur keluar.

“Oooooooh...!!!” jeritnya kuat dengan tubuh menggelinjang.

Kutingkahi teriakannya dengan geraman kasar saat aku menyusul tak lama kemudian. ”Aaaaaaaah...!” erangku sambil kuhujamkan pinggulku dalam-dalam ke lorong memeknya dan kusemburkan isi kontolku disana.

Kami berdua sampai kelojotan bertindihan saat cairan kami bertemu dan bercampur menjadi satu. Ratna tampak ngos-ngosan dengan keringat yang membanjir di seluruh tubuh mulusnya, sementara aku juga lemas setelah menguras seluruh isi ’tabunganku’. Kurasakan cairanku begitu banyak hingga sebagian meleleh keluar dari sela sela memek Ratna. Wanita itu masih terdiam dengan dada naik turun menggiurkan dan mata setengah tertutup. Sejenak kami berpelukan, namun aku terkejut ketika tangannya tiba-tiba menepuk pundakku keras-keras.

“Kurang ajar... kenapa dikeluarin di dalam?“ sungut Ratna dengan wajah marah. ”Gimana kalo aku sampai hamil?” hardiknya.

”Itu resiko perkerjaan, Mbak, terima aja. Ayo, aku masih pengen lagi!” Kutarik tubuhnya dan kududukkan di depanku, dia tampak shock melihat kontolku yang penuh lendir.

“Jilati, Mbak... bersihkan spermaku... telan semuanya...“ pintaku sambil memegangi kepalanya.

Dengan tatapan kosong, diapun melakukannya. Begitulah, meski awalnya sedikit memaksa, akhirnya aku berhasil melampiaskan segala hasrat birahi ke tubuh perempuan cantik pindahan dari kota ini sepanjang sabtu-minggu. Oye! Mumpung suaminya lagi nggak ada. Beda sama istriku yang garang dan dominan di ranjang, Ratna ternyata begitu lembut dan empuk, tapi sangat sempit dan mencengkeram. Jos lah pokoknya. Yah maklum, orang kota gitu lho.

Setelah puas, senin pagi, aku pun kembali ke basecamp dengan sumringah.

"Gimana, puas? Kena bayar berapa?" tanya Mas Alim di pintu masuk.

"Puas banget, Mas.
Saya kena enamratus ribu." sahutku.

"Hah! Cuma enamratus? Untuk bensinnya aja bisa abis segitu? Kok bisa dapet murah, rayuan kamu pasti maut!" kata Mas Alim.

"Bensin? Bensin apaan?
Kan cuma modal dengkul aja, ama atasnya dikit, hehe... Ya kalo rayuan sih maut. Tadinya, dia nolak-nolak gitu deh, pura-pura jaim, tapi setelah aku paksa-paksa, akhirnya jos juga. Aku gasak terus dia dua hari ini."

”Gasak? Maksudnya?” tanya Mas Alim tak mengerti.

"Lho, bukannya Mas yang nyuruh? Bukannya Mas juga sering?" tanyaku baling, mulai bingung juga.

"Hah?!! Gila kamu!! Mbak Ratna kamu entotin?" teriak Mas Alim tak percaya.

Aku mengangguk, ”Emang salah ya?” tanyaku ragu.

"Ngawur kamu. Aku tuh bilang, kamu datangi dia buat booking mobilnya. Bukankah di kampung ini hanya dia yang punya mobil. Nah, dengan mobil itu, kamu bisa pulang ke rumah sepanjang week-end, bermesraan sama istri kamu, gitu. Bukannya Mbak Ratna-nya yang kamu gasak! Dasar goblok!" jelas Mas Alim.

"Oh, jadi begitu, hehe... Walah! Pantesan kemarin Mbak Ratna awal-awal berontak terus, ternyata amatiran toh, bukan profesional.
Gimana nih? Abis dulu Mas instruksinya nggak jelas sih." kilahku.

"Eh, kok aku yang disalahin?"
Mas Alim pun ngacir.

Nasi udah menjadi bubur. Tapi tak apa, buburnya sangat enak sekali, aku suka dan tak menyesal telah memakannya. Bahkan minggu depan aku berniat untuk menggunakan ‘jasa’ Ratna lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar