Laman

Senin, 01 April 2013

Muslihat Kakek Dewo



Di jalanan desa di sebuah pegunungan selatan Jawa Timur, tampak seorang laki-laki berusia lanjut sedang berjalan dengan gontai. Dilihat dari perawakan dan keriput di kulitnya, usianya kurang lebih mendekati 60 tahun. Tapi meski begitu, bentuk fisiknya masih terlihat kuat, seperti layaknya lelaki yang berusia 35 tahun. Maklum, sehari-hari dia bekerja sebagai kuli bangunan. Pekerjaannya yang berat membuat kondisi fisiknya tetap terjaga dengan bugar. Menjadi kuli bangunan tidak dilakukannya di negeri sendiri, tapi di Malaysia. Dia menjadi TKI disana. Kini, setelah 30 tahun berada di Malaysia, dia pulang untuk melihat kampung halamannya.  

Terpancar raut wajah lelah di muka lelaki bernama Dewo itu. Sudah dari tadi dia mencari rumah orang tuanya di desa Wonosari, tapi masih belum ketemu juga. Suasana kampungnya memang tidak banyak berubah, hanya jumlah rumahnya saja yang sedikit bertambah. Dulu hanya ada sekitar dua puluh rumah, sekarang mungkin tidak lebih dari 60 rumah. Maklum, desa Wonosari merupakan daerah terpencil di pegunungan. Penerangan listrik pun belum masuk ke desa tersebut.

Sudah hampir tiga jam Dewo mencari rumah orang tuanya. Ketika sudah ketemu dan didatangi, ternyata bukan kedua orang tuanya yang menemui, melainkan seorang berbaju muslim yang sepertinya adalah seorang Kyai. Rumah itu sudah berpindah tangan. ”Mungkinkah Kyai itu adalah anak pungut orang tuanya dulu?” Dewo berkata dalam hati.

“Mencari siapa, Pak?” tanya Kholil kepada Dewo.

Dengan tergagap Dewo menjawab, “Apakah benar ini rumah Pak Markum?”

Kholil terkejut ketika Dewo menanyakan Markum, bapak angkatnya. ”Bapak siapa?” tanya Kholil balik.

”Saya adalah anaknya yang telah lama pergi merantau.” jawab Dewo terus terang.

Betapa terkejutnya Kholil mendengar jawaban itu. Markum, bapaknya, memang pernah berkata kalau dirinya mempunyai anak. Tapi karena kenakalannya, anak itu diusir pergi. Dan sampai Markum dan istrinya meninggal, anak itu tidak pernah kembali ke rumah.

Kholil segera mempersilahkan Dewo untuk masuk ke dalam, dia kemudian memanggil istrinya. ”Nyai, ada tamu. Tolong si Rohmah dan adikmu diajak sekalian.”

Tak lama kemudian, Nyai Siti, istri Kholil, keluar diiringi oleh dua orang gadis muda yang terlihat malu-malu.

”Nyai, ini ada tamu. Pak Dewo ini adalah anak dari bapak angkat kita. Pak Dewo ini sudah sekian lama merantau dan sekarang pulang ke desa ini untuk mencari Pak Markum.”

Mendengar apa yang dikatakan Kyai Kholil, betapa terkejutnya mereka, karena tidak menyangka akan bertemu kembali dengan anak Pak Markum yang asli. Akhirnya keluarga itu dengan hormat menjamu Dewo.

Nyai Siti berumur 35 tahun, wajahnya mirip artis Titi Kamal. Sedangkan anaknya yang bernama Rohmah berusia 16 tahun, wajahnya mirip dengan artis Zaskia Adya Mecca. Adik Nyai Siti yang bernama Wiwik, seperti Ike Nurjanah. Ketiganya cantik, dengan pakaian jubah dan kerudung panjang yang menutup sampai ke dada. Maklum, Kyai Kholil adalah sosok yang disegani di kampung. Sehari-hari ia bertindak sebagai pemuka agama.

Rasa sungkan keluarga Kyai Kholil kepada Dewo makin bertambah besar ketika Dewo memberikan oleh-oleh dari Malaysia berupa baju dan perhiasan yang sedianya akan diberikan kepada orang tuanya. Apalagi ketika Dewo berkata bahwa uang tabungan selama dia bekerja dapat digunakan untuk kebutuhan hidup keluarga Kyai Kholil. Dewo cuma meminta satu hal, ia ingin menghabiskan hari tuanya di rumah ini. Begitu besar keinginannya itu hingga dia bahkan tidak keberatan kalau Kyai Kholil menyuruhnya untuk menggarap ladang yang sebenarnya masih milik orang tuanya.

Akhirnya, tanpa banyak halangan berarti, Dewo pun tinggal bersama dengan keluarga Kyai Kholil. Dia menempati kamar belakang yang terpisah dengan rumah induk yang jaraknya sekitar 10 meter. Hampir dua bulan Dewo tinggal di rumah Kyai Kholil, dan warga sekitar sudah tahu keberadaannya. Cuma warga tidak banyak yang tahu tentang masa lalu Dewo yang kelam, yang suka memperkosa wanita dan menggoda istri orang. Bahkan Dewo tidak segan untuk membunuh lelaki yang merebut para wanita incarannya. Warga cuma tahu tahu kalau Dewo adalah anak Pak Markum yang ingin menghabiskan sisa hidupnya di desa ini.

Padahal Dewo yang sekarang masih seperti yang dulu. Di Malaysia, dia suka bermain perempuan, bahkan setiap hari. Dan begitu tinggal di desa Wonosari, sudah hampir dua bulan ini ia tidak bisa menyalurkan hasrat seksualnya. Betapa tersiksanya laki-laki tua itu. Sempat terlintas di pikirannya untuk menyetubuhi istri Kyai Kholil yang cantik. Maka demi memuluskan ambisinya itu, iapun segera mengatur rencana agar bisa mendapatkan tubuh molek Nyai Siti, kalau bisa beserta anak dan adiknya juga.

Sebagai seorang Kyai, terkadang Kyai Kholil dalam satu bulan bisa empat sampai lima kali meninggalkan rumah. Kalau dihitung, praktis hanya seminggu ia berada di rumah. Sama seperti saat itu, ketika Kyai Kholil sedang ada pertemuan antar Kyai di kota lain selama empat hari. Kesempatan ini segera dimanfaatkan oleh Dewo untuk menjalankan rencananya. Sebelum berangkat, Kyai Kholil berpesan kepada Dewo agar menjaga keluarganya, dan Dewo pun menyanggupi, meski dengan senyum iblis tersungging di bibir.

Malam itu hujan turun deras sekali. Jam delapan malam, anak dan adik Nyai Siti sudah lelap tertidur. Tidak ada penerangan listrik membuat mereka malas melek sampai malam. Nyai Siti yang hendak ke belakang bertemu dengan Dewo yang sedang duduk di teras belakang sambil merokok. ”Eh, Pak Dewo... belum tidur, Pak?” sapa wanita cantik itu.

”Belum, Bu,” jawab Dewo.

Sekembali dari kamar mandi, Nyai Siti kemudian bertanya kepada Dewo. ”Pak, saya buatkan teh panas ya, biar nggak kedinginan,”

”Ah, nggak usah repot, Bu.” jawab Dewo pura-pura.

”Ah, nggak papa, Pak Dewo,” jawab Nyai Siti. Tak berapa lama kemudian, wanita itu sudah kembali dengan dua gelas teh panas berada di tangan. Dewo mulai berpikir, ”Aku harus bisa merasakan tubuh Nyai Siti!” tekadnya dalam hati. ”Pak Dewo, ayo diminum. Kok malah ngelamun sih?” pertanyaan Nyai Siti membuyarkan pikiran kotornya.

”Ya, Bu, terima kasih.” Selesai meminum teh panas, Dewo bertanya kepada nyai Siti, ”Semuanya sudah tidur, Bu?”

”Iya, Pak. Hujan-hujan begini anak sama adikku pada males bangun.” jawab Nyai Siti tanpa curiga.

”Wah, kesempatan nih!” pikir Dewo. ”Bu, kalo boleh minta tolong, saya minta minyak kayu putih jika ada,”  pintanya.

”Oh, ada, Pak. Sebentar saya ambilkan,” jawab Nyai Siti.

Saat wanita itu masuk ke dalam rumah untuk mengambil minyak kayu putih, Dewo diam-diam memasukkan obat perangsang ke dalam minuman Nyai Siti.

”Ini, Pak, minyak kayu putihnya. Dibawa aja, nanti saya bisa beli lagi.” Nyai Siti memberikan botol kecil yang ada di tangannya pada Dewo.

”Terima kasih, Bu.” Dewo menerimanya dengan senang hati.

Sambil ngobrol-ngobrol kembali, Nyai Siti tanpa rasa curiga sedikitpun, mulai meminum teh panasnya yang telah diberi obat perangsang oleh Dewo. Tidak butuh waktu lama, obat itupun mulai bekerja. Nyai Siti merasa gairah dalam tubuhnya tiba-tiba menggebu. Ia mulai berkeringat dan bernafas agak berat. Dewo yang mengetahui bahwa Nyai Siti sudah berada dalam pengaruh obatnya, segera menggeser duduknya lebih dekat dengan istri Kyai Kholil itu dan berkata, ”Bu, kok hujannya lain ya? Lebih dingin udaranya.” pancingnya.

”Iya, Pak.” jawab Nyai Siti dengan suara parau.

Dengan sengaja Dewo meletakan tangannya di paha wanita cantik itu. Melihat tindakan si Dewo, seharusnya Nyai Siti marah. Tapi ia sudah hilang akal, pengaruh obat perangsang telah meruntuhkan kesadarannya. Yang ada dia  malah diam saja, bahkan Nyai Siti seperti menikmati elusan tangan Dewo di atas kulit pahanya yang putih mulus. Melihat itu, Dewo pun jadi semakin berani. Ia segera merangkul tubuh montok Nyai Siti dan mencium bibirnya.

”Ehm, Pak!” desah Nyai Siti saat Dewo mulai melumat bibirnya dengan rakus.

Merasa tidak ada penolakan, tangan Dewo dengan cepat mulai menyingkap jubah Nyai Siti, ia mengangkat kain panjang itu hingga ke pinggang. Paha Nyai Siti yang putih dan mulus segera terlihat dengan jelas, tampak begitu menyilaukan di malam yang gelap dan dingin  itu. Tak tahan memandanginya lama-lama, Dewo pun dengan penuh nafsu langsung menunduk dan menciuminya. “Ah... geli, pak Dewo!” pekik Nyai Siti dengan tubuh menggelinjang, tapi sama sekali tidak keberatan.

Merasa mendapat angin segar, Dewo pun semakin berani. Sambil mengusap-usap paha mulus Nyai Siti, ciumannya mulai bergerak ke arah selangkangan wanita cantik itu. Ia ciumi vagina Nyai Siti dari luar celana dalamnya, sambil sesekali ia menekan hidungnya pada vagina yang harum dan empuk itu.

”Aghhh... Pak!” Nyai Siti mendesah hebat, seolah sangat menikmatinya.

Tapi rangsangan yang diberikan Dewo tidak berhenti sampai disitu, sambil terus mengendus selangkangan Nyai Siti, dia menjulurkan tangannya dari bawah jubah dan memasukkannya ke balik BH. Diusap dan dipegangnya puting Nyai Siti yang terasa mulai tegak membesar. Ia pijit dan pilin-pilin ringan benda mungil itu hingga tak berapa lama kemudian, tiba-tiba Nyai Siti menjepit kepalanya dan mendesah hebat, ”Shshshsshh… aghgahahh!” tubuh montoknya menggelinjang, dan Dewo merasakan hidung dan mulutnya tiba-tiba basah oleh cairan kewanitaan. Begitu banyaknya hingga menembus sampai luar celana dalam.

”Pak Dewo, belum pernah kurasakan yang seperti ini, bahkan dari suamiku, dia tidak pernah menciumi vaginaku seperti ini.” kata Nyai Siti dengan mata setengah terpejam, keenakan.

Dewo pun langsung tahu arah pembicaraan ini, ia segera menggandeng tangan Nyai Siti dan diajaknya untuk masuk ke dalam kamar yang selama ini ditempatinya. Nyai Siti seperti hilang kesadaran, dengan patuh mengikuti. Sesampainya di dalam, Dewo langsung melucuti bajunya. Terjuntai lah batang kontolnya yang belum ngaceng sepenuhnya, besar seperti pisang Ambon dan panjang seperti tongkat satpam.

Melihat kontol yang luar biasa itu, Nyai Siti melongo. Inilah kontol terbesar dan terpanjang yang pernah ia saksikan seumur hidupnya. Belum sempat hilang rasa herannya, tubuh Nyai Siti sudah didorong oleh Dewo hingga jatuh ke atas ranjang. Dewo yang masih ingin mempermainkan Nyai Siti, kemudian mencium bibir wanita cantik itu. Ia juga mengelus-elus seluruh bagian tubuh Nyai Siti, terutama payudaranya yang bulat membusung. Dewo sangat suka sekali dengan benda itu. Terasa sangat empuk dan kenyal sekali dalam genggaman tangannya.

Sambil terus melumat, dia mulai melepas kancing depan baju Nyai Siti satu demi satu sampai terbuka seluruhnya. Tidak hanya itu, ia juga melepas kait BH Nyai Siti, tapi tidak ia tarik, BH itu tetap dibiarkannya disitu. Kalau ingin memegang payudara Nyai Siti, ia cukup menyingkapkannya ke atas, dan terpampanglah benda putih mulus itu.

Nyai Siti semakin terbelalak menyaksikan kontol Dewo yang semakin membesar dan memanjang. Seperti layaknya penis kuda, sekarang kontol itu sudah hampir 25 centi panjangnya. Diameternya juga sangat luar biasa, telapak tangan Nyai Siti tidak bisa mencakup semuanya saat mencoba menggenggamnya. Tersenyum bangga, Dewo dengan kasar melepas celana dalam Nyai Siti, satu-satunya penutup yang masih tersisa di tubuh montok wanita cantik itu. Jilbab Nyai Siti yang bermotif kembang-kembang tidak ia lepas, Dewo merasa benda itu tidak begitu mengganggu aktivitasnya, bahkan semakin menambah gairahnya.

Nyai Siti memandangnya sayu saat mereka saling bertatapan. Dewo melihat wanita itu sepertinya senang dengan apa yang ia lakukan. Dia  jadi lebih berani mengusap-usap dada Nyai Siti yang kenyal menegang dengan puting yang terasa semakin mengeras tajam. Dewo mendekatkan mulutnya untuk mencium puting mungil itu. Erangan halus keluar dari mulut Nyai Siti saat Dewo mulai mengecup dan menghisapnya secara perlahan, bergantian kiri dan kanan. Ia terus melakukannya hingga puting yang memerah itu semakin mengeras dan menegak. Nyai Siti tampak semakin gelisah, nafasnya sudah tidak teratur lagi. Tangannya liar menarik-narik rambut Dewo yang sedang tenggelam di celah buah dadanya, mulutnya mendesah-desah, "Ssshh... sshh... aghhh... Pak Dewo!"

Dewo menurunkan ciumannya. Lidahnya kini bermain-main di pusar Nyai Siti, menggelitik lembut disana, sambil tangannya mulai mengusap-usap paha Nyai Siti yang putih dan mulus. ”Pak Dewo, ughh...” istri Kyai Kholil itu memanggil saat tangan nakal Dewo mulai menyentuh daerah kemaluannya. Dewo mengusap-usap perlahan rambut halus yang tumbuh disana sebelum akhirnya lidahnya terjulur dan mulai menjilatinya.

Bau kemaluan Nyai Siti merangsang sekali, wangi dan harum, sama sekali tidak amis, dengan satu bau khas yang sukar untuk diceritakan. Dewo membuka lebar-lebar paha wanita cantik itu untuk mencari biji klitorisnya. Ia sibak bibir vagina yang telah basah itu. Saat sudah menemukannya, kembali ia julurkan lidah untuk menghisap dan menggigitnya.

”Eghhh... Pak Dewo!” Nyai Siti mendesah kegelian. Liang kemaluannya tampak semakin basah dan memerah. Baunya juga menjadi semakin kuat. Membuat Dewo jadi semakin terangsang. Dilihatnya cairan berwarna putih sudah keluar dari lubang sempit itu. Ini tanda bagi Dewo untuk segera beralih ke tahap selanjutnya.

Diperhatikannya tubuh molek Nyai Siti yang berbaring telentang atas di ranjang. Terutama buah dadanya yang membusung indah, yang seperti minta untuk disentuh dan diemut. Putingnya yang mungil kemerahan terlihat basah karena air liur Dewo. Perut Nyai Siti tampak cukup rata dan langsing, hanya ada sedikit lipatan lemak disana. Kakinya yang terbuka lebar membuat Dewo bisa menyaksikan dengan jelas lubang kemaluannya yang basah dan menganga lebar, siap untuk dimasuki.

Jadi, sambil tersenyum mesum, Dewo pun segera menindih tubuh Nyai Siti. Didekapnya istri Kyai Kholil itu dan dipeluknya dengan gemas sambil melumat mesra bibir ranumnya. Tangan Dewo meraba seluruh tubuh Nyai Siti yang mulus dan halus. Sambil memegang puting susunya, Dewo meremas-remas buah dada Nyai Siti yang padat dan kenyal. Ia memijit dan mengusap-usapnya hingga nafsu Nyai Siti makin terangsang hebat. Nyai Siti membalas dengan menggenggam penis Dewo erat-erat lalu diusap-usapnya penuh rasa sayang.

Dewo membuka lebar-lebar paha Nyai Siti untuk mencari liang vaginanya. Setelah ketemu, tanpa memberitahu sebelumnya, dia langsung melesakkan kontolnya menembus lubang sempit itu. ”Aaugh… ahhh…” Nyai Siti menjerit tertahan, tubuhnya menggelinjang seperti kesakitan karena memeknya terasa penuh oleh kontol Dewo yang besar dan panjang.

”Pelan-pelan, Pak Dewo!” Nyai Siti berbicara dengan nafas sesak. Mulutnya meringis seperti orang sedang menahan kencing.

Dewo segera memeluk tubuh molek Nyai Siti dengan gemas sambil memainkan buah dadanya, ia menjilat, mengusap dan menggigit-gigit lembut benda bulat itu. Mulutnya mengecup-ngecup sambil lidahnya memainkan putingnya. Lalu Dewo bertanya dengan suara lembut, "Mau diteruskan?"

Nyai Siti membuka matanya. Di bibirnya terlihat senyum manis yang begitu menggairahkan. Dewo pun menekan penisnya ke dalam. Kemudian ditariknya ke belakang perlahan-lahan. Ditekan lagi. Ditarik lagi. Begitu terus selama beberapa saat hingga kemaluan sempit Nyai Siti berubah menjadi sedikit lebih lebar, baru Dewo mempercepat hentakannya. Kini dengan lancar kontolnya keluar masuk di memek sempit Nyai Siti. Terasa hangatnya sungguh sangat menggairahkan.

”Ehss... ahmm... ughh...” Nyai Siti mendesah dan mengerang seiring dengan genjotan pinggul Dewo yang semakin cepat dan kencang. Bahkan punggungnya sampai terangkat-angkat untuk menyambut tusukan laki-laki tua itu.

Tak ingin kalah, sekuat tenaga Dewo terus memaju-mundurkan pinggulnya. Sambil menggoyang, ia juga terus meremas-remas payudara Nyai Siti yang bulat dan membusung indah. Sampai akhirnya ia merasakan badan Nyai Siti mengejang dengan mata yang tertutup rapat. Tangannya memeluk tubuh Dewo erat-erat. Satu keluhan berat keluar dari mulutnya. ”Arghhh… aku keluar, Pak Dewoooo…!” setengah berteriak, wanita itu orgasme. Vaginanya yang sempit menyemburkan cairan kental yang banyak sekali.

Merasa nikmat, bukannya berhenti, Dewo malah menggoyang pinggulnya semakin kuat. Kasur tempat mereka bersetubuh sampai berdecit-decit dibuatnya. Denyutan di kemaluan Nyai Siti kembali terasa, seakan ingin melumat penis Dewo yang tertanam di dalamnya. Dan tak lama, wanita itu kembali orgasme.

”Pak Dewoo... aku keluar lagi.” erang Nyai Siti, ingin dikasihani.

Tapi bukan Dewo namanya kalau bakal menyerah dalam waktu singkat. Ia terus mempercepat goyangannya, tak peduli meski memek Nyai Siti kembali berdenyut-denyut kencang, tanda kalau cairan cintanya akan muncrat lagi. Denyutan yang semakin keras membuat penis Dewo semakin menegang keras. Nyai Siti mengimbangi dengan menggoyangkan pinggulnya, dan...

”Oughhh... Pak Dewo!” ia pun orgasme untuk yang ketiga kalinya.

Goyangan Dewo menjadi semakin kencang. Kemaluan Nyai Siti yang basah terasa semakin keras menjepit batang penisnya. Dirangkulnya tubuh istri Kyai Kholil itu kuat-kuat. Nyai Siti diam saja, malah ia bersandar pada tubuh kurus Dewo. Nyai Siti sudah lunglai tak bertenaga. Tiga kali orgasme membuatnya bagai lemas tak bertulang. Sementara itu, Dewo terus menggoyang hingga tak lama tubuh montok Nyai Siti kembali terguncang-guncang. Nyai Siti membiarkan saja perlakuan itu. Ia sudah tidak kuat untuk membalas. Orgasme demi orgasme yang kembali ia raih membuatnya makin lemas dan terpuruk. Ia pasrah tubuhnya yang masih terbungkus jilbab dan jubah dikerjai oleh Dewo.

”Pak Dewo kok kuat sekali sih… sudah sembilan kali aku keluar, tapi Pak Dewo tetep aja kuat?” tanya Nyai Siti dengan suara lirih.

Dewo mencabut penisnya dan bertanya, ”Nyai bisa bantu saya?”

Merasa tidak enak hati karena sudah diberi kenikmatan bersetubuh yang bertubi-tubi, Nyai Siti tidak sanggup untuk menolak. Ia pun mengangguk dan menyanggupi. ”Apa yang bisa kulakukan untukmu, Pak?” tanyanya lirih.

Sambil meremas-remas payudara bulat Nyai Siti, Dewo kemudian berdiri di pinggir ranjang, sedangkan Nyai Siti duduk di depannya. Dia menyorongkan kontolnya kepada wanita cantik itu. ”Nyai, tolong sepong kontolku,” pintanya, sedikit memaksa.

Awalnya Nyai Siti tidak mau. Ia merasa jijik melakukan hal seperti itu. ”Ini kan kotor, Pak.” tolaknya halus.

Namun Dewo terus memaksa, hingga akhirnya mau tidak mau Nyai Siti terpaksa melakukannya. Pertama memang kaku, ia cuma menjilati ujungnya saja. Tapi itupun sudah cukup membuat Dewo merem melek keenakan.  Semakin lama, hisapan Nyai Siti semakin terasa nikmat. Wanita itu kini sudah mulai berani memasukkan penis Dewo ke dalam mulutnya. Namun baru separuh yang masuk, Nyai Siti sudah tersedak. Wanita itu terbatuk-batuk dan segera meludahkan penis Dewo kembali.

”Gede banget burungmu, Pak.” keluh Nyai Siti.

Tidak peduli, sambil memegang kepala Nyai Siti yang masih terbungkus jilbab, Dewo meminta istri Kyai Kholil itu agar kembali melahap penisnya. Tidak sanggup untuk menolak, Nyai Siti pun kembali menjilatinya. Mata Dewo terpejam-pejam ketika lidah basah Nyai Siti mulai melumat kepala penisnya dengan lembut. Kontol itu dikulum Nyai Siti sebisanya, yang penting bisa membuat Dewo mengerang dan merintih penuh nikmat.

Tidak tahan diperlakukan seperti itu, dalam keadaan sangat bergairah, akhirnya Dewo sampai ke puncak. Air maninya muncrat ke dalam mulut Nyai Siti, hampir setengah gelas. Tubuh tua Dewo bergetar kencang saat cairan itu menyembur keluar.

”Umph... humphhh!” Nyai Siti berusaha membuangnya, namun karena Dewo menjejalkan penisnya dalam-dalam, terpaksa sebagian sperma Dewo tertelan olehnya. Terengah-engah, ia memandangi Dewo yang tersenyum penuh kemenangan.

”Bagaimana rasanya, Nyai?” tanya Dewo menggoda.

Bukannya marah, Nyai Siti malah ikut tersenyum dan mengangguk. ”Lumayan, sperma Pak Dewo enak juga.” Ia merasakan ada yang berubah pada dirinya setelah menelan sperma laki-laki tua itu, sisi liar yang selama ini tersembunyi dalam dirinya seperti terbangkitkan. Selama ini Nyai Siti belum pernah ngeseks dengan suaminya sampai sembilan kali orgasme seperti yang telah dilakukannya dengan Dewo barusan. Dan ternyata, hal itu sangat nikmat sekali. Nyai Siti menyukainya. Ia ketagihan dibuatnya.

Maka itu, begitu Dewo bertanya, ”Gimana, Nyai, enak nggak kawin denganku?” Nyai Siti segera membalas. ”Enak sekali, Pak Dewo. Ayo kita ulangi lagi.” Gila, seorang istri Kyai bisa berkata seperti ini. Memang, nafsu sanggup membuat seseorang kehilangan akal. Apalagi saat melihat kontol Dewo yang ngaceng lagi, makin senanglah wanita setengah baya itu.

”Sekarang lepas semuanya ya, Nyai... jilbab, BH dan jubahmu,” pinta Dewo.

Tanpa perlu diperintah dua kali, Nyai Siti menuruti keinginan laki-laki tua itu. Dengan cepat pakaiannya luruh ke lantai hingga ia sama-sama bugil seperti Dewo. Kali ini Nyai Siti tidak sungkan lagi melayani Dewo. Tanpa rasa malu, ia memeluk Dewo dan kemudian melumat bibirnya. Sambil terus berpagutan, sesekali lidah Nyai Siti terjulur untuk mencari sisa-sisa ludah Dewo. Setelah itu ciumannya turun ke dada Dewo untuk mempermainkan putingnya. Nyai Siti menghisap dan menjilatinya seperti yang tadi dilakukan Dewo pada putingnya.

”Ehm...” melenguh keenakan, Dewo menikmatinya dengan hati puas. Niatnya  untuk menguasai Nyai Siti, kini terlaksana sudah. Bahkan lebih daripada dugaannya. Tanpa sengaja, Dewo telah mengubah istri Kyai Kholil yang alim dan pendiam itu menjadi wanita nakal yang haus akan belaian birahi. Terbukti dari ulah Nyai Siti yang tanpa diminta, mulai mengulum dan mengocok kontol besar Dewo, padahal tadi di awal-awal dia sangat jijik melakukannya. Sekarang malah kelihatan sangat menikmati. Nyai Siti terus menghisapnya sambil sesekali mencucup kedua telurnya, membuat Dewo merem melem keenakan menerimanya.

Setelah kontol Dewo tegang sepenuhnya, Nyai Siti pun kemudian menaikinya, dan blesh…! Kontol itu dengan telak masuk ke lubang vaginanya. Setelah berdiam diri sejenak, Nyai Siti mulai bergerak naik turun. Ia menggenjot pinggulnya di atas batang kontol Dewo, menjadikan batang coklat panjang itu sebagai tumpuannya. Nyai Siti terus melakukannya sampai ia mendapatkan orgasme secara berulang, sama seperti saat persetubuhan pertama tadi.

Dewo yang belum orgasme kemudian meminta Nyai Siti untuk tidur telentang dengan bersandar pada bantal yang ditumpuk. Dewo menduduki dada Nyai Siti sambil memasukkan kontol besarnya ke mulut wanita cantik itu. Nyai Siti  kelabakan mendapatkan sodokan kontol Dewo, tapi dia sama sekali tidak menolak. Dewo yang keenakan, terus menggenjotkan kontolnya dengan penuh nafsu. Begitu cepatnya gesekan antara mulut Nyai Siti dengan batang penisnya, sampai membuat mulut Nyai Siti terasa nyeri. Rasa sakit itu baru mereda saat tak lama kemudian kontol Dewo ejakulasi menyemburkan semua isinya. Nyai Siti menampungnya dengan lahap dan lekas menelan semuanya. Kali ini, ia tidak ingin ada sperma Dewo yang terbuang percuma. Terlalu sayang kalau hal itu sampai terjadi.

Kelelahan setelah bertarung semalaman membuat keduanya akhirnya tertidur lelap sampai pagi. Saat bangun, badan Nyai Siti terasa pegal semua, bibirnya juga terasa sedikit perih. Namun semua itu terbayar lunas dengan kepuasan birahinya semalam. Sebelum pergi dari kamar Dewo, Nyai Siti masih sempat mempermainkan kontol laki-laki tua itu. Dia menghisap dan menjilati batang serta buah zakarnya. Bau kontol Dewo akibat persetubuhan semalam masih terasa, tapi menjadi harum di hidung Nyai Siti yang gila seks.

Dewo hanya mendesah dan menggeliat senang dengan perlakuan istri Kyai Kholil itu. Ia pun bangkit. Diputarnya tubuh montok Nyai Siti dan kemudian didudukinya buah dada Nyai Siti yang bulat besar. Dewo menggenjot kontolnya di mulut perempuan cantik itu sampai mengeluarkan spermanya, dan langsung ditelan oleh Nyai Siti dengan penuh nafsu. Mulai detik itu, resmilah sudah Nyai Siti menjadi budak seks kakek Dewo.

Hari-hari berikutnya, Nyai Siti yang sudah ketagihan dengan kontol panjang kakek Dewo, dengan tidak malu-malu lagi meminta kepada laki-laki tua itu untuk menyetubuhinya. Disaat sang anak dan adiknya tidak ada di rumah, mereka melakukannya. Bahkan pernah sehabis pulang dari ladang, Dewo yang hanya mengenakan celana kolor kusam, dengan bertelanjang dada, begitu sampai di rumah, langsung dihujani ciuman oleh Nyai Siti. Seperti orang kehausan, Nyai Siti mencari dan menghisap keringat Dewo. Dan mereka pun bersetubuh di sisa hari itu. 

BERSAMBUNG    PART 2

Author : Suko baung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar