Laman

Selasa, 12 Maret 2013

Pesta Tahun Baru Kelabu DEWI GITA



Kisah ini bermula di akhir bulan Desember, ketika itu aku sedang dalam perjalananan ke rumah dinas seorang pejabat teras di kotaku. Bukan untuk bekerja, ataupun mencari muka untuk kampanye, tapi untuk mengantarkan kado atau bisa disebut jatah upeti dalam bisnis yang aku jalani. Bisnisku bergerak di bidang hiburan yang berupa cafe, pub, karoke dan penginapan yang sudah rahasia umum menjadi media yang efektif untuk menjalankan bisnis lendir yang bagiku sangat menguntungkan.

Namun bisnis yang sangat diminati pihak tertentu ini bukan berarti tidak memiliki hambatan, mulai dari pihak yang berwajib, pemerintah, sampai masyarakat yang sangat tidak terima kalau bisnis ini terang-terangan berjalan di kota ini. Untuk mengantisipasi itu semua, aku menjalin relasi dengan berbagai pejabat maupun orang berpengaruh di kota ini. Ada yang bisa aku  dapatkan dengan kompensasi uang atau sekedar tiket gratis berpetualang di club malam milikku dengan wanitanya, tapi tidak sedikit yang tidak bisa aku  taklukkan.


Contohnya seperti pejabat yang aku kenal dengan “BAPAK Y” ini. Aku sudah mencoba meluluhkan profesionalismenya dengan uang yang aku tawarkan maupun wanita cantik yang sudah aku siapkan, namun beliau menolaknya. Hingga aku menemukan rahasianya ketika salah seorang bawahanku mendapati beliau sedang bermain judi di salah satu villa dan merekamnya. Dengan rekaman itulah aku bisa dapat berteman dan mengancam bapak Y untuk memberikan perlindungan kepadaku jika ada yang ingin mengusut bisnis haram milikku. Namun prinsipku bisnis adalah bisnis, setiap pertolongan ada balasannya. Untuk itulah aku pergi ke rumah bapak Y untuk mengantarkan sedikit rupiah dan seorang wanita perawan sekedar kado tahun baru pada bapak Y.

Singkat cerita sampailah aku di rumah bapak Y. Sesampai di dalam, dengan sambutan akrab ala pejabat, aku memulai percakapan dengan bapak Y, mulai dari cerita pekerjaan hingga perawan. Ternyata pilkada tahun ini bapak Y mencalonkan diri sebagai walikota di kota ini. Baguslah, pikirku, tentunya akan semakin melindungiku dengan segala kuasanya, dan tentu saja rekamannya saat berjudi yang berhubungan dengan imagenya. Ketika akan pamit, bapak Y ingin aku menyediakan sebuah villa milikku untuk merayakan ulang tahunnya sekaligus pesta tahun baru dan akupun diundang. Sebuah tawaran yang tidak bisa aku tolak, baik dari sisi teman maupun bisnis.

Dua hari kemudian, tepatnya di hari terakhir tahun 2012, sorenya aku menuju villaku untuk sekedar memeriksa asisten saya, Roy, yang sedang menyiapkan villa dan pesta seperti yang diinginkan bapak Y. Disana semua persiapan sudah cukup matang, mulai dari dekorasi, konsumsi, dan fasilitas hiburan minimalis yang aku sediakan di villa. Sebuah harga yang lumayan sebenarnya, namun aku berikan gratis untuk pejabat bekinganku ini. Ya sekedar menjalin relasi lebih kalau pak Y terpilih jadi walikota dan senjata rekamanku bisa diatasi oleh tim suksesnya.

Malamnya, dengan setelan serba hitam, aku mengunjungi pesta tersebut sendirian. Sesampainya di villa, tidak seperti pesta ulang tahun pejabat seperti yang aku bayangkan penuh basa-basi, bau alkohol yang menyebar ditambah para wanita seksi yang menemani para eksekutif dan orang bernama yang menjadi tamu undangan. Setelah menemui Roy untuk mengecek kelancaran acara, aku mencari bapak Y sekedar untuk mengucapkan selamat. Namun tidak aku temui di kerumunan para undangan.

Setelah menemui ajudannya, ternyata beliau sedang ada di ruangan privacy yang dilengkapi karoke ditemani seorang artis ibukota yang ajudannya pun tidak tahu.
Hal itu membuatku sedikit penasaran, artis murahan mana yang dibeli pak Y untuk menemaninya di pergantian tahun ini? Dengan alasan mengecek kenyamanan, aku ke ruangan privacy ditemani Roy, asistenku, untuk menemui pak Y dan menjawab rasa penasaranku siapa yang menemani beliau.

Ketika aku masuk, semuanya benar-benar tidak seperti yang dibayangkan, Bapak Y dengan baju safarinya tengah makan malam bersama seorang wanita ayu berpakaian gaun hitam sopan yang anggun. Yah dialah Dewi Gita, penyanyi cantik yang akhir-akhir ini mulai eksis kembali di jagad hiburan tanah air.

”Eh, Bara. Ayo, silahkan masuk.” sapa pak Y ramah.

”Selamat malam, Pak. Maaf saya mengganggu, hanya ingin memeriksa kenyamanan disini dan tak lupa mau mengucapkan selamat ulang tahun, Pak.”

”Haha... terima kasih, Bara. Villa kamu cukup nyaman, bahkan relatif sempurna menurut saya.”

”Terima kasih, Pak. Baguslah kalau begitu.”

”Anak muda kok ngomong bisnis terus... Oh iya, kenalkan ini tamu spesial saya, Dewi Gita. Dia saya undang untuk menjadi bintang tamu dalam acara halal bihalal partai besok, namun dia menyempatkan diri datang lebih cepat untuk liburan sekaligus datang ke pesta ulang tahun saya, suatu kehormatan tentunya.”

Dewi Gita tersenyum. ”Halo, apa kabar?” dengan ramah dia menyodorkan tangannya kepadaku.

”Em, baik, mbak. Saya Bara, pemilik villa ini. Semoga betah disini ya, mbak.” kusambut uluran tangannya yang terasa halus itu.

”Villa-nya bagus kok, dek Bara. Hehe.”

”Bara ini salah seorang pengusaha muda di kota ini,” jelas pak Y pada Dewi Gita. ”Gimana, Bar, langsung ngomong kontrak sama Dewi Gita buat jadi bintang tamu di cafe ini?” tanya pak Y kepadaku.

”Ah, bapak bisa saja. Bisa berkenalan dengan mbak Dewi aja udah seperti kayak mimpi, Pak.” ujarku pura-pura merendah dan sedikit memainkan jurus gombalku. ”Oke, Pak. Kalau semuanya baik-baik aja, saya mau ke villa sebelah dulu, ngecek kerjaan.” pamitku pada pak Y.

”Haha... okelah. Tapi nanti kesini lagi ya, kita minum-minum bersama.”

”Siap, Pak.” akupun pergi dan berlalu dari tempat itu.

Setibanya di ruangan, aku mulai terpikirkan ide-ide jahat di otakku. Memang aku lumayan sering melihat di layar kaca betapa cantiknya Dewi Gita. Dengan dandanan ala sinden, kebayanya yang ketat dan anggun seakan menyembunyikan tubuh montoknya yang betapa nikmatnya kalau bisa kugenjot sampai pingsan. Dulu itu cuma sebatas mimpi karena aku tidak mempunyai relasi untuk mendekati Dewi Gita, lagipula menurutku Dewi Gita adalah sesosok wanita baik-baik yang tentunya tidak mudah untuk aku beli tubuhnya. Tapi kini ada kesempatan, apakah aku bisa memanfaatkannya?

Iseng aku pergi ke ruang kontrol untuk melihat CCTV yang aku pasang di setiap sudut ruangan villa. Sekedar menjaga keamanan dan iseng untuk melihat apa saja yang dilakukan pengunjung. Aku lihat ruang privacy dimana bapak Y berduaan dengan Dewi Gita untuk makan malam. Ternyata mereka berdua sedang berkaroke ria. Bodoh juga bapak Y, fikirku. Kalau aku yang jadi dia, akan kuperkosa Dewi Gita disana!

Kusulut rokokku sambil mengawasi semua layar cctv. Tiba-tiba ada kejadian menarik, kulihat layar, bapak Y tengah memaksa mencium bibir Dewi Gita, dan Dewi pun serta merta memberontak. Bukan tanpa usaha, bapak Y terus memaksa hingga berhasil mendaratkan bibir berkumisnya di bibir merah Dewi tapi... Jduakk!! Alat vitalnya dihantam keras oleh Dewi Gita dengan tendangan. Sontak pejabat mesum itu meringis dan mengaduh kesakitan.

Melihat gelagat itu, aku pun langsung ke villa dengan ditemani Roy untuk menetralisir keadaan.
Belum sampai di villa sebelah, aku berpasan dengan Dewi Gita yang menangis ketakutan.

”Dek, tolong saya, Dek. Saya takut!” katanya sesenggukan.

”Tenang, mbak, tenang. Emang ada apa?” tanyaku pura-pura tidak tahu.

”Bajingan tua itu mencoba kurang ajar sama saya, Dek. Tolong saya... hiks, hiks,”

”Saya akan urus, mbak.
Mbak tenang ya, ayo saya antar mbak ke villa saya di sebelah. Mbak aman disana.”

Beriringan, kami berjalan ke villa tempatku mengintip. Dewi Gita masih menangis, ia terlihat shock karena pelecehan seksual yang baru dialaminya. Kutenangkan wanita itu dan kusuruh untuk istirahat di ruangan pribadiku. Setelah itu aku pergi ke villa tempat pesta pak Y untuk mengecek kondisi disana.

Sesampainya disana, kutemui bapak Y yang kelihatan bingung, entah karena menahan konaknya atau akibat tendangan Dewi Gita di selangkangannya. “Gimana, Pak, nggak jinak ya ayamnya?” tanyaku menyindir.

“Ngomong apa kamu, Bara?!” murka bapak Y, tapi aku tenang saja.

”Saya bisa lihat semua dari ruang kontrol, Pak.
Santai saja, saya juga laki-laki.”

”SIAL!!!” dia mengumpat. ”Ah, saya khilaf, Bara. Saya sedang mabuk.” pak Y berusaha membela diri.

”Hehe, jangan munafik, Pak. Semua pria pasti menginginkan sinden secantik dia, iya kan?”

”Terserahlah. Tapi saya mau insiden ini cuma kita yang tahu.”

”Beres, Pak.
Sekarang saya sudah punya kartu joker kedua tentunya.”

”Bajingan!!! Apa maumu?”

”Saya cuma mau perlindungan gratis, Pak. Benar-benar gratis!”

”Sialan!!! Tapi, bisa diaturlah.”

”Hahaha... oke, deal!”

Aku pun kembali ke villaku untuk menemui Dewi Gita dengan rencana jahat yang telah aku susun di otak. Sesampainya di kamar, aku menyapanya. ”Gimana, mbak, udah baikan? Semua sudah saya urus dan mbak aman disini.”

”Iya, makasih ya, Bara. Saya benar-benar nggak nyangka pak Y yang saya hormati bisa berlaku sebejat itu.”

”Wajarlah, mbak... mungkin lagi mabuk.”

”Entahlah, Dek. Mana mbak udah bikin kontrak lagi... saya takut, Dek.”

”Tenang, mbak. Selama ada saya, mbak akan aman.”

”Makasih ya, Dek. Kalau gitu saya boleh minta tolong cari hotel lain nggak? Saya takut kalau harus satu villa dengan pak Y lagi.”

”Mbak disini aja. Di villa ini aman kok, mbak.”

”Tapi, Dek... saya takut ngrepotin.”

”Haha... santai aja, mbak. Lagian, ada yang mau saya liatin, mbak.”

”Apa, Dek?”

”Gini, mbak... sebenarnya saya sudah tahu tentang pelecehan yang mbak alami, bahkan saya tahu mbak sempat dicium kan sama pak Y? Semuanya ada di rekaman CCTV saya, mbak.”

”Apa-apaan ini, dek Bara?!!”

”Yah saya cuma mau bilang aja, kalo video ini tersebar gimana ya? Sinden Dewi Gita mengalami pelecehan seksual di salah satu villa; karir hancur, rumah tangga hancur, haha...”

”Bajingan! Mau kamu apa hah?!”
 
”Hmm... mau saya ya itu, mbak. Simple kok, cuma ngentot sama mbak.”

”Cuih! Dasar laknat!! Kamu pikir saya takut hah?! Kamu jangan ancam saya ya?!!!”

”Haha... si mbak ini bisa judes juga ya? Kalau nggak percaya, yuk kita ke kamar kontrol,”

”Oke! Mana mungkin villa murahan ini bisa secanggih itu?”

Sesampainya di ruang kontrol, disana ada karyawan saya, Bram, yang shock begitu melihat saya masuk dengan Dewi Gita. ”Wah, boss. Ini Dewi Gita ya, boss? Saya boleh foto nggak?” gugupnya.

”Norak lu! Jangankan foto, ngentot pun lu bisa.
Tapi tolong lu putar lagi videonya pak Y yang tadi.”

”Wah, serius, bos? Asiiiik dong, bos.”

”Haha... so pasti, tapi lu tunggu sisa gue ya.” ujarku santai karena Bram juga tahu tabiatku bagaimana.

Plaak!!! Dewi Gita tiba-tiba menamparku. ”Binatang!! Jangan ngomong sembarangan, ayo cepat buktikan saja!” dia terlihat sangat marah.

”Sabar, mbak.” kuusap-usap pipiku yang terasa panas. ”Yuk, bram, mainkan.” Dan Bram pun memutarnya. Dewi Gita langsung terbelalak melihat dirinya dilecehkan oleh bapak Y di video itu.

”Hehe... gimana, mbak?”
 
”Bara, tolong jangan begini. Saya akan bayar berapapun, tapi tolong hapus video ini!”

”Ini bukan soal uang, mbak. Tapi soal susu mbak itu loh, bikin ngaceng! Haha... Bram, lu kunci pintu, cepat!”

Bram pun segera beranjak. ”Beres, bos!”

Aku kembali pada Dewi Gita.
“Gimana, mbak Dewi siap nyinden pake memek?” tanyaku.

”Bram, tolong saya, please... Bantu saya, Dek. Saya bisa gaji kamu lebih dari ini.” ratap Dewi pada Bram, pegawaiku.

”Makasih, mbak Dewi.
Tapi lain kali aja tawarannya. Bara tetap boss saya. Saya suka kerja sama dia.” tolak Bram kalem.

”Anjing lu, Bram. Sok cari muka sama gue, bilang aja lu juga pengen entotin Dewi Gita juga.”

”Ah, si boss tau aja.”

”Tapi antri ya... btw, gimana nih, mbak Dewi? Udah siap?” kutatap istri Armand maulana itu.

”Bara, saya mohon... lagipula, saya sedang menstruasi, kamu tidak bisa...”

”Haha... dasar artis, selalu acting. Mana buktinya, sayang?” ujarku sambil mencengkeram bahu Dewi Gita yang sudah sangat pucat.

”Tidak!
Jangan, Bara!” dia berusaha memberontak.

”Kalau begitu buktikan! Buka baju mbak!!”

”Tidak!” Dewi menggeleng-gelengkan kepala dengan kalut.

”BUKAA!!” aku kembali memaksa. ”SEKARANG!!!”

Dewi tampak semakin pucat. ”Tidak! Jangan!”

Plaakk!!! Kutampar dia. Dasar, memang harus dipaksa nih mbak cantik. Breeet... breeeett!!! Kutarik bajunya hingga robek di bagian paha. ”Oi, Bram. Pegang kakinya!” ujarku sambil mendorong Dewi ke sofa.

”Uih, parah, boss. Doi pake pembalut nih!!!” Bram menunjuk selangkangan Dewi Gita yang membumbung berisi pembalut.

”Ah anjing!!” kesalku menahan konak. Karena sebal, kutampar Dewi Gita kesetanan. Plak! Plak! Plak! ”Lu pikir bisa lolos karena mens hah!!!” Breeet... breeet... kusobek paksa gaunnya hingga terlihat belahan payudara sekal Dewi Gita; bulat, montok, putih mulus, tersembunyi di balik bra hitamnya.

”Tidak! Hentikan!” Dewi Gita mencoba menutupi aurat tubuhnya dengan menyilangkan tangan di depan dada dan paha.

”Ayo, boss, hajar aja!” teriak Bram memberi semangat.

”Taik lu, Bram! Jijik gue kalau dia lagi mens gini. Tapi nggak ada memek, pake mulut bolehlah.”

”Haha... sip, bos! Jadi kayak niup trompet tahun baru.”

”Haha... iya. Ayo, Bram, lu rekam! Tapi jangan sampe keliatan wajah gue!!!”

”Siap laksanakan, Jendral.” Bram pun mengambil hape dan mulai menyalakannya.

”Dasar bajingan kalian! Tidak! Lepaskan saya! Ahhh... tidak! Jangan... tolong jangan! Ohh... kumohon! Tidak! hiks... hiks...” tangis Dewi Gita saat kutelanjangi dirinya.

Dengan sekali tarik, terlihatlah bulatan payudaranya yang putih mulus, dengan puting cukup besar berwarna coklat kehitaman. Aku yang sudah kesetanan langsung meremas-remasnya dengan gemas sambil tak henti mencucup dan mengulum-ngulum putingnya.

”Ohhh... tidak! Ahhhh... lepas! Ahh... oughhh... lepas!” rintih Dewi Gita, berusaha menyingkirkan kepalaku yang menyusup di belahan payudaranya.

”Hmm, enak sekali, mbak. Hmm... empuk banget!” kataku di sela-sela jilatan dan hisapan. Putingnya kurasa semakin kaku dan keras sekarang.

Bram hanya tertawa merekam adegan ini dari handphonenya, entah karena menahan konak atau karena lucu melihat bossnya bercinta dengan sinden OVJ yang bertelanjang dada tapi masih memakai cd untuk menyembunyikan memeknya yang sedang menstruasi.

”Ayo, boss, mana terompetnya?
Udah hampir jam duabelas nih.” tanya Bram.

”Bener juga lu. Ayo, mbak, mainin terompetnya. Happy new year, Sayang. Haha...” ujarku sambil membuka celana dan menyodorkan penisku yang sudah tegak menegang.

”Hahhh... jangan! Aku nggak mau! jijik! Jangan! Ja... hmmph!!!”

Teriakan Dewi Gita langsung terdiam begitu kugosokkan penisku ke wajahnya. ”Ayo, Sayang. Tiup terompetnya! Haha...”

”Tidak! Jangan! Ahhh... tidak! HMPPHMMH!!!”

Dengan sekali hentakan, masuklah penisku ke dalam bibir sinden cantik ini.

”Aarrgghhhhh... nikmat banget, Sayang. Enak!
Happpy new year, mbak Dewi Sayang! Ahhh... ahhh…” rintihku.

Dewi Gita tidak bisa menjawab. Mulutnya penuh oleh batang kontolku. “Hhmppph! Slppph! Slppphh!” dia pun mengulum dan menjilatinya dengan terpaksa kalau mau tetap bisa bernafas.

Kunikmati kuluman paksa Dewi Gita pada kontolku. Sungguh pesta tahun baru yang sangat berkesan untukku. “Ahhhh… ayo, Sayang! Hisap terus!! Ya, begitu, hisap!! Oughhhh…”

“Hmpphhh… sudah, Bara! Kumohon!” ratap Dewi Gita di sela-sela kulumannya.

“Boss, udah nggak tahan nih… boleh gabung nggak? Rela deh ntar potong gaji.” kata Bara menahan konak.

”Anjing!
Bacot mulu lu dari tadi! Tapi okelah, haha...”

”Asiik!” Bram pun langsung berdiri di belakang Dewi Gita yang berlutut di lantai sedang menservice penisku. ”Ayo, mbak, kocokin terompet yang satunya dong.” ujarnya sambil meraih tangan kiri Dewi Gita dan ditaruh di batang penisnya. Dewi Gita menggenggam kontol itu dan mulai mengocoknya pelan, sementara mulutnya tetap mengocok penisku.

Merasa akan keluar, aku pun mengatur ritme. ”Sudah, mbak. Saya mau istirahat dulu. Tuh terompet anak buah gue udah minta digarap, kasian nunggu dari tadi.” kataku sambil menarik penisku lepas dari kulumannya.

Untuk sesaat, Dewi Gita bisa bernafas lega. ”Hahh... hahh... udah! Stop! Hahh... hahh...”

Tapi itu tidak berlangsung karena tiba-tiba, ”Hhmppphhh!!!” Tanpa aba-aba, Bram langsung memasukkan penisnya ke mulut manis Dewi Gita yang menganggur.

”Ahh.. mimpi apa gue semalem, bisa merasakan sepongan Dewi Gita?! Ahhh...” rintih Bram keenakan.

Dewi tidak bisa berkata. ”Hhmppphhh... hmmmppphh... hmmphmp...” hanya itu yang bisa terdengar dari dalam mulutnya.

”Isep yang enak, mbak! Aahhh...” Seperti kesetanan, Bram memaju mundurkan kepala Dewi Gita sambil sesekali menunduk untuk meremas-remas payudara sang diva yang menggantung indah. Sementara aku lebih memilih mengocok penisku dengan tangan lentiknya sambil ikutan meremas-remas payudara putihnya. Ohh, nikmatnya!

”Setan lu, Bram. Kayak kesurupan aja.Slow donk, nikmati detik demi detik.” kataku mengingatkan Bram.

”Gila, maknyus banget mulutnya, boss! Aarrrghh... makasih boss atas bonus tahun barunya.”

”Haha... tapi gaji lu gue potong ya?” ujarku sambil terus meremas-remas payudara Dewi Gita, bergantian kiri dan kanan.
 
”Waduh, jangan dong, boss! Sampe segitunya.”

”Haha... just kidding, broo. Sekarang minggir lu, gue udah mulai nggak tahan nih.” Aku pun duduk di sofa sementara Bram mendorong Dewi Gita untuk berlutut di depanku.

”Tuh, lu service tuh terompet boss gue.” kata Bram.

”Saya mohon, hentikan! Sudah cukup! Hmpppphhhh...”

Tidak ingin berlama-lama, langsung kutusukkan penisku ke mulut Dewi Gita yang sedang meratap dan mendorong kepalanya maju mundur dengan cepat sambil sesekali membelai rambutnya yang indah. ”Ohhh... sayang, nikmatnya! Oohhhh... aghhh... ahhh...” racauku menikmati kulumannya.

Panik merasakan kontolku yang berdenyut pertanda akan keluar, Dewi Gita pun berusaha melepaskan cekalanku pada kepalanya, tapi terlambat... crooot, crooot, crooott!! Spermaku sudah keburu muncrat duluan.

”Hisap, mbak! Ahhhh... telan semuanya! Telan, perekku sayang! Ahhrggghhhhh...” rintihku keenakan.

Dewi Gita mau tak mau melakukannya, tapi sebagian tetap ia ludahkan. ”Cuiihh! Uhuks, uhuks,” dia tersedak dan terbatuk-batuk. Tampak sisa-sisa spermaku meleleh di dagunya dan menetes tepat ke putingnya. Perempuan itu tampak benar-benar shock, sambil menangis, ia meratap atas kejadian naas yang dialaminya di pergantian tahun ini.

Aku yang merasa sangat puas, segera menyulut rokokku sambil melihat hasil rekaman Bram.

Bram yang sudah tak tahan, kini ganti mendorong tubuh Dewi Gita hingga telentang di lantai. Ia kemudian duduk di atas dada sinden cantik itu. Entah karena jijik terkena bekas spermaku atau karena ingin posisi lain, Bram menjepitkan penisnya yang hitam ke belahan payudara Dewi Gita yang putih mulus. Aku pikir itu akan sulit karena ukuran buah dada Dewi yang tidak terlalu besar, tapi ternyata dia berhasil. Lalu mulailah Bram menggosok penisnya dengan payudara sinden cantik itu. Posisi itu berlangsung tidak lama. Mungkin karena saking konaknya, Bram dengan cepat memuntahkan spermanya yang kental ke bulatan payudara Dewi Gita. Semprotannya begitu kencang hingga beberapa ada yang muncrat sampai ke wajah Dewi.

Dewi sendiri kelihatannya sudah setengah sadar atas apa yang terjadi pada dirinya, mungkin karena lelah menangis, atau malah karena shock atas peristiwa pelecehan seksual ini? Entahlah, aku tak tahu.

Setelah berpakaian, Aku dan Bram ngobrol-ngobrol sambil tertawa dan menyulut rokok. Kami pandangi tubuh mulus Dewi Gita yang tergolek di lantai tanpa menggunakan bra. Susu dan wajahnya masih belepotan sperma. Setengah jam kemudian, Dewi terbangun dan menangis sejadi-jadinya, meratapi nasib buruknya.

”Ssst... udah yuk, kita ke kamar, kamu istirahat dulu. Tapi ingat, sebelum kamu berhenti menstruasi, kamu belum bisa pergi dari sini, sebelum saya bisa menikmati vaginamu!!” ancamku.

Dewi Gita hanya diam sambil terisak mengenakan gaunnya yang telah sobek disana-sini. Sesampainya di kamar, Dewi langsung mandi, sementara aku kembali ke pesta Pak Y untuk menghadiri perayaan ulang tahunnya.

***

Esok sorenya, di awal tahun 2013, aku kembali ke kamarku dimana Dewi Gita menginap. Ketika aku masuk, aku sempat kaget, aku pokir Dewi Gita memilih kabur karena aku pun lalai karena tidak mengunci pintu. Tapi ternyata dia kutemui sedang berdiri di beranda dengan gaun tidur berwarna putih. Akupun  menyapanya untuk memecah suasana. ”Sore, mbak, gimana tidurnya?”

Dewi Gita hanya terdiam. Matanya tampak bengkak akibat kebanyakan menangis. Wajahnya polos tanpa makeup, namun tetap menampakkan kecantikannya yang alami. Sempat terpikirkan olehku untuk sekedar mendapat blow job sore itu, tapi aku juga manusia yang mempunyai sedikit rasa iba. Akupun diam memahami situasi dulu. Kuhidupkan TV dan betapa terkejutnya aku saat kulihat wanita yang sekamar denganku ini ada dilayar kaca. Ternyata infotainment tengah memberitakan keretakan rumah tangga Dewi Gita dengan Armand Maulana, suaminya, karena adanya orang ketiga.

”Mungkin ini karma bagi saya, Bara.” tiba-tiba Dewi Gita berbicara dan duduk di sampingku.

”Maksudnya?” tanyaku tak mengerti.

”Rumah tangga saya diambang perceraian karena Armand berselingkuh, dan semalam saya bagaikan pelacur melayani kamu dan anak buahmu. Mungkin ini balasan yang pas untuk saya.”

”Kenapa, mbak? Emang ada apa?” tanyaku penasaran.

”Dulu, sebelum menikah dengan Armand, saya punya pacar sejak saya masih SMA. Namun karena pesona dan popularitas Armand, saya meninggalkannya dan menikah dengan Armand. Akhirnya pacar saya itu sangat patah hati. Semenjak itu saya selalu merasa bersalah. Mungkin ini karma yang pas buat mbak, Bara.”

Aku yang sedikit kasihan segera memeluk bahunya, ”Maafin saya ya, mbak. Ini bukan sepenuhnya salah mbak, lihat kelakuan suami mbak yang selingkuh itu. Mbak pun pantas bahagia.” hasutku licik.

”Ah, entahlah, Bara.”

Saat itulah datang seorang wanita yang ternyata adalah petugas salon yang dipesan Dewi Gita untuk make-upnya pada halal bihalal pak Y malam ini. Akupun segera berpamitan pergi.
 
”Sampai jumpa nanti malam, mbak.” kedipku pada Dewi Gita yang hanya diam.

Malamnya, aku kembali ke villa dan mengerjakan beberapa laporan keuangan. Sementara di villa sebelah, acara halal bihalal pak Y bersama keluarga, teman, serta tim suksesnya berlangsung lancar. Tentu saja dengan Dewi Gita sebagai bintang tamunya.

Jam duabelas malam, terlihat di CCTV acara mulai bubar. Aku segera mendatangi pak Y, ia mengucapkan terima kasih kepadaku atas pinjaman villa dan mengingatkanku untuk tetap tutup mulut terhadap pelecehan yang dia lakukan terhadap Dewi Gita. Andai saja dia tahu tentang apa yang aku lakukan bersama Dewi malam kemarin, mungkin dia pun akan minta jatah. Hahaha...

Di saat kami sedang asyik berbincang, datanglah Dewi Gita dengan kebaya abu-abunya yang sangat ketat hingga mencetak jelas lekuk-lekuk tubuhnya yang masih aduhai. Ia berjalan menuju villa. Setelah pamit pada pak Y, aku pun langsung mengejarnya, kuikuti dia masuk ke dalam kamar.

”Mbak, tunggu...” panggilku. Tapi Dewi tetap saja diam, membuatku jadi serba salah. ”Mbak, kita belum selesai...”

”Iya, saya tahu. Kamu bisa lakukan sekarang.
Saya udah nggak mens lagi.” potongnya.

”Wah, kok jadi pasrah gini, mbak?”

”Melawan pun, kamu pasti akan tetap memperkosa saya. Jadi, daripada repot-repot, cepat selesaikan saja. Besok pagi saya sudah harus balik ke Jakarta.”

”Hahah... udah nggak tahan ya?” godaku licik.

”Bagi saya, biarlah karma ini berlanjut. Armand bisa menghianati saya, kenapa saya tidak?”

”Iya, mbak. Dengan suka rela saya bersedia jadi pelampiasan rasa cemburu mbak,” ucapku girang.

”Tapi sekedar kamu tau, kamu itu sangat mirip dengan mantan pacar saya. Bedanya, dia tidak sebejat ini. Tapi sudahlah... hmphhh!”

Aku yang sudah tidak tahun langsung mencium bibirnya dengan ganas. Kita saling melumat dan mamagut untuk beberapa saat. ”Maaf, mbak terlalu banyak basa-basi. Padahal saya udah nggak tahan, mbak.”

Dewi Gita yang sudah termakan dendam pada Armand Maulana, membalas ciumanku dengan memasukkan lidahnya ke mulutku. Aku yang sudah sangat konak, mendorong tubuh Dewi ke ranjang, lalu kubuka rok dan celana dalamnya hingga terlihatlah memeknya yang dikelilingi bulu-bulu halus tercukur rapi.

”Wow, gondrong ya, mbak?” tanyaku sambil kugosok pelan vaginanya.
 
”Ayo cepat, Bara, selesaikan! Ahhhh... biar derita ini cepat berakhir! Ahhhh...” rintih Dewi Gita, dia membuka kakinya semakin lebar, membiarkanku terus mengusap vaginanya.

”Ah, munafik. Bilang aja kalau mbak sudah nggak tahan, iya kan?” kupercepat menyongkel vaginanya dengan jari-jariku. Menurutku, vagina Dewi Gita masih sangat sempit untuk ukuran wanita yang sudah tidak perawan seumur dirinya.

”Ahhh... ahhh... pelan-pelan, Bara! Jangan terlalu keras! Sakit! Ahhhh...” rintih Dewi Gita keenakan.

”Hmm... iya, mbak!” sahutku sambil kukecup bibir dan lehernya yang wangi.

Sungguh menggairahkan bisa menikmati tubuh wanita berkebaya yang cantik ini, yang cukup sering jadi bahan fantasiku saat ML atau onani. Kurasa vaginanya sudah mulai becek. Aku pun beralih ke atas, kubuka paksa kebaya Dewi Gita hingga terlihatlah gundukan payudaranya yang masih tertutup bra berwarna krem yang langsung kutarik, lalu kuremas-remas kuat payudaranya sambil tangan kiriku tetap menyodok-nyodok lubang vaginanya.

”Ahh... enak, Bara! Ahhh... Robi Sayang!” rintih Dewi Gita.

”Saya Bara, mbak, bukan Robi.”

”Eh, maaf, itu nama pacarku dulu.”

”Sebut nama saya dengan benar, kalau nggak kugigit puting mbak sampai putus.” ancamku yang sedikit kesal.

”I-iya, maaf, Bara. Ahhh... aduh! Maaf, Bara sayang! Aahhh...”

”Yang mesra dong! Hmmm... susumu ini, mbak, bikin aku ngaceng!” dengan penuh nafsu, kuhisap-hisap tonjolan buah dadanya.

”Ahh... Bara! Geli... ahh... ougghh...” Dewi Gita merintih dan menggelinjang.

”Enak, mbak? Giliran saya dong.” akupun membuka celana dan menyodorkan penisku yang sudah menegang ke mulutnya. ”Ayo, sayang. Emut!” ucapku sambil menggosokkan penisku ke bibirnya.

Dewi Gita tanpa sungkan langsung mengulumnya dengan lihai, mungkin karena saking dendamnya pada Armand, suaminya, yang telah menduakannya. Aku pun hanya tertawa melihat penisku jadi memerah terkena lipstik Dewi Gita yang sekarang tampak belepotan.

”Ahh... nikmat! Gitu dong, Sayang. Kan nggak perlu dipaksa kalo gini.” kataku.

”Gimana, jago kan mbakmu ini?” dengan tatapan sayu, Dewi Gita terus mengulum kontolku sambil mengocoknya perlahan. Rambutnya sudah mulai berantakan, terlihat berbeda jauh dengan Dewi Gita yang anggun dengan kebayanya tadi. Ia kini bagaikan pelacur menghisap penisku. Melihat itu, membuatku jadi semakin bergairah.

”Iya, mbak jago ngemut. Tapi memeknya jago juga nggak ya?” sambil kudorong kasar dia hingga Dewi Gita menelentang di atas ranjang.

”Bisa nggak sih nggak usah kasar, Bara?!” protesnya.

”Ini bukan kasar, mbak. Tapi nggak tahan!” ucapku sambil menggesekkan penisku ke belahan vagina Dewi yang becek.

”Ahhh... geli, Bara! Ahhh... aduh!”

Dengan sekali hentakan, kudorong penisku masuk ke dalam vaginanya. ”Ahhh... legit banget, mbak, memekmu! Ahhh... ahhh...” rintihku keenakan. Vaginanya kurasakan begitu sempit dan ketat.

”Ahh... sakit! Pelan-pelan, Bara! Ahhh... sakit! Aduh... ahh!!” rintih Dewi Gita sambil berusaha memegangi memeknya yang sedang sibuk kusodok-sodok.

”Sakit kok mendesah, mbak?” sindirku. ”Pasti enak ya, iya kan?!” sementara menggenjot, kuremas-remas juga payudaranya.

”Ahhh... Bara, ahhh!! Sayang... kontolmu!! Oughhh...” Dewi Gita makin merintih dan menggelinjang.

“Ada apa dengan kontol saya, mbak?” putingnya yang mencuat kupilin dan kupelintir-pelintir gemas.

”Ahhh... kontolmu!! Ahhh...”

”Iya, kontol saya kenapa?” Hmm... muachhh...” kukulum bibir Dewi Gita yang meracau tak karuan.

”Hhmppph... kontolmu enak, Sayang! Aaaahhhh... mbak keluar, Bara!! Ahhh... tidak!! Oh tidak!!” dia mengejang-ngejang dengan memek menyembur kencang mengeluarkan cairan.

”Ahhh... jepit kontol gue, Perek! Semprot kontol gue! Aarghhhhh...” Melihat Dewi Gita orgasme, akupun mempercepat sodokanku di lubang memeknya yang terasa basah dan membanjir.

”Ahh... Bara! Stop! Berhenti dulu, saya capek!! Ahh... ahh...”

”Dikit lagi, Sayang! Dikit lagi! Ahh... ahhh...”

Saat itulah, Dewi Gita ingat bahwa dirinya sedang dalam masa subur karena baru saja menstruasi. Ia langsung panik begitu melihatku yang bersemangat menggenjotnya, pertanda akan memuntahkan benihku ke dalam rahimnya. ”Bara! Cabut, Bara! Jangan di dalam! Saya mohon! Ahhh...”

”Masa bodo, mbak! Aghhh... yang penting saya puas! Ahh... ahhh... aaaaaaaaargghh!!!” dan Crooooot! Crooooot! Crooooot! Aku pun meledak. Spermaku menyembur deras mengisi lorong vaginanya.

”Oh tidak! Cabut, Bara! Cabut! Jangan di dalam! Ohhh... jangan di dalam!” ujar Dewi Gita panik, ia menangis sejadinya takut dirinya hamil. Ia memukul-mukul dadaku yang masih terdiam menikmati sisa-sisa orgasmeku. ”Kenapa, Bara?! Kenapa kamu tega! Kalau aku sampai hamil bagaimana?!” ratapnya.

”Ahh... nikmat sekali, Sayang!” kukecup bibir Dewi Gita yang masih menangis, lalu kupeluk tubuhnya dan kubaringkan di sisiku.

Kelelahan, kami pun tertidur hingga Dewi Gita membangunkanku pada pagi harinya. Kalau saja aku tidak ada janji hari itu, ingin rasanya aku ngentot sekali lagi dengannya.
Tapi karena janji ini sangat bernilai untuk bisnisku, aku terpaksa mengalah pada nafsuku.

Setelah mandi, aku disambut oleh Bram yang akan mengantar Dewi Gita ke bandara. Sebelum berpisah, kuberikan kecupan manis di bibirnya disertai ucapan maaf dan terima kasihku kepadanya.
Dewi Gita hanya diam saja dengan mata sayu, lalu berbalik dan beranjak pergi bersama Bram.

Malamnya, Bram cerita bahwa dimobil ia sempat mendapat blowjob dari Dewi, di sepanjang perjalananan dari villa menuju ke bandara. Akupun hanya tertawa mendengarnya.

Aku sengaja tidak meminta atau memberi akses kepadanya untuk menghubungiku. Bagiku, biarlah semuanya menjadi kenangan petualangan seksku yang mungkin akan jadi mimpi buruk bagi mangsaku.

Beberapa bulan kemudian, kusaksikan di infotainment bahwa konflik rumah tangga Dewi Gita dengan suaminya mulai mereda, bahkan Dewi saat ini dikabarkan tengah hamil. Aku hanya tertawa dalam hati, karena siapa tahu bayi dalam rahimnya adalah benihku. Hahaha... siapa yang tahu.

Author : rapemania   PART 2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar