Laman

Kamis, 07 Maret 2013

Kenikmatan Sesaat

Air membentang seluas mata memandang. Perahu-perahu hilir mudik dengan berbagai bentuk. Kebanyakan berkepala lancip. Penumpang-penumpangnya bermacam-macam. Ada keluarga. Terdiri Bapak, Ibu dan anak-anaknya. Atau pasangan-pasangan yang sedang berpacaran. Wajah-wajah mereka menunjukkan kegembiraan. Ada yang tersenyum, tertawa cerah. Atau bahkan bercanda ria.

Memang demikianlah halnya kebanyakan pengunjung-pengunjung Pantai Ancol saat ini. Kebanyakan menampakkan wajah gembira. Ceria. Namun di antaranya, ada seorang yang tidak menampakkan wajah gembira. Reza Juan Hariansah, atau yang akrab dipanggil Ryan! Seorang dokter muda suami artis Lia Ananta. Dia duduk di atas tumpukan bebatuan yang memanjang. Matanya memandang ke depan. Sebentar meredup, sebentar membola. Seperti ada gejolak di dalam hatinya. Seperti gelombang yang menderu-deru. Tiap sebentar menghela napas panjang!

Langit cerah. Awan-awan putih bergumpal-gumpal di sela-sela langit biru. Ryan menyandarkan tubuhnya di batang pohon kelapa yang banyak tumbuh disana. Kedua lengannya diangkat, disilangkan di belakang kepala, digunakan sebagai bantal. Lama dia memandang langit. Tetapi langit bagai tak tampak. Yang terlihat olehnya, bayangan kabut. Bergumpal-gumpal. Di antara kabut itu, bagaikan menyembul seraut wajah. Perempuan. Cantik. Dan uh... Ryan menarik napas panjang lagi. Seraut wajah itu tersenyum. Manisnya. Lebih manis dari pada gula atau segala yang paling manis di dunia ini. Ryan memejamkan matanya. O, kesalnya dia. Tak ingin sebenarnya dia menyaksikan seraut wajah itu. Tetapi wajah itu seperti mengejarnya. Wajah Lia Ananta. Wajah seseorang yang dicintainya.

Ryan membuka matanya lagi. Secara jujur, Ryan, pemuda yang berusia sekitar dua puluh empat tahun ini, harus mengakui, bahwa dia sangat mencintai Lia. Belum pernah sebelumnya, Ryan mencintai seseorang, seperti besarnya kecintaannya kepada Lia, Tetapi sekarang! Cinta yang besar itu telah berubah menjadi kebencian. Kebencian yang teramat sangat. Itu semua karena penghianatan Lia. Wanita itu telah selingkuh dengan Mang Jali, sopir mereka sendiri!

Ryan bisa mengingat jelas malam jahanam itu. Dia yang baru pulang dari luar kota, berniat mengejutkan istrinya. Mengendap-endap lewat samping rumah yang tanamannya cukup rimbun, Ryan masuk melalui dapur. Dilihatnya Lia sedang berbincang-bincang dengan Mang Jali di ruang tengah sambil nonton teve. Tidak jelas apa yang mereka omongkan karena jarak dari dapur dan ruang tengah cukup jauh. Tapi dari jarak sejauh itu, Ryan bisa melihat tangan istrinya yang sedang... oh, tidak mungkin! Lia sedang memegang dan mengusap-usap selangkangan Mang Jali dari luar celana! Mang Jali sendiri hanya cengar-cengir menerimanya, tampak sekali kalau sangat menikmatinya.

Sialan! Mengumpat dalam hati, Ryan mencoba menahan gejolak amarah di dalam hatinya, dia ingin melihat lebih jauh apa yang akan dilakukan 2 orang itu.

Tangan kiri Mang Jali kini merayap untuk meremas-remas payudara Lia yang masih tertutup kaos merah tipis, sepertinya perempuan kelahiran 30 Desember 1985 ini tidak mengenakan Beha karena kedua putingnya yang mungil tampak menonjol indah.

Ryan maju untuk memperbaiki posisi mengintipnya, ia ingin melihat lebih dekat kelakuan mereka tapi dari tempat yang cukup terlindung, jadilah dia berdiri di belakang lemari pajang ruang tengah. Temaramnya cahaya semakin menyamarkan kehadirannya. Dan itu juga makin memanaskan birahi kedua insan yang sedang bergulat mesra di depannya.

Hati Ryan semakin panas saat dilihatnya sang istri bergelayut manja, menempelkan payudara kanannya yang bulat besar ke pinggang Mang Jali. Dan dia hampir tak bisa menahan diri saat dilihat kedua tangan mungil Lia sedang mengocok dan mengelus-elus batang kemaluan lelaki tua itu. Sejak kapan Mang Jali melepas celananya?

Tapi Ryan tak sempat memikirkannya, dia kini fokus sepenuhnya pada batang kemaluan Mang Jali yang besarnya... oh, seperti penis kuda saja layaknya. Begitu panjang dan besar, sampai melengkung ke depan. Urat-urat bertonjolan di seluruh permukaannya yang berwarna coklat gelap. Rambut di pangkalnya terlihat awut-awutan, tidak terawat sama sekali. Tapi justru itu yang makin menambah kesan jantan pada benda itu.

Ryan memegang kemaluannya sendiri. Ah, benar-benar berbeda. Meski selama ini menganggap penisnya cukup besar dan panjang, dan beberapa wanita sudah mengakuinya, termasuk Lia dan Asty Ananta, tapi setelah melihat punya Mang Jali, dia jadi minder. Penisnya tidak ada apa-apanya dibanding milik laki-laki tua itu.

Ryan menghela nafas berat. Pantas saja Lia main gila dengan Mang Jali. Siapapun yang sudah merasakan kontol sebesar itu, pasti akan ketagihan, tak terkecuali istri tercintanya yang aslinya kalem dan penurut.  

Pasrah pada keadaan, Ryan memperhatikan jari-jari tangan istrinya yang kini berusaha menggenggam batang kemaluan itu, dan tidak bisa menggenggam semuanya! Benda itu memang luar biasa besarnya. Mengocoknya pelan, Lia membiarkan tangan kanan Mang Jali menyusup di balik kaos merahnya dan meremas-remas payudara kirinya dengan lembut.

”Auhhh,” melenguh keenakan, Lia membuka kakinya sedikit lebih lebar. memberi jalan pada tangan kiri Mang Jali untuk membelai dan menggosok-ngosok vaginanya yang ternyata sudah terbuka lebar. Lia tidak mengenakan celana dalam di balik rok hitam pendeknya!

Lemas seakan mau jatuh, Ryan melihat celana dalam putih istrinya tergeletak di dekat kaki meja. Tadinya dia mengira itu cuma tumpukan tisu, nggak tahunya...

"Oohhhh... uueenaak, Non! Terusss!!" terdengar desisan Mang Jali.

Mata Ryan seakan mau copot dari tempatnya saat dilihatnya sang istri dengan gemulai turun dari sofa dan jongkok di depan selangkangan laki-laki tua untuk mulai mengulum batang kemaluannya. Lia tampak kesulitan melakukannya, penis Mang Jali yang besar panjang, yang berurat-urat sebesar cacing tanah, tidak bisa memasuki mulutnya yang mungil dengan lancar. Lia beberapa kali hampir batuk dan tersedak, tapi dia tidak berhenti, Lia terus mengulum dan menghisapnya meski hanya ujungnya saja yang kena. Mukanya yang cantik sampai jadi memerah karena sulit bernafas.

"S-sudah cukup, Non!" Mang Jali berbisik, ”Saya sudah nggak tahan.” dia kemudian menarik Lia berdiri dan mendudukkan di pangkuannya. Sambil berusaha mengepaskan ujung penisnya ke liang surgawi sang majikan yang sudah basah kuyup, dia memagut dan menjilati tengkuk Lia yang berbulu halus, membuat gadis cantik berkulit putih itu menggelinjang kegelian, kedua tangannya lunglai ke sisi tubuhnya, mempersilahkan Mang Jali untuk berbuat apa saja pada tubuh sintalnya. 

”Sshhhh.. Aahhhh.. Aahhhhh..” Lia mendesis-desis saat batang panjang Mang Jali menyundul-nyundul bibir vaginanya. Dia mengangkangkan kedua kakinya agar benda itu lebih mudah masuk. Lia juga merebahkan tubuhnya ke dada bidang Mang Jali yang keriput, siap menerima tusukan laki-laki tua itu.

"Pak, p-pelan-pelan... pak!" Lia merintih, pantat bahenolnya bergetar keras saat ujung kontol Mang Jali mulai menyeruak masuk ke lubang vaginanya, dan... "Ooohhhh... pak, m-masuk... pak! Oughhhhhh...!" dia merintih panjang saat benda sebesar lengan itu menembus masuk hampir sepertiganya.

"Apanya yang masuk, Non?” tanya Mang Jali pura-pura bego.

"Ihhhh... i-itunya... bapakkkkk!!!”
Lia mendesis, bokongnya bergetar semakin keras, menandakan nafsunya sudah mulai naik.

"Ehm, masuk kemana?" Mang Jali bertanya lagi. Kedua tangannya turun ke kedua lengan istriku dan...

"Pak, Oohhhhhh... s-susuku... Oohhhhh... susuku... g-geli... pakkkk... oughhhhh...!!" Lia mendesis panjang terputus-putus saat kedua tangan keriput Mang Jali mulai meremas-remas kedua payudaranya yang membusung. Dia terkulai di bahu kiri laki-laki itu.

"Tetekmu mantab, Non.” Ryan mendengar bisikan Mang Jali di telinga kanan istrinya. Sementara itu, ujung tumpul kemaluan pria itu yang seperti jamur menghentak-hentak, terus menggetarkan pantat bahenol Lia tanpa henti.

"Memekku... pak! Memekku enaaakkk...!!!" rintih wanita bernama lengkap Amalia Yuntia Dwi Wardhani itu saat batang kemaluan Mang Jali semakin dalam memasuki liangnya. ”Huagghhhh.. aduh.. aduduh... kok gede banget sih, pak?!" dia mengaduh, tapi tidak mau melepaskan benda itu.

"Sudah masuk separo, Non. Lihat!!" kata Mang Jali enteng sambil menyingkap rok pendek yang dipakai gadis itu.

Lia menundukkan kepalanya, memandangi selangkangan mungilnya yang kini disesaki penis mang Jali yang besarnya minta ampun itu. "Iihhh... sampai monyong memekku, pak!" rintihnya. Dia mengkangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, dan mengerang keras-keras saat batang itu meluncur makin memasuki memeknya. "Nnghhh.. paakkkk.. Aarrgghhhhhh!!"

Ryan bisa melihat bibir vagina Lia menggelembung seolah-olah ditiup karena desakan batang keris Mang Jali. Lemas tak berdaya, istrinya itu kembali menyandarkan kepalanya di bahu kiri sang lelaki tua. Mang Jali sendiri, sambil mulai menggerakkan penisnya pelan-pelan, menyusupkan tangan keriputnya ke kaos Lia yang tipis dan dengan gemasnya meremas-remas payudara wanita cantik itu yang mulus tanpa BH.

”Aahhhhh.. Aagghhhh..” Lia jadi semakin menggelinjang karenanya. Dia merintih-rintih, mengerang dan menggeram, dan bahkan badannya kemudian mengejan-ngejan dengan keras seiring batang panjang Mang Jali yang menghujam makin cepat keluar masuk di liang vaginanya yang sempit.

Sementara itu, sang sopir tua berhasil mengangkat kaos Lia ke atas, menguak sepasang payudara montok milik gadis itu yang menggantung indah di dadanya yang putih mulus. Lalu dengan kedua tangan keriputnya, Mang Jali mulai meremas-remasnya lagi dengan ganas dan penuh nafsu. Jari-jari tangannya memelintir puting Lia yang mungil, yang berwarna coklat kemerahan, sampai benda itu menjadi semakin keras dan mencuat. Seakan-akan mang Jali sedang memerah sapi betina untuk diambil air susunya.

"Pak, oohhhhh... paaaakkkk...!!!" rintih Lia saat mulut laki-laki tua itu mencaplok payudara kanannya dan tak lama langsung mengenyotnya bagai bayi yang kehausan. Mulutnya mengempot, mencucup dan menjilat-jilat puting Lia yang mungil kemerahan.

”Aahhhh.. paaakkk...!” bosan dengan yang kanan, Mang Jali pindah ke kiri. Sama seperti tadi, dia juga mengemut dan menghisapnya dengan penuh nafsu. Kedua payudara Lia yang bulat kencang seakan menjadi mainannya. Kedua tangan dan mulutnya menyerang daging kembar itu bertubi-tubi.

Ryan melihat istrinya benar-benar menikmati perlakuan Mang Jali, sopir pribadi mereka. Dia ingin marah, tapi tidak bisa. Benar dia sakit hati karena pengkhiatan istrinya, tapi dia tidak kuasa untuk menghentikannya. Yang ada, dia malah menikmati pemandangan itu. Ryan ingin melihat sampai sejauh mana permainan mereka. Tanpa sadar, dia telah terangsang melihat istrinya dientot oleh orang lain!

Di depan sana, pantat bahenol istrinya bergoyang makin liar, berputar maju mundur dengan cepat akibat tonggak panjang Mang Jali yang terus keluar masuk mengocok liang vaginanya. Tubuhnya tampak bergetar-getar hebat, nafasnya mendengus-dengus seperti kuda. Perbuatan sang sopir pada payudara dan liang vaginanya telah membuat Lia menjadi begitu terangsang. Tubuh montoknya yang putih mulus kini telah mandi keringat.

"Mang... Mang Jali... Aahhhh... a-aku... Oocchhhhh... a-aku nggak tahan, Mang... a-aku mau... k-keluaaaar...!!!" Lia mengerang keras, pantat bahenolnya tersentak-sentak kuat saat dia mengalami orgasme dasyat.

Mang Jali menghentikan goyangannya, memberi kesempatan pada sang majikan untuk menikmati orgasmenya. Sambil menikmati guyuran cairan Lia pada batang penisnya, laki-laki tua itu mencaplok dan mengempot-ngempot payudara sebelah kiri artis kelahiran Semarang itu, sementara jari-jari tangannya memelintir dan menarik-narik puting susu yang sebelah kanan.

Saat sentakan pantat bahenol Lia sudah mulai mereda, tanpa melepas penisnya, Mang Jali merubah posisi. Ryan melihat laki-laki tua itu menidurkan tubuh montok istrinya di sofa, dan mengkangkangkan kedua kakinya lebar-lebar.   

"Hgghhhh... Aaaggghhhh...!!" Lia menggeram saat pantat Mang Jali mulai bergerak maju mundur diantara kedua paha mulusnya. Kontol besar laki-laki itu kembali menghunjam, menusuk-busuk kemaluannya yang sempit.

"Aarghhhh.. ampun,Mang... p-pelan-pelan saja... b-bisa robek nanti m-memekku...!! Hhhgghhhh!!" Lia mencengkeram erat lengan laki-laki tua sebagai pegangan. Padahal baru separuh batang Mang Jali yang masuk.

”Memek Non enak, sempit banget!” mendengus, Mang Jali terus menggenjot tubuh kurusnya, berusaha menusukkan batang kemaluannya sedalam mungkin ke liang vagina Lia yang mungil. Tapi tentu saja itu tidak mungkin. Bisa masuk separuh saja sudah bagus, dan Mang Jali tidak pernah mengeluhkan hal itu. Yang penting baginya adalah, bisa mencicipi tubuh montok artis adik Asty Ananta ini. Setelah adiknya, akan kudapatkan kakaknya, begitulah Mang Jali bertekad.

Untuk urusan ini, Ryan lebih unggul. Dia sudah pernah mencicipi tubuh Asty Ananta. Meski awalnya tidak sengaja, tapi affair mereka bisa berlanjut sampai sekarang.

Semuanya terjadi tiga bulan yang lalu, saat dia dan Lia baru saja menikah. Malam itu hujan deras. Lia sudah tiga hari pergi ke Bali untuk syuting FTV, meninggalkan Ryan dan Asty hanya berdua saja di rumah mereka yang cukup besar.

Selesai rapat dinas di Rumah sakit, Ryan memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Dia sampai di bangunan yang dibelinya dengan Lia saat masih pacaran itu sekitar jam 17.00. Segera diparkirnya mobil di halamannya yang yang asri dan cukup luas. Garasinya masih belum jadi, terlihat beberapa tukang yang sedang membenahinya sudah bersiap untuk pulang. Mereka menyapa saat Ryan lewat untuk masuk ke dalam rumah.

Di ruang tengah, dilihatnya Asty, kakak iparnya yang cantik dan seksi, sedang nonton DVD film Korea. Ah, dasar cewek. Ryan menyapanya sebelum berlalu menuju ke kamarnya sendiri di lantai atas. Sudah seminggu ini Asty menginap disini karena lokasi syutingnya yang dekat dari situ. Kalau berangkat dari rumah lama mereka, dia takut akan sering telat. Tahu sendiri kan bagaimana macetnya Jakarta di pagi hari.

Dan selama itu tidak pernah terjadi hal yang ’serius’ meski mereka cuma berdua saja. Apalagi sebagai pengantin baru, nafsu Ryan sedang tinggi-tingginya saat itu, membuat dia jadi sedikit senewen dan uring-uringan. Tapi Ryan masih bisa meredam birahinya pada sang kakak ipar meski kesempatan untuk melakukan itu begitu banyak. Dia tak mau mengkhianati perkawinannya dengan sang istri.

Tapi ternyata itu cuma bertahan seminggu saja. Pemicunya adalah barang aneh di kamar mandi. Selesai membersihkan diri, masih dalam keadaan telanjang, Ryan gosok gigi menghadap ke cermin. Saat itulah, tanpa sengaja matanya melihat sesuatu yang aneh menyelip di belakang cermin. Dengan penuh rasa penasaran, dia mengambil barang itu, dan langsung terkesiap saat mengetahui jenisnya. Ini kan dildo, penis buatan yang terbuat dari karet elastis! Tidak mungkin ini punya Lia karena Lia sudah membawa dildonya ke Bali untuk teman tidur. Lalu punya siapa? Satu-satunya tersangka cuma Asty, tapi apa mungkin? Sambil terus bertanya-tanya, Ryan segera mengembalikan barang itu ke tempatnya semula tanpa merubah posisinya. 

Ryan baru sadar bahwa di balik wajah kakak iparnya yang lembut dan polos, Asty tetaplah seorang wanita yang membutuhkan pelampiasan biologis. Dia yakin barang itu adalah milik Asty. Dia lah satu-satunya wanita di rumah ini. Membayangkan sang kakak ipar menggunakan dildo tersebut, membuat Ryan jadi terangsang dan entah dapat bisikan setan darima, dia bertekad untuk menyetubuhi gadis itu malam ini. Ya. Malam ini dia harus mendapatkan tubuh montok Asty Ananta. Sambil mengelus-elus penisnya yang sudah terangsang berat, tapi tidak sampai muncrat, Ryan mulai menyusun rencana.

Selesai makan malam, mereka ngobrol berdua sambil nonton TV, sengaja Ryan mengarahkan pembicaraan ke hal-hal yang nyrempet-nyrempet. Asty menanggapi dengan kadang tertawa renyah, kadang wajahnya tersipu-sipu malu. Terlihat dari gelagatnya kalau Asty tidak keberatan dengan hal itu.

”Jadi perawan mbak diambil sama pacar mbak yang pertama?” Ryan bertanya.

Asty mengangguk mengiyakan, ”Kamu beruntung dapet Lia, dia masih perawan, nggak seperti aku...”

”Ah, nggak ada bedanya, mbak. Malah menurutku mbak lebih cantik, lebih sexy. Kelihatan lebih matang dan menggoda.” Ryan mencoba merayu.

”Ah, kamu bisa aja.” Asty tertawa, tapi tak urung wajahnya tetap merona karena bangga.

”Terus sekarang, gimana kalau mbak lagi pengen?” Ryan beringsut, berusaha membenahi penisnya yang mulai mengeras di balik celana. Tetapi terlambat, Asty sudah melihatnya.

”Ah dasar anak muda, cuma ngomong gini aja sudah ngaceng,” dia menyindir.

”Itu kan tergantung siapa yang diajak ngomong. Kalau sama mbak, siapa pun pasti juga ngaceng.” Ryan memandang wajah Asty yang semakin memerah, tidak tahu apa yang ada di balik batin wanita cantik itu. 

"Sudah ah, aku mau tidur. Sudah ngantuk, besok ada syuting." Asty berdiri dan masuk ke dalam kamarnya.

"Eh, i-iya." Ryan sangat menyesal, usaha yang tadinya diyakini dapat berhasil ternyata gagal total. Ryan pikir dirinya terlalu ragu-ragu, terlalu penakut. Menghela nafas berat, dia masuk juga ke dalam kamar. Dielusnya pelan burung kesayangannya yang sudah 3 hari belum mendapatkan lawan tanding. Di luar, hujan deras mulai turun disertai bunyi petir yang memekakkan telinga.

Satu jam berlalu, tapi Ryan masih juga tidak mengantuk. Dia terlalu konak untuk tidur sekarang. Pikirannya terus tertuju pada tubuh montok sang kakak ipar yang sedang tidur sendirian di dalam kamar. Akhirnya, karena sudah tidak tahan lagi, dia pun memutuskan untuk melakukan onani saja. Meski nikmatnya tidak seberapa, tapi lumayan untuk sedikit meredakan birahinya yang meledak-ledak.

Tapi baru dua kocokan, terdengar ketukan di pintu kamar. ”Ryan, apa kamu sudah tidur.” itu suara Asty. Ryan buru-buru membenahi celananya yang melorot sampai ke dengkul dan menutupi lagi burungnyayang sudah siap tempur. Karena tidak kunjung mendapat respon, Asty mengetuk lagi, kali ini  dengan sedikit lebih keras, ”Ryan, bukain pintu, Mbak ada perlu sama kamu.”

Akhirnya dengan hati berdebar kencang, Ryan memutar anak kunci dan membuka pintu kamarnya lebar-lebar. ”A-ada apa, mbak?” dia bertanya dengan mata mendelik dan mulut menganga lebar. Di depannya, berdiri seorang bidadari cantik yang cuma memakai daster tidur putih tipis, tergantung dengan tali kecil di pundaknya yang putih mulus. Hampir Ryan tidak tahan menahan gejolak birahinya, ingin langsung menubruk dan memeluknya, tetapi untungnya berhasil ia tahan.

”Ehm, maaf. Aku nggak bisa tidur. Geledeknya gede banget. Aku takut. Biasanya kalo gini ada Lia yang menemani. J-jadi... emm, boleh nggak aku  tidur di sini. Aku butuh teman. Di lantai juga nggak apa-apa." kata Asty lirih.

Ryan langsung bersorak dalam hati. Kalau sudah rejeki memang tidak akan kemana. Tanpa perlu usaha yang berarti, si tikus sudah menyerahkan dirinya pada si kucing.

”Eh, i-iya, mbak. Silahkan. Mbak tidur diatas saja, biar saya yang tidur di bawah.” Ryan buru-buru mengambil bantal dan gulingnya, dan mempersilahkan Asty untuk menempati kasur empuknya.

”Ah, jangan. Ini kan kamar kamu. Biar aku aja yang di bawah.” Asty menolak. 

”Wah, bisa-bisa saya dimarahi Lia kalau sampai mbak tidur di bawah. Sudahlah, mbak diatas saja. Lagian di bawah dingin, mbak bisa masuk angin nanti.” Ryan terus memaksa.

Asty akhirnya mengalah, ”Baiklah. Tapi apa kamu nggak dingin juga tidur di bawah?” dia bertanya.

”Saya kan laki-laki, mbak. Lebih kuat nahan dingin.”

Asty menggeleng, ”Tidak, lebih baik gini aja: kasur ini kan lebar, kita sama-sama tidur di atas berbagi ranjang. Aku disini, kamu di pinggir sana.”

Wow, usul yang tidak mungkin Ryan tolak. Tapi sebagai adik ipar yang baik, dia tidak boleh langsung menunjukkan persetujuannya, minimal harus menolak sedikit. "Terima kasih, Mbak. Tapi tidak usah. Apa kata orang nanti kalau kita tidur satu ranjang." Ryan berkilah.

”Orang yang mana? Kita kan cuma berdua di rumah ini.” Asty mendudukkan tubuhnya yang montok di ranjang.

”Eh, iya.” Ryan nyengir. ”Tapi tetap saja nggak boleh, mbak. Kita kan kakak adik.”

”Justru itu, karena kamu adik iparku, jadi aku berani mengajakmu berbagi ranjang. Yang nggak boleh itu kalau aku satu ranjang dengan orang lain yang nggak aku kenal.” Asty menaruh bantalnya dan mulai menepuk-nepuknya. Terlihat payudaranya yang bulat sedikit bergoyang-goyang saat dia melakukan itu.

Ryan menelan ludah dengan berat saat melihatnya, ”Tapi, mbak...” dia masih berupaya mempertahankan aktingnya. Padahal di bawah, penisnya sudah mengacung tegak, tak sabar untuk ditempelkan di bokong Asty yang semok.

”Ah, sudahlah. Terserah kamu mau atau tidak. Aku mau tidur. Sudah ngantuk.” memeluk guling, Asty merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata. Dia tidak mengetahui seringaian mesum Ryan yang perlahan naik ke tempat tidur dan mengambil posisi di pinggir, menghadap ke punggungnya.

”Tapi awas, jangan macem-macem lho ya,” Asty memperingatkan saat menyadari Ryan memandangi pundaknya yang putih mulus, pinggulnya, juga bulatan bokong sintalnya dengan muka pengen.

”Ya enggaklah, mbak. Mana berani saya.” ingin rasanya Ryan memeluk dan membelai tubuh mulus itu, namun tidak berani.

Lama mereka berdiam diri, walaupun Asty sudah memejamkan matanya, Ryan yakin wanita itu belum tidur. Dan suara geledek yang menggelegar keras membuktikan tebakannya.

”Auw!” Asty memekik dan berbalik, dan langsung meringkuk di dalam pelukan Ryan. ”Aku takut!” tubuhnya gemetar keras

Kaget, Ryan segera merangkulnya dengan sayang. Dia membelai-belai punggung Asty yang mulus dengan lembut. ”Tenang, mbak. Aku ada disini.” disibaknya rambut panjang perempuan itu dan diciumnya dahi Asty begitu mesra.

Cukup lama mereka berada dalam posisi seperti itu. Birahi Ryan terasa semakin tinggi, kemaluannya sudah tegang penuh, tapi dia berusaha untuk tidak ceroboh. 

”Ryan, ini apa kok keras banget? Aku nggak mau lho kalau macem-macem!" tuduh Asty mengancam saat merasakan tonjolan pria itu pada kulit perutnya.

”Eh, m-maaf, mbak. Nggak sengaja.” Ryan segera menarik tubuhnya. Tapi...

”Jangan, Ryan. Terus peluk aku.” Asty meminta. ”Dengan begini aku jadi tidak takut.”

”Tapi...” Ryan merasa tidak enak.

”Wajar kan kamu ngaceng meluk aku. Katanya semua lelaki akan bersikap seperti itu?” Asty menarik lagi tangan Ryan.

”B-baik, mbak.” Ryan jadi tidak bisa menolaknya. Lagian, ini juga yang dia harapkan dari tadi.

"Tapi meluk aja ya, Ryan. Tidak lebih." tambah Asty.

Ryan mengangguk, dan segera merengkuh tubuh montok perempuan itu dalam dekapannya. Dipeluknya Asty dengan lembut sambil tetap menjaga jarak agar kemaluannya yang sudah ngaceng berat tidak menyetuh perut wanita itu lagi.

"Mbak, kulit mbak halus sekali. Rajin ke salon ya, Mbak?" tanya Ryan sambil mengelus tangan, pundak dan jemari tangan kakak iparnya itu.

"Ah, nggak kok. Aku nggak pernah ke salon kecuali kalau potong rambut. Ini halus hasil perawatan sendiri." jawab Asty dengan suara sedikit bergetar.

Ryan jadi yakin bahwa wanita itu mulai menikmati dekapan dan elusan tangannya. Pelan-pelan dia mendekatkan tubuhnya hingga burungnya yang sudah terangsang dan tegang keras menempel lagi pada perut ramping Asty.

”Masih ngaceng ya?” wanita itu bertanya.

"Iya nih, mbak. Biasa, juniorku ini nggak bisa dekat sama perempuan cantik. Bawaaannya jadi bangun terus. Apalagi sudah tiga hari ini isinya nggak dikeluarin, habis Lia masih ada di Bali." jawab Ryan terus terang.

”Wah, bisa bahaya dong.” Asty agak menarik tubuhnya, takut diperkosa.

”Iya nih, mbak. Saya mulai nggak tahan.” Ryan mempererat dekapannya, tidak ingin kenikmatan itu hilang. Dia juga menelusupkan tangannya ke bawah lengan sang kakak ipar sehingga tangannya menempel di pangkal buah dada perempuan cantik itu. Di balik dasternya, Ryan bisa merasakan kalau Asty ternyata tidak memakai BH. 

"Eh, Ryan, kamu mau apa?” Asty memberontak, tapi cuma sedikit. Ryan sudah keburu mencium bibirnya dan melumatnya dengan rakus. ”Hmphh.. hmphhp..” Asty melenguh, tidak bisa bernafas.

”Bantu aku ya, mbak?” Ryan meminta.

”Gila kamu, lepaskan aku!” Asty menarik tangannya dan PLAK! Dia menempeleng pipi Ryan begitu keras.

Ryan ingin marah, tapi... ”Eh, m-maaf. Aku tidak bermaksud... kamu sih, pake acara pegang-pegang segala.” Asty mengelus pelan pipi Ryan yang panas dan memerah akibat tamparannya. Dia tampak begitu menyesal.

”Aku mau saja bantu kamu, tapi aku tidak mau kalau sampai bersetubuh.” kata Asty pada akhirnya. Dada Ryan rasanya plong saat mendengarnya.

”Apapun deh, mbak. Yang penting saya bisa terbebas dari siksaan ini.” balasnya penuh semangat.

”Kalau cuma meluk dan digesek-gesek kaya tadi, bisa keluar nggak?” tanya Asty.

Ryan berpikir sambil memandangi tubuh kakak iparnya yang montok dan putih mulus. ”Ehm, mungkin bisa, mbak. Tapi memang agak lama sih.”

”Ya udah, gitu saja. Ayo!” Asty kembali mengajaknya berpelukan.

Ryan segera menyambutnya dengan senang hati. Dipeluknya tubuh sintal itu dan mulai dia gesek-gesekkan penisnya pada perut Asty yang ramping.

”Pelan-pelan saja, Ryan. Aku sakit kalau kamu dorong keras gitu.” Asty merasa penis adik iparnya yang ngaceng mengganjal keras di lubang pusarnya.

”I-iya, mbak.” Ryan mengurangi tekanannya. ”Ehm,mbak...” dia memanggil.

”Apa?” Asty menyahut tanpa menoleh.

”B-boleh saya m-membuka... celana?!” Ryan berkata takut-takut, ”Biar lebih cepat keluar.” Dia memberi alasan.

”Terserah kamu aja deh.” jawaban Asty melegakan hatinya.

Ryan segera memelorotkan celana pendeknya. Karena tidak memakai celana dalam, penisnya yang sudah mengacung tegak langsung mencuat, menampar perut Asty dengan begitu keras. Perempuan itu sampai mengaduh karena kaget.

”Wah, benar-benar nggak tahan ya?” dia tertawa memandangi penis sang adik ipar yang memerah dan terasa panas seperti bara.

Ryan mengangguk. ”Terima kasih, mbak, sudah mau menolongku.” dan dia segera menggesek-gesekkannya pada perut ramping kakak istrinya itu. Asty mengimbanginya dengan menekuk tubuhnya, membiarkan penis Ryan menyundul-nyundul perut dan pangkal payudaranya.

”Gimana, enak?” tanyanya saat mendengar Ryan mendengus-dengus dengan suara berat.

”Ehm.. enak, mbak. Lumayan, daripada onani.” jawab pria itu.

“Kamu sering onani? Masa sudah punya istri masih mau onani.” Asty bertanya tak percaya.

”Lha kalau ditinggal berhari-hari seperti ini, larinya ya onani, mbak. Hari ini untung ada mbak yang mau nolongin.” jawab Ryan apa adanya. ”Eh, ngomong-ngomong, dildo merah di kamar mandi tadi punya mbak ya?” tanyanya.

Tubuh Asty yang tengah meliuk-liuk karena gesekan kontol Ryan pada perutnya, langsung terdiam mendengar pertanyaan itu. ”Ah, kamu menemukannya ya?” tanyanya, tampak sangat malu.

”Tidak apa-apa, mbak. Saya tahu kok gimana rasanya kalau lagi pengen. Bahkan Lia ke Bali juga bawa dildo buat obat kangen kalau lagi pengen ngentot.” jawab Ryan.

”Ehm, begitu ya?” Asty jadi rilex kembali.

”Tapi ngomong-ngomong, daripada pake barang mainan kaya gitu, mending pake yang asli aja, mbak. Lebih nikmat rasanya. Saya mau kok minjemin.” tawar Ryan berani.

Asty mendelik. ”Ah, gila kamu! Sudah ah, cepet gesek-geseknya. Aku sudah ngantuk nih. Masih lama ya?” dia nampak tersinggung.

Ryan segera memeluknya lagi dan kembali menggesek-gesekkan penisnya. ”Bisa cepat sih mbak, itu juga kalau mbak mau bantu sekali lagi.”

”Bantu apa lagi?” Asty mendengus kesal.

”Ijinkan aku megang tetek mbak.” bisik Ryan sambil tangannya mulai mengelus-elus pangkal dada Asty yang sedikit  terbuka.

Asty langsung sewot. ”Kamu itu, dikasih satu minta yang lain. Jangan-jangan nanti kamu malah minta ngentot sama mbak.” tuduhnya garang, tapi tidak melarang tangan sang adik ipar yang hinggap di pangkal buah dadanya.

Dianggap mendapat ijin, Ryan segera melepas tali daster yang ada di pundak gadis cantik itu sehingga payudara Asty yang putih mulus separuh terbuka. Dia memindahkan elusan tangannya ke buah dada yang berukuran besar itu ehm, rasanya begitu nikmat sekali. Empuk dan lembut, tapi juga hangat. Ketika telapak tangan Ryan melewati putingnya,  dia bisa merasakan benda mungil itu sudah mengeras kencang, tanda kalau Asty juga terangsang dengan ulah mereka saat ini. Tapi ulah Ryan terhenti ketika Asty menahan gerakan tangannya. 

"Ryan, y-yang itu... nggak boleh, nanti kebablasan, soalnya aku paling nggak tahan kalau tetekku dipegang-pegang!" kata perempuan kelahiran Semarang, 19 Juni 1984 itu.

Ryan menghentikan elusannya, tapi tangannya tetap memegang buah dada sang kakak ipar, hanya menggenggamnya, tidak memijit apalagi meremas-remas, dan kelihatannya Asty tidak keberatan dengan hal itu. Dalam posisi memeluk erat, Ryan menggeser tubuhnya merapat. Bersamaan dengan itu, dia menyingkap daster yang dipakai Asty ke atas, sehingga paha putih mulus perempuan itu yang dari tadi cuma mengintip malu-malu, kini terbuka penuh.

”Ah, mbak...” Ryan kaget saat menyadari Asty yang ternyata tidak memakai CD. Bokong dan selangkangannya terlihat jelas. Ryan bisa menyaksikan betapa bulu-bulu halus yang tercukur rapi tumbuh rapi di atas lubang senggama Asty yang terlihat masih sangat sempit.

”Ini sudah kebablasan, Ryan.” keluh Asty, tapi tidak menolak saat Ryan menyesuaikan posisi ujung penisnya agar bisa diselipkan di belahan paha dekat kemaluannya.

”Dengan begini, saya makin cepat moncrotnya, mbak.” Ryan mengelus-elus paha belakang sang kakak ipar sambil sedikit mendorong kemaluannya ke depan. 

Asty diam saja, sehingga usaha Ryan menyelipkan burungnya berjalan lancar, karena disamping cairan vagina Asty sudah membasahi luar kemaluannya sehingga pangkal pahanya jadi licin, juga karena wanita itu sedikit membuka pahanya, memberi kesempatan pada sang adik ipar untuk menyelipkan burungnya di antara kedua paha putih mulusnya yang sedikit berbulu.

”Ughhhhh,” mereka melenguh berbarengan. Penis Ryan berdenyut nikmat sekali. Tangan pria itu mulai beraksi dengan meremas-remas kembali buah dada Asty yang membusung indah dengan lembut, dan kali ini wanita itu tidak menolak, bahkan tangan kirinya memegangi tangan Ryan yang sedang bergerilya, meminta untuk memijit dan meremas makin kuat.

"Mbak, saya jadi terangsang, nih. Gimana, mbak?" sambil menggigit-gigit pundak dan menjilat-jilat kuping sang kakak ipar, Ryan berbisik.

"H-habis... kamu sih... pake acara ngelus-ngelus segala.” Asty mengelinjang kegelian, ”Ya sudah, daripada nanggung, kita terusin aja!" Pahanya yang semakin licin oleh cairan vaginanya menjepit kemaluan Ryan semakin nikmat.

"Diterusin gimana, mbak?" tanya Ryan menggoda.

"Ya terus begini, kujepit kontol kamu pake paha sampai moncrot.” jelas Asty.

"Kalau dimasukin dan dijepit pake memek, boleh nggak? Lebih enak kayaknya?" goda Ryan, makin terangsang. 

"Nggak boleh!" berkata begitu, Asty menggesekkan kedua pahanya makin keras, juga makin cepat, sambil memaju-mundurkan pantatnya. Penis Ryan jadi terasa dipelintir dan dipijit-pijit oleh daging kenyal yang licin, sehingga dia merasa jauh lebih nikmat, tapi tidak cukup untuk membuatnya ejakulasi.

"Nggak bakal bisa keluar,mbak, dengan cara begini. Lagian saya nggak mau kalau keluar sendirian. Soalnya mbak Asty juga sudah basah sekali. Kita sama-sama aja ya?!" Ryan mendorong pundak kakak iparnya, sehingga wanita cantik bernama lengkap Annastya Yuntya Eka Wardhani itu telentang miring.

Bisa dilihatnya buah dada Asty yang besar membusung indah, lengkap dengan putingnya yang mencuat mungil kemerahan. Meski ukurannya besar, tapi benda itu terlihat tidak turun sedikit pun, tampak begitu padat dan bulat. Sungguh pemandangan yang sangat menggiurkan. Apalagi di bawah, dengan kaki kiri melintang menindih pinggangnya, Ryan juga bisa melihat vagina mungil Asty yang terbuka lebar menghadap ke atas. 

"Mbak kalau main, suka posisi gimana?" tanya Ryan sambil menggesek-gesekkan batang penisnya yang sudah basah oleh cairan ke depan lubang vagina sang kakak ipar.

"Nggak tau ah. Udah lupa!" jawab Asty malu-malu. Membiarkan tangan kanan Ryan mengelus-elus dan menggeletik bibir kemaluannya yang tercukur rapi. Dia memejamkan matanya, tampak sangat menikmati. Sementara nafasnya yang sudah berat, kini jadi semakin memburu.

"Saya masukin ya, mbak?" sambil memencet-mencet klitoris Asty dengan ujung jarinya, Ryan bertanya.

Asty tidak langsung menjawab, ”Aaghhhhhhh,” dia malah mendesah panjang karena nikmat. Wanita cantik bertinggi badan 168 cm itu membuka matanya dan menatap sayu kepada sang adik ipar. "Jangan, Ryan, mbak nggak mau. Ditempel di luar aja!" pintanya lirih.

Ryan tersenyum, tapi Asty tidak membalasnya, malah sekarang menutup matanya kembali. Sebetulnya kalau mau, bisa saja Ryan dengan mudah memasukkan batang penisnya ke dalam liang senggama kakak iparnya yang sudah berlendir dan terbuka lebar. Tapi dia tidak mau, Ryan tidak mau melakukan pemaksaan. Dia ingin permainan ini dilakukan suka sama suka, tanpa ada unsur keterpaksaan sedikit pun. Dia akan dengan sabar merayu kakak iparnya sampai mau bersetubuh dengannya dengan ikhlas. Dengan begitu rasanya akan lebih nikmat. Jalan menuju kesitu sudah terbentang lebar, tinggal dia dengan sabar melaluinya.

Ryan menarik tangan kanan Asty dan dibimbing ke arah kemaluannya, Asty tidak menolak, bahkan tangannya menekan penis Ryan yang sudah tegang maksimal ke arah vaginanya yang terbentang lebar. Dipilin-pilinnya, digosok-gosokkannya burung itu di atas klitorisnya. Asty mendesis-desis sambil membuka matanya, dia menatap Ryan sayu, sementara tangannya terus menekan-nekan penis pria itu ke arah klitorisnya.

Tersenyum, Ryan menarik dan memajukan penisnya dengan irama yang teratur, sehingga gesekan di atas klitoris Asty semakin membuat pinggul gadis cantik bergoyang indah. Asty mendesis dan merintih, lidahnya keluar menjilat bibirnya ke kiri dan ke kanan. Sebenarnya Ryan ingin melumat dan menciumnya, tapi posisinya kini sulit untuk melaksanakannya. Akhirnya di tengah rangsangannya itu, dia memasukkan jarinya ke bibir tipis itu. Asty langsung menyedot dan menjilatnya dengan penuh nafsu, tampak sangat terangsang sekali.

Dan dalam kenikmatan itu, dia jadi terlena. Tidak menyadari Ryan yang sudah menarik mundur kemaluannya, dan dengan sedikit mengubah posisi pinggul dan pahanya, mengarahkan ujung penis itu ke liang senggamanya. Ryan kemudian mendorongnya pelan- pelan, bisa dia rasakan betapa licin dan beceknya lubang kemaluan sang kakak ipar, tidak terasa ada gesekan dengan rambut seperti kalau dia ngentot dengan Lia, istrinya yang juga adik kandung Asty.

Makin dalam dia mendorong, makin hangat dan panas rasanya. Batang penisnya jadi seperti diselimuti kain beludru basah. Asty yang masih asyik mengulum dan menjilat jari Ryan, tidak menyadari bahwa batang adik iparnya yang keras sudah jauh masuk ke dalam vaginanya.

Dia baru sadar, saat Ryan mulai menggoyangnya maju mundur. "Lho, apa ini? Kok dimasukin sih, janjinya kan cuma di luar!" Asty memprotes, matanya membelalak penuh amarah, tapi tidak dengan tubuhnya. Pinggul Asty mulai bergerak pelan mengimbangi goyangan sang adik, bahkan otot-otot vaginanya juga mencengkeram ketat, meminta Ryan untuk menggenjot dan menusuk semakin dalam. 

"Maaf, mbak, nggak sengaja. Tadi kepleset masuk. Ya udah, sekalian aja saya dorong." jelas Ryan sambil terus menggoyang.

”Aahh... ehhhsst...!” Asty sudah tidak menolak lagi. Dia bahkan memejamkan matanya dan mulai mendesis. 

"Enak banget, mbak!" Ryan membenamkan dan menusukkan batangnya semakin dalam. Bisa dirasakannya kedutan lemah dari dinding vagina sang kakak ipar. Benda itu seperti menjepit kuat penisnya dan menyedotnya dalam-dalam.

"Mbak, kok bisa begini rasanya? Nikmat sekali.” Dalam kenikmatan, Ryan menatap wajah Asty, perempuan itu masih memejamkan mata tetapi dahinya agak sedikit berkerut. Jepitannya terasa semakin mengencang. 

”Ahhhh.. Aahhhh...” tiba-tiba Asty merintih tertahan. Ryan segera sadar bahwa kakak iparnya itu sudah hampir mencapai klimaks. Maka tanpa melepas penisnya, dia mengubah posisi. Sekarang dia menindih tubuh Asty. Ditekuknya kaki perempuan itu ke samping sehingga kedua pahanya terbuka lebar-lebar. Dengan begitu Ryan jadi leluasa mendorong penisnya hingga benda itu bisa masuk sampai ke pangkalnya.

"Ryan, baru lima menit dimasukin, kok aku sudah mau keluar ya?” tanyanya dengan pandangan sayu dan pasrah. Wajahnya yang cantik hanya satu inci dari wajah Ryan. Bibir mereka sudah hampir bersentuhan.

"Ssshhhh... jangan ditahan, mbak. Keluarin aja.” sambil terus memompa tubuhnya, Ryan meremas-remas kedua buah dada Asty yang membusung indah di depannya. Putingnya yang mungil kemerahan ia pilin dan tarik-tarik kecil. 

”Oohhhh... Sshhhh... Sshhhh... kamu gimana, masih lama nggak?” tanyanya di sela-sela rintihan.

Ryan mengangguk, ”Saya belakangan juga nggak apa-apa kok, mbak." bisiknya.

"Tapi kalau enak gini, aku masih pengen lama." kata Asty.

"Nggak apa-apa, mbak. Nanti mbak bisa dua kali, saya masih kuat kok!" kata Ryan yakin karena dia masih dalam tahap awal. 

Asty mengangguk. ”Puaskan aku kalau begitu, karena kamu yang sudah bikin aku jadi seperti ini!” pandangan matanya kelihatan pasrah.

Maka Ryan segera mengatur posisinya. Dengan bertumpu pada lututnya, dia siap untuk mengantarkan Asty ke fase puncak kenikmatannya. Kembali dia membenamkan penisnya dan mengocok liang vagina wanita cantik itu. Kelaminnya terasa sangat nikmat sekali saat menggesek bibir dalam vagina Asty yang sempit. Tubuh mereka yang sudah sama-sama telanjang menempel  ketat, menyatu bagai tak bisa dipisahkan lagi. Payudara Asty yang bulat besar mengganjal di dada Ryan, dan Ryan langsung meremas-remasnya sambil makin cepat dia menggerakkan pinggulnya.

"Ohhh... Ohhh... Sshhh... Sshhh... aduh, enak banget burungmu, Ryan. Memekku jadi senut-senut. Aduh! Aku jadi nggak tahan nih...!" Asty merintih, mulutnya yang tipis terbuka lebar, minta dicium. Ryan segera menyambar dan melumatnya dengan penuh nafsu.

"Eeghh... Eeghh... Ryan, a-aku... keluar... Aarrgghhhhhh...!" dengan membenamkan penisnya dalam-dalam, Ryan bisa merasakan semprotan cairan hangat pada lubang kemaluan kakak iparnya itu. Cairannya banyak sekali, beberapa sampai merembes keluar dari sela-sela kelamin mereka yang masih menyatu.

Asty mencengkeram keras punggungnya, kakinya mengejang dan pinggulnya diangkat tinggi-tinggi saat cairan itu menyembur keluar. Ketika tetes terakhirnya berlalu, dia akhirnya terkulai lemah dengan nafas berat dan putus-putus. ”Gila, nikmat banget, Ryan!” bisiknya dengan vagina masih berdenyut pelan, menikmati sisa-sisa orgasmenya yang masih terasa.

Tersenyum, Ryan menggeser tubuhnya ke samping tanpa melepas kemaluannya. Dia ingin memberikan waktu kepada kakak iparnya itu untuk beristirahat sebentar. Sambil meremas-remas payudara Asty yang mengkilat karena keringat, Ryan menciumi pipi gadis itu yang halus seperti sutra. 

***

Babak kedua dimulai tak lama kemudian dengan posisi Ryan duduk di tempat tidur dengan kaki lurus ke depan, sedangkan Asty jongkok menghadap ke arahnya, dengan kedua buah dadanya yang menggelantung indah persis di depan mulut sang adik. Pelan Asty menggosok-gosokkan kepala penis Ryan ke tonjolan klitorisnya, sementara Ryan dengan penuh nafsu meremas-remas dan memijiti bulatan payudara kakak iparnya, juga menghisap-hisap putingnya yang mungil kemerahan.

"Mbak, dimasukin aja, Mbak. Saya sudah nggak tahan gelinya!"  Ryan berkata.

Asty menurut dan membenamkan kemaluan si adik ipar ke liang senggamanya yang sudah kemerah-merahan dan basah kuyup. Dikocoknya batang itu dengan tidak terlalu cepat. Mereka saling berpelukan. Ryan menekuk sedikit kakinya dan membuka lebar-lebar paha Asty sehingga penisnya terbenam total ke dalam liang kenikmatan wanita cantik itu. Pangkal paha mereka sudah basah dan becek, bunyi kocokan kelamin mereka  terdengar sangat indah dan merdu. Cpook... cpook... cpook...!!!

"Ryan, burungmu enak sekali. Ssh... ssh... kayaknya udah mentok ya?” kata Asty sambil menengadahkan wajahnya, memagut dan melumat bibir sang adik ipar dengan penuh nafsu.

"Iya, Mbak, nikmat sekali!" Ryan membalas dengan meremas dan memijit-mijit bulatan payudara Asty berulang kali.

"Yang enak sebelah mana?" tanya Asty menggoda.

"Di batangku, Mbak. Aduh, enak sekali... ya, gitu, Mbak. Jepit kuat-kuat sambil diputer!"

Asty menurut, ia pun memutar pinggulnya sambil menjepit batang penis Ryan kuat-kuat. Sekarang, ganti Ryan yang mengocok dari bawah. "Ughh... Mbak!" kenikmatan di batang kemaluannya semakin menjadi-jadi. Ryan mengelus dan memijit pantat Asty yang putih mulus, ternyata sudah banyak lendir disana. Begitu basahnya memek Asty hingga lendirnya sampai membasahi lubang anusnya. Ryan terus mengelus-elus bongkahan padat itu sambil menggenjot penisnya semakin cepat, membuat Asty semakin terangsang dan merintih liar.

Cukup lama mereka berada dalam posisi seperti ini. Mereka terus saling genjot dan  saling pagut. Tangan mereka juga tak bisa diam, Asty memijit-mijit penis Ryan agar menusuk semakin dalam ke lubang memeknya. Sementara Ryan, sambil mengocok semakin cepat, tak henti-hentinya meremas dan memilin-milin puting Asty yang terasa mengganjal dalam genggamannya. Sampai akhirnya, Ryan merasa sudah hampir tak kuat lagi, simpul-simpul syarafnya sudah hampir meletus karena kenikmatan gesekan dinding-dinding vagina Asty yang sempit dan legit.

"Mbak, aku sudah mau keluar! Sshh... ahhh... aku sudah tak tahan lagi, Mbak!" rintih Ryan keenakan.

"Tahan sebentar, aku juga sudah hampir... sshh... ughh... tahan sebentar. Aduh, nikmat sekali, shh..." lirih Asty tak kalah nikmat. Dia menurunkan tubuhnya dan mendekap Ryan erat sekali. Payudaranya yang besar ia biarkan mengganjal di dada bidang laki-laki itu. Pinggul Asty maju mundur semakin cepat, berusaha mengimbangi tusukan Ryan yang terasa semakin kuat dan dalam. Sementara kakinya sudah melingkari pinggang suami adiknya itu.

Ryan yang sudah tidak tahan lagi, sambil menggigit leher jenjang Asty, menekan kemaluanku dalam-dalam dan... croot, croot, croot! Air maninya tumpah membasahi memek Asty yang sudah membanjir parah.

Dan pada saat itu pula, Asty melenguh panjang melepas orgasme keduanya. Sungguh kenikmatan yang luar biasa dirasakan oleh wanita cantik itu. Tubuhnya yang montok terkejang-kejang saat cairan cinta menyembur dari dalam liang kemaluannya. Setelah berciuman dan berpagutan sebentar, mereka pun segera tidur berpelukan di ranjang. Kelelahan setelah bertempur selama satu jam lebih membuat mereka pulas dengan cepat.

***

Ryan tersentak, bayangan tubuh montok sang kakak ipar membuatnya tersadar. Biar saja Lia selingkuh, yang penting kan sudah ada Asty yang bisa memuaskannya sekarang. Sejak malam itu, mereka masih sering melakukannya lagi. Biasanya sembunyi-sembunyi kalau pas Lia lagi ada di rumah. Atau kalau sudah tak tahan lagi, nyewa hotel dan janjian ketemu di luar.

Kalau dihitung-hitung, Ryan sekarang lebih banyak tidur dengan Asty daripada dengan Lia, istrinya sendiri. Meski begitu, tampaknya Lia tidak keberatan sama sekali karena dia juga sudah punya Mang Jali yang siap memuaskannya kapan saja. Ryan tahu, perkawinannya sudah tidak sehat, tapi dia masih berat untuk menggugat cerai sang istri. Bagaimanapun, meski hanya sedikit, masih tersisa cinta di hatinya untuk wanita itu.

Menghela nafas, Ryan bangun dari sikap duduknya. Berpaling ke kiri dan... matanya langsung bentrok dengan mata seseorang. Seorang perempuan. Perempuan yang sangat cantik dan seksi.

Ryan terperangah. Sejak kapan perempuan itu duduk di situ? Dia tidak melihatnya beberapa menit yang lalu. Perempuan itu berwajah oriental, dengan kulit putih dan sepasang bola mata yang indah. Rambutnya yang agak keriting dibiarkan tergerai hingga ke punggung. Umurnya pasti tak lebih dari tiga puluh tahun. Duduknya sedikit agak sembarangan, sehingga ujung roknya tersingkap, dan menyembullah sepasang pahanya yang memutih penuh! Ugh... Ryan menelan ludah.

Saat wanita itu masih menatapnya, dia segera menarik pandangannya dan melemparkannya ke arah lain. Huh! Persetan dengan perempuan, batin Ryan dalam hati. Walau bagaimanapun cantiknya, tentu tidak jauh beda dengan Lia! Dia tidak mau sakit hati untuk yang kedua kali. Ryan mengedarkan pandangannya ke atas, memandang langit. Tetapi, yang terlihat malah... mata perempuan itu yang sangat indah. Lebih indah daripada kumpulan awan disana. Secara naluriah, Ryan kembali berpaling ke kiri. Dan lagi-lagi, matanya berserobok dengan mata bulat wanita cantik itu.

Hah, perempuan itu tersenyum kepadanya! Mau tak mau, Ryan membalas senyumnya. lni benar-benar di luar dugaan. Dan Ryan berpikir, perempuan itu cuma sendiri. Hmm! Hati Ryan jadi mengembang. Apakah ini jalan dari Tuhan agar ia bisa melupakan penghianatan sang istri?

“Aku tidak boleh ge-er!” ujar Ryan dalam hati. “Aku tidak boleh berharap terlalu banyak. Bisa ngobrol dengannya saja sudah bagus. Dia sendiri, dan akupun sendiri. Lumayan kalau bisa kenalan!”

Berpikir demikian, Ryan menunjuk dirinya, kemudian menunjuk perempuan itu. Maksudnya, Ryan menanyakan: “Bagaimana kalau dia menemani perempuan itu duduk, menikmati alam indah Pantai Ancol?”

Perempuan itu tertawa kecil sambil mengangguk. Dan Ryan tentu saja tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Segera dia berdiri dan menghampiri perempuan cantik itu.

“Tidak mengganggu?!” tanyanya sambil duduk di sisi perempuan itu.

“Senang sekali ditemani!” jawab perempuan itu.

“Sendirian?” tanya Ryan.

“Seperti yang kamu lihat!” kata perempuan itu sambil mengerling. Kemudian melanjutkan, “Sebenarnya saya menunggu seseorang.”

“Pacar?!”

“Belum bisa dikatakan begitu. Hanya kawan biasa. Dan kamu?!” tanya perempuan itu, yang tahu betul bahwa Ryan seumuran dengannya.

“Saya memang datang sendirian,” ujar Ryan.

“Nggak sama istri?!” tanya perempuan itu sambil tersenyum.

“Saya… ehm,” Ryan mengambil sebongkah batu dari antara kakinya, kemudian dilemparkannya hingga tenggelam di pantai. Lalu berkata dengan suara perlahan, ”lagi ada masalah sama istri.” ucapannya terputus.

“Masalah apa? Kalau saya boleh tahu!” perempuan itu bertanya antusias. Rupanya dia penasaran.

“D-dia... menduakan cinta kami!” sahut Ryan getir.

“Dia pacaran dengan lelaki lain?!” tebaknya.

“Ya!” sahut Ryan pendek, tidak ingin membicarakan hal itu lebih jauh.

“Nama kamu siapa?!” tanya perempuan itu.

“Ryan. Kalau kamu?!”

“Jill Gladys, tapi panggil saja Jill.”

Ryan mengangguk dan tersenyum.

“Ada apa?!” tanya Jill.

“Nggak apa-apa! Nama yang cantik!”

Perempuan itu tertawa kecil sambil memukul bahu Ryan. “Kamu ini! Baru ketemu, sudah merayu!”

”Tapi benar, kamu memang cantik.”

Jill tersenyum. “Apakah kehadiranku bisa sedikit menghiburmu? Jangan cengeng jadi laki-laki. Perempuan tidak cuma satu di dunia ini.”

“Barangkali memang begitu. Tetapi saya sulit sekali melupakannya.” sahut Ryan. Baginya, Lia adalah cintanya yang pertama dan terakhir.

“Kamu sangat mencintainya?!” Jill bertanya.

“Ya!” Ryan mengangguk. ”Dia sangat cantik.” sambil berkata, dia mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah foto berukuran kecil. Diserahkannya pada Jill. Perempuan itu mengamat-amatinya sejenak.

“Ini Lia Ananta kan?” tanya Jill sambil menyerahkan kembali foto itu.

Ryan mengangguk.

”Rasanya hampir tidak mungkin kalau dia mengkhianati perkawinan kalian! Sepengetahuanku, dia itu lugu dan pendiam. Tipe gadis setia.” jelas Jill.

”Saya juga berpikir begitu saat awal-awal menikah dulu. Kenyataannya... saya tertipu.” Ryan menyimpan kembali foto itu ke dalam dompetnya, kemudian dimasukkan ke saku belakang celananya.

“Kalau memang begitu, yah apa boleh buat. Kamu harus tabah,” suara lembut Jill seperti sedang memberi petuah.

“Ya, memang. Saya harus tabah,” ujar Ryan membenarkan.

Angin melembut, mempermainkan rambut mereka. Perahu-perahu masih saja hilir mudik di tepi pantai, beberapa ada yang berlayar agak ke tengah laut. Pucuk-pucuk pohon kelapa bergoyang di kejauhan. Di depan mereka, di  jalanan yang melingkari pantai kecil panjang itu. Ada sepasang manusia yang berjalan mesra sekali. Lengan si lelaki melingkari pinggang ramping si wanita. Sedangkan kepala si wanita menyandar ke bahu si lelaki. Mesranya... selangit!

“Kamu sendiri?! Mengapa berada di sini?!” tanya Ryan pada Jill.

“Sudah kukatakan, bukan?! Aku menunggu seseorang.” kali ini wajah Jill menampakkan kegelisahan.

“Lalu, yang kamu tunggu itu, tidak datang?!” tebak Ryan.

“Sudah hampir satu jam aku menunggu. Rasanya dia memang tidak datang.” kata Jill, lesu.

“Barangkali dia ada halangan.”

“Ya! Barangkali!” Jill melihat jam tangannya. Sudah jam lima lewat. Matahari sudah redup di langit. Angin bertambah sejuk semilir.

Mereka terus mengobrol. Melompat dari satu masalah ke masalah lain. Kebanyakan tidak penting, hanya untuk mengisi waktu agar tidak saling terdiam. Suasana petang semakin hilang. Berganti dengan gelap. Bulan di langit tersenyum, bulan sabit. Suasana di pantai semakin ramai, tidak hanya mereka berdua. Mereka adalah pasangan-pasangan yang saling memadu kasih. Dan sekarang, Jill dan Ryan tidak lagi berjauhan. Jill meletakkan kepalanya ke bahu Ryan.

“Kalau saja pacarmu melihat kita sekarang, tentu dia akan cemburu!” ujar Ryan.

Jill tersenyum. “Aku belum punya pacar.” dia  menggeser-geserkan rambutnya ke leher Ryan, “Lelaki itu belum lama kukenal. Baru dua kali kami bertemu. Dan sekarang dia tidak datang. Janjinya tidak bisa kupercaya!”

Angin malam berhembus dingin, menusuk tulang. Tetapi tidak demikian halnya dengan Jill dan Ryan. Keduanya sama sekali tidak merasakan dingin. Hati mereka hangat. Lengan-lengan mereka saling merangkul, erat. Keduanya merasakan diri melayang. Bayang-bayang pepohonan menimpa mereka berdua.

Lalu, tanpa tahu siapa yang memulai, mereka berkecupan. Hangatnya bibir Jill, disapu pelan oleh Ryan. Tangan-tangan mereka mulai saling bergenggaman. Lalu saling meremas. Lalu berkecupan lagi. Sangat mesra. Sementara bayang-bayang pohon semakin menghitam. Angin semakin dingin berhembus. Mereka kini tak ubahnya seperti sepasang kekasih yang sudah lama saling memadu kasih. Sampai akhirnya, Jill seperti tersadar dan menatap jam tangannya. “Ah, sudah jam delapan!” katanya. Lalu cepat melepaskan rangkulan Ryan di tubuhnya. “Aku harus pulang!”

“Kuantarkan kamu pulang.” ujar Ryan menawarkan.

“Tidak. Biar aku pulang sendiri.” tolak Jill halus.

“Ayolah, tidak baik perempuan pulang sendirian malam-malam begini.”

”Aku sudah biasa,”

”Tidak, selama ada aku disini.”

Jill terdiam sebentar. Lalu, “Baiklah! Bukan aku yang meminta loh,”

Ryan tersenyum. Sungguh dia tak menyangka, malam ini akan bertemu dan berkenalan dengan Jill Gladys, wanita yang sangat cantik dan seksi menurut pandangannya. Dan dia tak menyangka, bahwa perkenalan itu cepat menjadi akrab. Keduanya tersenyum-senyum kecil saat berjalan menuju tempat parkir. Terbayang kembali, bagaimana mesranya saat bibir mereka bertemu, saling menindih dan menghisap. Betapa hangatnya. Betapa lembutnya.

***

“Kamu tinggal sendirian di sini?!” tanya Ryan pada Jill. Mereka duduk di ruang tengah rumah perempuan cantik itu. Pada jam sepuluh malam, Jill belum mandi. Tetapi di mata Ryan, Jill bahkan tampak lebih cantik dan menawan daripada bidadari.

“Tidak! Bersama seorang pembantu!” jawab Jill sambil meletakkan segelas kopi susu di hadapan Ryan.

Ryan mengitarkan pandangannya ke sekeliling ruang tengah. Hm, rapi. Pertanda rumah ini ditangani oleh orang-orang yang baik. “Kamu tadi seperti mengenal istriku secara dekat, apa kamu juga artis juga?!” tanya Ryan kemudian.

“Ya, bisa dikatakan begitu. Tapi cuma main di FTV, bukan artis besar dan terkenal macam Lia Ananta.” kata Jill sambil berdiri dari duduknya. “Kau tunggu sebentar. Aku mau mandi dulu. Kalau mau baca-baca majalah, tuh di meja ada banyak.”

Ryan mengangguk. Jill kemudian masuk ke kamarnya, mengambil handuk. Kemudian keluar lagi dan melenggang ke kamar mandi. Mata Ryan tak lepas memandang pinggul montok Jill yang bergoyang-goyang indah saat wanita cantik itu berjalan meninggalkannya.

Di kamar mandi, Jill melepaskan satu per satu baju yang melekat di tubuhnya. Hmm, air terasa sejuk ketika mengguyur tubuhnya yang putih dan mulus. Lalu tangannya yang lentik mulai menyabuni; dari leher turun ke bahu, turun lagi ke sepasang pebukitan indah di dadanya. Putingnya yang mencuat kemerahan tampak menonjol kaku. Semua yang ada pada diri Jill merupakan panorama sangat indah yang akan mendatangkan kesan mendalam bagi siapapun yang memandangnya.

Sambil menyabuni itu, Jill berpikir: “Apakah Ryan tertarik pada tubuhnya ini? Pemuda itu sangat menarik. Tubuhnya tegap dan atletis. Tubuh yang dirindukan oleh perempuan. Apalagi perempuan yang lama tidak disentuh seperti dirinya!”

“Ryaan!!!” panggil Jill kemudian.

Ryan yang sedang duduk membaca di ruang tengah, segera menutup majalah dan buru-buru pergi ke kamar mandi begitu mendengar suara lembut Jill yang memanggilnya mesra. Pintu kamar mandi setengah terbuka. Jill berdiri di baliknya dengan handuk menutupi sebatas dadanya! Ryan terkesiap. Dengan handuk itu, tubuh montok Jill tercetak indah. Terutama kulit bahu dan pahanya yang sangat putih dan mulus. Kencang dan sekal, membuat mata Ryan tak berkedip menatapnya.

Jill tersenyum sambil menepuk pipi pemuda itu. “Mengapa kau pandangi aku seperti itu, sih?! Apa ada yang aneh pada diriku?!”

“Ah, tidak. Aku... eh, kamu cantik sekali!” kata Ryan gelagapan dan serba salah, merasa malu karena sudah dipergoki.

“Ah, rayuan gombal!” ujar Jill sambil mengerling manis. “Ryan!! Bisa tolong ambilkan aku shampoo di kamar. Sial, yang disini ternyata sudah habis.” kata Jill dengan suara manja. Suara yang membuat hati Ryan panas dingin.

”B-baik.” Tetapi baru saja Ryan akan membalikkan badannya, tiba-tiba kaitan handuk Jill terlepas. Dan cepat sekali handuk itu meluncur ke bawah.

Jill terkejut. “Oh..!!!” serunya, karena dia tidak mengenakan apa-apa lagi di balik handuk itu.

Yang lebih gawat lagi adalah Ryan. Jantungnya bagai akan meledak. Matanya membelalak. Dan dia tidak mampu lagi menguasai diri. Ditubruknya tubuh montok Jill Gladys.

“Ryaan! Kau ini apa-apaan?!” Jill meronta-ronta, namun terlalu lemah. Tidak mungkin mampu melepaskan diri dari pelukan Ryan yang kuat, yang sudah telanjur dikuasai oleh nafsu.

“Ryan, jangan! Oukh, kamu ini...!!” Jill masih mencoba meronta untuk terakhir kali. Tidak, lebih tepat kalau dikatakan menggeliat. Kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan, berusaha menghindari bibir Ryan yang mencari-cari bibirnya.

Ryan yang sudah tak sabar, segera mendorong tubuh Jill ke dinding dan ditekankannya hingga perempuan itu tidak leluasa lagi untuk bergerak. Dan sekejap kemudian, mulut Ryan berhasil menangkap bibir merah Jill Gladys.

“Hmm! Mmm!!” Jill tidak lagi meronta. Matanya segera meredup, menerima pelukan dan kuluman bibir Ryan yang hangat. Bahkan sekarang, dia ikut membalas; dijulurkannya lidahnya, saling mendorong dengan bibir pemuda itu. Matanya semakln redup. Lincah sekali lidah Jill mengait-ngait lidah Ryan.

Mendapat sambutan yang hangat, darah muda Ryan semakin membuncah. Panas! Menuntut pelampiasan. Apalagi ditambah dengan sepasang payudara ranum milik Jill yang menekan lembut di depan dadanya, membuatnya semakin tak tahan.

“Ryan, hmph... akh!” desis Jill saat Ryan mulai meremasnya lembut.

“Jill, sssh!” ciuman Ryan kini turun ke leher Jill yang jenjang.

“Ryan!” Jill menyebut nama laki-laki itu ditengah-tengah rintihannya. Tubuhnya menggeliat-geliat. Lehernya bergerak kesana-kemari, menunjukkan kalau dia sudah sangat terangsang sekali sekarang.

“Ya, ada apa?” tanya Ryan dengan mulut tetap melumat dan tangan terus meremas lembut.

“M-mengapa kau melakukan ini, p-padahal kita baru saja kenal?” membuat Jill  lebih terengah-engah lagi, saat hidung Ryan menyapu-nyapu pangkal buah dadanya yang montok.

“Entahlah, Jill. Tapi aku ingin sekali melakukannya denganmu. Kau begitu cantik dan menggoda!” ujar Ryan di sela-sela dengus nafasnya.

Jill tertawa kecil. Telapak tangannya sebentar mengelus dan sebentar menekan kepala Ryan yang kini mendarat di bukit buah dadanya. “Kamu bohong!” sergahnya sambil membusungkan dadanya yang montok dan putih mulus, agar Ryan lebih leluasa melumat putingnya. “Lebih cantik Lia daripada aku!”

“Tidak!” Ryan mencucup dan melumatnya dengan rakus, bergantian kiri dan kanan, merasakan betapa lembut dan kenyalnya benda itu, menikmatinya seperti bayi yang kehausan, yang lagi menetek pada ibunya. “Kamu lebih cantik. Juga lebih seksi!”

“Kamu bohong!” Jill memijit selangkangan Ryan yang mulai terasa mengeras dengan gemas.

“Auw!” Ryan menjerit. Pijitan itu mendatangkan sakit, tetapi juga nikmat.

“Kamu bohong! Lelaki memang begitu. Suka mengumbar rayuan pada wanita. Siapapun yang mau tidur dengannya, pasti dikatakan cantik dan seksi.” ujar Jill sambil menekankan dadanya yang sekal lebih keras ke muka Ryan.

“Tetapi aku tidak begitu! Jangan samakan aku dengan laki-laki lain!” Ryan merasakan tangan lentik Jill mengutik-atik batang penisnya yang masih tersembunyi di balik celana panjangnya, membuatnya panas dingin karena menahan sesuatu yang bergelora, kelenjar darahnya berdenyut-denyut cepat.

“Ya, ya, baiklah. Aku percaya!” Jill melepaskan satu demi satu kancing kemeja Ryan. Dan kemudian menarik turun baju itu hingga meluncur ke bawah dan jatuh ke lantai kamar mandi yang basah. Seperti yang dibayangkannya, tubuh Ryan memang sangat mengagumkan. Begitu atletis; dengan bahu tegap dan lengan kekar yang berurat. Dan dadanya berbulu lebat. Serrr! Berdesir darah Jill saat membayangkan bulu-bulu itu menggesek di puncak buah dadanya. “Ryan,” ia berbisik pelan, suaranya parau.

“Ada apa, Jill?” tanya pemuda itu.

“Malam ini aku milikmu. Jangan kecewakan aku ya?”

Ryan mengangguk. ”Tentu saja, Jill. Akan kubuat kau selalu mengingat malam ini.”

Ryan segera meletakkan tubuh mulus yang sudah tidak ditutupi sehelai benangpun itu ke lantai kamar mandi. Mereka menggunakan handuk dan baju Ryan sebagai alas. Sambil berbaring, Jill menatap Ryan yang mulai melepaskan celana panjangnya. Tubuh laki-laki itu terlihat begitu menggoda saat hanya mengenakan celana dalam kecil saja. Selangkangannya tampak begitu menonjol, mengular di balik cd-nya yang berwarna putih. Jill kesulitan menelan ludah saat melihatnya. Jembut Ryan sepertinya juga lebat sekali, tampak meremang dan terus menyambung hingga ke pusarnya. Sekali lagi, Jill dibuat kesulitan menelan ludah saat melihatnya.

“Ryan!” ujar perempuan cantik itu. “Buka celana dalammu. Bukalah! Aku ingin melihatnya!” Jill meminta.

Ryan tersenyum, dan melepaskan celana dalamnya. ”Begini?” tanyanya saat sudah telanjang di depan Jill.

Jill tak bisa menjawab. Matanya membelalak. Bagaimana tidak?! Sesuatu yang tadinya tersembunyi itu, kini terpampang jelas di depannya. Penis Ryan! Senjata yang menggelayut sangat tegang itu, begitu panjang dan besar. Luar biasa sekali! Benda itu mengangguk-angguk, seakan-akan menantang bagi siapa saja yang memandangnya. Bukan main! Seumur hidupnya, Jill belum pernah menyaksikan penis sehebat dan seindah itu.

Sebenarnya, bukan baru kali ini Jill menghadapi lelaki. Ia sudah sering tidur dengan laki-laki lain. Tetapi secara jujur, dia harus mengakui, bahwa lelaki seperti Ryan sangat jarang ia temui. Begitu jantan dan buas! Tapi di sisi lain juga romantis. Perpaduan yang sangat indah. Lelaki-lelaki yang dihadapi Jill sebelumnya, kebanyakan loyo. Tidak dapat memberikan kepuasan kepada dirinya! Dengan Ryan, Jill merasa akan mendapatkan apa yang ia inginkan.

Jill membiarkan saja saat Ryan kembali meraba-raba sepasang buah dadanya yang montok ranum. Lengkap dengan putingnya yang kemerah-merahan dan tegak menantang ke atas. Puting itu bergetar-getar, seirama dengan gerakan-gerakan tangan Ryan yang meremas-remasnya dengan lembut. Lembut sekali. Penuh perasaan.

”Ahh... Ryan!” Jill merengek manja, menggeliat sambil merintih. Matanya meredup manakala telapak tangan Ryan mulai berpindah-pindah. Puas dengan yang kanan, berganti dengan yang kiri. Bervariasi antara pijitan halus dan elusan lembut, dengan tekanan-tekanan yang begitu romantis dan menggairahkan, mendatangkan rasa geli-geli nikmat pada Jill yang sudah diamuk birahi.

“Oukh, Ryan! Hmmh... sssh... akhh!” wanita itu merintih sambil membusungkan dadanya yang sedang diremas-remas oleh Ryan, seperti ingin lebih dapat meresapi rasa geli-geli nikmat itu.

Ryan memang pintar sekali menaikkan rangsangan perempuan sedikit demi sedikit. Bukan hanya tangannya saja yang pintar bermain, tetapi juga hidung dan mulutnya. Hidungnya menciumi permukaan payudara Jill yang padat dan montok itu. Yang ukurannya tidak terlalu besar, tetapi juga tidak kecil, pokoknya pas ketika ditangkup dengan telapak tangan. Bentuknya sangat indah; padat dan bulat, bikin gemas. Membuat Ryan makin senang saat memainkannya.

“Ryan, kamu sering main perempuan ya?!” tanya Jill ditengah-tengah nafasnya yang terengah.

“Tidak sering. Cuma dengan istriku saja.” ujar Ryan sambil membuka mulutnya dan mencaplok puting buah dada Jill yang merah kecoklatan dan menghisapnya dengan rakus.

“Auw...!!” Jill menjerit lirih. ”Kalau begitu, dia pasti puas sekali.” tubuhnya menggelinjang saat Ryan mengulum putingnya semakin keras.

”Mungkin tidak! Buktinya, dia selingkuh dengan laki-laki lain.” Ryan mengganti sasarannya, kali ini mencucup yang sebelah kanan.

”Arghh... Lia bodoh! Meninggalkan lelaki seperti kamu!” Untuk kesekian kali, Jill harus mengakui, bahwa kuluman bibir Ryan sangat berbeda dengan kuluman lelaki lain yang pernah tidur dengannya. Begitu nikmat, tapi juga mesra dan romantis. Sangat menggairahkan dan merangsang birahi.

”Dan aku beruntung, bisa bertemu perempuan seperti kamu.” di lain pihak, Ryan juga sudah begitu terangsang. Sungguh nikmat puting buah dada perempuan cantik itu. Ryan mencucupnya, lalu melepaskannya. Mengulum lagi, dilepaskan lagi. Begitu terus, berganti-ganti kanan dan kiri. Dikulum lagi, dilepaskan lagi. Berulang-ulang dengan tak bosan-bosannya. Dan puting itu semakin tegang saja dibuatnya. Ryan juga melakukan variasi, sebentar lembut dan sebentar keras.

Rasa geli bercampur nikmat semakin terasa di tubuh Jill. “Hsssh... ahh! Terus, Ryan! Terus! Hmm... sssh... enak, Ryan! Ahh...” mulutnya mendecap-decap seperti orang kepedasan, tersendat-sendat seiring deru nafasnya yang turun naik tidak karuan. Dua telapak tangannya mengacak-acak rambut Ryan sambil menekankannya agar menghisap lebih kuat lagi.

Ryan semakin bersemangat. Digigit-gigitnya pentil susu Jill yang terasa semakin keras dan kenyal, pertanda perempuan itu kian terangsang hebat. Dihisapnya bergantian, lalu dijilatinya dengan penuh nafsu. Sebentar ditinggalkannya puting itu, Ryan ingin mengecupi bulatan buah dada Jill yang ranum dan montok. Setelah menciuminya bertubi-tubi, dan meninggalkan bekas cupang dimana-mana, ia kembali ke pentil susu Jill yang masih siap menanti. Dihisapnya lagi. Digigitinya perlahan-lahan. Dikulum-kulumnya dengan lidah. Lalu dilepaskannya lagi.

Jill semakin merintih hebat dibuatnya. “Ryan, ahhh... geli! Ya, ya, gitu! Aukh... Ryan! Kok enak sih!” desisnya dengan tangan tak menentu menjambak  rambut Ryan yang tebal, sehingga membuatnya menjadi semakin acak-acakan.

Lama Ryan mencumbu sepasang susu yang indah menggiurkan itu, sebelum bibirnya kemudian turun ke pinggang Jill yang ramping. Dijilatinya perut Jill yang licin dan langsing. Pusarnya menjadi sasaran ciuman-ciumannya berulang-ulang. Sambil berbuat demikian, tangan Ryan membelai-belai kedua paha Jill yang masih terkatup. Ia juga menggunakan ujung lidahnya untuk menjilat-jilat sambil menggigiti keras dan lembut perut perempuan cantik itu.

“Uukh, Ryan! Kami sungguh pintar merangsang perempuan!” bisik Jill terputus-putus.

Ryan bukan hanya sekali ini mendengar ucapan seperti itu. Ketika mencumbu Asty Ananta, kakak iparnya, ia juga menerima ucapan-ucapan seperti itu. Di samping itu, Asty juga mengatakan, bahwa seumur hidupnya, dia takkan mampu melupakan Ryan.

Jill yang sudah gemetar tubuhnya, menengok ke bawah. Pandangannya beradu pada sesuatu yang berada di antara kedua paha Ryan. Jill menelan ludah. Benda itu sejak tadi telah menggodanya. Dia menurunkan tangannya. Pelan digenggamnya batang penis Ryan yang kaku dan keras, dan mengocoknya lembut.

Ryan yang sedang asyik menciumi bulu jembut Jill, tertahan nafasnya. “Oukh... Jill!” rintihnya.

Jill merasakan benda yang digenggamnya, yang sudah sangat tegang, begitu hangat dan besar. Senang sekali ia memegangnya. Sementara itu, tangan Ryan masih juga terus meraba-raba tubuh Jill, bergantian antara paha dan payudaranya.

“Sabar dulu!” bisik Ryan saat merasakan Jill mulai membuka paha dan mengarahkan ujung penisnya ke dalam lubang vaginanya. “Masih belum saatnya. Kita nikmati dulu saat-saat ini sepuasnya.”

Apa boleh buat. Meskipun Jill sudah tidak sabar untuk disetubuhi, terpaksa ia lepaskan batang penis Ryan. Dibiarkannya laki-laki itu berbuat apa saja pada dirinya.

Ryan turun ke bawah. Dan... ohh! Dia menahan nafas saat pandangannya tertuju ke selangkangan Jill yang sempit dan indah. Ryan menelan ludah sambil membelai rambut kemaluan Jill yang tumbuh rapi, tidak lebat tapi juga cukup panjang. “Baru jembutnya saja sudah begini menggiurkan, apalagi kemaluanmu. Tentunya enak sekali. Hmmh!” Ryan menciumnya.

Jill tertawa geli. “Kau menyukainya?”

“Suka sekali! Begitu indah dan mempesona.” dengan mesra, Ryan terus  membelai dan menciuminya. Beberapa kali bibirnya juga menyenggol lubang vagina Jill yang terasa sudah sangat basah.

“Apa punya Lia tidak seperti ini?!” tanya Jill penasaran.

“Tidak, dia suka mencukur jembutnya. Punyanya botak!” ketus Ryan.

Jill tertawa kecil sambil membelai mesra rambut laki-laki itu. “Kalau begitu, cepat lakukan! Jilat vaginaku! Jangan cuma dibelai saja. Kau membuatku jadi penasaran!!”

Tanpa diperintah pun, Ryan pasti akan melakukannya. Pelan, dia menguak bibir kemaluan Jill yang kini sudah terpampang bebas di hadapannya. Tampak bagian dalamnya yang coklat kemerahan, sangat indah menawan. Pada bagian atas, pada pertemuan antara dua bibir, tampak sekerat daging kecil. Nyempil sendirian, tidak berteman. Ryan memandangi sepuas-sepuasnya panorama indah mengesankan itu sampai Jill memijit hidungnya kuat-kuat. “Hei, apa kau cuma mau melihatnya saja?! Ayo lakukan, aku sudah nggak tahan nih!”

Ryan tersenyum. ”Iya, maaf.” Tahulah dia, bahwa Jill sudah begitu terangsang. Dengan mesra, jari-jari Ryan menyentuhnya, menusuk bagian dalamnya yang licin dan basah.

Jill langsung menggelinjang. “Auw! Hmmh... Ryan!! Sssh... akh!” dia makin menggeliat saat jari-jari nakal Ryan terus menusuk makin ke dalam, dengan jempol mengutak-atik kelentitnya yang nyempil aduhai. Bukan main nikmatnya.

Ryan senang sekali dengan respon yang diberikan oleh Jill. Ia terus mengulangi perbuatannya berkali-kali; mengocok dan mengelus kelentit Jill yang kini semakin keras dan kaku. Tingkahnya saat itu bagaikan kanak-kanak yang memperoleh mainan baru yang mengasyikkan. Semakin giat dia menyentuh sekerat daging kecil itu, semakin Jill menjerit dan menggelinjang nikmat.

”Oukh... geli, Ryan! Geliiiii! Sssh... akhh!!” wanita itu merintih-rintih. Kedua kakinya kini telah mengangkang selebar-lebarnya, menekuk ke atas. Sekarang, bagian dalam kemaluannya telah terpampang selebar-lebarnya. Terbebas sama sekali. Sedetik kemudian, Jill memekik. “Auww!” Tubuhnya tersentak ke atas. Rupanya Ryan telah membenamkan lidahnya ke dalam belahan daging yang aduhai itu. “Ryan... Uhh! Ssssh... enak!” Jill merintih-rintih sambil menekan kepala laki-laki dengan kedua tangannya.

Tidak puas hanya dengan menjilat bagian luar, Ryan menguak bibir kemaluan Jill lebar-lebar. Lidahnya makin lincah bergerak kesana-kemari, menusuk semakin ke dalam, seperti akan membongkar seluruh bagian vagina Jill yang sempit. Diserang seperti itu, kaki Jill menendang dan menyepak-nyepak ke atas, merasakan kenikmatan yang tiada tara.

“Oukh, Ryan! Enak... enak... enak, sayang! Teruskan, Ryan! Ayo, lebih cepat dikit. Hmmmh... Ryan! Terus, sayang! Terus, terus, akhhhh...!!” rintihnya saat Ryan terus dengan giatnya menciumi vaginanya yang menyebarkan aroma segar merangsang!

“Hmm... iya,” bisik Ryan sambil lebih panjang menjulurkan lidahnya, terus menjilat dan menjilat.

Jill semakin merem melek dibuatnya. Kepalanya terlempar kesana-kemari. Lehernya menggeleng-geleng. “Ryan, kamu suka dengan vaginaku?! Shhh...!!!” tersendat-sendat suara perempuan cantik itu.

“Suka sekali, Jill! Sempit dan harum sekali, bikin burungku jadi makin tegang aja!” kata Ryan menanggapi. Lidahnya terus bergerak mengobok-obok kemaluan Jill yang semakin lama semakin terasa licin dan basah. Menyapu-nyapu kelentit Jill yang sudah keras memerah. Benda itu kini tampak berdiri tegak, menandakan kalau si empunya sudah benar-benar terbakar oleh nafsu birahi. Kedua kaki Jill terus menyentak-nyentak ke atas. Pantatnya diangkat dan digoyang-goyangkan memutar. Oukh, sungguh pemandangan yang menggoda iman.

“Ryan! Hhss... hmmm... hmmmh!” suara Jill bergetar. Badannya menggeliat-geliat tak menentu. Tubuhnya menggelepar-gelepar. Dan tiba-tiba, wanita itu mengejang dan menjerit keras. “Ryan!! Ssshhh! Aku tak kuat lagi!! Aku keluar... ARGHHHHHHH!!!” Berbarengan dengan jeritannya yang menyayat hati, Jill mengangkat pantatnya tinggi-tinggi dan menekan kepala Ryan sekuat-kuatnya, sehingga tanpa ampun separuh wajah laki-laki itu terbenam dalam-dalam ke belahan kemaluannya. Bertepatan dengan itu pula, menyemprotlah cairan hangat dan licin. Juga kental. Menyiram lidah Ryan yang masih terus menusuk-nusuk dengan rakus.

”Hmpph! Slurrp!!” Ryan yang memang sudah siap menerima, bagaikan kesetanan, menghirup habis cairan itu meski jumlahnya banyak sekali. Terus dijilat dan disapu bersih, dimasukkan ke dalam kerongkongannya. Sudah tentu perbuatan itu membuat Jill semakin merintih dan kelojotan dibuatnya, rasanya sungguh nikmat sekali, begitu luar biasa sekali. Sampai akhirnya, di tetes cairan yang terakhir, tubuh perempuan itu melemas. Sedangkan Ryan, tersenyum dan memandang Jill penuh kemesraan. Merasa bangga karena sudah memberikan kepuasan pada wanita cantik itu.

Jill memeluk Ryan kuat-kuat dan mencium mesra bibir laki-laki itu. “Oukh, Ryan! Terima kasih, sayang! Kau hebat! Kau mampu membuatku bahagia!” Kemudian didorongnya tubuh lelaki muda itu sehingga tergelimpang di atas lantai kamar mandi. “Kau sudah mengerjai punyaku! Sekarang, ganti aku yang mengerjai punyamu!” ujar Jill yang segera menyergap selangkangan Ryan yang tampak semakin menegang dahsyat.

“Auwww!” Ryan menjerit kaget, tapi suka.

Tanpa menunggu lama, Jill membelai-belai batang kemaluan yang bukan main luar biasa besar dan panjangnya itu. Kepalanya yang gundul tampak mengkilat dan membengkak. “Oukh, Ryan! Besar sekali! Muat nggak ya masuk ke dalam punyaku?! Hmmhh . . . !!!” Jill terus membelai sambil sesekali mengocoknya pelan, mulai dari pangkalnya yang dipenuhi rambut tebal sampai ke ujungnya yang mengkilat dan membengkak, berbentuk kepala jamur.

“Kamu suka punyaku?” tanya Ryan saat Jill mengesek-gesekkan batang penisnya ke pipi dan hidungnya, sudah ingin menelannya.

“Suka sekali, Ryan! Tetapi... ugh! Punyamu sungguh besar! Bengkak! Aku jadi ngeri!” ucap Jill sambil mulai menciumi ujungnya.

Ryan tertawa kecil. “Kau ini ada-ada saja. Kan semakin besar semakin enak!” selorohnya.

“Iya! Tetapi punyamu ini besarnya nggak ketulungan! Gede banget!” ujar Jill. “Aku belum pernah melihat penis yang besar dan panjangnya kayak punyamu ini,” tambahnya.

”Ya nanti aku akan pelan-pelan, biar punyamu nggak sobek.” Ryan merasakan geli dan nikmat bukan main ketika sambil menciumi, Jill memijit-mijit batang penisnya yang kerasnya bukan main itu. ”Ehmm... Jill, enak!” rintihnya.

Jill semakin gemas manakala alat vital dalam genggamannya menjadi semakin membengkak dan memanjang lagi. Sampai seberapa benda ini akan terus tumbuh? Penasaran, ia segera menempatkan diri baik-baik diantara kedua kaki Ryan yang tertekuk. Kedua paha laki-laki itu terentang lebar. Dengan kedua tangannya, Jill menggenggam penis Ryan. Bukan main, jari- jarinya hampir tidak muat melingkupinya. Jill yang sudah tidak tahan,  segera menjulurkan lidahnya dan menjilati batang kemaluan itu dengan rakus. Sebelum akhirnya ia membuka mulut dan memasukkan benda itu ke dalam tenggorokannya.

Karuan saja Ryan langsung menggelinjang hebat dibuatnya. “Ouw, Jill! Hmmh... enak sekali!” dia merintih. Kedua kakinya terangkat naik dan menyepak-nyepak ke atas.

“Enak?!” tanya Jill ditengah-tengah kesibukannya. Ia terus melahap senjata yang luar biasa itu. Secara beraturan, kepala dan batang penis Ryan keluar masuk di dalam mulutnya.

“Enak sekali! Oughhhh... enak, Jill!!!” Ryan berusaha menyahut. Tubuhnya sudah gemetar hebat. Jemarinya mencengkeram rambut Jill kuat-kuat. sementara rintihannya semakin menghebat. Dan saat Jill semakin gencar menyerbunya, akhirnya Ryan memekik dan menjerit histeris. Ia sudah tak tahan lagi.

”Jill, aku... AARRGGHHHHH!!” Pantatnya diangkat tinggi-tinggi, sedangkan kedua telapak tangannya menekan kepala Jill kuat-kuat, membuat batang serta kepala kemaluannya terbenam dalam-dalam, menusuk sampai mentok ke tenggorokan wanita cantik itu.

Dan tanpa ampun lagi, Crroott! Crroott! Crroott!! menyemprotlah cairan kental dari dalam batang kemaluan Ryan yang berdenyut-denyut dengan dahsyatnya. Daya semprotnya sungguh luar biasa. Bergumpal-gumpal cairan spermanya memenuhi mulut manis Jill Gladys, tertumpah hingga ke tenggorokannya. Mata Jill sampai terpejam-pejam dibuatnya. Tidak ingin tersiksa lebih lama, Jill segera menghisap batang kemaluan Ryan, mencucup dan menelan semua spermanya hingga tetes terakhir. Dengan begitu, ia bisa bernafas normal kembali.

“Oukh, Jill. Kau sungguh hebat!” bisik Ryan dengan mata setengah terpejam.  Tubuhnya ambruk, lemas tak bertenaga.

Jill tertawa kecil sambil menyeka mulutnya yang sebagian masih dibasahi sisa-sisa cairan sperma laki-laki itu. “Bagaimana, Ryan?! Enak?” tanyanya menggoda.

Ryan menarik tubuh telanjang Jill, sehingga perempuan itu jatuh ke dalam dekapannya. “Enak sekali! Oukh... enak sekali!”

Jill tersenyum mendengar pujian laki-laki itu, “Kita pindah ke kamar yuk? Disini dingin!” ujarnya dengan mata terkejap-kejap. ”Punyaku sudah ingin sekali dimasuki punyamu.” desahnya sambil melirik ke arah selangkangan Ryan, tempat dimana burungnya yang masih tegak mengacung berada.

“Kita istirahat dulu sebentar ya, sayang!” bisik Ryan sambil membelai rambut panjang Jill, dan membimbingnya untuk keluar dari kamar mandi.

Berpelukan mereka saling mengeringkan tubuh dan ambruk ke ranjang. Sekitar satu jam mereka terdiam sebelum akhirnya Ryan merangkak naik ke atas tubuh montok Jill yang masih telanjang, dan menyingkap selimut yang dikenakan wanita cantik itu. Kedua payudara Jill menyembul putih mulus bagaikan setumpuk salju, benar-benar menggairahkan. Pinggangnya tampak ramping dan pinggulnya mekar sempurna; indah dan membulat. Ryan segera menciumi bahu dan payudara Jill, sementara penisnya yang sudah kembali tegang menggeser-geser lembut di kulit paha perempuan itu.

Sambil membalas ciuman-ciuman Ryan yang bertubi-tubi, Jill menggenggam batang kemaluan laki-laki itu yang sudah sangat tegang dan dibimbingnya untuk kemudian ditempatkan tepat di ambang gua vaginanya yang sudah mekar memerah. Sementara itu, Jill juga sudah merentangkan kedua pahanya lebar-lebar, siap menerima tusukan laki-laki itu. “Ryan, lakukan! Tapi pelan-pelan saja ya?!” bisiknya gemetar. “Penismu besar sekali!” tambah Jill sambil bergidik.

Ryan mengangguk. Dirasakannya kehangatan menyengat di ujung kepala penisnya saat kelamin mereka mulai saling menempel dan menyapa.

“Ayo, Ryan! Tekan! Lakukan, sayang!! Aku sudah siap! Sssshh...” Jill memejamkan matanya.

Ryan mendorong pantatnya, dan kepala zakarnya pun melesak masuk.

“Auw!!!” Jill menjerit tertahan. “Ryan, sakit! Pelan-pelan saja!” tubuhnya mengejang, bergetar menahan rasa perih.

Ryan yang mengerti, tidak mau membuat Jill lebih sakit lagi. Jadi dia menghentikan dorongannya. Dinantikannya sampai rasa nyeri Jill agak mereda, baru dia akan melanjutkan. Meski cuma sebatas ujung kepalanya yang masuk, tapi Ryan sudah merasakan kenikmatan yang amat sangat. Lubang vagina Jill menjepit keras, bagai mencekik leher penisnya. Begitu luar biasa! Bukan main nikmatnya!

“Ayo, Ryan! Tekan lagi!” bisik Jill setelah rasa sakitnya agak menghilang.

Ryan menekan lagi. Bleess!! Batang zakarnya yang besar dan panjang  melesak lagi sampai sepertiga. Dan sebagaimana yang pertama, Jill juga kembali tersentak sambil menjerit, “Aduh, Ryan! S-sakit!!”

“Tahan, sayang!” bisik Ryan sambil tersenyum, ia kecupi mata Jill yang berlinang air mata. “Nanti kau akan merasakan nikmat yang luar biasa!” tambahnya. Ryan menarik perlahan-lahan batang penisnya sampai sebatas leher, lalu ditekannya lagi pelan-pelan. Batangnya yang luar biasa besar itupun menggelosor masuk semakin dalam.

”Auw! Pelan-pelan!” Lagi-lagi Jill menjerit, merasakan kemaluan Ryan yang seperti membongkar seluruh lorong vaginanya. Dia menggigit bibirnya sendiri untuk menahan rasa sakit dan ngilu yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Namun lama kelamaan, rasa sakit dan ngilu itu semakin berkurang seiring gerakan penis Ryan yang mulai lancar keluar masuk di dalam vaginanya. Sebagai gantinya, Jill mulai merasa nikmat luar biasa meski hanya separuh saja penis Ryan yang melakukan penetrasi. “Kepunyaanmu terlalu besar, sayang!” ujarnya sambil menggoyang-goyangkan pantat. Pinggulnya yang besar dan montok itu melakukan gerakan memutar, seirama dengan keluar-masuknya batang penis Ryan yang semakin lama menjadi semakin cepat.

“Bagaimana, Jill?! Masih sakit?!” tanya Ryan sambil mengecupi belakang telinga Jill, membuat wanita cantik berkulit putih itu menggelinjang geli.

“Nggak, sudah enakan sekarang.” bisik Jill jujur.

“Nah, apa kataku tadi. Rasa sakitnya cuma sebentar, kan?!” ujar Ryan sambil terus menggerakkan pinggulnya maju mundur, menyetubuhi wanita cantik yang baru ditemuinya beberapa jam yang lalu itu. ”Hmmm! Punyamu nikmat sekali, sayang! Sempit banget, bikin burungku jadi lecet.” tambahnya.

”Punyamu juga enak, Ryan. Gede dan manteb sekali!” balas Jill yang tersenyum bangga, menerima pujian dari Ryan.

“Lorongmu sudah semakin basah sekarang,” bisik Ryan dengan mesranya. “Bagaimana kalau kubenamkan seluruh batangku sekarang?!” ia bertanya, tidak ingin membuat Jill menjerit kesakitan karena ulahnya.

“Iya, lakukan! Aku sudah siap,” sambut Jill sambil mengangkangkan kedua pahanya lebih lebar.

Dan Ryan pun mendorong pantatnya kuat-kuat, hingga... blassh!! Tanpa ampun, seluruh batang kemaluannya yang kokoh, indah, dan perkasa itu menghunjam dan membenam lebih dalam ke lubang vagina Jill yang sempit dan legit. “Enak sekali, Jill. Batangku bagaikan dipijit dan disedot-sedot sama punyamu. Lezat sekali!!” rintih Ryan dengan tubuh meliuk-liuk kesana-kemari. Ia sudah mulai kembali menggerakkan pinggulnya untuk menyetubuhi tubuh Jill Gladys yang putih dan montok. Dengan tusukan lebih dalam tentunya, tidak seperti tadi yang cuma setengah-setengah.

Menerimanya, Jill bagaikan melayang ke langit ketujuh. Terasa benar bagaimana tusukan dan gesekan benda itu di dinding vaginanya. Begitu nikmat dan menggairahkan. “Terus, Ryan! Terus! Tusuk lebih keras! lebih dalam! Aku menyukainya!!” dengan kakinya, Jill menjepit pinggang Ryan agar laki-laki itu mendorong pantatnya semakin cepat dan dalam.

Ryan yang mengerti, makin cepat menggerakkan pinggulnya. Ia juga meremas-remas dan memijit payudara Jill yang teronggok indah di depannya untuk semakin menambah daya rangsangnya. Bisa dirasakannya cairan lendir semakin membajiri lorong kemaluan perempuan cantik itu, membuatnya semakin licin dan basah. Hingga tak lama kemudian, Jill pun menjerit histeris. Tubuhnya meronta-ronta kesana-kemari saat semua cairan cintanya menyemprot banyak sekali, membanjiri seluruh lubang gua vaginanya.

”Ryan, AARGHHHH...!!! AKU KELUAR!!” rintih Jill dengan badan gemetar.

Dan bersamaan dengan jeritan wanita itu, Ryan juga menggeram kuat. Sambil merangkul tubuh montok Jill penuh kemesraan, ia meracau. ”Hmm... Jill, aku juga! AARRGGHHHHH...!!” Matanya terpejam, sementara kepalanya menengadah ke atas.

”Ahsss...” Jill agak memekik saat merasakan batang zakar Ryan berdenyut-denyut kencang dan memuntahkan seluruh isinya. Berkali-kali terasa semprotan sperma laki-laki itu, membuat lubang kemaluannya menjadi semakin basah dan membanjir.

Setelah beberapa detik lamanya, sesudah tetes terakhirnya berlalu, Ryan  merasakan dirinya begitu lemas. Lelah tapi sangat puas karena bisa menyetubuhi wanita secantik Jill Gladys, yang bahkan dalam mimpi pun tidak pernah ia bayangkan. Ryan menarik keluar penisnya yang sudah mulai melembek dan berbaring di samping tubuh perempuan itu. Keduanya terdiam,berusaha meresapi kenikmatan yang baru saja berlalu.

“Luar biasa sekali,” ujar Jill memecah keheningan. “Kaulah satu-satunya lelaki yang berhasil memuaskanku, Ryan! Sungguh!” dia tersenyum, menampakkan barisan giginya yang berderet rapi.

“Aku juga begitu, Jill. Baru denganmu lah aku merasakan nikmat persetubuhan yang sebenarnya!” balas Ryan. Lalu keduanya berkecupan dengan mesranya.

”Aku ingin berterus terang padamu, Ryan!” ujar Jill saat ciuman mereka terlepas.

“Siapapun dirimu, aku tetap menginginkanmu, Jill. Aku rela meninggalkan Lia demi kamu!” sahut Ryan cepat.

”Jangan terburu-buru mengambil keputusan, kau tidak tahu siapa diriku yang sebenarnya.” Jill tersenyum masam.

“Aku tidak peduli. Cinta tidak memandang perbedaan. Pokoknya aku menginginkanmu. Dan aku akan memilikimu!”

Jill menggenggam penis Ryan dengan mesra. “Kalau saja kau tahu siapa aku, pasti kau akan membenciku!”

Ryan tidak menjawab. Hanya merenung, menunggu perkataan Jill lebih lanjut.

“Dengarlah, Ryan! Dan pikirkanlah!” ujar Aningsih sambil mempermainkan bulu jembut laki-laki itu. “Aku ini sebenarnya janda beranak satu, aku menikah dengan teman kuliahku saat masih bersekolah di luar negeri, namun berakhir dengan perceraian. Anakku sekarang diasuh oleh neneknya.  Nah, aku tidak ingin jika nanti aku harus menjadi janda untuk kedua kalinya. Aku harus berhati-hati!”

Ryan merenung. Setelah beberapa detik, baru dia menjawab. “Baiklah, Jill. A-aku... akan memikirkannya! A-aku akan sabar menunggu,” jawab Ryan pada akhirnya.

***

Harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Betapa kecewanya Ryan ketika mendatangi rumah Jill Gladys beberapa hari kemudian. Ternyata perempuan itu sudah pindah, ”Menempati rumah mewah yang baru dibelinya kemarin!” kata tetangga depan rumah Jill.

“Pindah ke mana, Bu?” tanya Ryan penasaran.

“Maaf! Saya tidak dapat memberitahukan. Ini atas kemauan Jill sendiri!” kata ibu-ibu gemuk itu.

“Lho, mengapa begitu!” tanya Ryan makin penasaran.

“Saya sendiri tidak tahu,” wanita itu mengangkat bahu.

Ryan menghembuskan nafasnya dengan berat. Mengapa Jill bersikap begitu aneh? Setelah memberinya kenikmatan, sekarang malah menghilang. Padahal mereka baru saja berkenalan, dan dia sangat rindu dengan wanita itu saat ini! demikian kata hati Ryan.

Dengan lesu Ryan minta diri dan meninggalkan rumah Jill Gladys. Kemana dia? Mengapa dia tidak mau memberitahukan tempat tinggalnya yang baru? Apakah dia membenciku! Apakah aku telah melakukan kesalahan fatal sehingga dia tidak mau memaafkanku? Ryan menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal setelah tiba di rumahnya.

”Jill, mengapa kau begitu cepat menghilang, padahal aku benar-benar sangat merindukanmu! Hanya kaulah yang mampu memberikan kepuasan yang sempurna padaku. Tidak perempuan-perempuan lain!” batinnya dalam hati.

END

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar