Laman

Rabu, 23 Januari 2013

Kisah Kino 3



Seorang Bidadari dan Sebuah Mimpi

 

Inilah cerita awal dari rangkaian kisah Kino setelah tiba di kota B, tempatnya kuliah. Bagi pembaca yang baru saja tiba di halaman ini, sebaiknya membaca rangkaian kisah sebelumnya tentang Mbak Rien dan Alma.

Seorang gadis kecil berambut ikal dengan pita merah dan gelang gemerincing berlari-larian di taman mengejar seekor kucing.
Di tangan gadis kecil itu ada sepotong biskuit. Mulut kecilnya ramai berteriak-teriak memanggil sang kucing. Pastilah ia bermaksud baik, memberi makanan yang ia anggap enak. Tetapi pastilah pula sang kucing berpikiran lain, karena binatang lincah itu sangat cepat memutuskan untuk naik ke atas pohon.

Si gadis kecil bertolak-pinggang di bawah pohon dengan gayanya yang lucu. Memanggil-manggil sang kucing yang mengawasinya dari atas dengan pandangan curiga. Lalu, gadis kecil itu tampak semakin sewot, dan akhirnya melemparkan biskuit ke arah sang kucing. Lemparannya luput karena terlalu lemah. Biskuit malah kembali ke bawah dan jatuh di atas kepala pelemparnya. Gadis itu menjerit berang. Kucing terkejut dan lompat lebih tinggi lagi.

Kino tersenyum memandang semua kejadian itu. Ia sedang duduk di taman di seberang kampus, menikmati roti yang menjadi bekal untuk makan siangnya. Gadis kecil di tengah taman itu mengingatkannya pada Susi, adiknya yang telah lama sekali ia tinggalkan. Berapa tinggikah sekarang ia? pikir Kino sambil mengunyah perlahan. Ada rasa sendu menyergap setiap kali ia mengenang adiknya. Pastilah Susi kehilangan kakak yang selalu bersedia memboncenginya berjalan-jalan ke pantai, atau membantu mengumpulkan biji kenari di hutan dekat danau, atau mengantarnya ke tempat latihan menari.

Kino bangkit, mendekati pohon tempat si kucing bersembunyi. Diulurkannya sepotong roti yang berisi telur dadar. Nah, rupanya si kucing lebih tertarik pada roti dan telur ketimbang biskuit manis. Binatang itu cepat sekali turun, secepatnya naik, dan tiba-tiba saja sudah mencaplok roti dari tangan Kino, lalu turun ke tanah untuk menikmatinya.

Si gadis kecil memandang ke Kino sambil mengernyitkan dahinya. Tampangnya lucu sekaligus manis. Kino membalas senyumnya. Si gadis membuka mulutnya, tetapi lalu menutupnya kembali. Kino menegur dengan bersahabat, "Halo, apakah itu kucingmu?"

Gadis itu mengangguk-angguk. Rambutnya bergerak-gerak ramai. Pita merahnya berterbangan di tiup angin yang agak kencang siang ini.

"Kenapa dia lari?" tanya Kino sambil berjongkok dekat si kucing yang kini asyik melahap makanannya.

Gadis itu ikut jongkok dan berkata dengan gayanya yang cadel, "Ci pus nakal, Oom... nggak cuka mamam."

"Oh, mungkin dia tidak suka biskuit," ucap Kino.

"Tapi... tapi," gadis itu berceloteh, "Tapi, Lia cuka cekali biskuit... manisssss cekali."

Kino tersenyum. Pantas gigimu habis, pikirnya dalam hati melihat gadis itu ompong. Pasti terlalu banyak makan makanan bergula.

"Siapa nama kucingmu?" tanya Kino.

"Unyil!" jawab Ria, gadis kecil itu, dengan cepat dan keras. Senang sekali rupanya ia dengan nama itu.

Tiba-tiba terdengar dehem seorang wanita di belakang Kino. Cepat-cepat Kino memutar tubuhnya, lalu bangkit.

Ah! Di depannya berdiri seorang bidadari. Betul-betul seorang bidadari, dengan rok terusan panjang berwarna putih bersih tanpa pola. Dengan rambut sebahu tergerai lepas, dan sepasang anting mutiara yang juga menegaskan dominasi warna putih. Di lehernya yang jenjang ada seuntai kalung perak dengan bandulan burung dara kecil berwarna putih. Bahkan sepatu sandalnya juga berwarna putih, terbuat dari kain jeans. Tas kecil yang tersampir di bahunya juga putih, terayun-ayun perlahan.

Kino terpana sejenak. Bidadari itu tersenyum. Giginya juga putih sekali!

"Maaf. Apakah Ria telah berbuat nakal?" ucap bidadari itu.

"Oh, tidak. Tidak," jawab Kino gelagapan. Kaget juga ia mengetahui bahwa bidadari itu bisa berbahasa Indonesia. Sejak kapan ada kursus bahasa Indonesia di surga?

"Dari tadi ia mengejar-ngejar kucing itu," ucap bidadari itu lagi.

"Oh, begitu... " ucap Kino, tak tahu harus berkata apa lagi.

Ia sungguh-sungguh masih menyangka berhadapan dengan bidadari. Tidak saja wanita di hadapannya ini serba putih, tetapi juga serba menarik dan cemerlang. Matanya yang dihiasi bulu panjang lentik seringkali tampak berkerejap bercahaya. Bibirnya yang tersenyum seringkali seperti menyemburatkan sinar terang.

"Mama... mama... Oom ini baik cekali, Mama!" teriak Ria masih berjongkok dekat si kucing.

Ah! Kino bergumam dalam hati. Bidadari itu punya anak yang menyukai kucing!

"Hayo, kita pulang Ria. Kamu sudah hampir dua jam main di sini. Nanti nenek dan kakek mencari-cari!" ucap sang bidadari sambil mendekati Ria.

Kino melangkah mundur perlahan. Menjauhi kedua makhluk yang mempesonanya itu. Ia melihat si gadis kecil meronta, memprotes keputusan ibunya untuk pulang. Lalu ibunya -sang bidadari itu- mengucapkan sesuatu yang tak jelas. Lalu, si gadis kecil bangkit sambil tetap menggerutu. Si kucing, yang ternyata bukan kucingnya, masih asyik mengunyah roti yang diberikan Kino. Akhirnya, mereka bergandengan tangan menjauhi taman. Kino masih berdiri menatap mereka.

Menjelang keluar dari gerbang taman, tiba-tiba si bidadari menengok ke arah Kino lalu melambaikan tangan. Dengan kikuk, Kino membalas lambaian itu. Samar-samar ia melihat si bidadari tersenyum dan rasanya langit tambah terang. Kino menggeleng-gelengkan kepalanya, heran sendiri, mengapa ada wanita bisa seperti bidadari begitu.

***

Perlu kiranya diketahui, Kino kini telah memasuki semester keempat di sebuah institut teknologi di kota B yang sejuk. Begitu cepat waktu berlalu sejak ia meninggalkan kota kelahirannya yang kecil dan jauh sekali dari B. Hari dan minggu dan bulan berjalan cepat, berlarian, seperti kereta api ekspres yang membawanya kemari satu setengah tahun yang lalu. Kesibukan kuliah membuat segalanya bertambah cepat saja berlalu. Rasanya, baru kemarin ia mengucap selamat tinggal kepada Alma yang kini ada di ibukota. Alma, yang kini semakin jarang ia dengar kabarnya, karena konon gadis itu sibuk sekali dengan kuliah-kuliahnya di kedokteran.

Sepanjang hampir dua tahun telah banyak sekali yang terjadi pada Kino. Ia berubah dari seorang pemuda kota kecil menjadi seorang mahasiswa kota besar.
Ia melanjutkan hobinya berenang dan mendaki gunung dengan bergabung ke klub di kampusnya. Sama halnya ketika ia masih di kota kelahirannya, Kino juga cepat populer di kalangan teman-teman sekampus. Ia dikenal ramah, cekatan, dan pintar berorganisasi. Wajahnya termasuk cakep, walau kalah ganteng oleh Ridwan, teman sekelasnya, menambah popularitas Kino di kalangan gadis-gadis. Antara Kino dan Ridwan tercipta hubungan aneh: keduanya merasa saling bersaing, tetapi keduanya juga saling bersahabat. Tak jarang Kino bertandang ke rumahnya yang besar di pinggiran kota dan menginap di sana. Ayah Ridwan seorang berpangkat tinggi di militer, dan ibunya punya usaha perhotelan.

Selain Ridwan, Kino juga punya seorang teman dekat bernama Rima, seorang gadis dari ibukota yang tidak pernah memakai rok. Seorang yang agak tomboy, yang sebetulnya berwajah manis kalau saja ia rajin menyisir rambutnya. Rima menyukai Kino, bahkan mungkin juga sangat menyukainya dalam arti Rima ingin Kino menjadi pacarnya. Tomboy bukan berarti anti pria, bukan?

Tetapi Kino menganggap Rima biasa-biasa saja. Ia suka berteman dengan Rima, tetapi tak punya maksud apa-apa selain itu. Ia senang bepergian dengan Rima, naik gunung atau hiking menyusuri sungai-sungai besar di sekitar kota B. Gadis itu pintar main gitar, dan Kino suka sekali kalau ia menyanyikan lagu-lagu tua dari Joan Baez. Tetapi, selain dari itu, Rima adalah teman semata. Maka, Rima pun kecewa berat, walau tetap saja mereka sering mendaki gunung bersama dan berhubungan sangat akrab.

Lalu ada seorang gadis lain, bukan teman sekampus, melainkan tetangga di sebelah tempat kost Kino. Namanya Indi, dan centilnya melebihi gadis manapun yang pernah dikenal Kino. Jelas sekali, Indi juga menyukai Kino karena gadis itu selalu punya alasan untuk mampir ke tempat kost Kino. Entah meminjam penggaris, atau jangka. Entah meminta sebotol air es, atau meminjam selang untuk menyemprot halaman. Entah mengantarkan kue untuk tuan rumah, atau menumpang cuci kaki. Pokoknya, hampir setiap hari Kino bertemu Indi.

Indi juga merupakan gadis yang menurut ukuran Kino sangat bebas.
Memang, Kino punya cukup banyak "pengalaman" dengan wanita, tetapi semuanya dalam konteks kota kecil. Mbak Rien dan Alma adalah wanita-wanita "biasa" dalam perjalanan hidup Kino. Pengalaman Kino dengan mereka terasa begitu alamiah dan sederhana.

Sedangkan Indi kelihatan lebih "canggih", lebih lepas-terbuka dalam hal sensualitas, dan lebih penuh gaya.
Indi memakai rok mini yang kadang-kadang tersingkap menampakkan celana dalamnya. Indi memakai eye shadow berwarna ungu yang kadang-kadang membuat Kino terkejut jika berjumpa di malam hari. Indi juga sering tidak berbeha, dengan t-shirt tipis yang tidak mampu menyembunyikan kedua putingnya.

Pernah Indi masuk ke kamar Kino tanpa diundang, lalu pura-pura bertanya tentang soal matematika (gadis itu masih duduk di kelas 3 SMA). Kino pun tak curiga, menjawab semua pertanyaannya yang sebetulnya amat-sangat mudah itu. Indi berdiri di sebelah meja belajar Kino, membungkuk dan menopang dagunya dengan tangan.
Kedua sikunya diletakkan di meja. Gayanya, seperti biasa, selalu manja dan centil.

Kino menjelaskan semua jawabannya, dan tampaknya Indi memperhatikannya.
Tetapi, ketika Kino mengangkat muka, ia menemukan kedua pasang mata Indi tidak melihat ke buku, melainkan menatap wajahnya. Selain itu, gadis itu memakai kaos berleher rendah, dan tidak memakai beha. Posisinya yang membungkuk menyebabkan seluruh payudaranya yang indah itu terpampang di depan mata Kino. Sejenak Kino menelan ludah, tetapi lalu ia berhasil menguasai diri.

Sambil tersenyum, Kino menutup buku matematika Indi, dan berucap, "Kamu mau belajar atau menantang berkelahi?"

"Berkelahi!" jawab Indi cepat-cepat.

O-o, gumam Kino dalam hati, gadis ini nakal sekali. "Baiklah. Mari di luar berkelahi. Aku pakai satu tangan saja, lah!" jawab Kino sambil bangkit.

Indi menggerutu tak jelas, lalu menarik tangan Kino, mencegahnya keluar. "Di sini saja. Indi mau berkelahi di kamar Kak Kino saja!" sergahnya.

Kino menghindari tangan Indi dan tetap melangkah keluar.
Indi meraih baju Kino, mencoba menahannya, tetapi ia malah ikut terseret keluar. Terpaksalah Indi mengurangi kecentilannya di luar. Ia juga masih punya rasa sungkan kepada tuan rumah. Ibu kost Kino adalah seorang bekas guru SD yang galak. Indi takut kepadanya. Maka ketika mereka sudah berada di luar, Indi tak bisa leluasa lagi. Ia pun lalu pamit pulang sambil tak lupa mencibirkan bibirnya yang ranum itu ke arah Kino.

Itu bukan kali pertama Indi "menjebak" Kino.
Berkali-kali Indi berusaha memancing Kino untuk berbuat sesuatu kepadanya. Berkali-kali pula Kino berhasil menghindar. Hanya satu kali ia nyaris tak berdaya...

***

Waktu itu, hari Minggu siang, Kino mampir ke sebelah karena ia perlu meminta kembali selang yang dipinjam Indi kemarin. Ibu kost meminta tolong kepada Kino untuk membantunya membersihkan kamar mandi, dan Kino memang selalu bersedia membantu ibu tua yang sudah seperti ibunya sendiri itu. Dengan hanya bercelana pendek, Kino masuk ke rumah sebelah dan memanggil Indi. Tak ada jawaban. Rumah Indi tampak sepi sekali, tetapi pintu belakang terbuka lebar.
Maka, karena sudah terbiasa dan sudah mengenal keluarga Indi, Kino pun melakang masuk. Tetap memanggil-manggil Indi.

Akhirnya terdengar Indi berteriak menjawab, tetapi orangnya tidak kelihatan, "Di sini, Kak Kino. Perlu apa, sih?"

"Selang yang kamu pinjam kemarin di mana, In?" sahut Kino sambil mencari-cari di sekitar dapur.

"Di sini!" teriak Indi dari arah dalam.

"Di mana kamu?"

"Di sini. Di dalam!" sahut Indi lagi. Memang suaranya terdengar dari dalam rumah. Maka Kino pun melenggang masuk lebih ke dalam. "Di sini Kak. Di kamar mandi!" teriak Indi.

Oh, pikir Kino, pasti gadis itu sedang mencuci atau membersihkan kamar mandi juga. Ia pun melangkah ke arah suara Indi.

Pintu kamar mandi tampak agak tertutup, tetapi tidak terkunci sama sekali. Dengan santai Kino mendorong pintu itu dan melangkah masuk. Dan...

"Hey!" Kino berteriak kaget.

Indi memang ada di dalam kamar mandi, tapi tidak sedang mencuci atau membersihkan kamar mandi. Ia berdiri di tengah kamar mandi dengan tubuh nyaris bugil. Gadis itu memakai handuk di sekeliling pinggulnya, tetapi cuma itulah pembalut tubuhnya. Badannya masih agak basah, dan kedua payudaranya yang sedang tumbuh pesat itu tampak segar menantang. Kedua putingnya yang coklat kemerahan tampak sangat sensual di puncak bukit-bukit kenyal yang membulat sempurna. Rambutnya juga masih basah kuyup, mungkin habis keramas. Ia berdiri di dekat bak mandi. Di tangannya ada selang yang dicari-cari Kino. Bibirnya tersenyum... Senyumnya nakal!

"Apa-apaan kamu Indi!" seru Kino sambil menatap tubuh gadis itu dari atas ke bawah. Sesungguhnyalah tubuh itu indah sekali di mata Kino yang biar bagaimana pun adalah seorang pria normal. Tetapi ia sama sekali tidak tertarik, karena perbuatan Indi ini menurutnya tidak normal.

"Katanya Kak Kino mencari selang!" sahut Indi sambil menyodorkan selang yang bergulung-gulung tidak karuan. Bibirnya yang basah masih tersenyum nakal.

"Ya. Tapi kenapa tidak pakai baju dulu!" sergah Kino sambil menerima selang. Sukar sekali bagi Kino untuk melepaskan tatapannya dari tubuh Indi yang tampak segar-basah. Apalagi harum sabun mandi juga datang dari tubuh itu!

"Aku baru selesai mandi waktu Kak Kino teriak-teriak di belakang. Belum sempat handukan!" ujar Indi sengit, membela diri mati-matian. Bukan Indi namanya kalau tidak membantah.

"Ya, sudah!" sergah Kino tak kalah sengit, "Lepaskan selang itu."

"Kenapa, sih, Kak Kino marah-marah?" ucap Indi sambil menghentakkan tangan melepas selang yang digenggamnya, tiba-tiba suaranya berubah seperti mau menangis.

"Kalau orang tuamu tahu, apa kata mereka melihat aku masuk seperti ini?" ucap Kino masih sengit, sambil mulai melangkah mundur untuk keluar.

"Orang tuaku tidak di rumah. Memang kenapa kalau Kak Kino masuk?" kata Indi, kali ini jelas nampak matanya mulai basah oleh airmata.

"Aku..." Kino menghentikan kalimatnya. Ditatapnya gadis setengah bugil di hadapannya. Hatinya langsung luluh melihat Indi mulai menangis. Kino selalu lemah jika berhadapan dengan airmata wanita.

"Kak Kino jahat!" sergah Indi lalu menutup mukanya dengan kedua tangan dan mulai sesenggukan.

"Bukan begitu, In..." ucap Kino lemah. Tak sadar, ia melangkah masuk kembali ke kamar mandi, meletakkan selang di lantai dan memegang kedua pundak gadis itu.

Dingin sekali badannya, pikir Kino.

Tiba-tiba Indi menubruk Kino, memeluk pria muda itu, dan menangis di dadanya. Kino limbung sejenak, bingung menerima serbuan yang sangat mendadak itu. Apalagi dirasakannya kedua payudara Indi menempel langsung ke dadanya yang juga telanjang. Segera badan Kino ikut basah... dan sebuah serbuan birahi tiba-tiba muncul. Betapa tidak! Tubuh gadis itu erat sekali memeluk tubuh Kino. Lagipula, Indi sesenggukan menahan tangis, sehingga gerakan badannya menyebabkan kedua payudaranya bergesek-gesek dengan dada Kino.

Untung Kino cepat sadar. Dengan sekuat tenaga, didorongnya tubuh Indi menjauh. Lalu dengan agak keras ia berucap, "Stop! Indi. Aku tidak mau main ke sini lagi, atau berteman denganmu, kalau kamu tidak berhenti menangis!"

Nah, berhasil. Mendengar ucapan yang bernada ancaman itu, Indi akhirnya menahan tangisnya. Menunduk, gadis itu mundur dan mendekapkan kedua tangan di dadanya, menutupi bagian tubuhnya yang telanjang. Kino menghembus nafas lega kuat-kuat, lalu mengambil lagi selang yang tadi diletakkan di lantai. Cepat-cepat ia membalikkan badan, sambil berkata, "Aku pulang dulu. Kalau masih perlu selang, kamu bisa pinjam lagi."

"Oke," terdengar Indi menyahut pelan.

Diam-diam Kino tersenyum mendengar jawaban itu, sambil terus melangkah keluar. Gadis itu memang nakal sekali! sergahnya dalam hati.

***

Begitulah antara lain kisah hidup Kino di rantau.
Masih banyak yang menarik yang bisa diceritakan, mungkin tak cukup 1000 halaman buku untuk menuliskannya. Pada umumnya, kisah hidup pemuda ini menyenangkan walau seringkali pula diganggu kerinduan pada kampung halaman. Semenjak tiba di kota B satu setengah tahun yang lalu, ia belum pernah pulang ke kota kelahirannya. Belum pernah berjumpa ayah, ibu, dan adiknya. Juga tak lagi pernah berjumpa sahabat-sahabat lamanya. Tidak pula pernah menatap lagi mata Alma, atau mendengar lembut suara Mbak Rien.

Masa lalu Kino seperti sebuah lembaran yang sulit dibuka kembali.
Seperti buku yang membatu. Kadang-kadang, Kino sedih sekali mengenang semua itu. Tetapi, karena kesibukan kuliahnya, kesedihan itu cepat terhapus. Sehingga akhirnya Kino kini bisa menerima kenyataan bahwa kehidupan adalah sebuah perjalanan yang selalu maju, tak pernah bisa mundur kembali.

Satu hal yang sempat merisaukan Kino adalah keterikatan perasaannya kepada kedua wanita yang telah mematri kisah kasih di hatinya: Mbak Rien dan Alma. Sejak berpisah dengan mereka, Kino belum pernah terpikat oleh gadis lain. Apakah itu normal? Apakah itu namanya kesetiaan? Apakah itu namanya cinta yang sesungguhnya?

Tetapi apakah sebenarnya kesetiaan itu?
Apakah sesungguhnya cinta itu? Kino selalu menyimpan pertanyaan-pertanyaan berat itu di hatinya. Dalam hal ini, tak ada teman diskusi untuk diajak berbincang. Dalam hal ini, Kino pun bergulat sendiri, mencari jawabnya sendiri.

Sampai suatu hari ia bertemu bidadari itu. Malamnya, Kino tiba-tiba terbangun dan merasakan keringat memenuhi tubuhnya, walau sebetulnya udara kota B sangat dingin untuk ukuran tropis. Kino terbangun oleh sebuah mimpi yang misterius. Ia bangkit dan duduk di ranjang, mengatur nafasnya yang agak menderu.

Kino bertemu lagi dengan Ria -si gadis kecil- dan sang bidadari yang adalah ibunya. Kino melihat gadis kecil itu berlari-larian di tengah lapangan yang sangat luas tak berbatas. Bukan hanya berlarian. Gadis kecil itu juga tampak seperti terbang melayang-layang, diselimuti kabut putih tipis. Ibunya -sang bidadari yang jelita itu- ikut berlarian, melayang-layang sambil menebarkan bunga-bunga putih. Indah sekali pemandangan mereka berdua berlarian-berterbangan seperti dua kupu-kupu putih. Seperti menari balet di sebuah panggung yang dipenuhi dry ice. Ada suara musik samar-samar, mungkin dari harpa dan seruling bambu. Betul-betul indah. Kino sangat menikmatinya.

Lalu, entah dari mana, muncul seekor binatang aneh. Besar sekali binatang itu, menyerupai T-rex (sejenis dinosaurus) di film Jurassic Park. Seram sekali binatang itu, dengan mulut yang terbuka lebar dan gigi-gigi besar dan tajam. Kino terpana, melihat binatang itu mengejar Ria dan ibunya, yang juga terperanjat dan tampak berusaha lari menghindar. Tetapi binatang ganas itu jauh lebih cepat larinya, dan sebentar kemudian ia sudah dekat sekali dengan kedua anak beranak itu.

Kino berteriak, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan. Lalu dengan ngeri ia melihat binatang itu menangkap Ria dan ibunya dengan mulutnya. Darah muncrat. Kino berteriak lagi keras-keras. Suaranya tercekat lagi di tenggorokan. Kino berusaha sekuat tenaga untuk mendekat, untuk memukul binatang jahat itu agar melepaskan buruannya.
Tetapi kakinya terpaku di tanah. Kino frustrasi, terasa ingin menangis.

Lalu ia terbangun... Entah apa makna mimpi itu, Kino tak tahu. Lama ia terpekur di ranjangnya. Malam masih jauh dari pagi. Suara jangkerik terdengar ramai di luar. Ketika jarum jam menunjukkan angka 1, barulah Kino bisa memejamkan mata kembali.

***

 

Bayang-bayang Sang Bidadari


Pagi belum lagi terik. Matahari masih bersembunyi di balik pucuk-pucuk pohon. Udara masih segar. Kino sudah duduk di angkot reyot yang akan membawanya ke kampus. Mobil buatan Jepang itu pasti berumur sekitar 3 tahun. Catnya sudah dekil, suara mesinnya seperti kakek-kakek yang sedang sakit TBC. Penumpangnya belum banyak; hanya Kino dan seorang laki-laki yang tampaknya pegawai kelurahan, lengkap dengan map-map bututnya. Sang kondektur masih berteriak-teriak mengundang penumpang. Suaranya lantang sekali sepagi ini. Kino menatap arlojinya. Mudah-mudahan tidak terlambat, gumamnya dalam hati.

Lima menit kemudian, datang tiga penumpang lagi. Lalu menyusul dua orang anak SD dengan tas di punggung mereka. Angkot sudah hampir penuh, tetapi sang kondektur tetap berteriak, "Kosong! Kosong!" sementara para penumpang mulai menggerutu. Kino melirik lagi arlojinya. Ah, masih ada waktu. Tetapi, kalau angkot ini harus penuh dulu baru berjalan, tentu waktu akan habis juga akhirnya.

Seorang ibu gemuk dengan tas belanja yang tak kalah gemuknya tergopoh-gopoh mendekat. Sang kondektur yang ceking menyambutnya dengan penuh semangat, mencoba membantu memegangi tas si ibu, tetapi ia tampaknya terlalu kurus untuk tas itu. Si ibu berhasil naik dengan susah payah, selain karena berat tubuhnya, juga karena angkot hanya menyisakan satu ruang saja.
Itu pun untuk penumpang berbadan sedang. Akibatnya, penumpang yang lain terhimpit satu sama lain. Persis ikan asin yang ditumpuk dalam satu kotak kaleng rombeng. Sial, keluh Kino dalam hati.

Akhirnya sang supir muncul, entah dari mana. Angkot pun bersiap meninggalkan tempatnya. Sang kondektur sudah bergantungan di pintu keluar. Mobil tua itu terbatuk-batuk lagi, lalu mulai bergerak seperti orang malas. Gerakannya tersendat-sendat, membuat para penumpang terhenyak-henyak saling berbenturan. Lalu, kesialan Kino pagi ini memuncak: angkot itu mogok setelah berjalan tak lebih dari 3 meter!

Penumpang berhamburan keluar. Kino mencoba membantu mendorong. Ibu gemuk belum lagi turun, sehingga angkot jadi terasa sangat berat. Untung jalan agak menurun. Tetapi, walau dicoba berkali-kali, dan walau Kino sudah berpeluh, angkot itu tetap ngadat. Akhirnya sang supir menyerah. Angkot tidak jadi mengangkut penumpang, yang kini kembali bergerombol menunggu angkot berikutnya.

Tetapi Kino memang sial. Tiga angkot berikutnya selalu penuh, dan hanya mampu menampung satu orang setiap kalinya.
Kino terpaksa mengalah kepada dua anak SD dan si ibu gemuk. Sementara waktu cepat berlalu, dan Kino kini tahu bahwa ia pasti akan terlambat untuk kuliah pertamanya. Padahal, itu kuliah paling penting di semester ini, dan dosennya paling galak. Kino menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Ia berdiri di pinggir jalan, berharap agar angkot yang berikutnya kosong. Ada satu angkot tampak di kejauhan menuju ke arahnya. Angkot itu berhenti dan menurunkan beberapa penumpang, sehingga Kino yakin ia akan bisa naik kali ini. Ia pun bersiap maju agak ke tengah jalan untuk mencegat angkot itu.

Tiba-tiba sebuah Honda Civic putih berhenti tepat di depannya. Kino menepi kembali, menyangka mobil itu akan parkir. Tetapi ternyata tidak, mobil itu tetap di depannya, dan kaca jendela depan kirinya terbuka perlahan dengan suara mendesing. Kino mengernyitkan dahi, mencoba mengintip ke ruang dalam yang agak gelap. Apakah salah seorang temanku? ucap Kino penuh harap. Kalau ya, tentu ia bisa menumpang ke kampus.

"Halo, Oom!" sebuah kepala kecil dengan rambut ikal dan pita merah menyembul. Tentu saja itu kepala si gadis kecil yang mengejar-ngejar kucing di taman. Ria!

"Hai!" sahut Kino terkejut dan terheran, sekaligus kagum atas ingatan gadis kecil yang baru dijumpainya satu kali beberapa minggu yang lalu.

"Mau kuliah, ya!?" terdengar suara lain dari arah pengendara mobil. Kino maju mendekat dan membungkukkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas. Astaga! yang bicara itu tadi adalah si bidadari!

"Eh, ya... mau kuliah, ya, ya!" jawab Kino gelagapan.

Sungguh kaget ia ditegur oleh sang bidadari yang pagi ini tidak memakai setelan serba putih, tetapi tetap dengan dua anting mutiaranya yang berbinar.
Cantik sekali bidadari itu!

Bidadari itu lalu menyebut nama kampus Kino, dan katanya mereka akan menuju ke arah sana.
"Mau ikut sampai kampus?" tanya bidadari itu ramah. Dan Ria juga ikut mendesak "Oom"-nya berkali-kali sambil membuka pintu belakang. Kino menggaruk-garuk kepalanya lagi. Ah, bagaimana aku bisa menolak, pikirnya. Akhirnya Kino menghenyakkan tubuhnya di jok belakang Honda Civic yang ruang interiornya menyebarkan harum semerbak itu. Mobil pun segera melaju dan Kino merasa seperti sedang naik kereta kencana yang ditarik kuda-kuda terbang!

"Kuliah di jurusan apa?" tanya si bidadari sambil melirik dari kaca spion.

"Arsitektur," jawab Kino pendek. Bidadari itu tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke depan. Kino bisa melihat dari kaca spion, betapa manisnya senyum itu. Betapa cepatnya kesialan pagi ini berubah menjadi keberuntungan!

"Oom mau cekolah juga ya!" celoteh si kecil Ria dengan cadelnya, sambil membalikkan tubuhnya menghadap Kino.

"Iya," jawab Kino, "Ria sekolah di mana?"

"Lia cekolah taman kanak-kanak. Tapi, tapi, Lia nggak cuka cekolah!"

"Lho, kenapa?" ucap Kino pura-pura kaget, "Apakah di sekolah Ria tidak ada kucing?"

Gadis kecil itu mengangguk-angguk cepat. Rambutnya bertebaran menutup keningnya. Kino senang sekali melihat gadis kecil ini. Cantik dan lucu dan tampak cerdas.

"Kenapa tidak minta kepada bu guru untuk membeli kucing?"

"Bu gulu nggak cuka kucing, Bu gulu cuka cama donal bebek!"

Kino tertawa mendengar jawaban Ria, dan si bidadari juga ikut tertawa kecil. Oh, merdu sekali tawa itu, pikir Kino, sebuah campuran yang pas antara tertawa manja dan tertawa geli.

Lalu Ria berceloteh terus sepanjang perjalanan, dan Kino dengan senang hati menimpalinya. Si bidadari sendiri tidak begitu banyak berbicara, tetapi selalu tertawa dengan tawanya yang memikat itu. Sesekali Kino melirik ke kaca spion, diam-diam memandangi wajahnya yang menatap lurus ke depan mengawasi lalu-lintas. Wajah itu manis sekaligus anggun, juga tampak bersinar riang. Barangkali ia memang bidadari, pikir Kino.

Akhirnya, setelah sepuluh menit lebih sedikit, Honda Civic itu menepi di depan kampus Kino.
Cepat-cepat Kino mengucapkan terimakasih, berkali-kali sampai ia merasa malu sendiri. Lalu ia turun dan berdiri di tepi jalan menunggu mobil itu pergi. Ria menyembulkan kepalanya, berteriak, "Daah... Oom Kucing!"

Sialan, sejak kapan aku jadi kucing? Sergah Kino. Dilambaikannya tangan ke arah Ria. Sang bidadari juga mengeluarkan tangannya ke atas dan melambai. Lalu, mobil itu menghilang di tengah keramaian.

Kino masih tertegun beberapa jenak.
Sepanjang perjalanan tadi ia tak sempat bertukar nama dengan sang bidadari. Tololnya aku! Kino berseru dalam hati. Kenapa tadi tidak memperkenalkan diri? Mana mungkin wanita yang lebih dulu memperkenalkan diri? Bego sekali kamu, Kino. Dasar orang desa! Kata-kata hatinya bersusulan menyalahkan dirinya sendiri. Sambil melangkah gontai menuju gerbang kampus, Kino menggaruk-garuk lagi kepalanya yang tidak gatal. Rambutnya yang agak gondrong itu kini sudah acak-acakan.

Di gerbang kampus, ia bertemu Rima yang rupanya juga baru tiba dan tadi melihat Kino turun dari Honda Civic yang ditumpanginya. Gadis itu, seperti biasanya, tersenyum manis menyambutnya. Kino suka sekali senyuman itu, yang selalu bisa menambah cerah hari-hari kuliahnya. Seringkali Kino heran sendiri, kenapa ia tidak bisa memacari gadis itu, padahal ia suka kepadanya.

"Aku tidak tahu kamu punya mobil," ucap Rima sambil menggamit lengan Kino.

"Aku memang tidak punya mobil. Itu tadi tetanggaku, kebetulan lewat sini," jawab Kino berbohong. Tetapi, mungkin juga ia berkata benar. Mungkin juga bidadari itu tetangganya. Sebenarnya, Kino betul-betul berharap bahwa ia memang tetangganya!

"Cantik, ya!?" ucap Rima. Kino mendeteksi nada lain di ucapan itu.

"Hmm," jawab Kino pendek sambil mengangguk. Mereka berjalan beriringan sepanjang koridor yang diteduhi tanaman merambat.

"Beruntung sekali kamu punya tetangga cantik yang lewat di depan kampus setiap pagi," ucap Rima lagi, kali ini dengan nada agak menggoda. Gadis itu selalu, se-la-lu... menggodanya. Tetapi Kino sudah kenal taktiknya. Kino sudah "kebal".

"Hmm," gumam Kino lagi sambil mengangguk lagi.

"Daripada naik angkot, lebih enak naik Honda Civic, ya?!"

"Hmm.."

"Pasti ruangan dalam mobil itu harum semerbak. Tidak seperti angkot yang bau keringat penumpang,"

"Hmmm.."

"Pasti kamu belum sarapan pagi ini?" ucap Rima tiba-tiba mengubah topik.

"Hmmm.."

Rima mencubit pinggang Kino gemas. Dari tadi pria ini cuma "hmmm-hmmm" saja, mengindari ajakannya untuk mendiskusikan wanita bermobil Honda Civic itu. Kino tertawa gelak dan berlari menghindar. Rima mengambil sebutir kerikil sebesar kuku jarinya, melempar ke arah Kino. Luput. Kerikil itu justru mengenai punggung seorang mahasiswa lain, yang segera menoleh ke arah Rima.

"Maaf, Mas! Tidak sengaja!" ucap Rima buru-buru sambil mendekat ke mahasiswa yang tampaknya senior itu. Kino tertawa di kejauhan.

"Lain kali tanya dulu sebelum melempar," ucap mahasiswa senior itu.

"Oh, ya?! Apa yang musti kutanyakan?" ucap Rima merasa aneh mendengar perkataan "korban" lemparannya.

"Tanya dulu, apakah saya mau dilempar atau tidak!" sergah si korban sambil berlalu dengan muka penuh kemenangan.

Rima membanting kakinya dengan gemas. Lalu berlari mengejar Kino yang sudah jauh sekali.

***

Setelah menumpang "kereta kencana" itu, Kino tak pernah bertemu lagi dengan sang bidadari. Setiap pagi, Kino berharap Honda Civic itu lewat, tetapi ternyata harapannya sia-sia belaka. Sia-sia ia menunggu setiap pagi selama sepuluh menit, dan setelah seminggu, Kino pun menyerah. Ia berkeputusan dalam hati: si bidadari pasti telah kembali ke kahyangan. Atau semua yang dialaminya adalah hayal belaka. Tetapi, bagaimana sebuah hayalan bisa disaksikan orang lain seperti Rima?

"Kenapa tidak pernah numpang tetanggamu lagi?" goda Rima pada suatu pagi.

"Mobilnya masuk bengkel," ucap Kino berbohong, lalu mencoba mengalihkan pembicaraan. Tetapi, Rima bersikeras menanyakan apa yang sesungguhnya terjadi. Heran, gadis itu besar sekali rasa ingin tahunya, keluh Kino dalam hati.

"Wah, pasti rusak berat. Seminggu masuk bengkel. Pasti tabrakan beruntun. Apakah ada yang luka-luka?" tanya Rima seperti senapan mesin memberondong musuh.

"Ah, tidak. Cuma mau ganti warna cat. Pemiliknya bosan dengan warna putih!" jawab Kino sekenanya. Untuk melawan celoteh Rima memang sebaiknya tidak memakai akal sehat, begitu Kino berpikir.

"Wow! Padahal mobil itu kelihatan masih baru. Pasti pemiliknya kaya sekali, berganti cat mobil seperti berganti baju!" ucap Rima.

"Memang dia kaya. Dia bahkan punya pabrik pesawat terbang tak jauh dari kota ini!" ucap Kino tak mau kalah dengan akal-akalan Rima.

Tentu saja gadis ini tertawa terbahak mendengar jawaban Kino, dan ia senang sekali melihat Kino tersipu-sipu. Ia merasa memenangkan "pertempuran" yang menyenangkan ini. Ah! bersama Kino semua rasanya menyenangkan belaka! Ucap Rima dalam hati.

Percakapan ini terjadi hari Sabtu, di kampus, sebelum kuliah pengganti yang diadakan seorang dosen karena ia pernah tidak masuk minggu lalu. Kino membiarkan Rima mengganggunya sepanjang hari, karena pemuda ini juga senang diganggu dan dibercandai. Ia merasa, Sabtu ini agak kelabu, entah kenapa. Mungkin karena harapannya bertemu sang bidadari tak kesampaian. Mungkin juga karena ia rindu kampung halaman (akhir-akhir ini Kino sering terkenang orangtua dan adiknya). Mungkin juga karena sebentar lagi malam minggu, dan Kino tidak punya pacar untuk dikunjungi.

Maka ketika Rima mengajaknya mendaki gunung sepulang kuliah, Kino menyambutnya dengan antusias. Ia segera pulang setelah kuliah bubar dan segera kembali menjemput Rima di tempat kostnya, lengkap dengan ransel dan perbekalan dan perlengkapan kemah. Sedangkan Rima telah pula siap dengan tenda dan gitarnya. Ranselnya kecil saja, dan tenda dititipkannya pada Kino.

"Berdua saja?" tanya Kino ketika sadar bahwa Rima tidak bersama siapa-siapa. Biasanya, gadis ini membawa serta seorang gadis sahabatnya. Biasanya pula Kino mengajak Tigor, temannya dari Jurusan Mesin yang punya hobi serupa. Sewaktu Rima mengusulkan mendaki di kampus tadi, Kino tak sempat bertanya tentang peserta.

"Iya. Berdua saja!" jawab Rima sambil memanggul gitarnya. "Kenapa? Takut?"

Kino mendengus pura-pura kesal. "Siapa yang tidak takut pergi berdua dengan tukang cubit!" sergahnya sambil memasukkan tenda ke ransel.

Rima tertawa. Rima mencubit lengan Kino... Rima memukul sayang kepala pemuda itu... Rima bernyanyi dalam hati!

***

Gunung yang mereka daki adalah gunung yang sangat populer di kalangan anak-anak muda. Jadi, tidaklah tepat kalau Kino berkata bahwa mereka mendaki "hanya berdua". Sebab, setelah sampai di puncak, mereka bergabung dengan puluhan anak-anak muda. Keduanya telah pula dikenal oleh beberapa "veteran" pendaki yang berkumpul di kaki gunung. Rima bahkan sudah didaulat untuk bernyanyi sejak di tempat peristirahatan pertama di lereng gunung. Seperti biasanya, Rima memenuhi permintaan para kawula muda pencinta alam itu dengan senang hati. Kadang-kadang Kino berpikir, Rima memang suka menampilkan diri di muka umum. Ia berbakat menjadi artis, barangkali!

Tetapi ketika malam menjelang pagi di puncak gunung, ketika keletihan memaksa para pendaki masuk ke tenda masing-masing untuk beristirahat setelah mengobrol sepanjang malam, mereka pun akhirnya memang tinggal berdua. Tenda yang mereka tempati tidaklah terlalu luas. Untuk bisa tidur, Kino harus merelakan lengannya menjadi bantal Rima. Kalau tidak begitu, ruangan akan tersita dan tenda mungkin sudah rubuh. Bagi Rima, inilah enaknya pergi berdua. Ia bisa punya seribu alasan untuk memeluk pria yang sangat-sangat-sangat disukainya itu.

Angin berhembus keras sekali malam itu.
Dingin menusuk tulang, dan bunga-bunga es berterbangan seperti pasir putih di sekitar tenda. Kino membiarkan Rima memeluk tubuhnya erat-erat. Kadang-kadang, ia merasa Rima adalah seorang lemah yang perlu dilindungi. Apalagi, sebelum masuk tenda tadi Rima mengaku agak ngeri melihat cuaca malam ini. Di puncak gunung, cuaca seperti ini memang menambah suasana semakin mencekam. Suara angin seperti raungan raksasa yang sedang marah. Gelap-gulita di sekeliling tenda, tak terdengar suara apa-apa selain badai yang mengamuk.

Kino mendengar gigi Rima bergemeletuk menahan dingin. Tidak tega, Kino melepas jaketnya, membungkus tubuh temannya. Ia sendiri kini hanya berkaus , tetapi kaos itu cukup tebal untuk menahan dingin. Apalagi di bawah kaos itu, Kino juga memakai kaos lain yang terbuat dari wol.

Desah nafas Rima dekat sekali di pipi Kino.
Harum mulut gadis itu juga sampai samar-sama di hidung Kino. Entah sengaja atau tidak, bibir Rima yang agak basah itu sesekali menyentuh pipi Kino.

"Takut, Rim?" bisik Kino. Kino merasakan gadis itu mengangguk. Juga merasakan nafasnya agak cepat. Jangan-jangan...

"Cium aku, Kino," gadis itu berbisik, hampir tak terdengar.

Kino tersenyum dalam gelap. Ada-ada saja permintaan Rima. Tetapi, why not? pikirnya. Mungkin perlu juga berciuman di tengah badai di puncak gunung.

Perlahan Kino menyentuh bibir Rima dengan bibirnya. Nafas gadis itu menyerbu mukanya, terasa semakin panas. Lalu, bibir gadis itu terbuka sedikit.
Kino mengecupnya ringan, membiarkan masih ada jarak di antara kedua mulut mereka. Rima terdengar mendesah. Gelisah.

Terasa gadis itu menggeser tubuhnya semakin rapat ke tubuh Kino. Dibandingkan Indi yang seksi dan sintal, atau Alma yang berdada ranum, Rima pastilah kalah. Dadanya tidak membusung, hanya membukit seadanya saja. Walau begitu, jatung Kino bergetar juga merasakan lengannya menekan dada Rima yang turun naik dengan cepat.

Rima kini merangkul leher Kino, dan sepertinya tak sabar, ia menarik pemuda itu sehingga bisa sepenuhnya berciuman. Kino membiarkan gadis itu mengulum bibirnya dengan desah yang semakin gelisah. Diam-diam Kino khawatir juga, kemana arah percumbuan ini?

Lidah keduanya secara otomatis saling memagut, seperti dua ekor ular yang sedang bercengkrama.
Kino sebenarnya hanya ingin berciuman di bibir, tetapi tampaknya Rima ingin lebih dari itu. Apalagi kini satu kakinya sudah naik, menumpang di paha Kino. Tangannya semakin kuat merengkuh leher pemuda itu. Nafasnya juga sudah semakin memburu.

Lalu, entah bagaimana mulanya, tangan Kino telah menelusup ke balik dua jaket yang membungkus tubuh Rima. Kini telapak tangan pemuda itu mengusap-usap bukit kecil di dada Rima. Gadis itu mengerang pelan, mulutnya semakin bersemangat menciumi Kino.
Nafasnya kini tersengal-sengal, dan badannya gelisah bergerak kesana-kemari.

Kino membalas pagutan Rima. Dihisapnya kedua bibir gadis yang punya lesung pipit itu. Diemut-emutnya lidah gadis itu yang sejak tadi menerobos masuk ke mulutnya. Kadang-kadang digigitnya perlahan salah satu bibir Rima, membuat gadis itu mengerang manja.

Rima merasakan tubuhnya dibungkus kenikmatan birahi. Apalagi kini kedua pahanya menjepit erat salah satu paha Kino. Di balik jeans yang dikenakannya, celana dalam Rima mulai terasa lembab. Cairan hangat terasa mengalir perlahan di dalam pinggulnya. Selangkangannya terasa dipenuhi geli-gatal yang menggelisahkan. Dengan gerakan tak karuan, Rima menggosok-gosokan bagian depan kewanitaannya ke paha Kino. Oh, seandainya saja pria ini mau memasukkan tangannya ke sana! jerit Rima dalam hati.

Tetapi rupanya Kino cepat sadar. Tiba-tiba teringat olehnya, sesama pendaki sebaiknya tidak menjalin hubungan seksual. Konon, hubungan itu hanya akan membawa sial. Walaupun tidak sepenuhnya percaya, Kino takut juga kalau-kalau petuah itu benar. Maka cepat-cepat ia menghentikan usapan tangannya di dada Rima, lalu menjauhkan mukanya dari muka gadis itu.

Namun Rima rupanya sedang berpacu menuju klimaks pertamanya. Tubuh gadis itu sedang meregang ketika Kino melepaskan ciumannya. Kedua pahanya erat mencengkram paha Kino, membuat pemuda itu meringis karena merasa agak pegal. Lalu, terdengar Rima mengerang pelan dan panjang, "Ooooh...! Aaaaaah...!!" dan kedua kakinya kaku mengejang, disusul guncangan seluruh tubuhnya.

"Kino, jangan berhenti, Kino," gadis itu mengerang di tengah guncangan tubuhnya.

Dengan susah payah, Kino berhasil mengendalikan dirinya, menghindari tarikan tangan Rima yang seperti orang kalap. "Tidak, Rima. Kita sedang di puncak gunung!" sergah Kino sambil memegangi lengan Rima yang terus berontak.

Setelah berusaha berkali-kali melepaskan tangannya, akhirnya gadis itu menyerah, gerakannya semakin lama semakin melemah. Lalu gadis itu lunglai memeluk Kino.

"Maafkan aku, Rima," bisik Kino sambil memeluk pundak gadis itu. Tiba-tiba Rima tersedu. Air matanya yang hangat membasahi leher Kino, dan pemuda itu diam saja, membiarkan emosi Rima keluar bebas. Ia tahu, gadis itu mengerti benar apa maksudnya menolak bercumbu di puncak gunung.

"Sudahlah, sebentar lagi pagi. Kita perlu tenaga untuk pulang," bisik Kino lembut. Terasa kepala Rima bergerak mengangguk. Kino tersenyum, mengecup dahi gadis itu dengan sayang. Rima terdengar menghela nafas panjang, dan menghembuskannya keras-keras. Kino tersenyum lagi dalam gelap. Bersyukur bahwa segalanya bisa berlalu.

Tak lama kemudian, terdengar nafas keduanya semakin teratur. Sementara badai di luar ternyata juga mereda. Puncak gunung menjulang menghitam di malam yang semakin pekat. Kino dan Rima akhirnya mendengkur perlahan, dengan damai menyambut datangnya alam mimpi, bersamaan dengan tibanya kabut tebal yang menyelimuti seluruh lapangan kecil di puncak itu.

***

Di hari-hari berikutnya, hubungan Rima dan Kino kembali normal. Perlahan-lahan mereka bisa melupakan peristiwa di puncak gunung yang mencekam dan nyaris berakhir di luar kendali itu. Memang, Rima sempat menjadi agak kikuk akibat terpengaruh peristiwa itu. Ia sempat sering tersipu kalau bertemu Kino, padahal pemuda itu sudah berusaha keras bersikap seperti biasa. Tentu saja, Kino juga tak akan lupa peristiwa itu. Tetapi ia tak ingin kehilangan persahabatan, dan sebab itu berusaha keras membantu Rima melupakannya. Untung saja, masa ujian segera tiba, dan kesibukan belajar akhirnya membuat gadis itu kembali seperti semula: suka menggoda Kino dan selalu mengajaknya bercanda.

Yang justru agak mengganggu pikiran Kino adalah si bidadari itu!

Pada suatu malam minggu, sepulang dari rumah Ridwan, ia bertemu lagi dengan bidadari itu. Sebenarnya tidak "bertemu" dalam arti sebenarnya, karena Kino hanya sekelebat melihatnya. Ia sedang berada di boncengan motor Tigor yang akan mengantarnya pulang di tengah malam itu. Mereka sedang melintas di depan sebuah mall kecil yang masih ramai. Jalan yang mereka lalui agak macet, karena bioskop rupanya baru bubar, dan mobil para penonton sedang antri ke luar.

Waktu itulah, Kino melihat Honda Civic yang pernah ditumpanginya. Tentu saja, catnya masih putih. Di dalamnya ada sang bidadari, tetapi ia tidak duduk di belakang stir. Yang duduk di belakang stir adalah seorang pria. Dengan cepat Kino menyimpulkan, pria itu pastilah suaminya. Ada sedikit rasa pedih menerima kesimpulannya sendiri itu. Kino diam-diam memperhatikan, seperti apa suami sang bidadari itu. Tetapi karena motor yang ditumpanginya tertahan agak jauh, Kino tak bisa melihat jelas. Apalagi kemudian mobil itu lolos terlebih dulu dari kemacetan, dan segera menjauh di kegelapan malam.

Ketika akhirnya Tigor berhasil lolos dari kemacetan, mobil itu sudah menghilang entah ke mana. Lalu, Tigor tancap gas dan mereka sampai di tempat tujuan hanya dalam waktu 5 menit karena jalanan lengang. Kino turun di depan gang menuju tempat kost, mengucapkan terimakasih kepada sahabatnya yang segera melesat kembali menembus gelap malam. Suara motornya meraung-raung semakin lama semakin lenyap. Kino menunggu sampai motor itu tak terlihat lagi, baru membalikkan badan ke arah rumah kost-nya.

Pemuda itu berjalan gontai sambil terus memikirkan sang bidadari. Ah, ternyata ia telah bersuami. Tentu saja! Bukankah Ria memanggilnya "mama". Tentu saja Ria punya ayah, dan pria yang tadi di belakang stir pastilah ayah Ria. Suami sang bidadari.

Lalu, kini apa? Kau tertarik pada seorang wanita yang sudah bersuami! Suara hati Kino terdengar nyaring di telinganya. Kau terpesona pada istri orang! Duh, Kino menggeleng-geleng sendirian sambil melangkah pelan. Ia baru saja hendak membuka gerbang halaman rumah kost-nya, ketika didengarnya seseorang berbisik, "Sssst... Kak Kino!"

Terkejut, Kino menoleh ke arah sumber suara. Indi sedang duduk di bawah pohon mangga yang membatasi rumah kost dengan rumah gadis itu. Di sana ada bangku kayu yang jika hari siang biasa dipakai duduk-duduk. Bayangan pohon agak menyembunyikan gadis itu dari sorot lampu di ujung gang. Apa yang dikerjakan si centil itu? Pikir Kino sambil melangkah mendekat.

"Aku nggak bisa tidur!" bisik Indi sebelum Kino sempat bertanya.

"Sedang apa di sini? Nanti ayahmu marah." sergah Kino berbisik, takut terdengar orang lain. Diliriknya arloji, hmmm, sudah hampir pukul satu.

"Ayah sedang main catur di beranda. Ibu menginap di rumah kakak. Sini, Kak Kino, temani aku," ucap Indi sambil meraih tangan Kino, menariknya ke bawah bayang-bayang pohon.

Kino membiarkan tubuhnya ditarik. Entah kenapa, tiba-tiba Kino ingin melayani tingkah Indi malam ini. Mungkin karena kesepiannya di malam minggu ini. Mungkin karena kekecewaannya setelah tahu sang bidadari bersuami. Mungkin... Mungkin... Mungkin. Semua serba memungkinkan.

Tiba-tiba saja Kino telah mencium Indi, menyandarkan tubuh gadis itu ke batang pohon mangga, dan melumat bibirnya dengan gemas. Indi sempat terkaget, tetapi lalu membalas ciuman Kino dengan tak kalah bersemangat.

***

 

Interlude Indi dan Perjumpaan Itu.


Kino sebetulnya agak terperanjat juga merasakan betapa Indi bukan gadis ingusan lagi dalam soal berciuman. Bibirnya yang lembut basah itu ternyata pandai sekali bermain-main, mengulum bibir Kino dengan lahap. Gadis itu juga dengan leluasa membuka mulutnya, membiarkan lidah Kino menelusup masuk, menjilati langit-langitnya. Harum lembut nafas Indi, membuat pemuda ini betah berlama-lama mengulum bibir yang ranum itu.

"Mmmmm..." terdengar Indi mengerang, hendak mengatakan sesuatu, tetapi tak jelas karena mulutnya dipenuhi lidah Kino yang menjalar-jalar menimbulkan kenikmatan.

"Mmmhhhh," desah Indi semakin gelisah.

Kino mengurangi cumbuannya, melepas pagutannya.
Muka keduanya sangat dekat, dan pemuda itu bisa melihat dengan jelas mata Indi berbinar seperti bintang kejora. Nafasnya deras menyerbu muka Kino.

"Jangan di sini, Kak Kino," bisik Indi, "Sebentar lagi ronda akan lewat..."

"Ke kamarku?" bisik Kino, memandang lekat kedua mata Indi. Letak kamar Kino di sisi jalan. Jadi, kalau mereka mengendap diam-diam, dan masuk lewat jendela di sebelah tembok yang membatasi rumah dengan jalan.

"Aku ingin sekali, Kak. Tapi..."
Indi tampak ragu.

"Tidak usah lama-lama." ucap Kino, agak terdengar mendesak, karena entah kenapa malam ini tubuh Kino membara ingin melampiaskan birahi.

Indi membalas pandangan Kino, mencari-cari kepastian dari kedua matanya. Gadis ini memang suka menggoda Kino, karena sesungguhnyalah ia menyukai pemuda itu. Tetapi, dihadapkan pada pilihan menarik yang penuh risiko ini, hatinya bimbang juga.

"Kak Kino yakin tidak akan apa-apa?" bisik Indi, sementara tangannya yang masih memeluk leher Kino terasa agak bergetar.

Kino mengangguk. "Asal kita berdua hati-hati. Oke?" ucapnya dengan suara serak. Degup jantung pemuda ini sangat kencang, karena ia pun sebenarnya kuatir.

Akhirnya Indi mengangguk, lalu membiarkan tangannya dituntun Kino. Berdua mereka mengendap masuk ke halaman rumah kost. Pintu gerbang dibuka Kino dengan hati-hati, agar deritnya tidak terlalu keras. Setelah mengintip ke arah rumah Indi, dan melihat ayahnya masih asyik menekuni papan catur, Kino menarik gadis itu menyelinap ke balik tembok. Lalu mereka berjalan menyusur dalam gelap, sampai di bawah jendela kamar Kino yang terletak dekat dapur.

"Tunggu di sini, ya. Aku buka jendela dari dalam." bisik Kino sambil mengecup pipi Indi. Gadis itu mengangguk dan memepetkan tubuhnya ke tembok rumah.

Kino bergegas masuk ke dalam rumah lewat dapur. Dilihatnya ruang tengah sudah gelap. Ibu kos mungkin sudah tidur. Kino merasa agak lega. Dengan berjingkat, buru-buru ia masuk ke kamarnya, lalu mengunci pintu. Kemudian, tanpa menyalakan lampu, dengan sigap ia membuka jendela, yang letaknya kira-kira satu setengah meter di atas permukaan tanah.

Indi menjulurkan tangannya ke atas. Kino menggenggam erat pergelangan tangan gadis itu, lalu... hup! Sekuat tenaga ia menarik Indi ke atas. Gadis itu pun dengan cekatan meringankan beban Kino; kedua kakinya sigap mendaki tembok. Tanpa susah payah, ia akhirnya berhasil masuk ke kamar Kino.

Cepat-cepat Kino menutup jendela, sementara Indi duduk di dipan sambil melepas sepatu dan kaos kakinya. Diam-diam pula, tanpa sepengetahuan Kino yang sedang sibuk mengunci jendela, gadis ini meloloskan celana dalamnya dan meletakkannya di bawah bantal.

Kino langsung duduk di samping Indi setelah selesai mengunci jendela. Lampu kamar tetap dimatikan, dan radio dinyalakan untuk menyembunyikan suara percumbuan mereka. Lalu, Kino memeluk gadis itu dan menciuminya lagi. Indi pun menyambutnya dengan sukacita, kembali menikmati kecupan, kuluman, dan jilatan lidah pemuda pujaannya.

Kino mendorong tubuh Indi perlahan sehingga rebah di kasur, sementara kedua kaki gadis itu tetap menjuntai di pinggir dipan. Sambil mencium dan mengulum bibirnya yang ranum itu, tangan Kino mulai membuka baju Indi. Dalam hati Kino heran sendiri, mengapa permainan cinta ini lancar sekali. Padahal baru kali ini ia berbuat begitu jauh dengan Indi. Mungkin memang naluri keduanya sudah sejalan, dan selama ini dipendam, kini keluar tak terbendung.

Indi bahkan membantu Kino, dengan tangan bergetar ia membuka sendiri kancing-kancing baju yang belum terbuka. Lalu, ia membuka sendiri behanya dengan melepas kait yang terletak di depan. Kedua dadanya yang ranum menantang itu segera terpampang bebas. Tangan Kino yang hangat dan agak berkeringat itu segera pula meremas gemas.

"Aaaaaah...!" Indi menjerit manja. Kino sempat terkaget mendengar jeritnya, lalu segera membungkam mulut gadis itu dengan mulutnya, sehingga akhirnya Indi cuma mengeluarkan suara, "mmmmmmm..." yang tidak jelas.

Dengan jempol dan telunjuknya, Kino meraba-raba puting Indi.
Oh, cepat sekali tonjolan kenyal yang panas itu menjadi tegak dan keras. Indi menggelinjang, merasakan sergapan rasa geli yang sangat nikmat memenuhi dadanya. Mulutnya yang dibungkam mulut Kino mengerang pelan. Satu tangannya memeluk leher Kino erat-erat, sementara satu tangan yang lain memegangi tangan Kino yang ada di dadanya. Indi ingin tahu apa yang dikerjakan tangan itu di dadanya, ingin tahu mengapa tangan itu menimbulkan nikmat luar biasa di tubuhnya.

Dengan telapak tangannya, Kino menekan puting Indi hingga melesak. Lalu, ia memutar-mutar tangan itu, sehingga payudara Indi seperti dipilin-pilin. Gadis itu menggelinjang kuat-kuat, merasakan betapa tekanan dan putaran tangan Kino seperti menimbulkan percikan-percikan listrik di seluruh tubuhnya. Gadis itu mengerang lagi, menggelinjang lagi, gelisah sekali.

Lalu Kino melepaskan ciumannya, dan dengan cepat menurunkan mukanya. Indi mendesah, menunggu dengan cemas, apa gerangan yang akan dilakukan pemuda itu. Jangan dikira gadis ini tidak pernah bercumbu, karena ia pernah punya pacar yang diputusinya setahun lalu.
Tetapi pacarnya itu cuma bisa mencium dan meraba-raba dadanya dengan kasar. Lain sekali dengan Kino yang lembut walau tak kalah liarnya. Pacarnya dulu ingin segera meraba-raba selangkangan, dan ingin agar Indi meremas-remas kejantanannya. Egois sekali.

Kino sepertinya tak begitu, pikir Indi, sambil menunggu perjalanan bibir pemuda itu. Mula-mula dirasakannya Kino menciumi lehernya. Hmm, geli dan gatal sekali rasanya. Indi menggelinjang dan mengerang lagi. Ia merasakan tubuhnya seperti mau meledak oleh rasa geli yang nikmat. Seluruh dadanya terasa menggelembung dan penuh oleh getaran-getaran kecil yang pelan-pelan merambat ke seluruh permukaan badannya. Bersamaan dengan itu, ia merasakan temperatur tubuhnya naik dengan cepat, seperti sehabis dipanggang di terik matahari.

Lalu...

”Ooooooh!” Indi mengerang dengan suara tertahan ketika bibir Kino akhirnya tiba di puncak salah satu payudaranya. Punggung Indi terangkat dengan sendirinya, lalu tubuhnya miring ke arah mulut Kino yang kini sudah sepenuhnya berisi putting Indi. Akibat gerakan ini, hampir setengah dari payudara Indi menerobos masuk ke mulut Kino, membuat pemuda itu sejenak gelagapan. Cepat-cepat Kino menarik tubuhnya, mengendorkan pelukannya. Tetapi secepat itu pula tangan Indi meraih leher pemuda itu, menekan kepalanya kembali ke payudaranya!

"Aaaah... Uuuuuh!" Indi mengerang-erang tidak karuan, merasakan untuk pertama kalinya betapa nikmat jika seorang pemuda menghisap-hisap ujung payudaranya.

Dari ujung yang sensitif itu datang serbuan-serbuan rasa geli-gatal yang sangat kuat. Apalagi kemudian Kino memainkan lidahnya sambil menyedot-nyedot putting itu. Wow! Indi bagai tersengat listrik yang menimbulkan gelombang-gelombang besar di tubuhnya. Membuat Indi tiba-tiba menggelepar seperti ikan terlempar ke atas pasir. Tubuhnya melenting, lalu bergetar hebat, terhempas lagi ke kasur, miring ke kiri, lalu ke kanan, lalu terlonjak, lalu terhempas lagi...

"Nnggg..." Indi mengerang.

Kino kelabakan berusaha menekan tubuh gadis itu agar tetap terlentang di kasur. Tetapi tenaga Indi tiba-tiba menjadi berlipat ganda, dan akhirnya Kino terlempar ke luar ranjang!

"Aduh!" jerit Kino karena kepalanya terbentur kaki meja di sebelah ranjang.

"Oh! Maaf, Kak!" jerit Indi terkejut.

Tiba-tiba ia sadar dari buaian birahi, dan terduduk di pinggir ranjang, melihat Kino terjerembab di lantai. Kedua tangannya mendekap dadanya yang tampak turun naik dengan cepatnya. Masih ada rasa geli-gatal di sekujur payudaranya.

Kino bangkit sambil mengusap-usap kepalanya. Indi tiba-tiba tertawa tertahan, merasa geli melihat samar-samar dalam gelap pemuda itu menggerutu dengan muka lucu. "Hihihi, maaf, Kak. Indi nggak sengaja, lho!" katanya sambil menutup mulut dengan punggung tangan.

"Ssst.. jangan terlalu berisik!" bisik Kino sambil kembali ke ranjang.

Indi segera menahan tawanya. Ia lalu memeluk leher Kino manja, sambil berbisik, "Habis enak, sih!"

"Belum pernah, ya?" ucap Kino perlahan sambil menatap kedua mata gadis itu lekat-lekat. Indi menggeleng. Lalu menyembunyikan kepalanya di leher Kino. Nafasnya masih agak menderu. Kedua tangannya merengkuh leher pemuda itu erat-erat, seperti tak hendak melepaskannya lagi.

Kino mengusap-usap punggung gadis itu, yang kini sudah telanjang separuh badan. Ia berbisik, "Kamu suka?"

"Suka sekali," desah Indi sambil mengangkat mukanya, mencari-cari bibir Kino dengan bibirnya. Pemuda itu membiarkan bibirnya dikulum dengan gemas. Harum sekali nafas Indi, ucap Kino dalam hati. Odol apa yang dipakainya?

Indi melepaskan ciumannya, lalu berbisik, "Aku mau lagi, Kak."

Lalu ia merebahkan diri pelan-pelan, menarik tubuh pemuda itu bersamanya. Kino membiarkan dirinya terbawa turun. Lalu ia menciumi lagi leher jenjang Indi, menghirup wangi sabun mandinya yang segar seperti harum bayi. Lalu ia mengecup-ngecup pangkal leher itu, menggigit-gigit bahunya yang halus mulus. Indi mengerang lagi. Indi menggeliat lagi.

Lalu Kino menciumi seluruh permukaan dada gadis itu. Membenamkan mukanya di antara kedua payudaranya yang membukit indah itu. Sebentar kemudian mulutnya sudah kembali ke salah satu puncak payudara yang menantang itu...

Dan Indi pun langsung terbuai ke alam penuh nikmat yang seperti angin kencang membawanya terbang. Dirasakannya mulut Kino yang hangat mengurung putingnya, membuatnya menjadi tegang dan tegak. Ujung puting itu seperti menjadi sumber bagi sebuah sungai surgawi yang mengalir deras ke seluruh tubuhnya. Indi mengerang ketika ujung lidah Kino bermain-main di ujung putingnya. Oh, rasanya seperti ditarik-tarik ke sebuah pusaran birahi yang siap menelan seluruh tubuhnya.

Apalagi kemudian Kino menelusuri pangkal puting itu dengan lidahnya, berputar, berputar, pelan dan penuh perasaan. Aaaah, Indi menggeliat-geliat seperti ulat hendak berubah menjadi kupu-kupu. Nafasnya memburu sangat keras. Tangannya meremas punggung Kino. Kedua kakinya mengejang. Punggungnya mulai melenting lagi.

Lalu tangan Kino sudah merayap ke bawah, menyingkap rok Indi yang sebenarnya sudah tersingkap setengahnya. Telapak tangan Kino mengusap-usap paha gadis itu, merasakan betapa lembut dan licin kulit di bagian sana. Indi mengerang dan mendesah, dan tanpa sadar memperlebar jarak kedua kakinya, mengundang tangan Kino untuk naik lebih ke atas lagi. Dan tangan Kino pun perlahan merambat ke atas, membuat darah Indi berdesir berpuluh-puluh kali lebih cepat. Membuatnya merinding, membangkitkan seluruh bulu di tubuhnya yang sudah mulai berkeringat.
Oh, lama sekali rasanya tangan itu merayap ke atas. Lama sekali...

"Hei!" tiba-tiba Kino terperanjat. Menghentikan perabaannya. Pemuda itu menegakkan tubuhnya. Indi tersentak bagai terbangun dari mimpi panjang.

"Ah, a-ada apa?" Indi ikut terperanjat dan tergagap.
Ikut bangkit dari kasur.

"Kamu tidak memakai celana dalam?" desis Kino, antara kaget dan marah. Ia merasa Indi terlalu berani dan perasaan itu mengganggu pikirannya. Ia tidak menyangka gadis itu begitu cepat mau melepas celana dalamnya, dan sebetulnya ia tidak ingin lebih jauh dari meraba-raba di luar saja.

"Kenapa?" bisik Indi bergetar. Ia sendiri juga kaget mendengar nada marah di suara Kino.

"Kenapa kamu melepaskannya?" sergah Kino, menahan suaranya agar tidak terlalu keras.

"Supaya, mmm... supaya lebih mudah," bisik Indi semakin bergetar. Tiba-tiba ia ingin menangis. Apa salahku, bukankah biasanya pemuda ingin meraba-raba di daerah sana, bukankah...

"Tapi itu berbahaya, Indi!" sergah Kino lagi.

Tiba-tiba saja pemuda ini sadar bahwa yang dihadapinya adalah anak SMA, dan situasinya kini berbeda dengan saat Kino berpacaran dengan Alma. Saat itu keduanya sama-sama "buta". Kini, Kino merasa seharusnya lebih tahu daripada Indi, dan perasaan itu membuat pemuda ini diterkam rasa bersalah.

Lalu Indi menangis, menyembunyikan mukanya di kedua telapak tangannya. Di antara sedu-sedan yang tertahan, ia berbisik nyaris tak terdengar, "Kak Kino jahat!" Kino menghela nafas panjang dan melepaskannya dalam desah yang keras. Bubar sudah percumbuan mereka yang hangat itu.

Kino kini merasa sangat-sangat-sangat bersalah. Ia yang lebih dulu mengajak gadis ini masuk ke kamar. Kini ia menyalahkan gadis itu, hanya karena ia tidak menyangka bahwa gadis itu sangat berani mengambil risiko. Kino mengutuk dirinya sendiri dalam hati.

"Maafkan aku, Indi. Sudahlah, hentikan tangismu!" ucap Kino pelan sambil meraih beha dan baju Indi, mencoba mengenakannya ke tubuhnya yang telanjang.

Indi menolak dengan kasar, lalu memakai sendiri pakaiannya sambil menahan sedu-sedan. Kino mencoba memeluk bahu gadis itu, tetapi Indi terus menghindar sampai ke pojok ranjang.
"Aku mau pulang!" bisiknya keras-keras.

"Baiklah. Tetapi jangan marah, dong. Aku minta maaf, Indi." ujar Kino sungguh-sungguh.

Tetapi Indi seperti tak mau mendengar kata-katanya. Berkali-kali ia mengatakan, "Kak Kino jahat."

Indi baru mau dibimbing Kino ketika pemuda itu membuka pintu kamar. Ia memutuskan untuk mengeluarkan Indi lewat jalan "normal", tidak lewat jendela. Toh, ibu kost sudah tidur dan takkan melihat mereka berdua keluar sambil berjingkat-jingkat. Indi berusaha keras menahan sedu-sedannya yang masih tersisa. Kino memeluk bahu gadis itu, merasa sangat bersalah dan sangat bertanggungjawab.

Indi akhirnya bisa pulang dengan selamat, karena ayahnya ternyata sudah tidur dan menyangka gadis itu masih di kamarnya. Untung pula Indi sudah membawa kunci cadangan. Ia bisa masuk dengan leluasa, tanpa menengok kembali ke Kino yang terpaku di pintu pagar dengan mata penuh penyesalan.

***

Affair pendek dengan Indi itu adalah sebuah bencana bagi Kino. Cukup lama pemuda ini tenggelam dalam penyesalan, dan cukup lama Indi menghindar darinya secara terang-terangan. Bahkan dengan tingkahnya yang centil, Indi membawa seorang teman prianya, sengaja menunjukkan ke Kino betapa ia sudah punya pengganti. Walaupun terlihat jelas pula oleh Kino, semua itu adalah sandiwara belaka. Tak urung, terpukul juga pemuda ini diberlakukan begitu oleh gadis yang dulunya seperti tak pernah berhenti menggodanya.

Lebih menambah sengsara lagi adalah reaksi Tigor, sahabatnya sesama pendaki. Pemuda yang hobinya ngebut itu tertawa terbahak-bahak ketika Kino menceritakan "kecelakaan"-nya dengan Indi. Kata Tigor, tolol sekali Kino sampai membiarkan peluang bercinta seperti itu berlalu tanpa ejakulasi. Agak kasar, memang, cara teman yang satu ini berbicara. Tetapi Tigor selalu terus terang, dan walaupun kadang-kadang Kino ingin meninjunya, pada akhirnya ia selalu merasa bersyukur punya teman seperti itu.

"Kamu sok suci, Kino. Kenapa harus kaget melihat gadis itu tak bercelana dalam.
Itu, kan, sudah biasa di jaman sekarang!" ujar Tigor dengan suaranya yang keras dan bernada bariton. Untung mereka berada di pinggir tanah lapang yang agak sepi.

"Tapi, dia seperti mau menjebakku. Bagaimana kalau aku terjebak melakukan yang..." ucapan Kino tak berlanjut.

"Melakukan apa? Hayo, melakukan apa, Kino?" potong Tigor tak sabar.

"M-melakukan i-itu," ucap Kino terbata. "Melakukan hubungan suami istri!"

Tigor tertawa terbahak-bahak. Kino melongo, heran mengapa pemuda itu tertawa. Apa yang lucu? "Bagaimana kau bisa begitu naif, Kino!" sergah Tigor, "Kau sendiri rupanya yang berpikiran terlalu jauh. Darimana kau bisa tahu bahwa Indi menginginkan hubungan suami istri? Darimana kau tahu bahwa kalau buka celana itu artinya kau harus menyetubuhinya?"

Kino melihat ke sekeliling. Suara temannya ini sangat keras, dan pasti akan terdengar dari jarak 10 meter. Untung tidak ada orang di sekitar mereka, dan suara kendaraan di jalan raya di depan tanah lapang terdengar lebih keras dari suara mereka berdua.

"Tetapi, bukankah gadis itu ingin aku melakukannya? Kalau tidak, buat apa dia buka celana dalamnya?" Kino mencoba membela diri.

Tigor menepuk-nepuk bahu Kino, seperti layaknya seorang ayah.
Kino tidak suka diperlakukan seperti anak kecil, tetapi kali ini ia menyerah saja. Ia berharap Tigor punya solusi untuk problemnya.

"Kau tidak harus menyetubuhinya, kawan. Dia pun tak selalu perlu 'anu'-mu untuk bisa mendapat kepuasan. Kenapa kau selalu mengarah ke persetubuhan? Kenapa tidak saling mengelus dan meremas saja?" ucap Tigor serius, lalu disambung derai tawanya melihat Kino melongo.

Lalu Kino teringat semua pengalaman seksualnya selama ini. Memang, ia tidak pernah benar-benar 'melakukannya'. Ia hanya punya pengalaman saling meremas dan mengelus, walau dengan Alma ia nyaris masuk ke persetubuhan yang sesungguhnya. Betul juga Tigor, pikir Kino, kenapa ia harus selalu berpikir tentang persetubuhan setiap kali terlibat dengan seorang gadis? Apakah aku terlalu berorientasi ke sana? Apakah aku maniak? aneka pertanyaan itu berkecamuk di kepala Kino.

Tigor akhirnya iba juga melihat sahabatnya agak tertunduk dan terdiam. Pemuda ini mengeluarkan sebungkus rokok dan menawarkan sebatang, yang disambut Kino dengan agak enggan. Ia sebetulnya tak suka merokok, tetapi kali ini ia rasanya perlu juga memenuhi paru-parunya dengan nikotin. Mereka berdua pun lalu diam menikmati asap rokok masing-masing, duduk berdampingan di akar sebuah pohon besar yang rindang.

"Apakah kamu pernah melakukannya, Tigor?" tanya Kino sambil mengepulkan asap rokoknya ke udara.

"Pernah!" jawab Tigor pendek.

"Dengan pacarmu?" tanya Kino lagi. Tigor menggeleng, lalu berkata,
"Dengan kakak seorang temanku, ketika aku masih SMA di kota M."

"Bagaimana rasanya?" desak Kino.

Tigor tertawa pelan, "Tidak enak! Aku waktu itu mabuk minum bir, dan dia tidak punya pengalaman sama sekali. Kami berdua serba tergesa. Cuma 2 atau 3 menit, aku sudah keluar." katanya.

"Lalu..." desak Kino lagi.

"Kami mencoba lagi yang kedua kali, tetapi malah gagal total." jawab Tigor,
"Sejak itu hubungan kami memburuk, dan aku tak pernah berjumpa lagi dengannya."

Kino terdiam. Teringat pengalaman pertamanya dengan Mbak Rien. Mungkin Tigor juga merasakan hal yang sama; mereka berdua tak kan pernah bisa melupakan pengalaman-pengalaman pertama itu. Walaupun pengalaman itu jauh dari indah, jauh dari kehebatan cerita-cerita sensual yang biasa dipertukarkan antar anak laki-laki di kampus.

Keduanya lalu terdiam, tenggelam dalam lamunan masing-masing.
Angin senja mulai bertiup, membawa kesejukan. Matahari mulai condong ke barat, cahayannya mulai memerah, semburat di langit yang mulai menggelap. Lama kemudian, keduanya bangkit menuju motor Tigor yang disandarkan di sebuah pohon. Lalu, dengan suara berisik, Tigor memacu kendaraan kesayangannya. Kino berpegangan erat di pinggang sahabatnya. Rambut keduanya berkibaran diterpa angin.

***

Pada suatu pagi, ketika Kino sedang menuju tempat menunggu angkot, ia bertemu Indi. Gadis itu menunduk, dan mencoba menghindar. Tetapi Kino terlalu cepat mendekat, sehingga akhirnya mereka berdiri berhadapan. Indi tetap menunduk, memainkan sebuah batu kecil dengan ujung sepatunya.

"Masih marah?" tanya Kino pelan.
Indi menggeleng. Tetap menunduk dan memainkan batu dengan ujung sepatunya.

"Maaf," kata Kino, lalu disentuhnya bahu Indi dengan ringan. Sebetulnya ia ingin meremas bahu itu, ingin menegaskan kesungguhan permintaan maafnya. Tetapi banyak orang lain di sekeliling mereka, dan Kino takut Indi malah menjerit membuat onar.

"OK," ucap Indi pelan sekali, nyaris tak terdengar.

Lalu Kino menjauh, sambil membisikkan, "OK, sampai ketemu lagi."

Indi mengangkat muka sebentar. Tersenyum tipis sekali. Lalu menunduk lagi dan berjalan ke arah yang berlawanan. Dengan cepat jarak antara keduanya melebar, terus melebar, sampai akhirnya Indi hilang di tikungan. Kino berdiri termangu di dekat sebuah warung rokok, menunggu angkot berikutnya. Angannya melayang. Hatinya gundah. Ia merasa segala sesuatunya serba salah. Ia merasa Indi justru lebih dewasa darinya. Ia merasa terlalu cepat menuduh Indi yang bukan-bukan, padahal mungkin dirinya lah yang terlalu bukan-bukan; terlalu cepat mengambil kesimpulan; terlalu cepat menuduh; terlalu...

Sebuah klakson mobil membuat Kino tersentak dari lamunannya. Terlebih-lebih lagi, suara seorang anak kecil yang menyusul klakson itu! Suara Ria!

"Oom Kucing!" jerit Ria dengan suaranya yang renyai. Kino tiba-tiba merasakan pagi ini berubah indah sekali.

"Hai, Ria!" sahut Kino sambil bergegas mendekati mobil Honda Civic yang menepi itu.

"Ayo masuk!" suara lain terdengar dari dalam mobil. Suara bidadari itu! Jantung Kino seperti melonjak hendak keluar dari dadanya. Buru-buru pemuda itu membuka pintu belakang, tanpa pura-pura tidak mau lagi. Buru-buru ia masuk ke dalam, lupa mengucap salam. Lupa mengatakan apa-apa. Jantungnya terlalu cepat berdebur, sehingga ia susah berbicara.

"Apa kabar?" si bidadari bertanya sambil menebar senyumnya yang mempesona.

Duh, Kino mau pingsan rasanya. Dengan gugup ia berucap, "B-b-baik."

"Oom! Lia cekalang punya kucing benelan. Kucing benelan, lho!" celoteh Ria ramai, langsung menengok ke belakang dari tempat duduknya di depan.

Lalu mobil melaju. Kino kembali merasa duduk di kereta kencana yang ditarik kuda-kuda terbang. Harum interior mobil kembali menyergap hidungnya, membuat perasaannya tambah tinggi terbang. Segalanya tiba-tiba menjadi begitu indah belaka. Hilang sudah gundah. Hilang sudah risau. Selamat tinggal gelisah.

"Lama tidak berjumpa, ya?!" tegur sang bidadari memotong celoteh Ria yang ramai. Matanya yang berbinar indah itu melirik ke arah Kino lewat kaca spion.

"Y-ya, lama juga, ya!" sahut Kino masih gugup.
Si bidadari tersenyum simpul, tetap melirik dari kaca spion karena mobil sedang tertahan di sebuah lampu merah
.
"Bagaimana kuliahnya?" si bidadari bertanya lagi. Menatap lagi dengan sinar mata yang bak pelangi bertaburan bunga-bunga. Tersenyum lagi dengan kejelitaan dewi yang baru turun mandi dari kahyangan. Uh! Kino sungguh terpesona dibuatnya.

"Baru selesai ujian," jawab Kino, lalu dia teringat kesalahannya di masa lampau, dan sebelum lupa, ia segera bertanya, "Maaf, nama saya Kino, nama bida... maksud saya, nama mbak siapa?" Uh! hampir saja ia mengatakan "nama bidadari"!

"Panggil saya Tris," ucap sang bidadari sambil mengalihkan pandangan ke jalan. Mobil melaju lagi karena lampu telah hijau.

Lalu percakapan mulai lancar, diselingi celoteh Ria yang ramai tentang kucingnya yang kini bernama si Empus. Kino merasa lega bahwa kini ia tahu nama bidadari itu, dan tahu bahwa wanita itu bukan bidadari!

Tris... Tris... Tris... nama itu terus terngiang di kepala Kino sampai ia turun di depan kampus. Kependekan dari Tristantia... oh, nama yang indah sekali. Seindah lentik bulu matanya. Seindah senyum simpulnya. Seindah gemulai rambutnya. Seindah...

"Hmmm... mobilnya sudah keluar dari bengkel, ya!" sebuah suara yang sangat dikenal Kino tiba-tiba mengagetkan pemuda itu. Rima sudah berdiri di belakangnya, ikut memandang mobil Tris menghilang di kejauhan.

Kino tidak memperdulikan godaan Rima. Ia membalik, memeluk bahu sahabat tomboy-nya itu, dan merengkuhnya untuk bersama masuk ke kampus. Rima dengan senang hati mengikuti ayunan langkah Kino. Berdua mereka masuk seperti sepasang sahabat sejati. Ah, tapi mereka memang sahabat sejati, bukan?

"Tris," bisik Kino sambil berjalan.

"Heh?! Kamu bilang apa?" sergah Rima sambil menoleh.

"Tidak apa-apa. Aku cuma mendesis!" sahut Kino berbohong.

Rima mengernyitkan kening. Aneh sekali pemuda ini, pikirnya. Apalagi kemudian Kino tampak menepuk dahinya sendiri. Pemuda itu masih lupa satu hal: di mana Tris tinggal?

BERSAMBUNG PART 2 / PART 4

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar