Laman

Kamis, 08 November 2012

Pendekar Naga Mas 4



Bab IV. Kisah romantis yang membawa bencana.

Bu-ciau menjadi panik bercampur gelisah setelah menjumpai tubuhnya tak mampu lagi menerobos masuk melalui celah gua, baru saja dia akan mengayunkan telapak tangannya untuk melancarkan serangan, tiba-tiba dari kejauhan ia mendengar tibanya suara gemuruh yang sangat memekikkan telinga. Dia tahu serangan angin berpusing segera akan tiba, tergopoh-gopoh dia lari balik ke dalam gua.

Dia harus mencari sebuah posisi sudut tertutup untuk menghindarkan diri dari terpaan langsung angin puyuh itu. Sayang dinding karang itu sudah menjadi rata dan bersih karena guratan angin berpusing yang telah berlangsung ratusan tahun lamanya, boleh dibilang sama sekati tak ada tempat untuk bersembunyi. Sewaktu melalui mulut gua, ia sempat melongok sekejap ke dalam, terlihat orang itu sudah bersila dengan wajah yang jauh lebih segar, terbukti khasiat dari tiga butir pil Pek-siu-wan sudah mulai bekerja.

Sadar kalau tiada tempat untuk berteduh, Bu-ciau pun putuskan untuk menerima tantangan ini secara nyata, dia sadar, kalau dalam posisi yang tidak siap seperti tadi pun tak sampai mencabut nyawanya, itu berarti dalam keadaan siap ia pasti bisa lolos dari ancaman tersebut.

"Alah, paling banter juga lecet-lecet!" umpatnya tanpa sadar. Tapi begitu kata "Alah" meluncur dari mulutnya, ia segera melompat kaget. Sejak kecil ia memperoleh pendidikan yang ketat di rumah, umpatan "alah" boleh dibilang baru pertama kali ini meluncur dari mulutnya, untung tidak di rumah, kalau tidak, hukuman berat pasti akan menimpa dirinya.

Buru-buru ia duduk dengan menempelkan punggungnya di atas dinding tebing, setelah itu napas mulai diatur dan hawa murni disalurkan ke seluruh tubuh. Begitu tarik napas, ia segera menjumpai munculnya segulung hawa murni yang luar biasa dahsyatnya bagai gelombang samudra muncul dari Tan-tian dan menyebar ke seluruh badan, belum lagi pikiran bergerak, hawa murni telah menyelimuti seluruh tubuh. Kenyataan ini membuat Bu-ciau terkejut bercampur girang, buru-buru dia atur pemapasan dan mulai mengendalikan hawa murninya.

Setengah jam kemudian, ketika sadar kembali dari semedinya, ia merasakan sekujur badannya enteng dan segar, tak kuasa lagi ia buka mulut ingin berpekik nyaring. Sebelum bersuara, tiba-tiba ia dengar suara gemuruh yang sangat mengerikan telah bergema dari kejauhan, dengan perasaan terkejut buru-buru ia membaringkan diri bersiap menerima siksaan.

Deruan angin semakin kencang, udara dingin yang merasuk tulang sumsum makin lama bergerak makin dekat. Disusul kemudian pusaran angin puting yang berputar kencang menderu-deru di seluruh ruangan, sekali lagi tubuh Bu-ciau terombang-ambing kian kemari membentur dinding karang.

Waktu itu, si manusia misterius yang berada di balik gua tampak mulai gemetar lagi seluruh badannya, sekalipun dia telah menelan tiga butir pil Pek siu-wan, namun goncangan yang maha dahsyat tetap menyiksa badannya. Tak seberapa lama kemudian, seluruh gua kecil itu sudah mulai berputar keras, tampak orang itu mulai bergulingan ke sana kemari, tapi sambil menggertak gigi ia tetap mempertahankan diri.

Putaran angin berpusing menderu makin kencang, udara terasa semakin dingin, ia mulai merasakan peredaran darahnya membeku, ia sadar sebentar lagi dirinya bakal pingsan. Untunglah di saat yang amat kritis, deruan angin berpusing bergerak semakin melemah dan perlahan sebelum akhirnya berhenti, udara dingin yang menusuk tulang pun semakin mereda sebelum akhirnya lenyap.

Orang misterius itu tahu, ia bisa bertahan tak lain lantaran khasiat tiga butir pil Pek-siu-wan pemberian saudaranya, terdorong rasa terharu yang amat sangat, tak kuasa lagi air mata jatuh bercucuran. Dia sama sekali tak mengira Oh-lokonya belum melupakan dirinya walau sudah berpisah sepuluh tahun, bahkan berusaha mengirim orang untuk mengantar pil Pek-siu-wan.

Terbayang sampai ke situ, ia segera teringat kembali si bocah yang dijumpainya tadi, buru-buru dia merangkak bangun seraya berseru, "Saudara, saudara cilik.”

"Paman, kau tidak apa-apa bukan?" terdengar dari balik gua bergema suara nyaring.

"Ah, syukurlah kau ... kalau tidak apa-apa."

Tadi, walaupun Bu-ciau harus berhadapan langsung dengan terpaan angin puting, namun lantaran ia sudah membuat persiapan, maka walaupun pakaian compang-camping namun tubuhnya tidak lagi tersiksa seperti semula. Dia merasa hawa murni yang mengalir dalam tubuhnya seakan-akan membuat kulit badannya lebih tebal, bukan saja tidak terasa sakit, dia pun tidak merasa kedinginan.

Karena serangan angin puting sudah lewat, bocah itu segera menghampiri kembali mulut gua. Tampak orang itu menghembuskan napas lega, kemudian dengan rasa ingin tahu ia bertanya. "Saudara cilik, kenapa kau tidak takut dingin dan tidak sakit?"

Bu-ciau sendiri juga tak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi, ia menjawab seraya menggeleng. "Paman, aku sendiripun tak jelas!"

Orang itu mengira Bu-ciau adalah murid si raja hewan yang sengaja diutusnya untuk menolong dia, maka kembali is bertanya. "Saudara cilik, kau mengerti ilmu tiam-hiat? Kau bisa membebaskan pengaruh totokan?"

"Bisa!" jawab Bu-ciau.

"Bagus sekali!" teriak orang itu kegirangan, "kalau begitu aku tak usah menderita lagi." Setelah berpikir sejenak, kembali ia berujar. "Saudara cilik, jalan darah Ki-hayhiatku tertotok sehingga aku hanya bisa mengerahkan tiga bagian hawa murniku untuk melawan hawa dingin, bisakah kau membantuku untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan?"

"Tapi, paman... mampukah aku?" tanya Bu-ciau agak sangsi.

"Hahaha... saudara cilik, kau tidak usah sungkan, bukan sembarangan orang sanggup menghadapi siksaan angin puyuh berpusing. Coba kemari, biar kuperiksa seberapa dalam tenaga murni yang kau miliki." seraya berkata dia membuat satu lukisan lingkaran kecil di sudut kanan sebelah bawah gua itu. "Saudara cilik," ujarnya kembali sambil tertawa, "sekarang himpun seluruh tenaga dalammu, coba kau hantam lingkaran kecil itu."

Kini Bu-ciau dapat melihat dengan jelas perawakan tubuh orang itu, meski pakaiannya compang camping hingga separuh badan bagian atasnya telanjang, namun kulit badannya sangat putih lagi jangkung, sebuah komposisi perawakan yang ideal.

Ketika ditunggunya sampai beberapa saat belum juga nampak Bu-ciau turun tangan, orang itu segera menegur lagi. "Ada apa saudara cilik? Ada kesulitan?"

"Oh tidak, tidak, biar kucoba." sembari berkata, Bu-ciau segera menghimpun hawa murninya ke dalam telapak tangan kanan, lalu sebuah pukulan dilontarkan ke arah lingkaran kecil itu.

Tak ada hembusan angin, tak ada pekikan tajam, pukulan tersebut sama sekali tidak menimbulkan pertanda apapun. "Blammmm!" tahu-tahu lingkaran kecil itu sudah terhajar telak hingga muncul sebuah liang yang besar sekali, gua sempit yang semula gelap gulita kini bertaburkan cahaya tajam yang berkilauan.

"Ah, ternyata memang barang mustika!" terdengar orang itu bersorak gembira. Sembari bicara dia maju dua langkah, membungkukkan badan dan mencabut keluar sebilah pisau belati kecil yang cuma nampak gagangnya.

Pisau belati itu kecil sekali, tapi begitu dicabut keluar dari sarungnya, Bu-ciau segera merasa matanya jadi silau, ternyata bentuk senjata itu hanya sepanjang jari tengah, pada hakekatnya lebih mirip dengan sebuah senjata piau pendek. Ketika orang itu menyarungkan kembali belatinya, suasana di dalam gua kembali tercekam dalam kegelapan yang pekat.

Terdengar orang itu menghela napas panjang, lalu berkata. "Saudara cilik, benda ini bernama pisau belati Liat-jit-pi, peninggalan zaman Cun-ciu. Konon, setiap kali benda mustika ini muncul dalam dunia persilatan maka akan terjadi kekacauan besar di dunia ini, selama berapa tahun terakhir aku selalu beranggapan bahwa di sini terdapat benda mustika, tak disangka benda mustika tersebut ternyata adalah benda pembawa bencana."

"Paman, darimana kau bisa tahu kalau di sini terdapat benda mestika?" tanya Bu-ciau keheranan.

"Setiap bulan purnama, di sini pasti kedengaran suara pekikan naga, bahkan akan muncul hawa dingin yang menusuk tulang, oleh sebab itulah aku menduga di sini pasti ada barang mustikanya."

"Paman, dengan kekuatan yang kumiliki, mampukah aku membebaskan totokan jalan darahmu?"

"Oh, bisa, bisa, lebih dari cukup! Malah aku justru kuatir tenagamu kelewat besar sehingga aku tak mampu menahan diri. Mari, gunakan separuh saja dari tenagamu dan coba sekali lagi."

"Baik. Bagaimana kalau segini." Blaaammm! kembali muncul percikan batu cadas dari permukaan gua sebelah kanan.

Walaupun di dalam kegelapan, orang itu tak sanggup melihat sesuatu, tapi ia bisa menilai kekuatan lawan dari suara pukulannya, terdengar ia bersorak kegirangan. "Saudara cilik, coba kurangi satu bagian lagi!"

"Blammm!" kembali sisi kiri tanah berbatu itu muncul sebuah liang besar.

"Saudara cilik," kata orang itu kemudian sambil tertawa, "coba gunakan pukulan dengan kekuatan segitu untuk menepuk jalan darah ki-hay-hiatku." sambil berkata ia segera bersiap sedia menerima pukulan.

Bu-ciau tidak langsung turun tangan, ia kembali berujar agak sangsi. "Paman, menurut ayahku, jalan darah ki-hay-hiat adalah jalan darah kematian yang tak boleh sembarangan dihantam, katanya bila tempat itu dipukul maka akibatnya yang paling enteng akan kehilangan tenaga dalam dan kalau parah bisa mati."

"Hahaha, jalan darah ki-hay-hiatku sudah ditotok orang sehingga sebagian besar tenaga murniku lenyap, sudah sepuluh tahun aku hidup tersiksa di sini, marilah saudara cilik, dicoba saja!"

"Baik, kalau sampai terjadi apa-apa, kau tak boleh salahkan aku."

"Hahaha, aku Si-jin belum pernah menyesali perbuatanku, silahkan turun tangan." Sudah sepuluh tahun ia menderita siksaan, selama ini yang ditunggu justru kesempatan macam begini, asal tenaga dalamnya dapat pulih, bukan saja ia dapat membalas dendam, yang penting ia bisa mencari jejak kekasihnya, Gou-ti.

Bu-ciau masih nampak ragu, tapi desakan yang berulang kali dari orang tersebut memaksa bocah itu harus bertindak. Setelah konsentrasi sejenak sambil menghimpun tenaga, ia segera lancarkan sebuah pukulan ke atas jalan darah Ki-hay-hiat di tubuh orang itu. Diiringi dengusan tertahan, tubuh orang itu segera terpental ke belakang hingga menumbuk dinding karang.

"Paman, bagaimana keadaanmu?" seru Bu-ciau kemudian dengan perasaan tegang. Setelah menyeka darah hitam yang meleleh keluar dari mulutnya, orang itu segera duduk bersila untuk mengatur napas.

Kurang lebih satu jam kemudian, orang itu baru menghembuskan napas panjang sambil membuka matanya mengawasi Bu-ciau. Bocah itu segera merasakan datangnya dua sinar tajam bagaikan aliran listrik yang menembusi jantungnya, dengan hati berdebar, ia berpikir. "Tajam amat pandangan mata orang ini, rasanya dia tak berada di bawah kemampuan ayah."

Sementara orang itupun merasa girang sekali setelah melihat raut wajah si bocah yang tampan dan gagah, tak kuasa ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. Bu-ciau segera merasakan datangnya tenaga tekanan yang sangat kuat memancar keluar dari balik suara tertawa itu, begitu kuatnya tenaga tersebut membuat jantungnya berdetak keras dan badannya sakit. Buru-buru dia kerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi jantung serta nadi sendiri, lalu secara diam-diam menutup jalan darah di sepasang telinganya.

Setelah tertawa sesaat dengan nyaring, orang itu baru menghentikan gelak tertawanya, diam-diam ia kaget juga melihat si bocah di hadapannya sama sekali tak terpengaruh oleh serangan tenaga dalamnya. Sekarang ia baru yakin bahwa bocah itu memiliki tenaga dalam yang sempurna, maka ia pun memuuji tanpa terasa: "Saudara cilik, tenaga dalammu sungguh mengagumkan."

"Paman, kau lebih hebat lagi, mungkin ayahku juga masih kalah dibandingkan kau."

"Ah betul, saudara cilik, aku belum tahu siapa namamu?"

"Aku dari marga Ong bernama Bu-ciau?"

"Hahaha, namamu sesuai dengan orangnya, hebat, hebat! Boleh tahu siapa orang tuamu?"

"Ayahku Ong Sam, ibuku Ciu-ing!"

"Ooh, rupanya keturunan dari Ong Sam-kongcu dan Cukat wanita, tak heran kalau kemampuan saudara cilik sangat hebat Oya, sudah sepuluh tahun aku tak pernah bersua dengan orang tuamu, mereka baik-baik semua?"

"Terima kasih atas perhatian paman, mereka baik-baik semua. Paman, aku boleh tahu siapa namamu?"

"Aku dari marga Bwe, bernama Si-jin!"

"Bwe Si-jin? Rasanya seperti pernah mendengar nama ini?" gumam Bu-ciau berulang kali.

Diam-diam Si-jin merasa bangga juga setelah mendengar perkataan itu, dia mengira orang masih kagum dengan nama besarnya meski sudah sepuluh tahun ia terkurung di situ, buktinya seorang anak kecil pun pernah mendengar nama besarnya. Tentu saja dia tak mengira kalau Bu-ciau justru keluar rumah bersama Gou-ti yang sedang mengembara mencari jejaknya, justru karena ia sering mendengar bibinya menyebut nama itu, tanpa terasa dia pun ikut mengetahuinya.

Sambil tertawa, Si-jin berkata lagi. "Bu-ciau, bagaimana ceritanya hingga kau bisa berkenalan dengan si raja hewan? Semula aku masih menyangka kau adalah cucu muridnya."

"Paman, aku bertemu dengan kakek raja hewan hanya secara kebetulan saja, waktu itu Bu-ciau sedang berpesiar di telaga Tay-beng bersama bibi. Ah betul, Bu-ciau sering mendengar bibi menanyakan kabar beritamu."

Gemetar keras sekujur badan Si-jin setelah mendengar perkataan itu, buru-buru dia mendekati mulut gua dan sambil menggenggam tangan bocah itu ia bertanya. "Bu-ciau, siapa bibimu?"

Bu-ciau merasa tangannya sakit sekali lantaran dicengkeram kuat-kuat. tergopoh dia kerahkan hawa murninya untuk melepaskan diri dari cekalan lawan, kemudian baru menyahut. "Dia bernama Gou-ti.”

Begitu mendengar nama tersebut, cucuran air mata segera jatuh berlinang membasahi pipi Si-jin, ia bergumam. "Adik Ti, oh... adik Ti, aku telah menyiksamu."

"Paman, kenapa sih bibi selalu mencarimu?" mendadak Bu-ciau bertanya keheranan.

Sebenarnya Si-jin ingin berterus terang, tapi tiba-tiba diurungkan, ia kemudian menyahut. "Bu-ciau, bibimu adalah adik misanku, tentu dia tak tahu kalau aku berada di sini."

"Ya benar, saban berjumpa orang, bibi seialu menanyakan jejakmu."

Si-jin merasa hatinya amat sakit, buru-buru ia berkata. "Bu-ciau, pergilah beristirahat, tengah hari nanti kita harus bersiap sedia lagi untuk menghadapi gempuran angin berpusing." Habis bicara ia segera membalikkan badan dan duduk bersila.

Biarpun masih banyak persoalan yang ingin ditanyakan. Tapi Bu-ciau tak ingin membantah perintah orang, dia pun ikut duduk bersila sembari membayangkan kembali semua kejadian yang menimpa dirinya selama ini.

Di pihak lain, mana mungkin Si-jin dapat menenangkan hatinya? Ia menjerit berulang kali di dalam hati kecilnya. "Adik Ti, oooh, Adik Ti, aku bersalah kepadamu, tapi... tahukah kau betapa menderitanya aku tersiksa di sini?" Sambil berpikir, air mata jatuh bercucuran membasahi wajahnya. Tanpa terasa kenangan pahit yang dialaminya selama ini terbayang kembali di depan mata, dia terbayang kembali bagaimana nasibnya ketika jatuh ke tangan kakak seperguruannya, Kiau-kiau.

***
Rumah penginapan kekasih, kota Kim-leng.

Malam itu, di paviliun belakang yang diborong Si-jin, ia bersama Gou-ti sedang menikmati kemesraan yang luar biasa setelah berpacaran sekian lama, pakaian yang mereka kenakan satu per satu telah ditanggalkan. Dengan wajah yang merah karena jengah, Gou-ti berbisik, "Engkoh Jin, kau tak boleh tergesa-gesa. Bagaimanapun baru pertama kali ini aku merasakan barang lelaki."

Sambil meremas sepasang payudara kekasihnya yang montok, kencang dan berdiri tegang, Si-jin tertawa. "Jangan kuatir, nanti kau mencicipi dulu, kujamin lama kelamaan kau pasti akan ketagihan.”

"Aku tidak percaya." sahut Gou-ti sambil tertawa, ia bangkit berdiri kemudian berjongkok persis di atas tubuh pemuda itu. Dengan tangannya yang gemetar keras, dia pegang penis Si-jin yang telah berdiri kaku, kemudian dengan tangan sebelah merenggangkan lubang surganya sendiri. Tangan lain yang memegang penis langsung mengarahkan senjata itu secara tepat. Ketika posisinya sudah pas benar, pelan-pelan ia baru mendudukinya.

"Jangan tergesa-gesa, adik Ti," Si-jin sambil memeluk pinggang ramping sang kekasih. "Ya, benar, benar begitu. Nah, pelan-pelan duduk ke bawah, jangan terburuburu, nanti mustikamu akan lecet!"

Perlahan tapi pasti, Gou-ti melahap penis Si-jin ke dalam liang surganya, ia merasa benda keras tersebut seakan telah menyentuh ujung perutnya, membuat seluruh badannya jadi lemas tak bertenaga. Itulah sebabnya ketika ia berbuat intim dengan Ong Sam di kediaman Hay-thian tempo hari, perempuan itu merasa sedikit kecewa. Tentu saja dia kecewa karena milik Si-jin yang besar, kaku dan tegang bagai batu karang benar-benar mendatangkan perasaan yang mantap, sementara milik Ong Sam jauh lebih kecil dan kurang mantap rasanya.

Sambil memeluk kencang tubuh montok Gou-ti yang menindih di atas tubuhnya, pelan-pelan Si-jin bangun dan duduk, kemudian dengan mulutnya yang rakus dia mulai menghisap dan menggigit puting susu perempuan cantik itu.

"Aduh, geli, engkoh Jin. Jangan begitu, aku kegelian.” rintih Gou-ti penuh kejalangan. Si-jin mengerti apa yang diinginkan seorang wanita, dia tahu bila seorang perempuan mengatakan ’jangan’, itu artinya dia ’mau!’ dan ’teruskan!’ maka hisapannya semakin keras, gigitannya makin menggila.

Tak selang berapa saat kemudian, Gou-ti merasa sekujur tubuhnya kaku, geli dan linu. Tak tahan lagi, dia mulai menggeliat, mulai menggesek, mulai bergoyang dan mulai menaik turunkan badannya. Keadaannya saat ini tak ubahnya seperti orang yang merasa gatal di punggungnya, karena tak bisa digaruk dengan tangan, terpaksa punggungnya digesekkan di atas dinding untuk mengurangi rasa gatal tersebut.

Melihat gadis itu mulai terangsang dan mulai menggeliat, buru-buru Si-jin membaringkan kembali tubuhnya, kali ini sepasang tangannya mulai meraba, meremas dan memelintir puting susu nona itu. Diserang dari atas dan bawah, Gou-ti semakin terangsang. Gesekan, goyangan dan geliat tubuhnya makin keras dan kencang, ia merasa semakin keras gesekan badannya, bagian bawah tubuhnya terasa makin geli tapi semakin nikmat.

Tak sampai seperempat jam kemudian, gadis itu sudah tersengal-sengal sambil bermandi peluh. "Berisitrahatlah dulu, adik Ti!" bisik Si-jin sambil tertawa. Gou-ti tersenyum dan bangkit berdiri.

Si-jin melihat dari lubang surga perempuan itu meleleh keluar segumpal cairan lendir yang meleleh turun melalui paha putihnya, cepat dia mengambil handuk dan menyekanya kemudian baru berkata. "Adik Ti, jangan mengotori tubuhmu dengan cairan tersebut, pergilah mencuci diri lebih dulu."

Gou-ti malu setengah mati, cepat-cepat dia melompat turun dan mengambil handuk basah untuk menyekanya. Wajah jengah si nona yang bersemu merah membuat Si-jin semakin terangsang, dia ikut melompat bangun dan berkata. "Adik Ti, kalau kau tak ingin mengotori barang milik rumah penginapan, bagaimana kalau kita berganti gaya saja?"

Gou-ti semakin malu, jantungnya berdebar makin keras. Sejak dia persembahkan kegadisannya untuk pemuda ini, kecuali waktu kedatangan ’Si Bulan Merah’, boleh dibilang mereka berdua memanfaatkan setiap saat untuk berbuat intim. Setiap Si-jin mengusulkan untuk mencoba gaya baru, dapat dipastikan Gou-ti akan merasakan dirinya ’mati’ satu kali. Bahkan setiap ’kematian'nya tentu ’mengenaskan’ sekali. Oleh sebab itu tidaklah heran kalau dia merasa terkejut bercampur girang begitu mendengar pasangannya mengusulkan gaya baru.

Rupanya Si-jin dapat memahami perasaan hati kekasihnya itu, digenggamnya sepasang tangannya lalu berbisik. "Adik Ti, kalau liang di depan sudah ditembusi, kali ini aku mesti menyerang dari arah belakangi" sambil berkata, pelan-pelan dia balik tubuh perempuan itu dan menekannya agar membungkuk.

Gou-ti segera paham arah mana miliknya yang akan diserang, setelah berpikir sejenak, ia berseru terkesiap. "Jangan bagian yang itu, engkoh Jin, tempat itu kelewat sempit!" sambil berkata, buru-buru dia menggapit sepasang pahanya rapat-rapat.

Si-jin tersenyum, dikecupnya bibir nona itu sekejap kemudian katanya sambil tertawa, "Jangan kuatir, adik Ti, masa aku akan bertindak kasar hingga mencederaimu?"

"Engkoh Jin, kau tak boleh membohongi aku!"

"Hahaha... kapan sih aku bohong kepadamu?" Si-jin meremas pelan payudara Gou-ti yang menggelantung indah.

Dengan tangan gemetar, pelan-pelan Gou-ti melepaskan tangannya, setelah itu kembali ia bertanya. "Engkoh Jin, gimana sih caranya main belakang?"

"Hahaha... adik Ti, letakkan sepasang tanganmu di pinggir ranjang untuk menopang badanmu, lalu sedikit bungkukkan badanmu agar tubuh bagian belakangmu menungging ke atas, nanti kau imbangi saja gerakan badanku maju mundur." jelas Si-jin.

"Wah, hebat juga jurus seranganmu, tapi... senjatamu kelewat panjang dan
besar."

"Hahaha... jangan kuatir, ayo kita mulai." Dengan satu tusukan yang cepat bagai kilat, Si-jin menghujamkan senjatanya ke bagian belakang tubuh Gou-ti, Lantaran sebelumnya sudah ada pemanasan hingga bagian miliknya cukup berlendir, tanpa mengalami kesulitan ujung tombaknya sudah menghujam dalam-dalam.

"Ahhh... ternyata tidak sakit." bisik Gou-ti sambil tertawa, "Tapi, engkoh Jin, sepasang telurmu kenapa ikut memukul-mukul? Aku... aku jadi geli dan sedikit sakit. Ooh... ooh... aah... ahh... enak... enak..."

Rintihan dan lengkingan Gou-ti membuat nafsu birahi Si-jin semakin memuncak. Dia peluk pinggang si nona kencang-kencang sementara tusukannya dilancarkan bertubi-tubi. Sejak pertama kali terjun ke dalam dunia persilatan, hampir seratus orang perempuan yang pernah disetubuhinya, tapi di antara semua perempuan yang pernah ditiduri, Gou-ti adalah perempuan yang paling mampu membetot sukmanya. Demi bersenang-senang dengannya, dia tak segan melanggar kebiasaan sendiri dengan berdiam diri di satu tempat lebih dari sepuluh hari.

Kecantikan wajah Gou-ti ibarat bidadari yang turun dari kahyangan. Bukan saja ia nampak anggun juga amat berwibawa, tapi begitu naik ke ranjang, bukan saja berubah jadi wanita jalang, yang bikin hati lelaki tak tahan justru adalah jeritan, rintihan serta teriakannya yang membetot sukma. Perempuan semacam inilah yang menjadi dambaan setiap pria, karena rintihan seorang wanita jalang adalah irama yang paling membangkitkan nafsu birahi lelaki.

Dalam waktu singkat, dia sudah menggenjotkan tubuhnya berpuluh-puluh kali, sementara rintihan dan jeritan Gou-ti semakin menjadi-jadi, pinggulnya yang bilat dan putih mulus bergoyang dan berputar tiada hentinya. Tak lama kemudian, seputar tempat mereka berdua berdiri sudah dibasahi oleh lendir yang mengucur keluar dari lubang belakang perempuan itu.

Dengan gerakan yang sangat berhati-hati, Si-jin memaju mundurkan badannya, rupanya dia kuatir senjata miliknya menjadi lecet gara-gara terlalu keras waktu menggesek. Beberapa saat kemudian, goyangan Gou-ti semakin melemah dan perlahan, Si-jin tahu kekasihnya sudah hampir mencapai puncaknya, maka ia segera mencomot sepasang payudara perempuan itu dan meremasnya berulang kali. Sambil meremas payudara perempuan itu, tubuhnya menggenjot makin cepat dan keras.

"Aduh, engkoh Jin... ohh... aah .. aduh, engkoh Jin... aku... aku tak tahan lagi... aduh... aku mau... mau keluar... aooh... aduh... aduh nikmatnya!" rintih Gou-ti keras.

Si-jin menggenjot semakin cepat. Tiba-tiba tubuh Gou-ti gemetar keras lalu kakinya jadi lemas dan tiba-tiba berjongkok ke bawah, untung Si-jin sudah siap, dia segera peluk tubuh sang kekasih dan dibaringkannya ke atas ranjang. Setelah itu dia tubruk kembali ke atas tubuh perempuan itu, menindihnya dan menggenjotkan kembali senjatanya berulang kali, hanya kali ini dia tusuk lubang surga gadis itu.

Lima enam puluh kali genjotan kemudian, Si-jin merasa sekujur badannya mengejang keras, tak tahan lagi dia muntahkan laharnya berulang kali, kemudian gerakannya makin melambat sebelum akhirnya berhenti sama sekali.

"Oh, engkoh Jin, nikmat sekali aku.” bisik Gou-ti sambil menghela napas panjang. Tak selang berapa saat kemudian ia sudah tertidur pulas.

Dengan penuh rasa sayang, Si-jin mengecup bibir gadis itu sekejap, kemudian ia bangkit berdiri, duduk di tepi meja sembari termenung. Apa yang sedang ia pikirkan? Tak ada yang tahu!

Dalam lamunannya, tiba-tiba ia mendengar ada seseorang berseru dengan suara yang manja. "Aduh, indah betul lekukan tubuh perempuan itu, tak heran kalau kau selalu bersembunyi di sini!"

Mendengar ucapan tersebut, sekujur badan Si-jin gemetar keras, buru-buru dia melongok keluar jendela. Tiba-tiba daun jendela yang semula tertutup rapat terbuka dengan sendirinya, menyusul kemudian muncul wajah seorang gadis yang cantik rupawan. Begitu cantiknya hingga  membuat setiap lelaki yang memandang ke arahnya akan merasa nafsu birahinya bergolak Gadis itu mempunyai sepasang mata yang indah, bibirnya kecil mungil dan payudaranya sangat besar.

Si-jin yang sudah terbiasa menikmati wajah cantik seorang wanita, kali ini nampak terkejut bercampur ngeri, seakan bertemu kalajengking beracun, dengan wajah berubah hebat dia melompat bangun.

Nona berbaju merah itu memelototi sekejap batang penis Si-jin yang tergantung lemas, tapi ukurannya yang super gede segera membuat nafsu perempuan itu menggelora, buru-buru ia berbisik. "Adik, cepat kenakan pakaianmu, mari kita cari tempat untuk berbicara."

Melihat jejaknya sudah ketahuan kakak seperguruannya yang selama ini berusaha untuk dihindari, Si-jin sadar bahwa dia butuh banyak waktu dan tenaga untuk meloloskan diri dari cengkeraman wanita itu. Agar urusan ini tidak menyeret adik Ti-nya, buru-buru dia kenakan pakaian dan segera mengikuti nona berbaju merah itu keluar dari kamar losmen.

Tak jauh setelah keluar dari kota, tibalah mereka di sisi sebuah kereta yang dihela dua ekor kuda, terdengar nona berbaju merah itu berkata. "Adik, mari kita bicara di dalam saja."

"Kakak," seru Si-jin dengan suara berat, "Aku toh sudah lepaskan posisi ketua, juga telah mengumumkan kalau lepas dari ikatan perguruan, tolong lepaskanlah diriku."

"Adik, kau kejam benar. Sejak pergi tanpa pamit empat tahun silam, bukan hanya aku yang dibikin sedih, ketiga saudara kita pun menjadi kurus lantaran memikirkan kau.”

Membayangkan kembali masa lampau yang dialaminya, paras muka Si-jin yang ganteng segera mengejang keras, ia berseru lagi. "Kakak, harap kau sudi mengingat hubungan baik kita di masa lalu dan melepaskan aku."

"Adik," tukas nona berbaju merah itu dengan suara dalam, "kau tak usah banyak bicara lagi. Kau sendiri toh tahu, tanpa kehadiranmu, sulit bagi kami untuk membangun kembali kejayaan perguruan seperti masa lampau. Hmm, sungguh tak disangka, seorang playboy yang selama ini memandang perempuan bagai sampah, bisa jatuh hati dengan seorang dayang ingusan. Baiklah, demi masa depan perguruan, terpaksa aku harus bunuh dulu perempuan itu." Selesai berkata, dia segera mengayunkan telapak tangan kanannya siap melancarkan sebuah pukulan.

Si-jin tahu, kakak seperguruannya sudah memegang pucuk kekuasaan perguruan, di sekelilingnya banyak terdapat jagoan yang berilmu tangguh, bila ia betul-betul turunkan perintah, dapat dipastikan Gou-ti yang tertidur nyenyak segera akan terbantai. Buru-buru ia berteriak keras. "Kakak, tunggu sebentar!"

Sambil tertawa nona berbaju merah itu menurunkan kembali tangannya. "Bagaimana, adik, sudah paham?" serunya manja.

"Kakak," seru Si-jin sambil menahan perasaan sedih, "Aku bersedia pergi mengikutimu, tapi kau mesti berjanji akan melepaskan dia."

"Baik." angguk si nona.

"Kakak, aku harap kau pegang janji." Selesai bicara, Si-jin segera melompat naik ke dalam ruang kereta. Tapi baru saja dia menyingkap kain tirai kereta, mendadak terlihat selapis pasir merah telah menyambar ke hadapan wajahnya, buru-buru dia ayunkan tangannya sembari berteriak. "Kakak kedua, kau...” belum habis bicara, tubuhnya sudah roboh terkapar.

Nona berbaju merah itu tertawa terkekeh, buru-buru dia bopong tubuh pemuda itu dan menyelinap masuk ke dalam ruang kereta. Seorang lelaki bungkuk segera muncul dari balik hutan, melompat naik ke atas kereta, mengayunkan pecut dan menjalankan kereta kuda itu meninggalkan tempat tersebut

Di dalam ruang kereta, tampak seorang gadis berdandan tebal bagai siluman sedang membelai wajah Si-jin yang ganteng sambil menghela napas. "Kakak," katanya, "makin lama wajahnya makin tampan saja rasanya,"

"Hmm, bukan cuma tampan, kau belum tahu kalau kemampuannya yang satu itu jauh lebih hebat.” sahut nona berbaju merah sambil tertawa.

"Kakak, bagaimana kalau kita buktikan kemampuannya itu?" ajak si bedak tebal.

"Ehm, boleh saja. Toh yang kita butuhkan adalah badannya, bukan hatinya. Mmari kita sekap dia di gua Siau-cu-thian dan kita nikmati kejantanannya." angguk nona baju merah.

"Kalau begitu, silahkan kakak mulai dulu." sambil berkata, dia mengeluarkan sebutir pil berwarna merah dan dijejalkan ke mulut Si-jin, kemudian ia mulai tanggalkan seluruh pakaiannya.

Sementara itu si nona berbaju merah juga telah melucuti seluruh pakaiannya hingga bugil, lalu membaringkan diri di atas lantai sambil tertawa terkekeh. Nona berbaju kuning itu melirik sekejap tubuh bagian bawah nona berbaju merah itu, kemudian tegurnya sambil tertawa. "Kakak, hutan bakaumu tampaknya makin hitam dan tebal, wow! sungguh merangsang."

Kembali nona berbaju merah itu tertawa. "Adik, selama berapa bulan terakhir, aku telah bermain cinta dengan beberapa orang pendeta asing. Bukan saja tenaga murni mereka berhasil kuhisap, banyak sari perjaka yang telah kuperoleh. Coba kau lihat, bukankah milikku bertambah montok dan berkilat?"

"Hahaha... ya benar. Beberapa orang pendeta asing itu memang suka main perempuan. Coba kalau bukan bertemu kita berempat, mungkin orang lain tak akan sanggup melayani mereka selama berapa menitpun."

"Ya, konon suhu dan susiok mereka jauh lebih jantan dan kuat, sayang mereka tak pernah menginjakkan kaki di daratan Tionggoan. Kalau tidak, aku pingin sekali membuktikan kejantanan mereka."

"Kalau mereka tidak kemari, toh kita bisa ke sana untuk mencari mereka."

"Ya, benar, jika kita sudah kirim bocah ini ke dalam gua, akan kusuruh berapa orang pendeta asing itu mengajak kita ke sana. Wah, coba lihat, barang miliknya mulai ada reaksi. Wow, tambah besar. Wah, ternyata penis Si-jin memang super besarnya."

Ternyata obat perangsang yang dijejalkan ke mulut Si-jin sudah mulai bereaksi, bukan saja penisnya sudah berdiri kaku bagai tombak, bahkan dia sudah mulai memeluk, meremas dan menggerayangi seluruh tubuh nona berbaju merah itu.

Semakin lama menonton, nona berbaju kuning itu semakin terangsang, buru-buru dia ikut melucuti pakaian sendiri, lalu ia berujar sambil tertawa jalang. "Kakak, tadi kau sudah saksikan dia bermain cinta dengan perempuan lain?"

"Betul, dia berhasil membuat budak itu mati tak bisa - hidup tak mampu. Bukan cuma menggeliat saja, bahkan merintih sambil berteriak-teriak. Aku benar-benar terangsang waktu itu. Aaai, seandainya dia tidak terlalu banyak mengetahui rahasia perguruan kita, sebetulnya aku pengin berbaikan saja dengan dia, dengan begitu banyak kesempatanku untuk menikmati barangnya yang gede." kata baju merah.

"Benar, dari sekian banyak lelaki yang meniduri aku, memang rasanya barang milik dia jauh lebih gede dan keras. Mungkin sewaktu meniduriku nanti, dia yang paling kuat dan perkasa.” baju kuning membelai mesra penis besar Si-jin.

“Kalau begitu, adik buktikan saja sekarang.” baju merah berkata.

”Kakak bagaimana?” baju kuning merasa sungkan pada kakak seperguruannya.

”Gampang, bukankah Si-jin sudah jadi milik kita. Kita bisa menggunakannya sepanjang waktu.” baju merah tertawa.

Baju kuning ikut tertawa. ”Baiklah, kak. Kalau begitu, aku duluan ya.” sambil berkata, dia langsung menubruk tubuh Si-jin dan duduk di pangkuan sang pemuda. Wanita itu menyerang dengan memagut bibir Si-jin sangat ganas.

Si-jin yang tidak punya persiapan, sempat gelagapan. Tapi pada akhirnya dia bisa mengimbangi. Dengan penuh nafsu dia menyusuri telinga si baju kuning, kiri dan kanan, lalu leher wanita itu dihisapnya dan akhirnya menggigit pelan kedua ujung payudara sang gadis yang bulat mengkal.

Baju kuning kini duduk di pangkuan Si-jin, dia membiarkan kedua payudaranya digarap oleh laki-laki itu. Putingnya yang berwarna merah terang adalah sasaran utama, dengan rakus Si-jin menghisap dan menjilat-jilatnya. Kedua ujung tetek yang tidak bisa dikatakan kecil itu terasa mengeras di ujung lidah Si-jin. ”Oughhh... ahh... ahh...” pemiliknya mendesis-desis ketika Si-jin terus mempermainkannya kiri dan kanan.

Sementara itu, tangan Si-jin mencari celah untuk merogoh belahan kemaluan si baju Kuning yang masih tertutup celana dalam. Dari luar, dia menggelitik-gelitik lubang surga itu sampai celana dalam si baju kuning jadi basah seperti ompol.
Tidak puas cuma mengobel dari luar celana, Si-jin mencoba menguaknya. Terasa karetnya tidak terlalu kencang sehingga dengan mudah tangannya bisa mencapai belahan vagina sang lawan. Terasa berlendir di sekujur belahan benda yang berbulu tidak terlalu lebat itu. Si-jin mengorek-ngoreknya untuk mencari letak klitorisnya.

Si baju kuning menggeliat-geliat sambil tangannya merangkul leher Si-jin. Serangan laki-laki itu ke klitorisnya membuat memeknya jadi berkedut-kedut tak tahan. Ia minta tangan Si-jin berhenti mengorek belahannya. Ia kegelian. Sementara dirasakannya penis laki-laki itu sudah tegang maksimal, ia segera menggenggamnya.

”Buka celanamu!” Si-jin berkata sambil menarik celana dalam si baju kuning ke bawah. Permintaan itu dituruti oleh si baju kuning dengan melepas celananya dan melemparkannya ke bawah entah kemana. Kini mereka berdua sudah sama-sama telanjang.

Baju kuning kembali menempatkan tubuh montoknya di atas pangkuan Si-jin. Penis Si-jin yang tegang ia oles-oleskan ke belahan memeknya. Dengan sedikit mengangkat pinggulnya, ia arahkan kepala penis Si-jin yang sudah nampak basah ke gerbang surganya. Lalu ia turunkan tubuhnya pelan-pelan hingga batang Si-jin yang sudah berada tepat di pintu gerbangnya menerobos masuk dengan telak, menghunjam, menusuk, memenuhi seluruh rongga liangnya.

”Eghhh...” baju kuning melenguh keenakan. Begitu juga dengan Si-jin, sambil memegangi payudara perempuan itu, iapun mulai menggoyang. Ia gerakkan pinggulnya naik turun hingga membuat batang penisnya yang menancap dalam bergerak maju-mundur di liang sempit sang lawan.

”Aughhh...” baju kuning melenguh makin nikmat.

”Bagaimana, nikmat bukan? Benarkan apa yang kukatakan?” tanya si baju merah sambil mencium bibir baju kuning dengan gemas.

”Hmphm... iya, enak... nikmat... enak sekali... oughhh... aku suka... terus... goyang terus... ahhhh...” rengek baju kuning berulang kali. Tubuh montoknya bergerak liar, ikut bergoyang naik turun untuk mengimbangi genjotan Si-jin yang semakin cepat.

”Ahhh...” Si-jin merintih merasakan penisnya seperti dipilin dan diremas-remas oleh vagina sempit sang lawan. Apalagi sekarang si baju merah ikut menyerangnya dengan memagut dan menciumi bibir Si-jin dengan liar.

Si-jin segera memeluknya dan melingkarkan tangan di bulatan payudara wanita cantik itu. Dia meremas-remasnya dengan gemas sambil lidahnya terjulur untuk meladeni hisapan dan lumatan rakus si perempuan. Di bawah, baju kuning berteriak kencang saat kenikmatan orgasme melanda tubuh sintalnya. Sambil terkejang-kejang, dia memekik dan merintih seiring semburan cairan bening yang memancar deras dari dalam liang vaginanya.

Si-jin buru-buru mencabut penisnya dan  memiringkan tubuh agar bisa menghadapi lawan selanjutnya, si baju merah yang berpayudara besar. Mereka kini tidur berhadapan sambil terus berciuman dan saling meremas-remas, Si-jin bermain-main dengan payudara wanita yang besar dan bulat, sementara si baju merah sibuk mengelus dan mengusap-usap penis Si-jin yang masih tampak kaku dan kokoh.

”Ayo cepat! Setubuhi aku!” pinta si wanita tak tahan. Si-jin mengangguk, tapi tidak langsung melakukannya. Sambil terus meremas-remas buah dada si baju merah, dia membuka kaki wanita cantik itu. Si-jin menyusupkan kepalanya disana dan mulai menjilati vaginanya.

“Auw… ahh… geli…” si baju merah merintih, tapi tidak menolak. Dia malah menekan kepala Si-jin agar menjilat makin dalam. ”Ya, yang itu… uhhh… enak… nikmat sekali… ughh… terus!” rintihnya saat Si-jin menemukan klitorisnya. Dia menggoyang-goyangkan pinggulnya mengikuti naluri, membuat Si-jin jadi kerepotan karena lidahnya jadi nyasar kemana-mana.

”Sudah... hentikan... aku sudah tidak tahan lagi!” desis si baju merah sambil bangkit berdiri dan jongkok mengangkangi Si-jin. ”Aku diatas.” Dia meraih tongkat Si-jin dan berusaha untuk memasukkan benda itu ke dalam lubang surgawinya yang sudah menganga lebar kemerahan dan basah oleh air liur.

Dia menekan tubuhnya dan sleeepp! Tembuslah penis Si-jin menerobos liang vaginanya. Benda itu menyeruak masuk dengan lancar. Baju merah segera melakukan gerakan naik turun, maju mundur, berputar-putar, hingga membuat penis Si-jin serasa seperti dibetot-betot. Nikmat sekali. ”Aghhhh...” Si-jin merintih keenakan sambil terus memegang dan meremas-remas payudara lawan mainnya.

Si baju merah terus bergerak sampai dia merasakan kedutan di rongga vaginanya, tanda kalau klimaksnya akan segera tiba. Akhirnya, setelah beberapa kali goyangan liar, ia pun menjerit dan berhenti. ”Aarrgghhhh...” tubuh montoknya gemetar hebat saat cairan orgasmenya menyembur keluar. Si-jin menerimanya dengan penis masih menancap dalam.

Wanita itu kemudian ambruk di samping Si-jin, padahal Si-jin masih belum apa-apa. Penisnya yang masih tegang minta untuk dituntaskan. Obat kuat yang ditelannya benar-benar berefek luar biasa. Sasaran Si-jin sekarang adalah si baju kuning yang sudah selesai beristirahat. Wanita itu tampak sudah siap dengan posisinya tubuhnya yang telentang dan kaki ditekuk dibuka lebar-lebar. Si-jin langsung menancapkan penisnya kesana, mengisi rongga basah perempuan itu dan menggoyangnya begitu liar.

Begitulah, selama kereta kuda bergerak cepat dari kota Kim-leng menuju ke selat Sam-shia di sungai Tiangkang, untuk menghindari perhatian orang banyak, mereka tak pernah turun dari kereta. Sepanjang hari nona berbaju kuning dan nona berbaju merah itu mengajak Si-jin bermain cinta dan mengumbar birahi.

Ketika kereta tiba di kaki bukit Wu-san, nona berbaju merah memerintahkan si lelaki bungkuk untuk menjaga kereta, sementara dia sendiri bergerak menuju ke atas bukit. Sementara nona berbaju kuning itu dengan mengempit tubuh Si-jin yang sudah tertotok jalan darahnya mengikuti dari belakang.

Pada saat itulah dari balik hutan muncul sesosok bayangan manusia, orang itu tak lain adalah si raja hewan It-siau. Dalam sekilas pandang ia segera mengenali orang yang dikempit nona berbaju kuning itu adalah sahabat karibnya, Si-jin. Tapi dia pun segera mengetahui kalau nona berbaju merah itu tak lain adalah kakak seperguruan Si-jin yang bernama Kiau-kiau, kenyataan ini membuat hatinya amat terperanjat.

Raja hewan tak ingin bentrok muka secara langsung dengan rombongan perempuan itu, sebab dia tahu kepandaian mereka cukup tangguh. Dia tak tahu Si-jin hendak dibawa pergi kemana, untuk mengetahui rahasia tersebut secara diam-diam si raja hewan menguntit terus dari kejauhan.

Selang berapa saat kemudian mendadak dari empat penjuru bergema suara pekikan aneka binatang yang riuh rendah. Sadar kalau gelagat tidak menguntungkan, nona berbaju merah itu segera berbisik. "Adik, hati-hati!" Baru berjalan lagi beberapa li, mendadak dari balik semak belukar muncul dua ekor harimau raksasa yang datang menerkam. "Binatang!" umpat nona berbaju merah itu gusar.

Dengan melepaskan dua pukulan dahsyat, kedua ekor binatang itu segera terpental dan tewas dengan perut jebol. Menyusul kemudian datang serangan yang bertubi-tubi dari aneka macam binatang buas, dalam keadaan begini terpaksa nona berbaju kuning dan merah itu melancarkan serangan gencar untuk membela diri.

Kiau-kiau tahu pastilah si raja hewan sedang bermain gila dengannya, dalam marahnya ia segera berteriak lantang. "Hei, raja hewan, kalau punya nyali ayo keluar, aku menunggumu di sini."

Raja hewan sadar bahwa kepandaian silat yang dimilikinya masih bukan tandingan lawan, agar punya peluang untuk menolong Si-jin, dia berusaha keras menahan rasa gusarnya yang membara dan membungkam diri.

Secara beruntun Kiau-kiau menghardik lagi beberapa kali. Melihat pihak lawan tak berani tampil, setelah mendengus ia pun melanjutkan perjalanannya. Ketika mereka berdua tiba di sisi air terjun, dilihatnya air yang semula mengalir turun kini sudah membeku jadi selapis salju tebal, mereka tahu angin puting berpusing pasti baru saja berhembus di situ hingga udara jadi dingin dan air menjadi beku.

Setelah masing-masing menelan sebutir pil berwarna merah api, Kiau-kiau berjaga di pintu gua mencegah si raja hewan membuat keonaran, sementara nona berbaju kuning segera menyusup masuk ke dalam gua dengan kecepatan tinggi. Tiba di dalam gua, ia menotok bebas jalan darah di tubuh Si-jin dan melemparkan tubuh laki-laki itu ke dalam gua kecil, kemudian sambil tertawa seram ia baru berseru. "Adik, silahkan kau beristirahat di sini!"

"Kakak kedua, tempat apakah ini?" tanya Si-jin agak bingung.

"Gua Siau-cut-thian dari perguruan kita."

"Apa?! Kalian begitu kejam..."

"Hmm, siapa suruh kau berkhianat?"

"Tapi, kakak..."

"Diam, Si-jin! Kau telah mengkhianati perguruan, kau tak berhak memanggil kakak lagi kepadaku."

"Cheng-bi sialan!" Si-jin balas mengumpat, "kau perempuan berhati kalajengking, kejam benar hatimu, jangan salahkan kalau aku bertindak kejam kepadamu." sembari berkata dia lepaskan satu pukulan.

Cheng-bi mengegos ke samping, lalu dia balas melepaskan satu pukulan. Blammm! Si-jin segera terbanting ke dinding karang dan jatuh tak sadarkan diri.

Begitulah, semenjak hari itu Si-jin terkurung di dalam gua kecil itu. Saban hari dia harus mengalami dua kali siksaan karena terjangan angin berpusing yang membawa hawa dingin. Setiap kali merasa lapar, terpaksa dia harus berusaha menangkap kelelawar untuk mengganjal perutnya. Raja hewan beberapa kali berusaha masuk ke dalam gua itu untuk menolong saudara angkatnya, tapi setiap kali menelusuri gua tersebut, belum sampai berapa kaki, dia selalu mundur teratur karena tak sanggup menahan rasa dingin yang menusuk tulang. Dalam keadaan begini, terpaksa dia harus mengurungkan niatnya untuk menolong Si-jin, tapi dia tidak berpangku tangan, dia selalu berusaha mencari anak didik yang bisa dia gunakan untuk melaksanakan pertolongan itu.

Sementara Si-jin masih melamun sambil membayangkan kisah tragis yang dialami selama ini, mendadak dari kejauhan terdengar suara gemuruh yang sangat keras bergema tiba-tiba. Dengan perasaan terkejut, Si-jin membatin. "Ah, waktu berlalu begitu cepat, tak nyana sudah tiba saatnya angin puyuh itu menyerang lagi."

Buru-buru dia tempelkan badan di lantai, menghimpun hawa murni melindungi jantung dan bersiap menghadapi serangan. Tak selang berapa saat kemudian, angin puyuh disertai suara gelegar yang memekikkan telinga melanda seluruh ruang gua. Si-jin merasa sekujur badannya meski sakit bukan kepalang, namun jantung dan nadinya berada dalam perlindungan hawa murni sehingga otomatis penderitaannya tidak terlalu berat, kenyataan ini sangat menggirangkan hatinya.

Dengan susah payah akhirnya terpaan angin puyuh itu berlalu, Si-jin seperti orang yang baru menderita sakit parah, merasakan badannya sakit bercampur linu, dia segera meronta dan berusaha untuk duduk. Tiba-tiba ia mendengar Bu-ciau bertanya dengan penuh rasa kuatir. "Paman, kau baik baik bukan?"

Si-jin tidak menyangka kalau kondisi Bu-ciau tetap prima walaupun baru saja terserang angin topan, cepat dia menggeleng. "Tidak, aku tidak apa-apa."

"Kalau begitu bagus sekali," Bu-ciau menghembuskan napas lega, "Paman, ada baiknya kau beristirahat dulu." sembari berkata dia keluarkan sebutir pil Pek-siu-wan dan segera ditelannya.

Terasa ada satu aliran hawa panas muncul dari lambungnya, benar juga, rasa lapar dan dahaga segera hilang lenyap. Tak lama kemudian Bu-ciau sudah berada dalam posisi tenang. Ketika mendusin kembali dari semedinya, bocah itu merasakan seluruh badannya sangat enteng dan bertambah segar, tak tahan is berpikir. 'Aneh benar, kelihatannya setiap kali habis terbentur badanku dengan dinding karang, kondisi tubuhku serasa jauh lebih segar dan prima."

Dia mana tahu kalau hawa murni sedang terbentuk di dalam tubuhnya dan kini semakin berkembang. la bangkit berdiri, sewaktu menjumpai Si-jin masih mengatur waktu, maka dalam menganggurnya dia coba tengok sekeliling ruang gua, tiba-tiba ia merasa ada bau amis yang dibarengi bayangan hitam bergerak meluncur ke arahnya, tanpa sadar dia ayunkan tangannya melepaskan sebuah pukulan.

Diiringi suara pekikan aneh, di atas dinding karang segera muncul seekor kelelawar tapi sudah menjadi bangkai dan tubuhnya dalam keadaan hancur lebur. Bu-ciau tertegun, "Sialan, lagi-lagi hewan bermuka jelek. Tempo hari aku sempat dibuat kaget, sekarang rasakan pembalasanku." Tentu saja dia tidak tahu, tadi untuk menghindari serangan angin topan berpusing, kawanan kelelawar itu telah mengungsi keluar gua, tetapi sekarang setelah keadaan reda, berbondong-bondong kawanan binatang itu terbang balik ke dalam gua.

Kembali selapis bau busuk menerpa ke wajah bocah itu. Sekali lagi Bu-ciau  mengayunkan tangannya, lagi-lagi seekor kelelawar dihantam hingga mampus. Tak selang berapa saat, serombongan besar bau amis kembali mengerubuti sekeliling bocah itu, Bu-ciau berpekik nyaring, dengan mengeluarkan jurus pukulan sakti dia hajar kawanan kelelawar itu. Bau anyir darah disertai hancuran bangkai seketika mengotori seluruh ruang gua itu.

Waktu itu Si-jin sudah selesai bersemedi, dia hanya berdiri di samping gua sambil menonton bocah itu menunjukkan kebolehannya, diam-diam ia tertegun bercampur kagum setelah melihat kungfu bocah tersebut, dia tak mengira dengan usianya yang masih begitu muda ternyata sudah menguasai pelbagai macam ilmu pukulan.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan perasaan girang ia berpikir. "Bocah ini sangat hebat, kelihatannya kungfu yang dia miliki sudah lebih dari cukup untuk menghadapi kakak serta ketiga saudara seperguruanku!"

Dia pun mulai memutar otak, dalam hati ia putuskan untuk membantu memberi petunjuk kepada bocah itu agar ilmu silatnya bisa maju setingkat lebih hebat. Di dalam anggapannya, apa yang dipelajari Bu-ciau kelewat banyak, ilmu silat gado-gado sangat tak sepadan untuk diunggulkan, sebab setiap perubahan bisa memunculkan titik kelemahan, dalam pandangan seorang jago sakti, kelemahan semacam itu bisa menyebabkan kematian.

Entah berapa saat sudah lewat, Bu-ciau masih saja memainkan jurus pukulannya dengan penuh semangat walau gerombolan kelelawar sudah lenyap semenjak tadi, sedang Si-jin juga tenggelam di dalam pemikirannya. Tatkala hawa dingin yang disertai pusaran angin berpusing mulai menyerang tubuh mereka, kedua orang itu baru tersentak kaget dan sadar kembali. Si-jin tak sempat lagi untuk menghindar, buru-buru dia cengkeram pinggiran gua untuk berpegangan, dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya dan pejamkan mata rapat, dia sambut datangnya serangan angin dingin itu.

Sementara Bu-ciau yang masih asyik memainkan ilmu pukulannya tersentak kaget ketika angin puyuh menerjang badannya. Dalam kaget dan terkesiapnya, cepat-cepat dia tancapkan kaki ke atas tanah, lalu sambil mengayunkan tangannya ia lepaskan pukulan untuk menghadang terpaan angin topan. Ilmu pukulan bocah itu memang tangguh, tapi mana mungkin dia bisa melawan kekuatan alam yang begitu dahsyat?

Tampak badannya gontai ke kiri kanan diombang-ambingkan amukan angin berpusing. Masih untung dia bisa memantekkan kakinya di tanah, sambil menggertak gigi dia hadapi terpaan angin itu dengan sekuat tenaga.

Blaaammm! tiba-tiba bergema suara benturan keras, rupanya seluruh tubuhnya terangkat oleh sapuan angin berpusing itu hingga badannya menumbuk di atas dinding batu, begitu keras benturan yang terjadi membuat bocah itu muntah darah dan tidak sadarkan diri. Untung saja tenaga murni yang dimilikinya sudah mulai tumbuh sehingga dapat melindungi badannya, kalau tidak, mungkin bocah itu sudah tewas sejak tadi.

Dengan susah payah akhirnya Si-jin berhasil juga mempertahankan diri dari sapuan angin puyuh. Ketika serangan telah lenyap, dia mulai menengok sekeliling tempat itu, tapi tak nampak Bu-ciau. Dalam keadaan begini dia tak bisa berbuat lain kecuali buru-buru mengatur pernapasan dan berusaha memulihkan kembali kekuatan tubuhnya.

Setengah jam kemudian tenaga dalam Si-jin sudah pulih enam bagian, maka dia pun menggunakan tangannya untuk menggali sebuah lubang seluas dua tiga depa agar badannya bisa menerobos keluar. Setelah mencari beberapa saat akhirnya ia jumpai tubuh Bu-ciau menempel di sisi sebuah tebing, sepasang tangannya menancap di atas dinding sementara kakinya terkulai lemas, noda darah masih menghiasi ujung bibirnya.

Secepat kilat Si-jin datang menghampiri, ketika diraba, ia menjumpai tubuh bocah itu sudah dingin kaku, untung jantungnya masih berdetak, tanpa terasa dia menghembuskan napas lega. Buru-buru dia menghimpun tenaga dalam dan menempelkan tangan kanannya di atas jalan darah bocah tersebut, kemudian pelan-pelan membantunya mengatur kekuatan.

Beberapa saat kemudian hawa murni yang disalurkan ke dalam tubuh bocah itu mendapat sambutan dari hawa murni si bocah, bahkan secara otomatis kekuatan itu bergerak dan menyebar ke seluruh badan. Sesaat kemudian terdengar Bu-ciau berkeluh lirih, darah hitam menyembur keluar dari mulutnya.

"Bu-ciau, hati-hati” bisik Si-jin sambil memayang tubuhnya.

"Terima kasih, paman.” jawab Bu-ciau tertawa, sambil berkata dia tarik kembali tangannya dari atas dinding lalu merebahkan diri.

"Hebat benar bocah ini, ternyata ia sama sekali tidak terluka." batin Si-jin tercengang.

Dalam pada itu, Bu-ciau juga dibuat kebingungan, ia pun bertanya. "Aku masih ingat dadaku terasa sakit waktu diterjang angin puyuh, lalu aku muntah darah dan tak sadarkan diri, tapi aneh benar, kenapa aku sama sekali tidak terluka?"

"Kau harus bersyukur karena tidak terbawa hembusan angin puyuh, kalau tidak, mungkin kau sudah tewas."

"Paman, bagaimana caramu lolos dari kurungan?" kembali Bu-ciau bertanya keheranan.

"Hahaha... tenaga dalamku sudah pulih enam tujuh bagian, bukan pekerjaan yang sulit untuk keluar dari gua ini."

"Bagus sekali, kalau begitu kita bisa keluar dari sini untuk mencari bibi."

"Tak usah terburu-buru, pusaran angin berpusing itu tampaknya sangat bermanfaat untuk memulihkan tenaga dalamku, aku ingin bertahan berapa waktu lagi, jika tenaga dalamku sudah pulih baru kita berangkat."

"Baiklah," Bu-ciau manggut-manggut "Oh ya, kakek raja hewan telah berjanji akan pergi ke pesanggrahan Hay-thian untuk mengabarkan beritaku, sampai waktunya mereka pun pasti akan tahu juga tentang kabar beritamu."

"Benar, tugas terpenting yang harus dilakukan sekarang adalah memberi petunjuk kepadamu untuk berlatih kungfu, Bu-ciaui, kau masih perjaka bukan?"

"Paman, apa artinya perjaka?"

"Artinya... Bu-ciau, kau belum pernah tidur dengan wanita bukan?"

"Pernah, pernah, Bu-ciau sering tidur dengan ibu." jawab Bu-ciau polos. ”Juga dengan bibi.”

"Hahaha... kalau itu mah tak jadi soal. Coba kemari, dengarkan baik-baik." Maka secara ringkas Si-jin menjelaskan ilmu Kungfu kepada bocah itu kemudian mewariskan seluruh kepandaiannya kepada Bu-ciau.

Dengan kecerdasan dan kehebatan tenaga dalam yang dimiliki bocah itu, tak sampai setengah jam kemudian ia telah berhasil hapal di luar kepala jurus-jurus dari kungfu Si-jin tersebut.

Sambil tersenyum Si-jin segera memuji. "Bu-ciau, kau memang bocah berbakat, mulai sekarang tancapkan sepasang tanganmu ke atas dinding karang lalu atur napas sesuai dengan apa yang kuajarkan, tak sampai satu jam kemudian aku jamin pasti akan terjadi satu peristiwa aneh."

"Sungguh?"

"Hahaha... semenjak perguruanku didirikan, gua ini merupakan tempat terlarang, tapi justru di sini pula tempat yang paling cocok untuk melatih diri."

"Paman, apa maksudmu?"

"Hahaha... di kemudian hari kau bakal tahu dengan sendirinya, sayang tenaga dalam milik paman sudah rusak, dengan meminjam kekuatan angin topan berpusing paling banter cuma bisa pulihkan sebagian tenagaku yang dicuri Kiau-kiau. Sudahlah, waktu sangat berharga, cepatlah mulai berlatih tenaga dalam." selesai berkata ia segera menerobos masuk kembali ke dalam gua.

Setelah menderita kerugian besar tadi, Bu-ciau tak berani bertindak gegabah, buru-buru ia duduk bersila menghadap ke dinding, menghimpun hawa murninya pada telapak tangan lalu menancapkannya ke atas dinding karang. Tak selang berapa saat kemudian ia sudah berada dalam keadaan tenang.

Satu jam kemudian ketika Si-jin selesai bersemedi, ia saksikan tubuh Bu-ciau  yang berada di luar gua diselimuti selapis cahaya merah, melihat itu dia sangat kegirangan. "Guru sekalian dari pergurunan Jit-seng-kau," gumamnya, "selama seratus tahun terakhir belum ada seorang manusia pun berhasil menguasai ilmu Kui-goansinkang. Tapi kini, kepandaian tersebut sudah terwujud di tubuh Bu-ciau.”

"Guru sekalian, murid berani menjamin dengan nyawa, murid akan berusaha melindungi Bu-ciau agar bisa menduduki posisi ketua, bersamaan juga bisa mengubah Jit-seng-kau jadi sebuah perguruan kaum lurus." berbisik sampai di situ, tidak kuasa lagi cucuran air mata terharu berlinang membasahi pipinya.

Sudah sepuluh tahun lamanya Si-jin terkurung di tempat ini, meskipun banyak siksaan dan penderitaan telah dialami, selama ini dia tak pernah mengucurkan air mata, sungguh tak disangka dalam satu dua hari terakhir beberapa kali dia mesti melelehkan air mata. Entah berapa lama sudah lewat....

Mendadak dari kejauhan bergema lagi suara tiupan angin berpusing yang memekakkan telinga, tampaknya waktu datangnya badai telah tiba. Bu-ciau  yang masih bersemedi segera mengerahkan seluruh hawa murninya untuk mempertahankan diri, dengan menahan rasa sakit yang menyayat di sekujur badannya, dia biarkan angin topan itu berpusing di sekeliling badannya.

Beberapa kali badannya terangkat oleh pusaran angin kencang itu, tapi setiap kali dia kerahkan tenaga dalamnya, tubuhnya menjadi tenang kembali, tapi akibatnya terjadi pergolakan yang hebat di dalam rongga dadanya. Tapi ia tetap mempertahankan diri, sambil menggertak gigi dia berusaha mempertahankan tubuhnya.

Akhirnya setelah bersusah payah sekitar satu jam, pusaran angin puyuh itu mulai mereda, gejolak hawa darah dalam rongga dadanya ikut pula jadi tenang, ia hembuskan napas lalu melanjutkan semedinya.

Setengah jam kemudian ketika Si-jin selesai bersemedi dan merangkak keluar dari gua, ia segera saksikan pakaian yang dikenakan Bu-ciau telah hancur berantakan, namun lingkaran cahaya merah di sekeliling badannya bertambah tebal, kenyataan ini membuat hatinya amat gembira.

Begitulah, sejak hari itu dia tidak bosan-bosannya ia memberi petunjuk kepada bocah itu untuk semakin menyempurnakan tenaga dalamnya.

***

Suara mercon bergema memecahkan keheningan, aneka bunga bwe berkembang dan menyiarkan bau harum semerbak. Tahun baru telah tiba. Pesanggrahan Hay-thian telah dihiasi dengan sepasang lian di muka pintu gerbang, namun tahun baru kali ini terasa tidak semeriah tahun kemarin. Ini disebabkan Bu-ciau tidak berada di rumah, bahkan kabar berita soal Gou-ti pun seolah lenyap ditelan bumi.

Ong Sam beserta dua belas tusuk konde emas berkumpul di ruang tengah, mereka hanya duduk-duduk dengan wajah termenung. Sementara sekawanan bocah bermain di seputar halaman, walaupun suasana tetap ramai namun seakan kehilangan kegairahan.

Pada saat itulah Ong tua si penjaga pintu berlarian masuk dengan tergopoh-gopoh sembari berteriak kegirangan. "Kongcu, kabar baik, kabar baik, Bu-ciausudah ada beritanya!"

Teriakan tersebut segera disambut sorak sorai penuh kegembiraan dari semua penghuni rumah. Tampak Ong tua diiringi raja hewan berjalan masuk ke dalam ruangan dengan langkah lebar.

"Sam-pek," teriak Ong-sam dengan rasa kuatir, "benarkah apa yang kau ucapkan barusan?"

"Tentu saja benar, kalau tidak percaya tanyakan sendiri kepada laki-laki ini." Ong tua menunjuk raja hewan.

Sementara itu si raja hewan agak tertegun ketika melihat kemunculan dua puluhan bocah berwajah bersih, ia berseru. "Benar, aku mempunyai berita tentang Bu-ciau!"

"Oh, rupanya si raja hewan telah datang berkunjung," kata Ong Sam sambil maju menyambut, "silahkan masuk!" katanya.

Tak lama setelah si raja hewan mengambil tempat duduk, Lan muncul menghidangkan air teh seraya berkata, "Tuan, silahkan diminum."

"Terima kasih, terima kasih. Ong Sam, kau benar-benar orang paling bahagia di dunia ini, bukan saja punya bini yang rata-rata cantik, anak pun semuanya hebat, terutama Bu-ciau, dia betul-betul bocah luar biasa."

"Terima kasih atas pujian tuan." sambut Ong Sam.

Raja hewan tahu semua orang terburu ingin mengetahui kabar berita Bu-ciau, maka dia pun berkata lebih lanjut. "Ong Sam, saat ini Bu-ciau berada di bukit Wusan, berlatih silat." Secara ringkas dia pun menceritakan semua kejadian yang telah berlangsung.

"Tuan raja hewan," ujar Ong Sam kemudian setelah selesai mendengar penuturan itu, "kira-kira butuh berapa lama bagi Bu-ciau untuk belajar silat dan keluar dari gua itu?"

"Kira-kira tiga tahun." jawab raja hewan.

Ong Sam segera berpaling ke arah kawanan bocah itu dan ia berujar sambil tertawa. "Anak-anak, dengarkan baik-baik, mulai hari ini kalian mesti lebih giat berlatih silat. Dua setengah tahun kemudian kita beramai-ramai mendatangi telaga tersebut dan menonton bagaimana hebatnya si naga sakti, setuju?"

Para bocah pun bersorak sorai menyambut tawaran itu dengan penuh kegembiraan. Sambil tersenyum kembali, Ong Sam berkata kepada Ciu-ing. "Adik Ing, tuan raja hewan dengan menempuh badai salju datang menyampaikan kabar gembira, coba perintahkan dapur untuk menyiapkan hidangan, hari ini aku ingin mengajak dia minum sampai mabuk."

"Ah, tuan tak usah repot-repot." balas raja hewan gembira.

 BERSAMBUNG

PART 3 / PART 5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar