Kamis, 25 Oktober 2012

JKT48 Diary : The Dark Story Pt.1



Kebakaran itu berlangsung hampir empat jam. Belasan mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk menanggulanginya. Bergalon-galon air disemprotkan ke titik-titik api. Proses yang melelahkan bagi para petugasnya. Ditambah ratusan penduduk yang antusias menonton malah memperlambat dan membatasi aksi mereka.

“Malam ini sebuah obor raksasa menerangi pusat kota. Dimana bahan bakarnya adalah sebuah sekolah terkenal di kota kita. Saya, Najwa Sihab, melaporkan langsung dari tempat kejadian,” kata seorang wanita cantik yang sedang meliput kejadian tersebut bersama krunya.

Najwa memperbaiki tata letak rambutnya, sementara kamera menyorot puing-puing sekolah. “Saat ini…” lanjutnya, “…api telah berhasil dipadamkan. Melanjutkan liputan kami sejam sebelumnya, bisa Anda lihat keadaan sudah mulai teratasi. Kami juga telah menemukan beberapa saksi mata yang akan kita wawancarai khusus untuk para pemirsa semua.”

Seorang anak mendekati Najwa. Dia kelihatan gugup sekaligus bersemangat. Najwa menunjukkan mimik terharu, “Saksi pertama kita adalah salah satu dari murid sekolah ini. Silahkan perkenalkan dirimu, Dik.”

Si anak gagap sebentar. Matanya bersinar menatap kamera. Teman-temannya memberi semangat di belakang. “Er… nama… nama saya Ryan Iskandar, saya murid kelas 3.”

Najwa pura-pura menenangkan Ryan, “Pelan-pelan saja, Dik. Kami tahu kalian masih shock. Tolong ceritakan bagaimana musibah kebakaran ini bermula.”

Ryan mengangguk. “Saya anggota klub sepakbola. Sore tadi termasuk jadwal latihan kami. Anak-anak yang lain sudah pulang semua. Lalu kami melihat anak-anak kelas terkutuk berbondong-bondong ke belakang gedung sekolah.”

“Maaf! Kelas apa katamu tadi?” potong Najwa, terkejut dan bergairah.

“Kelas… terkutuk,” jawab Ryan ragu-ragu. Diliriknya teman-temannya, meminta dukungan.

“Kelas macam apa itu?” Najwa menodong Ryan.

“Kelas yang mengerikan. Isinya anak-anak aneh semua. Ada kutukan yang mengiringi kelas itu.” jawab Ryan.

“Kutukan?” Najwa mempermainkan nada suaranya. Berusaha membuat penonton semakin penasaran.

“Iya, kutukan!” kata Ryan berapi-api. “Kelas ini sudah ada sejak tahun 2003. Setiap angkatan tidak bertahan lebih dari satu tahun.”

“Wow,” puji Najwa, bukan pada Ryan tapi lebih pada dirinya sendiri yang baru saja mendapatkan berita fantastis.

“Makanya saya punya firasat buruk saat melihat anak-anak kelas terkutuk berlarian bergerombol. Nah, beberapa menit kemudian terdengar ledakan yang bersahutan. Kaca-kaca jendela beterbangan ke segala arah dibuatnya. Terang saja kami semua panik melarikan diri. Yang saya ingat, dengan cepat api mulai menjalar dan melahap setiap ruangan. Lalu salah satu teman saya, Kienan, menghubungi polisi.”

Seorang anak berkepala plontos yang berdiri di belakang Ryan melambaikan tangannya. “Saya Kienan,” serunya, tersenyum gugup. Kamera menyorotnya sebentar lalu kembali lagi pada Najwa dan Ryan.

“Terima kasih atas keterangannya, Ryan. Pemirsa semua, saksikan wawancara eksklusif saya dengan Ryan Iskandar dan teman-temannya, besok sore di acara Mata Najwa dengan tema Kelas Terkutuk.”

Ryan yang mendengarnya, megap-megap. Dirangkulnya teman-temannya. “Kita  masuk TV! Kita masuk TV lagi!” katanya kegirangan diiringi sorak-sorai teman-temannya.

“Saya akan melanjutkan dengan saksi kedua.” Najwa berlari kecil ke arah mobil pemadam kebakaran, diikuti para krunya. Dia mencegat seorang petugas tinggi besar yang wajah dan seragam merahnya penuh belepotan jelaga hitam.

“Aku sedang sibuk!” tolak si petugas, nadanya ketus.

“Sebentar saja, Pak,” mohon Najwa. Tersenyum sedikit genit. “Anda sudah berjanji akan bekerja sama tadi. Tidak jantan bagi seorang laki-laki untuk mengingkari janjinya sendiri kan?” bisik Najwa.

Si petugas termakan umpan. Walau wajahnya tetap keras membatu.

“Ma’af, nama Anda?” tanya Najwa.

“Anto,” jawab si petugas.

“Lengkapnya?”

“Ya Anto! Tidak ada embel-embel di belakangnya!” Anto naik pitam. “Ada masalah dengan itu!?”

“Tidak.” Najwa memaki dalam hati. “Baiklah, Pak Anto, bagaimana keadaan di dalam sana?” Najwa menunjuk gedung sekolah.

“Kacau sekali. Semua ruangan habis dilahap api.”

“Apa ada korban?”

“Korban jiwa tidak ada. Tapi ada beberapa murid dan guru cedera akibat ledakan.”

“Bagaimana dengan serombongan anak-anak yang dilansir berada di belakang gedung?”

“Kami juga menerima laporan itu. Anehnya saat kami melakukan penyortiran di tempat itu kami hanya menemukan satu orang anak yang terkapar di rerumputan. Ada luka bekas pukulan di kepalanya.”

“Siapa anak itu!? Apa dia masih hidup?” Najwa menyorongkan mikrofonnya terlalu dekat ke mulut Anto.

Anto menepis mikrofon tersebut. “Itu bukan wewenang saya untuk menjawab!”

Najwa mundur perlahan, menimbang-nimbang sebentar, “Kalau begitu, ini pertanyaan terakhir. Anda yakin tak ada anak lain di lokasi tersebut?”

“Ya!” jawab Anto pendek. Meninggalkan Najwa tanpa permisi. Padahal reporter itu sudah berharap akan dapat banyak berita penting dari jajaran petugas pemadam kebakaran.

Najwa memberi isyarat agar kameraman mengambil gambar kerumunan orang-orang. Dia mendekati seorang polisi, menanyakan siapa pimpinan mereka di sini. Dia kehabisan saksi penting dan otaknya berpikir keras mencari saksi potensial baru. Polisi tadi menunjuk seorang pria gendut berkumis lebat. Najwa mengenalnya.

“Malam, Pak Inspektur,” sapa Najwa.

Pria tersebut menatap Najwa. Wajahnya pucat dan terlihat jelas kelelahan. “Najwa. Aku tidak punya waktu untuk wawancaramu saat ini.”

“Kita off-air saja,” usul Najwa.

“Kau ingin tanya apa?”

“Anak yang ditemukan, kondisinya?”

“Dia pingsan. Kurasa itu saja yang bisa kusampaikan padamu. Kita lihat saja perkembangannya nanti.”

Najwa terpaksa mengurungkan niatnya untuk mengorek informasi lebih. Usai berterima kasih, dia kabur untuk mewawancarai penonton yang berebut ingin masuk TV.

Sang Inspektur menghela nafas. “Wanita itu selalu bikin susah,” keluhnya.

“Najwa?” celetuk salah satu bawahannya.

“Siapa lagi.”

Seorang petugas paramedis menghampiri mereka. “Anak itu sudah siuman,” lapornya.

“Kalau begitu, tunggu apa lagi. Dimana anak itu sekarang?” kata si Inspektur.

“Di ambulance paling depan.” Petugas paramedis tadi menuntun mereka ke sana. Beberapa polisi bertampang sangar mendorong para penonton supaya mundur menjauhi lokasi kejadian sewaktu mereka lewat. Namun ada saja wartawan-wartawan nekat yang mencuri-curi maju untuk mendapatkan gambar lebih akurat.

Ada yang berteriak-teriak di dalam ambulance. Saat pintu ambulance dibuka, mereka melihat anak yang mereka perbincangkan tadi meronta dan menjerit minta dilepaskan. Dua petugas paramedis lain memegang tangannya dan memintanya menenangkan diri.

“Teman-teman saya! Tolong teman-teman saya!” ratap anak itu.

“Lepaskan dia!” perintah Inspektur pada para petugas paramedis.

“Tapi, Pak…” Sang petugas paramedis ingin menolak.

“Teman-teman saya!!!” jerit anak tadi, menyayat hati siapapun yang mendengarnya.

“Lepaskan anak itu!!!” perintah Inspektur lagi. Kali ini intonasinya lebih keras.

Para petugas paramedis mengalah. Mereka melepaskan pegangannya. Si anak menatap Inspektur, bingung sekaligus berterimakasih. “Bapak siapa?” tanyanya pada Inspektur.

“Namaku Inspektur Gunther. Kurasa kau sekelas dengan anakku.”

Mulut anak itu terbuka lebar. “Cleopatra?” Air mata mengalir di pipinya.

“Ya, dia putriku.” Inspektur Gunther memeluknya. “Tenanglah, kau aman di sini.”

Namun si anak menolak dipeluk. “Anda tidak mengerti! Cleopatra dan yang lain, mereka terkubur hidup-hidup! Ada murid gila yang berniat mencelakai kami!”

“Apa maksudmu!?” mata Inspektur Gunther terbelalak.

“Saya berhasil kabur! Yang lain tertipu kata-katanya dan dia mengurung mereka di ruang penyimpanan beserta dirinya sendiri!”

“Pelan-pelan… kami tidak dapat memahami ceritamu kalau kata-katamu tidak jelas seperti ini.”

Anak tadi tercekat. Dia membuka seragamnya dan mengeluarkan sebuah buku dari balik baju dalamannya. “Ini,” diserahkannya buku itu pada Inspektur Gunther. “Semuanya ada di sini.”

“Buku apa ini?” Inspektur Gunther membuka halaman pertamanya.

“Itu diary kelas. Tapi yang lebih penting, sekarang tolong Anda segera ke belakang sekolah. Cari sebuah pintu tingkap beton. Di bawahnya ada ruang penyimpanan. Di sanalah Cleopatra dan yang lain terkurung. Tolong teman-teman saya!”

Inspektur Gunther langsung memahami kondisinya. “Lakukan yang dia katakan! Panggil bantuan! Segera!” teriaknya.

Bawahannya berhamburan mematuhinya. Inspektur Gunther sendiri berlari menuju belakang gedung sekolah. Si anak berniat menyusulnya yang tentu saja langsung dihalangi petugas paramedis yang menanganinya.

“Lukamu belum sembuh, Nak.” kata si petugas medis.

“Tapi teman-teman saya?”

“Ada petugas yang lebih kompeten menanganinya! Kemarikan kepalamu, perbannya longgar gara-gara kau banyak bergerak!”

Si anak terpaksa menurut.

“Kalau kau menurut begini kan enak. Kami tahu kau khawatir tapi kondisimu sendiri juga sedang cedera. Beristirahatlah dulu. Oh ya, namamu siapa? Biar kami bisa menghubungi orang tuamu.”

Si anak meringis karena si petugas terlalu kencang menarik perban di kepalanya. Kemudian dia menyebutkan namanya.

***

Diary Hari Pertama

Halo semuanya, namaku Allisa Galliomova, panggilanku Mova. Senang sekali kan akhirnya kita duduk di bangku SMA? Karena kata mami-ku masa SMA itu adalah masa yang tak terlupakan, makanya aku memutuskan membuat diary kelas ini. Jadi diary ini rencananya akan diisi oleh kita secara bergiliran setiap harinya. Menjadi catatan atas apa yang kita alami, kita rasakan, kita pikirkan atau kita ketahui selama tiga tahun ke depan. Giliran pertama tentu saja aku!

Oke, aku mulai saja ya.

Kalian ngerasa nggak kelas kita itu rada spesial? Dimana kelas lain jumlah muridnya hampir 40-an, kelas kita malah cuma 25 orang. Aku beruntung di hari pertama ini sudah bertemu anak perempuan yang (sangat) enerjik bernama Nabilah. Aku duduk di sebelahnya dan dia (amat) antusias dengan ide diary kelas ini (tentu saja pengisi berikutnya diary ini adalah dia).

Kalian semua kayaknya asik-asik ya. Kecuali satu orang, anak perempuan berambut pendek yang duduk sendirian di ujung kiri belakang. Benar-benar suram. Mata kami pernah sekali bertemu dan itu saja sudah membuatku merinding. Matanya seolah memancarkan penderitaan dan kesedihan yang melebur jadi satu. Rasanya tidak mungkin aku jadi temannya. Lebih tepatnya aku tidak begitu yakin bisa berteman dengannya. Dan aku juga masih tidak yakin memintanya turut mengisi buku ini.

Oke, ganti topik.

Apa kalian sudah mutusin mau ikut ekstrakurikuler apa?

Karena hari pertama ini bebas, aku dan Nabilah sudah jalan-jalan ke setiap sudut sekolah. Makan waktu juga loh untuk mengamati semua ruangan yang ada. Kebanyakan masih dikunci dan kami hanya bisa melongok dari balik jendela.

Baiklah ini hasilnya.

Kalian tau kan sekolah kita terdiri dari empat lantai? Kalau dilihat dari luar memang seperti terdiri dari lima lantai, aneh kan? Pasti kalian juga merasa begitu. Aku sudah membandingkan tinggi setiap lantai dan ternyata lantai 2 dan 4 lebih tinggi sekitar 3 meter dibandingkan lantai lain. Selain itu sepertinya arsitek yang merancang bangunan ini melakukan kekeliruan dalam pengaturan letak jendela di lantai 4.

Lantai pertama diisi sembilan ruangan kelas 1. Lantai dua diisi kantor Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah dan ruang rapat guru ditambah enam ruang kelas 2. Lantai tiga berisi tiga kelas tiga, berbagai ruang ekstrakurikuler dan lab praktek. Sedangkan di lantai empat ada ruang guru, kolam renang tertutup, lapangan basket (indoor) dan aula.

Kelas kita terletak di ujung lantai satu. Agak-agak suram ya? Mengapa sama sekali tidak ada jendela satupun di ruang kelas kita? Lampu neonnya telah menghitam, perlu segera diganti. Apa kalian juga mendengar musik menyayat hati yang terus menerus diputar sepanjang hari? Dan aku Cuma menemui hal tersebut di kelas kita!

Walaupun begitu, kurasa aku akan betah di kelas ini.

Nabilah dan aku juga sudah berkunjung ke kelas 1 yang lain. Kami agak bingung dengan cara anak-anak kelas lain memandang kami. Saat melihat kami, mereka berbisik-bisik dan sewaktu kami mendekat, mereka malah diam dan tersenyum salah tingkah.

Guru-guru lebih parah lagi, mereka cenderung bersikap hati-hati, bahkan mendekati takut (kalau bisa dibilang malah menjauhi). Ah, mungkin cuma perasaanku.

Jadi semuanya, kuharap kita bisa berteman. Semoga buku ini menjadi penghubung untuk kita saling mengenal dalam menjalani tahun-tahun terbaik kita nanti. Dan biarkan buku ini menjadi saksi atas setiap kejadian di kelas kita.

Ha…ha…

Malam ini pasti aku bermimpi indah. Bertemu orang-orang baru selalu membuatku begitu. Kalian juga harus bermimpi indah. Oh ya, ada lagi sedikit cerita saat aku dan Nabilah pergi ke toilet, tapi gimana ya... aku malu mengatakannya. Namun demi kalian, aku akan mencoba.

Capek sehabis berkeliling, aku menuju ke toilet untuk merapikan rambutku.

”Hei, mau kemana?” tanya Nabilah di belakangku.

“Nih, mau ngrapiin rambut,” sahutku pendek.

”Sekalian ah, aku juga mau merapikan baju neh.” kata Nabilah.

Di toilet, kami merapikan diri masing-masing di cermin.

”Uhh... malah kebelet pipis nih.” aku berkata.

“Ikuuttt...” kata Nabilah manja. Lalu kami berdua masuk ke kamar kecil bersama.

Sedang seriusnya aku pipis, tiba-tiba Nabilah mengeluarkan HP-nya. ”Ayo senyuuuummm...” katanya sambil mengarahkan kamera HP ke arahku yang sedang pipis. ”Judulnya narsis sambil pipis nih, hihihi...” dia terkikik.

”Oke... sekarang gaya berdiri.” Nabilah mengarahkan gaya. Aku lalu berdiri sambil membetulkan celana dalamku. ”Eits… celana dalamnya biar aja nyangkut di dengkul, biar sexy gitu loh.” cegah Nabilah.

Aku batal membetulkan celana dalam. Kemudian aku bernarsis ria dengan celana dalam yang masih nyangkut di kaki mulusku. Berbagai pose yang menggairahkan berhasil dijepret oleh Nabilah.

”Oke, pemotretan selesai, silakan dilanjut pipisnya. Hihihi...” kata Nabilah nakal.

”Udah selesai kaleee... tinggal dibersihin.” sahutku.

”Sini, Nabilah bersihin pake tissu.” kata Nabilah sambil mengeluarkan tissu dan mendekatiku, lalu dia jongkok dihadapanku dan mengusap vaginaku yang berbulu halus dengan lembut.

”Uuuuhhh...” aku melenguh.

”Duuh... imutnya nih vagina.” kata Nabilah gemas sambil mencubit pelan vaginaku.

”Aoww... jangan dicubit dong!” aku bersungut-sungut, tapi tidak marah.

”Kalo gitu disayang aja yah... mmmuaachh!” Nabilah lalu mengecup vaginaku.

“Aaachh...” aku merintih sambil membelai kepala Nabilah yang tertutup bando.

Begitulah sedikit ceritaku di hari pertama. Saat ini mungkin aku baru mengenal Nabilah, karena seharian aku bersama dengannya. Tapi aku ingin sekali mengenal kalian semua dan melakukan hal-hal yang lebih nakal dari ini. Salam semuanya...

(Allisa Galliomova)

***

Diary Hari Kedua

Hai, aku Nabilah. Kalau kalian melihat cewek cantik yang duduk di baris kedua deretan sebelah kiri, nah, itulah aku, Nabilah, inget-inget namaku ya, soalnya Nabilah yakin Nabilah bakal terkenal sepopuler artis nantinya.

Aduh, Nabilah seneng banget Mova punya ide ngebuat diary kelas ini, yah jadinya kan hidup Nabilah bakal ada bukti tertulisnya. Kali aja suatu hari nanti ada yang berniat ngebuat biografi Nabilah.

Kalau Mova udah ngejelasin letak semua ruang (kayak arsitek aja), Nabilah bakal sedikit ngejelasin para penghuni kelas kita. Tapi Nabilah belum sempat kenalan sama para cewek kecuali Mova, kalau cowoknya pasti dong Nabilah dah kenal.

Yang duduk di belakang bagian kanan ada Radith dan Micah. Radith gak cakep-cakep amat tapi tinggi dan badannya berotot. Hehe… Kalau gak salah dia pemain basket. Sedang Micah rada pendiam, bapaknya orang Jerman loh, makanya mukanya bule-bule gitu. Cakep banget, terus kalau tersenyum kayak malaikat, suer deh!

Di bagian kiri ada Andy dan Rudy (apa mereka mutusin duduk satu meja karena namanya sama ada ‘dy’-nya ya?). Andy penggugup banget, sepanjang hari ini dia terus menggigiti ujung pensilnya. Rudy sepertinya anak jutawan, ponselnya ada tiga belas (bukannya itu angka sial!?). Nabilah kurang suka sama dia soalnya lagaknya seperti anak yang dewasa sebelum waktunya.

Di depan mereka dan tepat di belakang kursi Nabilah dan Mova adalah Jhan dan Carada. Jhan nyebelin, kemana-mana bawa kartu tarot. Trus ke setiap orang dia bilang: “Aku melihat kemalangan di nasibmu.” Si kurus Carada sebaliknya, lucu banget! Nabilah ketawa terus ngelihat kelakuan dia.

Masih di barisan ketiga, di depan Micah dan Radith, duduk Ken dan Giovani. Ken keren! Cakep, cool dan keren! Keren banget pokoknya! Nabilah sudah mutusin buku ini bakal Nabilah kasihkan ke Ken sebagai pengisi selanjutnya. Giovani (Nabilah manggil dia Gio gendut) juga lucu. Sering nawarin Nabilah coklat.

Nah, di sebelah Nabilah ada Frans dan Baddy. Frans ramah, senyumnya juga oke. Sedangkan Baddy selalu sibuk dengan laptopnya (apa boleh membawa laptop ke kelas?)

Dua cowok terakhir yang duduk di deretan depan dekat meja guru adalah Haya dan Imban. Haya sok, gayanya angkuh suka ngatur-ngatur. Imban tidak kalah ngeselin, kesannya suka ngejilat orang, poninya aneh kayak model rantang.

Eee… kalian jangan marah ya ngebaca pendapat Nabilah ini. Nabilah kan cuma mau jujur.

Hari ini juga tidak banyak yang terjadi. Wali kelas kita yang mirip robot itu, Pak Richard, datang, setelah mengabsen kelas (Nabilah rasa begitu, karena cara mengabsennya aneh, dia memandang tiap orang, lalu menulis sesuatu di bukunya) kemudian dia langsung menunjuk Haya menjadi Ketua Kelas. Tentu saja muka Haya langsung merah kesenangan. Wakilnya adalah Imban.

Hueh, kacau! Setahu Nabilah, dari dulu yang namanya pengurus kelas itu dipilih berdasarkan pemungutan suara, bukan asal tunjuk doang.

Setelah itu, Pak Richard membagikan setumpuk kertas yang berisi berbagai soal sulit. Selesai satu masih ditambah tumpukan soal lainnya. Semua bidang ilmu dicampur. Bikin kepala Nabilah puyeng tujuh keliling. Hancur sudah harapan Nabilah untuk mendapatkan hari yang indah hari ini.

Tapi untung saja ada sedikit hiburan di penghujung pelajaran. Hampir semua murid saat itu sibuk mengerjakan kertas soalnya sendiri-sendiri. Tak terkecuali Mova dan aku.

“Fiuhh, bete banget yah...” keluhku yang duduk di sebelah kiri, tepat mepet ke tembok.

”Iya, mana gerah lagi.” Mova menimpali. ”Emang kamu pake lengan panjang gak gerah, Bil? Aku yang pake seragam pendek aja gerah.” katanya sambil kipas-kipas.

“Siapa bilang nggak panas, nih kancing baju aku buka dua yang atas.” kataku sambil menyibakkan rambutku yang panjang, sehingga belahan payudara atasku kelihatan karena dua buah kancingnya sudah terbuka.

”Hihihi… susu kamu putih yah.” bisik Mova genit. ”Mau dong, Bil, pegang.” rengeknya lirih.

”Hush… ntar diliat yang laen.” kataku setengah berbisik.

”Kan ketutup meja, Bil.”
Mova memaksa. ”Boleh ya? Kan kemarin kamu udah lihat memek aku.” rengek Mova lagi.

”Iya deh... tapi jangan dicubit yah?” kataku pelan pada akhirnya. Kemudian kuturunkan badanku serta meletakkan tangan dan kepalaku di meja sambil pura-pura memperhatikan pelajaran.

“Asyiiikkk...” Mova berteriak kecil lalu memepetkan tubuh montoknya ke tubuhku. Segera tangannya menuju ke payudaraku yang menghadap ke bawah. Dielus-elusnya benda itu dari luar BH. Aktivitas tangan Mova tidak terlihat karena dia melakukannya di bawah meja dan tertutup lenganku. Diremasnya pelan-pelan bulatan susuku sehingga aku kegelian menahan nikmat. Meski melihat ke papan tulis, namun mataku jadi merem menahan geli. Sementara Mova semakin menggebu, diangkatnya cup BH-ku sehingga kini payudaraku menggantung bebas di balik baju. Tangannya menggenggam payudaraku dan mengelusnya pelan, sementara jari-jarinya memilin-milin putingnya yang mulai mengeras.

“Eeehhhh…” aku mendesah lirih.

“Susumu montok banget, Bil.” bisik Mova di telingaku.

Aku tidak menjawab, cuma bisa menggelinjang tertahan merasakan nikmat yang benar-benar bikin deg-degan karena dilakukan di tengah-tengah orang banyak.
Elusan serta remasan Mova terasa semakin keras. Nafas kami berdua sudah memburu. Untung semua anak sedang konsentrasi pada tugasnya masing-masing sehingga nafas, erangan dan lenguhan kami tidak ada yang menghiraukan.

“Ahhh… ahh...” aku melenguh sambil membenamkan muka ke meja.

Teng.. teng.. teng…!
suara bel tanda pulang berbunyi. Mova cepat-cepat menarik tangannya dari payudaraku. Sementara aku sendiri masih terkulai lemas. Pak Richard yang mengambil kertas tugasku memandang curiga, tapi tidak berkata apa-apa.

Oh ya, sebagai catatan: Nabilah juga gak suka sama cewek berambut pendek yang duduk di belakang itu.

(Nabilah Ratna Ayu Azalia)

***

Diary Hari Ketiga

Aku tidak bisa memutuskan harus setuju atau tidak dengan keberadaan buku ini. Sebelumnya langsung saja kukatakan, ‘Ma’af, Nabilah, aku tidak bisa membalas perasaanmu’.

Mova, kau salah sama sekali kalau bilang kita semua akan mimpi indah, sudah dua malam ini aku terjaga di tengah malam gara-gara mimpi buruk. Mimpi yang tidak jelas. Seperti ada seseorang yang memanggil namaku. “Ken…lari…” Aku benar-benar bermimpi seperti itu.

Gadis yang kalian benci itu nampaknya sangat pintar. Pak Richard dengan senyumnya yang memuakkan itu pagi-pagi sudah membacakan hasil tes kemarin (mengapa harus ada tes di awal semester?). Untuk semua mata pelajaran, gadis itu memperoleh nilai 100. Lalu yang lebih aneh, atas dasar alasan apa guru itu memanggil kita dengan nomor, bukan dengan nama kita yang sebenarnya?

“Nomor 17, nilaimu untuk Geografi adalah 95.” Apa susahnya menyebut, “Ken, nilaimu 95.” Aku benci disebut dengan nomor seperti itu. Kesannya seperti narapidana.

Gadis di depanku yang semua kukunya dicat hitam plus memakai make-up bertema gothic, bernama Rica Leyona (jika kalian belum mengenalnya). Harus kuperingatkan pada kalian bahwa gadis ini sering menyakiti dirinya sendiri. Dia membawa silet yang kadang digoreskan ke lengan kirinya. Mengerikan sekali. Aku rasa dia punya penyakit kejiwaan. Melodi, jika kau membaca ini, kau duduk di sebelahnya, kenapa kau sama sekali tidak menyadarinya?!

Dan sekarang, untuk Mova dan Nabilah, kalian lesbian ya? Banyak cowok di kelas ini, kenapa kalian malah berbuat nakal berdua seperti itu? Karena itulah kutolak cintamu Nabilah.

Pada jam istirahat tadi, aku mencoba naik ke lantai 2. Padahal ada sembilan kelas satu, kenapa hanya tersedia enam ruang untuk kelas dua. Aku mencoba bertanya pada salah satu murid kelas 2. Tapi seperti yang Mova alami, anak itu hanya diam dan memandangku dengan pandangan jijik. Aku tidak pernah diperlakukan seperti ini!

Aku tidak tahu bagaimana dengan kalian, tapi kalau kubilang aku akan merasa betah, itu rasanya bohong belaka. Kalian bagiku terasa begitu ‘berbeda’ dan aku jadi ikut-ikutan dicap seperti itu juga.

Sehabis istirahat, Pak Richard datang lagi mengajar Kimia. Apa tidak ada guru lain? Mengapa semua pelajaran diajarkan olehnya?

Haya tampaknya mahir dalam Kimia. Soal-soal yang diajukan oleh Pak Richard hampir semua bisa dijawabnya. Kecuali soal terakhir. Tak ada yang maju ke papan tulis untuk menjawabnya saat ditawarkan.

Saat itulah Pak Richard berkata, “Nomor 25, kerjakan soal ini!”

Gadis itu maju dengan langkah gontai. Mulai menjawab soal tadi. Dia jenius! Aku tahu itu, jawabannya benar. Haya terlihat kesal jadinya. Kacamatanya jatuh melorot gara-gara menjulurkan kepala terlalu jauh ke depan. Aku suka saat Haya menjadi kesal gara-gara itu.

Lalu Giovani, kau sebaiknya mulai membuang sampah bekas cemilan dari laci mejamu. Mengganggu, tahu tidak!? Apa kau tidak sadar itu bisa menjadi sarang nyamuk? Kau sampai kesulitan mencari bukumu sendiri yang kau selipkan ke dalamnya. Apalagi sepanjang dua pelajaran terakhir serpihan rotimu mengenai celanaku. Makan diam-diam saat belajar, siapa yang mengajarimu begitu? Kau jorok sekali. Kalau begini terus aku terpaksa pindah tempat duduk saja.

Sudahlah, kurasa buku ini mulai membosankan, kuharap aku tidak perlu menulis seperti ini lagi. Satu hal yang harus kalian semua ingat, ada yang tidak beres dengan kelas ini. Aku benci kelas ini.

(Ken Downer)

***

Diary Hari Keempat

Ken Downer! Tega sekali kamu bilang saya tidak sadar atas kelakuan Rica yang menyayat lengannya sendiri itu. Hampir tiap jam saya menyuruhnya menghentikan kelakuan tersebut. Kalau kamu yang melihat dari belakang saja merasa ngeri, apalagi saya yang harus melihat dengan jelas darah yang menetes ke lantai dari ujung jemarinya. Camkan itu!

Selain itu, kamu salah menulis nama saya. Tulisannya bukan Melodi, tapi Melody, kuulang M-E-L-O-D-Y. Pake Y.

Pelajaran dimulai dengan praktek elektronika di ruang Fisika. Pak Richard menyuruh kita membentuk kelompok yang terdiri dari tiga orang. Karena tidak ingin sekelompok dengan Rica, saya bergabung dengan Sonya dan Ochi (si nomor urut 1 dan 2). Mereka terlihat cukup normal menurut saya. Sebelum praktek, Sonya saya perlihatkan beberapa desain pakaian yang saya buat dan dia bilang saya berbakat. Anak ini memberitahu bahwa dia sangat lega bisa keluar dari kelas. Wajahnya memang terlihat sangat tertekan bila berada di dalam kelas. Ochi jarang bicara, cuma lima kata yang pernah saya dengar dari mulutnya, yaitu : ‘Ya; tidak; mungkin; benarkah; tergantung’. Ekspresi mukanya juga kebanyakan datar dan sulit ditebak suasana hatinya. Tapi lumayanlah daripada Rica.

Rica sekelompok dengan Jhan dan Giovani, kelompok bodoh yang diam saja menatap tugas di depannya. Rica memainkan siletnya. Jhan mengocok kartu tarotnya. Giovani, seperti biasa, hanya makan dan makan. Tugas mereka tidak disentuh sedikit pun. Pak Richard tampak tidak peduli, dia melewati mereka dan mendengus pasrah.

Ken memilih Micah dan Radith. Sudah saya duga. Apa kamu ingin membentuk boysband, Ken? Atau malah karena kamu memiliki ketertarikan pada salah satu dari mereka?

Sepertinya perpecahan mulai terjadi ya? Mova ingin memasukkan Carada dalam kelompoknya. Masalahnya adalah Nabilah (setelah ditolak Micah dan Radith) lebih memilih Frans. Akhirnya Mova dan Carada mengajak Icha, cewek dengan kacamata tebal itu.

Teman sebangku Icha, si tinggi Shania (si nomor 21) sudah sekelompok dengan Haya dan Imban. Mau-maunya kamu disuruh kesana kemari seperti itu oleh mereka, Shania!

Nabilah dan Frans merekrut Frieska (cewek yang ngomongnya blak-blakan dan rada emosian) karena Baddy sudah satu kelompok dengan Rudy dan Andy (huh… triple manusia ‘Dy’).

Lalu Fahira dan Gaby sekelompok dengan Cleo (anak yang matanya suka jelalatan ke sana ke mari) yang marah karena Frieska tidak mau sekelompok dengannya.

Terakhir, cewek dengan nomor urut 25 tidak punya teman kelompok.

Saya kagum dengan Baddy. Tangannya cekatan dalam merakit berbagai komponen. Sebelum makan siang dia sudah menyelesaikan 95% tugas mereka. Cepat sekali.

Kelompokku? Jangan ditanya deh, kami lebih banyak ngerumpi daripada ngerjain tugas.

”Mel, lihat tuh si Rudy, dari tadi curi-curi pandang ke arah selangkangan kamu.” bisik Sonya kepadaku. Memang, selama pelajaran berlangsung, kulihat Rudy berkali-kali mencuri-curi kesempatan untuk menoleh ke arah dimana aku, Sonya dan Ochi duduk.

”Iya... aku juga tau, kita kerjain yuk anak penakut itu.” bisikku lirih.

”Gimana caranya?” tanya Sonya.

”Kita gunakan sistem ’buka tutup’ paha kita, biar dia makin tersiksa. Hihihi...” kataku sambil cekikikan.

”Ayo, hihihi...” sahut Sonya antusias.

”Eh, jangan...” Ochi tampak tidak setuju.

”Nggak apa-apa, Chi. Kita kan cuma main-main.” dan sambil berkata begitu, Sonya dengan pura-pura cuek membuka lebar-lebar pahanya lalu dengan cepat menutupnya kembali. Rudy yang sedang melirik mereka, terlihat sangat-sangat terkejut. Meski cuma sekilas, tapi pemandangan itu cukup untuk membuat jantungnya berdegup kencang, nafasnya tersengal.
Apalagi saat giliranku yang membuka paha, ia tampak makin tak tahan. Karena terus diserang seperti itu, Rudy jadi tidak kuat lagi menahan nafsunya. Dia pun ijin kepada Pak Richard untuk pamit ke toilet.

“Hihihi, pasti kebelet pipis tuh anak.” bisik Sonya. ”Eh...
btw, si Rudy tuh cakep juga ya, tajir lagi.” tambahnya genit.

”Yee... kamu naksir ya? Ntar deh gue bilangin langsung ama dia.” kataku.

”Eh, jangan.
Malu lagi, hihihi...” Sonya tertawa.

”Kapan-kapan kita kerjain lebih sadis lagi yuk.” aku mengajak.

”Caranya?” Sonya bertanya.

”Begini...” kuterangkan ide di kepalaku pada Sonya dengan berbisik, bla-bla-bla…

Sonya tertawa dan langsung mengangguk setuju mendengarnya. Sedangkan Ochi, hanya memandangi tingkah kami berdua sambil geleng-geleng kepala.

Di akhir pelajaran, cuma punya kelompok Baddy yang selesai dan Pak Richard langsung mengetes rakitan mereka. Alat itu berjalan mulus dan kelompok Baddy bersorak karenanya. Namun lima menit kemudian timbul asap dan ledakan kecil dari alat tersebut. Rusak.

Pak Richard terdiam lalu bertanya, “Apa ada yang berhasil menyelesaikan rakitannya selain kelompok dengan anggota nomor 10, 19 dan 20?”

Semuanya menggeleng. Betapa terkejutnya kita saat si nomor 25, cewek misterius itu mengangkat tangannya dan mengeluarkan suara seraknya, “Nomor 25, sudah selesai, Pak.”

(Melody Nurramdhani Laksani)

***

Diary Hari Kelima

Gila…! Si nomor 25 itu ngagetin banget, gue ampe jadi pucat pasi pas dia mulai bersuara, mana suaranya itu nyeremin. Baddy kesel banget karena cewek itu ternyata berhasil merakit alatnya dan sama sekali tidak rusak. Icha bilang cewek itu malah tidak mengerjakan apa-apa setelah makan siang. Berarti dia sudah selesai bahkan sebelum makan siang dong. Siapa sebenarnya anak itu?

Baddy terus mengamuk sepanjang hari ini. Berkali-kali dia melirik tajam ke cewek itu yang tampaknya tidak sadar diperlakukan begitu.

Hari ini kita belajar Matematika, gue bingung apa kita tidak mendapat jadwal yang pasti? Setiap hari pasti hanya membahas satu mata pelajaran dengan guru yang itu-itu saja alias Pak Richard.  

Fahira suka sekali Matematika, lincah menjawab setiap pertanyaan dengan suaranya yang mencericit seperti tikus.

Gue gak paham dengan apa yang disebut Pak Richard sebagai volume benda putar (apanya yang diputar, yang ada malah kepala gue berputar-putar terus saat dia menjelaskan). Makanya sewaktu Jhan menawarkan, “Kau mau kuramal, Carada?” Gue langsung setuju.

Jhan mengocok kartu tarotnya tanpa suara. Menyuruh gue mengambil satu kartu. Gue memilih kartu paling atas dan membaliknya. Gambarnya dua pedang bersilangan. Jhan terkekeh. Gila, dimana letak kelucuannya, Jhan?

“Nasibmu dibayangi kemalangan.” katanya.

“Lue juga mengatakan itu pada semua anak di sini. Basi tau nggak!” balas gue.

“Apa kau akan percaya kalau aku meramal kejadian tiga hari yang akan datang dari sekarang?” tanyanya.

Gue kaget. Mau apalagi anak ini!? Dan gue lebih kaget lagi sewaktu dari belakang ada yang nyeletuk. “Ke-kejadian apa?” Rupanya Andy. Mukanya memutih. Gue jadi curiga anak itu ‘pemakai’.

Terus si Andy gagap ngelanjutin. “Wa-walau tidak a-ada yang percaya ra-ramalanmu, kurasa ka-kau pasti benar.”

O-la-la. Kumpulan manusia sinting rupanya. Apa cuma gue, Carada, yang normal di kelas ini? “Oke kalau gitu, sebutkan ramalanmu!” tantang gue.

Jhan mesem. “Bener, mau tahu?” Itu jawaban dia! Ngeselin kan? Padahal gue gak mau tau, sekedar ngehargain aja. Pokoknya kalau ada diantara kalian yang ditawari diramal, jangan mau! Kapok gue.

Setelah sok sibuk menulis di kertas memo, si Jhan menyodorkan kertas itu ke gue. Mau tau isinya? Ini dia.

Tiga hari dari sekarang, Frieska akan jatuh dari tangga. 
Didorong seseorang, teman sekelas kita juga.

Gue baca sebentar, kaget sebab isinya bukanlah berita yang bisa dibilang ‘baik’, lalu karena Andy menarik-narik baju gue sambil memohon diperlihatkan memo tersebut, maka gue kasih aja ke dia.

Bagai menerima hadiah terindah, Andy membaca isi memo. Menelan ludah dengan suara keras. Dan melipat memo tadi dengan tangan gemetaran. Terakhir menyimpannya di sakunya sebelum dia berbalik dan menunjuk sesuatu, ”Lihat.”

Gue dan Jhan mengikuti arah tangannya. Betapa terkejutnya kami berdua ketika tahu apa yang Andy tunjukkan. Di depan, berjarak dua bangku dari kami, tampak Nabilah yang sedang serius memperhatikan pelajaran sambil menopangkan salah satu kakinya ke kaki yang lain. Meskipun roknya tidak tersingkap, tapi karena posisi duduknya lebih tinggi dari kami sehingga dapat gue lihat dengan jelas pahanya yang putih mulus, juga celana dalamnya yang berwarna putih kekuningan.

Jantung gue langsung berdetak kencang, nafas gue memburu... gadis yang gue jadikan obsesi onani tadi malam, kini di depan mata gue duduk dengan memberi pemandangan yang begitu menggemaskan.

”Duh, mulusnya paha Nabilah, seandainya…” kata Jhan sambil menelan ludah.

”Oh, T-tuhan... m-mulus banget, d-dan itu... c-celana dalamnya... o-ohh!” gagap Andy.

”Cleguk!” gue hanya mampu geleng-geleng kepala sambil menelan ludah yang terasa susah dimasukkan.

”Seandainya aku bisa mengelus paha Nabilah, aku rela digebukin pake kursi satu sekolahan.” khayal Jhan.

”A-aku j-juga…” Andy menggumam sambil melongo.

Sedangkan gue tidak mau berkata apa-apa, bahkan berkedip pun gue enggan karena gue tidak mau melewatkan pemandangan ini barang satu detik pun. Cuma tangan gue yang berbicara dengan mengelus penis gue dari luar celana sambil gue jepit dengan dua kaki agar tidak kelihatan orang lain.

Tapi pemandangan itu segera menghilang begitu bel tanda istirahat berbunyi. Nabilah bangkit dan mengikuti Mova untuk pergi entah kemana, mungkin ke kantin.

”Ingat ya ramalanku!” seru Jhan sebelum keluar kelas.

OK, kita lihat saja tiga hari lagi.

(Carlos Carada)

***

Diary Hari Keenam + Komentar Minggu Pertama

Kalau maksudmu aku harus percaya pada ramalan Jhan seperti Andy yang menelannya mentah-mentah, maka kau keliru Carada. Dasar bocah mesum doyan onani!

Seperti yang kau tulis, ‘Kita lihat saja tiga hari lagi’. Yah, aku juga akan menantinya, dengan bersemangat malah. Tapi akan kupastikan kalian (kau, Jhan dan Andy) akan kalah. Aku tidak sabar lagi tertawa di hadapan kalian, karena PASTI AKU AKAN BAIK-BAIK SAJA pada hari itu.

Aku paling benci dengan orang-orang yang mengkait-kaitkan alam dengan ramalan bodoh yang tidak ada gunanya. Apalagi menghubung-hubungkan pergerakan tatasurya dengan nasib seseorang. Coba pikir! Bagaimana mungkin posisi Mars dengan Venus berdampak pada kehidupan cinta? Itu bodoh! Super bodoh!

Kenapa kita tidak lebih tertarik pada kenyataan bahwa planet-planet itu menakjubkan bukan karena pengaruhnya pada jalan hidup tapi karena eksistensi planet itu sendiri. Maksudku adalah seberapa banyak dari kalian yang tahu bahwa Jupiter adalah planet terbesar, atau Mars yang memiliki karakteristik mirip Bumi. Dan aku berani bertaruh kalian tidak tahu ada planet baru ditemukan setelah Pluto. Jadi...

(Hai semuanya, ma’af kuputus, aku Gaby, saat Frieska menulis buku ini, aku sedang menginap di rumahnya. Seperti yang kuduga, dia akan lebih terfokus menceritakan ilmu astronominya dibandingkan menulis tentang kejadian di kelas. Bukunya kupegang dulu. Aku akan mengembalikan buku ini jika Frieska mau berjanji menulis sesuai jalur. Kau harus berterima kasih padaku untuk ini, Mova).

Kau mulai gila seperti mereka, Gaby.

OK-OK, akan kuceritakan apa yang terjadi di kelas hari ini jika itu bisa membuat kalian puas. Dan mungkin juga ada bonus soal Gaby yang menginap di rumahku, tapi itu nanti saja.

Seperti yang kalian ingat, hari ini kita semua diseret ke ruang musik. Di ruangan itu hanya ada 18 kursi lipat berwarna merah yang disusun menjadi dua barisan di hadapan sebuah panggung kecil. Pak Richard memanggil 7 anak ke belakang panggung. “Nomor 1, 4, 9, 18, 19, 23 dan 25, ikuti saya, yang lainnya duduk di kursi yang sudah disediakan.”

Semua anak perempuan duduk di barisan depan kecuali si genit Nabilah yang duduk di belakang di sebelah Radith, serta Shania yang dengan patuh duduk di tengah-tengah Haya dan Imban.

“Nomor 23.” Pak Richard mengumumkan. Nabilah, Radith dan Ken menjulurkan kepala, menegakkan badan. Tirai panggung terangkat perlahan, memperlihatkan Micah di depan sebuah Grand Piano. Dia tersenyum, mengangguk sedikit dan mulai menarikan jari-jemarinya di atas tuts putih. Permainan piano Micah seindah senyumannya. Aku bisa lebih menikmatinya kalau saja tidak ada Icha yang merepet menyebalkan di sebelahku.

“Nomor 4.” seru Pak Richard. Micah menghentikan permainannya dan Gaby maju menggantikannya. Lantunan lembut terdengar dari flute yang ditiupnya. Kau hebat, Gaby. Cantik dan berbakat.

“Nomor 9.” panggil Pak Richard.

Frans keluar dari belakang panggung membawa sebuah gitar. “Maaf, tapi saya tidak pernah memainkan lagu klasik,” katanya ringan. Icha cekikikan, diikuti Fahira. Dasar tidak sopan! Tahu apa mereka tentang musik.

Pak Richard menekuk wajahnya, lalu berkata. “Aku tahu itu. Si nomor 18 pasti juga tak mengenal yang namanya musik klasik. Nomor 4 dan 23, kalian turun dulu.”

Gaby dan Micah mengangguk lega.

“Nomor 18.” kata Pak Richard. Giovani bergegas maju. Sebuah tirai lain terangkat, ada instrumen drum di sana. Gio mengambil stiknya. “Mainkan lagu yang kalian bisa.” Guru ini, biasa banget sepertinya memerintah dengan nada dingin seperti itu.

Frans membisiki Gio yang dibalas Gio dengan kalimat, “Ya, aku tahu lagu itu.” Dan dimulailah permainan lagu modern dari keduanya. Lagunya menghentak, dinamis dan riang. Benar-benar menyenangkan. Dan kita lebih terkejut lagi saat sebuah suara mulai mengiringi musik tadi. Nyanyian paling indah yang pernah kudengar. Kurasa kalian juga merasakannya. Terpukau oleh sesuatu yang meresap ke setiap relung hati kita. Aku takjub. Kukira malaikatlah yang sedang bernyanyi, namun itu Sonya, teman sekelas kita.

Tapi si brengsek Pak Richard itu merusaknya. “Berhenti, nomor 1! Aku belum menyuruhmu keluar. Apa kau ingin melanggar peraturan!?”

Peraturan!? Peraturan sebodoh apa yang melarang seseorang bernyanyi seluar-biasa itu.

“Kalian dihukum.” muka guru sialan itu mengkerut. “Nomor 25, maju!”

Lalu si gadis dekil yang sampai sekarang tak kita ketahui namanya itu maju membawa sebuah biola. “Mainkan lagumu! Jangan berhenti sebelum kusuruh.”

Si nomor 25 mulai menggesek biolanya, memainkan sebuah lagu menyayat, lagu yang pasti kita kenal karena diputar setiap hari di kelas kita! Lagu yang pertama kali disadari dan ditulis di diary ini oleh Mova.

Gadis itu memainkannya sampai bel pulang berbunyi. Di akhir hari, setelah mendengar lagu terkutuk tersebut seharian, terus terngiang satu hal di kepalaku, ‘aku jadi ingin mati’.

(Frieska Anastasia Laksani)

”Hei, mana janjimu untuk menceritakan soal aku?”

Oh iya, Gabe. Maaf aku lupa. Baiklah, ini dia. Tahan nafas ya...

Sepulang sekolah kemarin, kuajak Gaby ke rumahku untuk menginap sekalian mengerjakan PR yang diberikan tadi pada jam pelajaran terakhir. Rumahku sepi, kedua orang tuaku sedang liburan, sedang kan Leo, adikku, masih belum pulang.

”Ayo minum...” kuberikan segelas jeruk dingin pada Gaby, saat itu kami sedang di ruang tengah, tiduran di karpet sambil nonton TV.  

”Wuih... segar tuh, sesegar susu kamu” kata Gaby sambil meremas payudaraku.

”Auw! Gabe, emang menurutmu susuku montok ya?” aku bertanya.

”Ya iyalah. Coba nih bandingin sama punyaku, gedean siapa?” kata Gaby sambil memegang payudaranya yang masih tertutup BH dan baju seragam.

”Ah, itu karena tetek kamu masih tertutup baju, coba kalo sama-sama terbuka, pasti sama ukurannya.” kusejajarkan payudaraku ke payudaranya seperti Bumi yang satu poros dengan Bulan saat terjadi gerhana.

”Tapi tetep gedean punyamu deh, coba bandingin.” Gaby membuka beberapa kancing seragamnya lalu mengangkat cup BH-nya ke atas hingga payudaranya yang putih dan montok terpampang bebas.

Aku juga membuka kancing seragamku, dan seperti dia, kusingkap juga cup BH-ku hingga payudaraku yang bulat dan montok menggantung bebas.
Lalu kami mendekatkan payudara masing-masing untuk membandingkan. ”Tuh kan, Gabe. Hampir sama, cuma beda sedikit.” kataku.

”Iya yah, tapi puting kamu lebih gede tuh.” kata Gaby sambil mencubit nakal puting susuku.

”Aow, Gabe!” aku kaget, dan dengan reflek memundurkan dada.

”Hihihi, abis puting kamu ngegemesin sih.” Gaby tertawa.

”Awas ya, aku bales nih.” seruku sambil berusaha memegang susu Gaby, namun gadis itu segera membalikkan badan sehingga aku meleset. Gaby lalu meraih tubuhku dari belakang dan langsung meremas payudaraku.

”Auhhh... geli, Gabe.
Lepaskan!” aku memberontak karena kegelian. Namun Gaby semakin erat memelukku dan terus meremas-remas payudaraku. ”Ampun, Gabe. Uhh... geli!” aku terus berontak.

“Tapi enak kan? Hihihi...” Gaby meremas payudaraku semakin keras sambil menggesek-gesekkan payudaranya yang bulat ke punggungku. Dia rupanya merasa nikmat melakukan itu.

”Ahh... bentar-bentar, Gabe.” aku melepaskan diri dari pelukan Gaby. Nafas kami sudah sama-sama memburu. ”Lihat, seragamku jadi kusut nih.” cemberutku sambil membuka baju. Begitu terlepas, payudaraku yang memerah karena diremas-remas olehnya langsung terbuka lebar karena BH yang kukenakan sudah tidak karuan diacak-acak gadis itu. Gaby semakin gemas melihat payudaraku yang bergoyang indah seiring dengan gerakan tubuhku saat membuka baju. Secepat kilat Gaby menyosornya dan nenen di putingnya yang mencuat kemerahan.

”Gabe, auw... apa yang kamu lakukan?!” teriakku kaget setengah mati, sekuat tenaga aku berusaha menjauhkan kepalanya, namun Gaby sudah memeluk punggungku erat.

Dia lalu mendorongku hingga terduduk di sofa sambil terus menyedot bulatan payudaraku. Aku semakin tidak berkutik karena tubuhku kini terhimpit olehnya. Gaby semakin leluasa mengemut puting susuku, sambil tangannya kembali meremas-remas kuat.

Beberapa saat kemudian, aku sudah tidak berontak lagi, malah kini kedua tanganku membelai rambutnya mesra sambil kepalaku terdongak dengan mata terpejam. Aku hanyut oleh jilatan dan remasan Gaby.

Ughh, gila kamu, Gabe!

Setelah puas bermain dengan payudaraku, Gaby kemudian menaikkan badannya dan menyodorkan payudaranya yang sedari tadi tergantung bebas ke mulutku. Tahu apa yang ia inginkan, dengan perlahan aku memegang payudaranya yang sebelah kanan dan menggelitik putingnya dengan lidahku.

”Ahh...” Gaby langsung mendesah sambil lebih menekankan payudaranya ke mulutku. Kepalanya terdongak dan matanya terpejam menikmati jilatan lidahku yang semakin nakal menggelitik putingnya. Dengan gemas kusedot-sedot payudaranya kuat-kuat sementara tanganku mulai mengelus-elus paha mulusnya, lalu naik ke pinggang, dan berakhir dengan meremas-remas bokong Gaby yang bulat seperti pantat bebek.

”Ohh... Fries!” desah Gaby tak karuan. Nafsunya tampak semakin bergejolak, ditekannya belakang kepalaku agar mulutku lebih menempel pada bukit payudaranya. Aku yang juga mulai bernafsu, menarik celana dalamnya sampai ke paha, lalu kuelus vaginanya yang berbulu halus dan sudah basah kuyup dari arah belakang. Dalam posisi agak menungging, vagina Gaby nampak menggembung indah. Dengan lembut kucubit bibir vaginanya lalu kurapatkan dengan mengurutnya ke atas dan ke bawah pelan-pelan.

“Aaahhhh...” Gaby mendesah panjang ketika kucubit klitorisnya. Dia semakin erat memelukku, sementara pinggulnya bergerak liar mengikuti irama jariku yang semakin cepat menggesek vaginanya dari atas ke bawah.

Sambil terus mengurut, kurasakan vagina Gaby berdenyut semakin kuat, cairan vaginanya mengalir banyak sekali, bahkan sampai menetes membasahi sofa. Mata Gaby terpejam rapat, sementara tubuhnya mengejang hebat ketika kurasakan cairan hangat menyemprot deras dari dalam liang rahimnya.

“Aaahhhhh…” jeritan panjang Gaby mengantarnya pada orgasme yang panjang dan nikmat.

Kuhentikan aktifitasku karena tahu Gaby sudah orgasme. Kupandangi dia yang masih terengah-engah dengan mulut terbuka lebar dan mata masih terpejam rapat, terlihat begitu meresapi kenikmatan yang baru melanda tubuh mulusnya.

Suasana hening beberapa saat.

”Auw, geli, Fries!” jerit Gaby saat kusentil klitorisnya yang menjadi sangat sensitif. dia memegang kedua pipiku lalu mengecup bibirku mesra. Kami berciuman beberapa saat sebelum tiba-tiba...

Pintu depan terbuka!

Leo, adikku yang baru pulang dari sekolah, nyelonong masuk. ”Ehh... uhh.. hhh...” kami kaget setengah mati, buru-buru kurapikan pakaianku.

”Leo! Kalo masuk tuh ketok pintu!” aku membentak. Leo tidak menjawab, tampak  terpaku dengan pemandangan indah yang ada di depannya. ”Sini kamu!” kumenghampiri Leo lalu kujewer kupingnya.

”A-ampun, Kak. M-maaf, Leo nggak sengaja!” Leo merintih menahan sakit di telinganya.

”Awas kalo bilang-bilang mama sama papa!” aku mengancam.

“E-enggak, Kak. Janji!” kata Leo.

”Dah sana!” kusuruh Leo pergi.

Sementara itu, Gaby sudah selesai merapikan pakaiannya kembali. ”Eh, Fries, adek kamu cakep juga ya!” bisiknya genit.

”Kamu mau? Ambil aja, gratis kok. Hihihi...” kataku tersenyum. Aku dan Gaby tidak pernah tahu kalau Leo ternyata sudah pulang dari tadi. Tanpa kami sadari, dia sudah merekam semua tingkah laku kami sejak awal menggunakan hape yang dimasukkan lewat celah jendela…

***

Leo sedang menonton hasil rekamannya tadi siang ketika aku memanggilnya. ”Leooo...”

”Iya, Kak, ada apa? Leo di kamar.” sahut Leo sambil buru-buru menutup laptopnya karena tanpa ketok pintu, aku sudah nyelonong masuk ke kamarnya. Kulihat nafasnya masih ngos-ngosan sambil tangannya mengelus-elus tititnya dari luar celana.

”Hayo, kamu nonton bokep yah? Kakak laporin mama.” bentakku.

”Eh, nggak kok. Ini... mm... anuu... mm... nggak!” jawab Leo gugup.

”Sini, coba kakak lihat.” kurebut laptopnya, lalu membukanya sambil telungkup di kasur. Kubiarkan Leo memandangi bulatan bokongku yang cuma kututup dengan celana pendek ketat.

“Jangan, Kak...” kata Leo lirih saat kubuka rekaman adeganku dengan Gaby yang sudah di save di laptop.

“Leo! Ini kan kakak sama Gaby tadi siang.” aku berteriak kaget.

”Iya, Kak, maaf...” Leo tertunduk.

”Ooo... kakak ngerti sekarang, kamu naksir sama Gaby ya?” godaku sambil terus melihat rekaman tersebut. Timbul niatku untuk iseng pada Leo.

“Emm... anu, Kak... aku...” jawab Leo bingung.

”Udah, nggak usah malu-malu, ini buktinya. Sini, coba duduk sini, deket kakak.” aku bangkit dan duduk bersandar di tepi tempat tidur. Leo dengan agak takut mengikuti dan duduk di sampingku.

Sebenarnya aku dan Leo adalah saudara tiri. Orang tua kami baru saja menikah. Aku adalah anak dari mama, sedangkan Leo adalah anak dari papa. ”Kamu sebenarnya pengen ngintip kakak atau Gaby?” tanyaku sambil merangkul pundaknya.

”Mmm… tidak, kak... itu…” jawab Leo makin bingung dan takut.

”Sekarang jawab dengan jujur, diantara kakak dan Gaby, tubuh siapa yang paling mulus?” tanyaku sambil meluruskan kaki. Kupamerkan pahaku yang putih mulus di depan matanya.

”Mmm... s-sama-sama putih, Kak. Cuman mulus tidaknya Leo nggak tau karena Leo belum pernah menyentuh semua.” jawab Leo.

”Sekarang coba elus paha kakak.” kataku sambil kutuntun tangan Leo menyusuri kulit pahaku.

”Ughh.. mulus dan licin sekali, Kak.” kata Leo gemeteran.

”Benarkah? Elus lagi yang bener.” kutekuk salah satu kakiku. Bulu-bulu halus di pahaku langsung meremang berdiri karena geli saat Leo kembali mengelusnya.

”Iya, Kak, bener-bener halus.” kata Leo ngos-ngosan.

”Sekarang ikut kakak, ada yang mau kakak tunjukkan.” kutarik tangan Leo menuju kamarku.

”Ada apa, Kak?” tanya Leo saat kami berdua sudah berada di dalam.

”Lihat itu,” kutunjuk Gaby yang sedang tidur pulas di atas kasurku dengan posisi telentang dan rok yang terangkat sedikit.

”Eh, itu kan kak Gaby.” kata Leo sambil berusaha menahan degup jantungnya, pemandangan yang ada sungguh sangat mengejutkannya.

”Iya,” kudekati Gaby yang tengah terlelap, lalu aku bersimpuh di sampingnya. Perlahan-lahan kutarik rok Gaby semakin ke atas sampai paha dan celana dalamnya kelihatan. ”Sini!” kusuruh Leo untuk mendekat.

”Kak, nanti kalo kak Gaby bangun gimana?” tanya Leo agak takut.

”Tenang aja, tadi udah kakak kasih obat tidur sedikit, dijamin aman.” kataku lirih sambil mengedipkan satu mata. ”Sekarang kamu elus-elus paha Gaby, lalu bandingin kemulusannya dengan paha kakak.” perintahku.

”Tapi, Kak…“ Leo gugup dan masih takut.

”Udah, sini!” dengan tidak sabar kutuntun tangan Leo untuk mengelus-elus paha Gaby. Tampak tangan Leo agak gemetar. ”Gimana, halus nggak?” bisikku.

”Iya, kak. Halus banget, putih lagi.” bisik Leo sambil semakin bernafsu mengelusi paha Gaby.

“Nah, sekarang bandingin dengan punya kakak.” ganti kutuntun tangan Leo untuk mengelus-elus pahaku. Kubiarkan dia merabanya sampai ke pangkal paha, bahkan hampir mengenai vaginaku.

”Mulus paha kakak.” kata Leo. Sebenarnya dia tidak bisa membedakan paha siapa yang lebih halus karena keduanya sama-sama halus, tapi karena takut sama aku, terpaksa dia bilang pahaku yang lebih mulus.

”Kak, boleh nggak Leo elus-elus paha kak Gaby lagi?” bisik Leo.

Aku mengangguk, lalu Leo segera mengelus paha Gaby dengan penuh nafsu. Diresapinya tiap jengkal kemulusan paha gadis itu. Aku senang dan geli melihat ekspresi wajahnya yang lugu namun penuh nafsu dan sangat mupeng itu.

Ternyata Leo tidak cuma mengelus paha Gaby, namun dia juga mengelus vagina Gaby dari luar celana dalamnya. Diusapnya celana dalam Gaby  sehingga kini garis vagina Gaby tercetak dari luar celana dalamnya. Pemandangan tersebut membuat jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Aku membayangkan seandainya yang dielus Leo adalah celana dalamku sendiri. Kutempelkan dengan erat payudaraku yang merinding ke ranjang, sedangkan dudukku menjadi gelisah karena vaginaku tiba-tiba berdenyut kencang.

”Leo, mau nggak lihat memek kak Gaby.” bisikku sambil merangkul Leo sehingga payudaraku menempel ketat di lengan bocah itu.

”Mmm... e-emang boleh, kak?” bisik Leo gugup hampir tak percaya. Tanpa menjawab, kuraih tepi celana dalam Gaby lalu menariknya ke samping.

Cleguks! Leo menelan ludah melihat vagina Gaby yang montok tapi rapat dan berbulu hitam halus jarang-jarang.

”Emm…” tiba-tiba Gaby menggeliat.

Aku dan Leo kaget bukan kepalang dan refleks kami tiarap di lantai. Jantungku berdetak kencang. Selain karena kaget, juga karena nafsu yang sudah sangat tinggi.

Setelah beberapa saat, kuintip kasur dengan pelan. Posisi tidur Gaby kini miring ke samping, membelakangiku. ”Ayo kita keluar.” bisikku pada Leo.

“Tapi, kak… Leo masih pengen…” rengek Leo pelan.

”Pengen apa? Udah, ayo keluar!” bisikku agak keras lalu menarik tangannya keluar kamar. Kami menuju ke kamar Leo.

”Kamu masih pengen apa, adikku nakal?” kataku sesampainya di dalam sambil mencubit kedua pipi Leo gemas.

”Mmm... Leo pengen pegang... mmm... pegang m-memek kak Gaby.” kata Leo malu-malu.

”Ooo… adikku mulai nakal yah.” ganti kucubit hidungnya. ”Gimana kalo pegang memek kakak aja?” kataku genit menggoda.

”Emang boleh, kak?” jawab Leo dengan semangat dan mata berbinar.

”Untuk adikku nakal, apa sih yang nggak?” kataku, lalu kutuntun tangannya masuk ke dalam celana untuk mengelusi pahaku beberapa saat, dan sesaat kemudian kutempelkan tangan Leo ke vaginaku yang masih tertutup celana dalam. Nafas kami berdua menjadi berat.

”Empuk banget, kak, hangat lagi.” bisik Leo sambil ngos-ngosan.

”Ehh…” aku melenguh sambil terus menuntun tangan Leo mengelus-elus vaginaku makin keras. ”Leo pengen lihat memek kakak nggak?” kataku yang sudah dilanda nafsu membara.

”I-iya, Kak.” jawab Leo gemetar.

”Lepas celana kakak.” kataku sambil membuka paha lebar-lebar.

Leo lalu jongkok di depanku. Dengan tangan gemetar, ditariknya celana pendek sekaligus celana dalamku sampai ke lutut. Sedetik kemudian, kulihat jantung Leo seperti berhenti berdetak. Matanya nanar menatap vaginaku yang terpampang jelas tepat di depan matanya.

”Elus dong, Leo...” kataku dengan suara berat.

Agak kaget, Leo tersadar dari keterkejutannya. Pelan dan gemetar, dielusnya vaginaku yang sudah sangat basah itu. ”Aahhh…” desahku lemas tersandar di tembok.

Leo semakin liar mengelus vaginaku. ”Ahh... ahh...” desahanku terdengar semakin keras. Kumajukan pinggulku sehingga seluruh vaginaku yang sudah basah belepotan lendir bening, teraba semua oleh telapak tangannya. Kuremas kepala Leo saat kurasakan elusan tangannya semakin kencang dan liar disertai remasan-remasan gemas yang menghanyutkan. Nafas kami berdua sudah sama-sama memburu.

”Ahhh... ehh... aahhh…” aku melenguh keras dan panjang. Tubuhku bergetar hebat. Seluruh tulangku bergetar dengan pinggul menyentak berulang-ulang saat cairan orgasmeku memancar keluar. Lalu aku diam kaku beberapa saat.
Tubuhku lemas seperti tak bertulang, sandaranku di tembok merosot ke bawah sampai aku terduduk lemas di lantai.

”Kak?” panggil Leo.

Saat kubuka mata, kulihat Leo tengah membuka resleuting celananya dan mengeluarkan penisnya yang sudah tegak berdiri lalu mengelus-elusnya pelan. ”Kak, kocokin dong, sakit banget ini!” dia meminta.

Aku mendesah sambil tersenyum manja melihat kelakuannya. Leo memberi isyarat kepadaku agar aku tidak menutup paha, rupanya dia ingin melihat vaginaku sambil onani. Okelah, sesuai permintaannya, kubuka kakiku dan kubiarkan dia menatap vaginaku yang menggembung montok dan berambut tipis.

”Arghh..” erang Leo perlahan sambil mengelus penisnya. Matanya tak berkedip menatap vaginaku yang basah oleh lendir bening. Dengan tangannya yang nganggur, Leo menggeseknya ke atas dan ke bawah, merasakan betapa licin dan hangatnya benda sempit itu.

”Ehh… ” aku mendesah saat Leo menekan klitorisku. Aku agak memundurkan pantatku sedikit, namun geli dan nikmat yang kurasakan membuatku  memajukan pantat lagi, menyongsong jari-jari Leo yang semakin nakal.

Ulahku itu membuat Leo semakin bernafsu sehingga dia mengocok penisnya semakin cepat dan kuat, lalu... “Egghh… Arghhh… ” Leo menggeram sambil memejamkan mata dan mendongak tinggi-tinggi ketika spermanya menyemprot sangat banyak dari lubang penisnya.

”Auw!” pekikku kaget saat sperma Leo menyembur mengenai mata dan hidungku, sebagian ada yang masuk ke mulutku.

”Hhh... hhh... m-maaf, Kak!” kata Leo sambil memeras sisa-sisa spermanya, membiarkan cairan putih yang kental itu menetes di lantai.

Kami lalu tertawa berbarengan sambil terengah-engah. Setelah itu kami segera merapikan pakaian dan mengelap lendir di tubuh masing-masing sebelum melangkah bersama menuju dapur untuk minum.

***

Komentar minggu pertama

Sonya : Terima kasih atas pujiannya, Frieska, tapi nyanyianku tidak sebagus itu ah, dan ya terus terang permainan biola gadis itu memang menakutkan. Ehm, btw, boleh kenal dengan adikmu? Hehehe.

Ochi : -

Fahira : Frieska bodoh! Siapa yang suka cekikikan?

Gaby : Habis ini giliranku, jadi tidak ada komentar dariku. Tapi buat Frieska aja, awas ya, nanti kubalas perbuatanmu!

Haya : Kenapa kalian semua menulis seakan-akan aku itu orang yang menyebalkan…

Imban : Benar kata Haya, sejuta persen benar!!!

Mova : Kukira aku dan Nabilah sudah parah, ternyata ada yang lebih parah. *nunduk hormat buat Frieska dan Gaby*

Nabilah : Kalian mau tau nggak urutan tiga cowok favoritku, ini dia… 1. Radith 2. Micah 3. Frans, kalau Ken? Uh, si bodoh itu mati aja deh.

Frans : Wah, urutan ke-3 ya aku, tapi Nabilah, ditolak cowok itu kan biasa, jadi nyantai aja.

Baddy : -

Rica : Apa kalian tidak suka darah?

Melody : Oh, Rica, berhentilah membicarakan darah sepanjang hari!

Carada : Hahaha, gila kan, kumpulan orang bodoh, kelas bodoh, guru bodoh, semuanya bodoh!

Jhan : Aku melihat kemalangan di nasib kalian.

Frieska : Hentikan ramalan sinting itu, Jhan, atau kupukul burungmu pake penggaris!

Cleopatra : Aku punya sebuah rahasia, aku melihat sesuatu yang salah, aku mendengar sesuatu yang seharusnya aku tidak tahu.

Ken : Kalian gila…

Giovani : Semuanya, bagaimana kalau kita makan bareng di restoran sebelah pos polisi, enak loh.

Rudy : Sonya dan Melody, dasar kalian kurang kerjaan!

Andy : Satu yang kuingat selalu, mulusnya paha Nabilah.

Shania : Haya dan Imban itu baik, kalian salah menilai mereka.

Icha : Buat kalian yang ingin tahu gosip terbaru, hubungi aku di nomor
081XXXXXXXXX

Micah : Buku ini menarik yah, banyak adegan seksnya, hahaha…

Radith : Hei-hei, gue nggak mau ngasih buku ini ke si nomor 25, ogah! Gue
kasih langsung ke Gaby aja ya…

BERSAMBUNG
Author : Hein L. Kreuzz

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar