Senin, 02 Juli 2012

Anak Petani 2


Pada pertengahan bulan Juni, Fauziah dan anaknya datang ke rumah Waluyo. Anak-anak sekolah baru saja beberapa hari memulai libur panjangnya. Arjuna sedang membantu ayahnya dan Mas Joko bekerja di sawah. Menjelang pukul 2, Dewi datang diikuti oleh dua orang perempuan. Arjuna dapat melihat keduanya cantik. Fauziah berkulit putih dan hampir setinggi ayahnya. Dari perawakan dan raut muka, Arjuna dapat melihat bahwa perempuan dewasa itu keturunan Arab. Annisa, anak Fauziah, juga memiliki kulit putih, namun hidungnya tidak semancung hidung ibunya, tapi tetap saja ia terlihat sangat cantik. Postur tubuhnya tidak setinggi Fauziah tapi sepantaran Dewi.

Waluyo yang sedang beristirahat dengan duduk di sawung, lagi asyik merokok sambil bersenda gurau dengan gendaknya, yaitu Mas Joko. Ia terlihat terkejut ketika melihat kedatangan mereka. Arjuna memperhatikan ayahnya yang sekarang sudah berdiri dan menghampiri ketiga orang yang baru datang itu.

“Papaaaaaa…” teriak Annisa tertahan lalu menubruk Waluyo. Waluyo tercengang namun mengelus kepala anaknya sambil matanya memperhatikan Fauziah.

“Mas. Aku bawa Annisa berkunjung ke sini. Ia sudah kangen dengan papanya,” kata Fauziah menjelaskan. Waluyo hanya mengangguk perlahan. Tak lama kemudian Fauziah meminta untuk bicara empat mata dengan Waluyo lalu mereka bergeser agak jauh hingga pembicaraan mereka tidak dapat terdengar oleh yang lain.

Sementara itu, Annisa langsung menubruk Arjuna dan berkata, “Adiiiiik… Kakak dari dulu pengen punya adik, ternyata sekarang sudah terkabul. Kakak senang bisa ketemu kamu.”

Arjuna tak dapat berkata-kata. Segalanya terjadi begitu cepat. Tentu saja ia tahu bahwa ia punya kakak yang tinggal di Kalimantan. Hanya saja tak pernah disangkanya bahwa mereka akan bertemu. Segala rasa bahagia, haru dan kaget bercampur menjadi satu sehingga Arjuna merasakan kebingungan menghadapi semuanya.

Annisa ternyata cukup bawel. Tanpa melepas pelukannya, gadis muda itu nyerocos terus, menceritakan kehidupannya di Kalimantan bersama ibunya. Arjuna hanya mendengarkan tanpa membalas ocehan kakaknya. Namun, di lain pihak, ia mulai merasakan dadanya ditekan oleh kedua payudara kakaknya itu. Terasa oleh Arjuna, kedua toket kakaknya cukup besar dan kenyal, sesuatu yang tak terlihat sebelumnya karena baju longgar yang dipakai gadis itu. Walaupun tidak sebesar melon ibunya, tapi buah dada kakaknya itu cukup membuat si otong milik Arjuna mulai mengeras.

Untung saja akhirnya Annisa melepaskan pelukannya lalu menarik Arjuna untuk duduk di sawung untuk kemudian kembali berceloteh kepada Arjuna. Hari itu bergerak cepat bagi Arjuna. Entah bagaimana, tahu-tahu sudah malam, dan mereka sekeluarga makan malam di rumah Waluyo. Kedatangan mereka merubah keadaan harmonis keluarga Waluyo, karena sekarang Waluyo, Dewi, Joko dan Arjuna tidak bebas lagi mengumbar syahwat di rumah. Namun ada satu kelebihannya, kini ayahnya dan Joko tidur di bale, Fauziah dan anaknya tidur di kamar yang dulunya milik Arjuna, dan Arjuna dengan ibunya tetap tidur di kamar utama. Setidaknya Arjuna dapat menggarap ibunya ketika ibu tirinya dan kakak tirinya itu telah tertidur, pikir Arjuna.

Namun, mendapatkan hubungan seks tidaklah segampang rencananya. Ibunya masih sering uring-uringan dan menolak ajakan Arjuna berhubungan seks. Apalagi ditambah dengan alasan bahwa ada tamu di kamar sebelah. Arjuna menjadi frustasi.

Kehidupan menjadi berubah. Kini Arjuna ditugasi menemani kakaknya sehingga tidak perlu ke sawah. Maka Arjuna mengajak kakaknya jalan-jalan dan bermain sepanjang hari. Rasa rindu punya adik membuat Annisa tidak mau jauh dari Arjuna.
Mereka berdua saling bercerita satu sama lain mengenai kehidupan mereka sehari-hari. Arjuna jadi merasa mempunyai sahabat baru, teman cewek yang baru. Annisa bisa dibilang sangat baik. Berhubung Fauziah adalah orang kaya, maka Annisa mempunyai uang yang tidak sedikit pula. Pada hari ketiga mereka menginap, Annisa meminta adiknya untuk mengantar ke kota kabupaten untuk melihat-lihat keadaan. Di sana, mereka berkunjung ke pasar tradisional, dan Annisa lalu membelikan adiknya macam-macam barang. Mulai dari mainan, baju, celana dan lain sebagainya. Tentu saja yang lain juga dapat, seperti ayah, ibu dan mas Joko, tetapi Arjunalah yang paling banyak dibelikan barang.

Walaupun dalam segi seksual Arjuna merasa merana, tapi di lain pihak Arjuna merasa senang sekali bergaul dengan Annisa berhubung Annisa itu sangat baik lagi royal kepadanya. Arjuna pun merasa senang dengan perhatian kakaknya kepadanya. Annisa sering menggandeng, memeluk bahkan mencium pipi Arjuna ketika mereka berdua.
Annisa tidak tahu, bahwa semakin lama Arjuna menjadi semakin horny karena perlakuannya.

Malamnya, Arjuna setengah memaksa ibunya untuk berhubungan badan. Namun tetap saja ibunya menolak sehingga mereka bertengkar kecil. Mereka bertengkar sambil berbicara perlahan, namun lama kelamaan dari bisikan mereka jadi berbicara sedikit lebih keras dan akhirnya ibunya setengah menghardik lalu berkata, “Ya udah sekali ini saja.
Abis itu kamu harus belajar puasa sampai mereka pulang. Ngerti?!”

Dewi lalu membuka kainnya. Ia telanjang bulat di balik kainnya itu. Arjuna melihat ibunya yang hamil namun tidak merasa muak. Justru Ia bangga karena yang membuat hamil ibunya adalah dia sendiri. Kedua payudara ibunya mulai membengkak perlahan sehingga bertambah besar dibanding keadaanya sebelumnya. Perut ibunya yang sedang hamil bagaikan bukit besar dihiasi dua bukit kecil di atas dan hutan bakau di bawah.

“Jilat dulu biar basah,” bisik ibunya,” terus kamu langsung sodok saja. Ibu capek.”

Maka Arjuna mulai menjilati memek ibunya dengan semangat. Ia menjilati vagina ibunya sampai akhirnya selangkangan ibunya dipenuhi air liurnya dan juga cairan pelumas yang keluar dari organ intim ibunya.

Dewi mulai merintih pelan. Ia berusaha menahan suaranya, namun Arjuna yang kini sudah sangat ahli dalam hal jilat-menjilat puki, membuat birahi Dewi kembali terbangkit. Apalagi cara jilat Arjuna sudah sangat profesional. Lidah Arjuna menyapu sekeliling memeknya dulu, termasuk jembutnya, baru kemudian perlahan menyapu ringan di bibir luar vaginanya. Setelah beberapa lama asyik menjilati bibir luarnya, barulah lidah itu perlahan-lahan betambah tekanannya sehingga akhirnya Arjuna menjilat dengan gaya anjing meminum air. Setelah bibir luar organ intim Dewi sudah kuyup oleh air liur, Arjuna mulai membuka kedua bibir itu dengan kedua tangannya, lalu mencelupkan lidahnya ke bagian dalam vagina ibunya.

Lidah itu mula-mula menyusuri pinggiran lubang vagina Dewi, lalu menyusuri bagian dalam bibir luar memeknya, tanpa menyentuh klitoris. Dewi akhirnya horny berat lalu berbisik, “Jilatin kelentitnya dong…”

Tanpa disuruh untuk kedua kalinya, Arjuna mulai menjilati klitoris ibunya, namun dengan jilatan ringan sehingga bagai menggelitik saja sehingga Dewi akhirnya memegang kepala anaknya lalu menariknya sehingga lidah dan mulut Arjuna bagaikan dibenamkan di selangkangan Dewi.

Arjuna segera menyedot-nyedot kelentit ibunya.
“Auuuuuh! Sssssh…” rintih ibunya. Ia lupa sejenak bahwa seharusnya ia tidak menimbulkan suara keras, namun terlanjur. Karena erangan pertama itu dapat terdengar jelas, baru setelah ia sadar, maka ia menahan suaranya dan berusah merintih dengan pelan saja.

Mulut Arjuna kini dengan buas mengenyot dan menjilati daerah klitoris ibunya. Memek ibunya kini basah kuyup oleh cairan kewanitaan. “Masukin aja…” bisik ibunya memerintah.

Arjuna segera duduk di kaki ibunya, menarik sarungnya keatas sehingga kontolnya terbuka. Ia kemudian mengarahkan kontolnya ke lubang kencing ibunya. Ketika kepala kontolnya menancap di pinggir lingkar permulaan liang senggama ibunya, maka Arjuna mendorong dengan cepat sehingga dalam satu gerakan kontolnya ambles masuk ke dalam vagina ibunya.

Berhubung ibunya sedang hamil, Arjuna tidak bisa menindih ibunya, sehingga semenjak perut ibunya buncit, ia selalu duduk dengan kaki diluruskan di samping kiri kanan tubuh ibunya, lalu mengentot ibunya dengan posisi ini.

Sambil duduk, Arjuna menggoyangkan pantatnya maju mundur. Ibunya juga mulai menyamakan irama ngewe mereka. Terdengar suara klepok klepok selangkangan beradu. Walaupun mereka berusaha tidak menimbulkan suara yang keras, tetap saja dalam keheningan malam, suara selangkangan beradu pelan itu dapat terdengar. Namun mereka berdua tidak memikirkan hal itu.

Dewi menikmati tiap tusukkan kontol anaknya. Ingin rasanya ia memeluk anaknya, namun karena kondisi perut yang sudah buncit maka tidak bisalah ia melakukannya. Arjuna, di lain pihak, juga merasa ada yang kurang dengan posisi ini. Tapi tiada rotan akar pun jadi. Selama kontolnya bisa mencangkul liang senggama ibunya, maka Arjuna merasa cukup puas.

Akhirnya mereka berdua mencapai orgasme. Arjuna kembali memuntahkan spermanya di dalam rahim ibunya. Lalu mereka berdua tertidur.

Keesokan hari, Fauziah mengajak Dewi ke kota kabupaten. Gantian, katanya. Sehingga kini Arjuna dan Annisa hanya berduaan di rumah.

Sepanjang pagi itu tumben-tumbennya Annisa tidak mengoceh dengan bawel seperti biasa. Ia hanya berbicara seperlunya dengan Arjuna. Arjuna berfikir bahwa mungkin kakaknya bete karena tidak diajak oleh ibunya.

Mereka sedang duduk di bale. Belum tengah hari. Annisa tiduran di bale sambil matanya menatap langit-langit bale. Ia tidak berbicara melainkan tampak seperti orang bengong.

“Kak Annisa bete ya ditinggal Mama Fauziah?” tanya Arjuna basa-basi.

Annisa seakan tersadar dari lamunannya. Lalu berkata, “Enggak, kok.”

“Trus kenapa diam aja dari tadi?”

“Soalnya ada sesuatu yang Kakak pikirin…”

“Boleh tahu apa?”

Annisa memandang adiknya beberapa saat lalu berkata, “Dik, kamu kenapa berhubungan seks dengan ibu kamu sendiri?”

Arjuna gelagapan. Rupanya Annisa kemarin menyaksikan ia ngentot dengan ibunya. “Eeee… enggak kok…” jawab Arjuna.

“Alaaaah… Kakak tadi malem kan melihat kamu begituan sama ibu kamu.” Ketika Annisa melihat adiknya menjadi gelagapan dan hanya bisa menjawab dengan menggelengkan kepala, Annisa berkata lagi, “Kemarin malem Kakak dengar kamu bertengkar dengan Mama Dewi, Kakak jadi penasaran. Terus kakak lihat dinding rumah kan enggak tinggi, jadi kakak manjat ke situ untuk lihat. Abis ga ada hiburan di rumah ini. TV aja ga ada. Maka Kakak lalu penasaran mendengar kalian bertengkar sambil bisik-bisik. Ketika kakak sudah di atas dan mengintip kalian. Itu saat Mama Dewi membuka kain, lalu kamu ciumin itunya Mama Dewi. Kamu ga jijik apa?”

Arjuna menggeleng.

“Aneh. Abis jilatin Mama Dewi terus kamu masukkin itu kamu ke dalam itunya Mama Dewi. Itu namanya berhubungan seksual, Dik. Dan seharusnya kamu hanya boleh begituan sama isteri yang sah. Ga boleh kalau belum nikah. Apalagi kamu begituin ibu kamu sendiri.
Kenapa kamu berdua bisa melakukan itu sih?”

Arjuna masih gelagapan.
Akhirnya berkata, “So… soalnya enak, kak…”

”Oh ya?”

“Iya, enak banget, Kak.
Arjuna jadi kecanduan.”

“Mama Dewi juga membiarkan kamu begitu. Itu salah. Apalagi dia sedang mengandung adik kamu. Sebelumnya kalian bertengkar karena Mama Dewi menolak, kan? Mungkin karena terlalu sayang akhirnya ngalah sama kamu.”

“Tapi, Kak. Itu bukan adik Arjuna…”

“Maksud kamu?”

“Yang dikandung ibu, itu adalah anak Arjuna.
Kami sudah setengah tahun ini melakukannya. Ibu menolak karena ada Kakak dan Mama Fauziah di sebelah kamar. Kalau kalian ga ada, pasti ibu ga akan nolak,” kata Arjuna berbohong sedikit. Karena ibunya menolak bukan hanya karena ada tamu, melainkan karena bawaan orok pula.

“Kok gitu? Jadi Mama Dewi mau digituin kamu? Anaknya sendiri?”

“Ya iya lah. Kalau dianya ga mau, udah dari dulu Arjuna diusir, kali. Ibu mau, karena ibu juga menikmati. Soalnya enak banget rasanya. Emangnya Kakak belum pernah begituan?”

“Ya belum, donk. Aku kan masih perawan. Tapi kata temanku yang udah, emang enak rasanya.”

“Teman kakak ga bohong. Enak banget. Apalagi kalau sama keluarga sendiri, nikmatnya bertambah dua kali lipat.”

Annisa terdiam.

“Kakak mau coba?”

“Hush! Ga boleh sama keluarga begituannya.
Harus sama orang lain.”

“Maksudnya Kakak, siapa aja boleh, asal bukan keluarga?”

“Bukan begitu, Dik. Yang Kakak maksud, orang yang kita cintai. Pasangan kita yang sudah sah. Udah nikah.”

“Begini, Kak. Arjuna setuju. Harus orang yang kita cintai dan sayangi. Nah, Ibu dan Arjuna kan saling menyayangi dan mencintai. Kenapa ga boleh? Bahkan, bila nanti Arjuna menikah, rasa sayang kepada ibu ga akan hilang. Mungkin lebih besar dibanding sayang kepada isteri. Coba pikir…”

Annisa terdiam.

“Gini aja deh. Kakak lebih baik coba sendiri deh…”

“Maksud kamu?”

“Biar kakak tahu enaknya. Jadi kakak nanti ga akan mengatakan lagi bahwa ga boleh berhubungan seks dengan keluarga. Soalnya kalo dicoba pasti deh ga akan nolak lagi, kayak Ibu Arjuna.”

“Cobain sama siapa?”

“Ya sama Jun lah…”

“Ih… Ga mau! Kakak mau tetap perawan sebelum menikah.”

“Kalau soal itu sih gampang. Kita ga usah melakukan hubungan dengan organ intim.”

“Maksudnya?”

“Gimana kalau Jun jilatin itunya Kakak aja. Toh kakak akan tetap perawan. Gimana?”

“Ga mau!”

“Cobain dulu deh. Nanti kalau ga suka, Arjuna ga akan minta lagi. Apa Kakak ga penasaran rasanya gimana?”

Annisa terdiam lagi. Ia merasakan memeknya mulai basah membicarakan masalah seks dengan adiknya.
Annisa memang punya pacar, tapi hubungannya hanya sejauh ciuman saja. Bagaimana ya, rasanya dicium di bagian memek?

Arjuna terus membujuk kakaknya dan menjanjikan kenikmatan yang tak pernah Annisa rasakan. Annisa berusaha menolak, namun lama kelamaan ia jadi terdiam malu, karena ia merasa kok mulai bernafsu dan ingin juga mengetahui rasanya dijilat kemaluannya.

Annisa kini terdiam. Arjuna yang masih membujuk-bujuk melihat perubahan itu. Apakah kakaknya mulai horny dan penasaran? Arjuna melihat Annisa yang memakai daster anak muda dengan rok yang di atas lutut tampak seksi.

“Gimana, Kak?” tanya Arjuna, kali ini menaruh tangannya di atas paha kakaknya yang tertutup rok daster.

“Ah… kamu gila…” Kata Annisa perlahan. Namun tidak ada nada marah di suaranya.

“Enak lo, kak,” kata Arjuna sambil kini mengelus paha kakaknya. Tidak ada perlawanan. Arjuna perlahan menyelusupkan tangganya ke bawah rok kakaknya lalu mengelus langsung paha putih kakaknya itu.

Annisa memasang tampang cemberut. Keningnya berkerut. Namun di mata Arjuna, kakaknya jadi seksi sekali. Arjuna merebahkan diri disamping kakaknya. Wajahnya hampir sejajar dengan wajah kakaknya. Dengan gerakan ini, rok kakaknya menjadi tersingkap.

“Mau ngapain?” tanya Annisa.

“Pemanasan dulu, biar enaknya lebih terasa.”

Arjuna mencium bibir Annisa. Sementara tangannya sudah memegang selangkangan kakaknya yang masih terbalut CD. Merasakan sentuhan adiknya itu Annisa membuka mulutnya untuk mendesah. Ia sudah mulai horny, apalagi ketika pahanya dielus-elus adiknya. Memeknya jadi geli. Sekarang memeknya yang diusap-usap membuat seluruh tubuh Annisa merinding jadinya.

Mulut Annisa yang membuka ketika dicium membuka kesempatan untuk lidah Arjuna masuk. Annisa dapat merasakan lidah hangat adiknya menerobos mulutnya. Annisa menjadi bernafsu juga. Ia mendekap kepala adiknya dengan kedua tangannya, lalu membalas lidah adiknya itu.

Kini mereka secara buas berciuman. Saling mengecup, menyedot dan mencium bibir, sementara lidah mereka terkadang berkelahi saling menempelkan liur ke lawannya. Tak lama bibir mereka sudah dilapisi cairan campuran liur mereka berdua. Suara orang cipokan terdengar berkali-kali ditingkahi suara desahan seorang gadis dan seorang remaja lelaki.
Tangan Jun kini bukan hanya mengelus-ngelus selangkangan kakaknya. Tetapi sudah menyelusup masuk, membelai sepanjang jembut tipis lalu mulai menggosok pelan bibir memek kakaknya. Memang enak. Baru dielus-elus saja enak, pikir Annisa.

“Enak, nggak?” tanya Arjuna di sela-sela kesibukannya menciumi bibir kakaknya.

“Banget,” kata kakaknya lalu meneruskan acara ciuman mereka.

Jari-jemari Arjuna kini mulai mengusap-usap klitoris kakaknya. Annisa melenguh lalu melepaskan ciuman dan mendongakkan kepalanya ketika merasakan kelentitnya digosok-gosok. Arjuna melihat leher putih kakaknya terbuka, langsung ia mengenyot leher itu. Annisa tak pernah merasakan nikmatnya birahi, kini lehernya disedot sementara memeknya dikobel-kobel, sehingga Annisa bagaikan mabuk berat oleh kenikmatan, tubuhnya menggelinjang karena birahi dicampur geli dan rasa seperti disetrum listrik di kemaluannya, namun setrum yang ini hanya mengakibatkan rasa kejut-kejut enak.

Tiba-tiba Arjuna melepaskan mulutnya dari leher kakaknya dan meninggalkan bekas cupangan merah gelap, lalu ia bersimpuh di bawah kaki kakaknya yang ngengkang. Disingkapnya rok kakaknya sampai kepinggang, lalu ia memelorotkan CD kakaknya sehingga hanya melingkari sebelah kaki kakaknya. Lalu kepalanya terjun ke selangkangan kakaknya itu.

Annisa melihat dengan harap-harap cemas gerakan adiknya. Ketika mulut adiknya menyentuh kemaluannya, Annisa merintih keras. Lidah itu begitu liar berdansa di kemaluannya. Menyusup di celah-celah dan menyusuri organ intimnya itu dengan begitu bernafsu, menjelajahi tiap jengkal memeknya yang sudah basah oleh cairan pelumas.

Arjuna dapat mencium bau tubuh kakaknya yang berbeda dengan ibunya. Bau tubuh kakaknya tidak setajam ibunya, melainkan bau yang menusuk hidung secara perlahan namun lama-kelamaan menguasai indera penciumannya itu. Bau memek kakaknya ternyata walaupun berbeda dengan ibunya, tapi juga membuat Arjuna mabuk kepayang.

Disedotinya klitoris kakaknya. Annisa kini menjadi liar. Ia mendekap kepala adiknya, lalu mendekapkan kepala itu ke selangkangannya, sementara, pantat Annisa kini maju mundur secara cepat dalam gerakan ngentot yang liar. Annisa kini mengentoti muka adiknya dengan kalap.

“Diiiiik… Diiiiilkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk… Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaargh…”

Arjuna merasakan memek kakaknya seakan banjir oleh cairan hangat. Nafsunya sudah sampai ubun-ubun sehingga buta akan segalanya, ia segera beringsut duduk, menaruh kontolnya di lubang kakaknya, lalu menghujamkan kontolnya dalam-dalam sekuat tenaga sehingga dalam gerakan yang cepat dan kuat kontolnya ambles ke dalam liang senggama kakaknya.

Annisa sedang mengalami orgasme. Tiba-tiba ia merasakan sakit di memeknya dan tubuh adiknya yang menindihnya. Annisa ingin berontak, tapi orgasmenya sedang berlangsung sehingga ia rasa tanggung sekali. Oleh karena itu, ia hanya bisa memeluk adiknya erat-erat dengan tangan dan juga kaki, untuk menahan rasa sakit itu.

Ketika kontolnya masuk ke dalam memek kakaknya, Arjuna merasakan gencetan dinding kemaluan kakaknya yang amat keras, berhubung masih perawan, dan ia merasakan kontolnya merobek sesuatu, keperawanan kakaknya. Ia telah memperawani kakaknya sendiri! Pikiran ini membuat birahinya yang dipuncak menjadi meledak bagaikan gunung meletus.

Arjuna hanya sempat lima kali mengocok memek kakaknya dan setelah itu ia langsung ejakulasi di dalam kemaluan kakaknya. Arjuna menjadi lemas lalu rebah menindih kakaknya. Ia beringsut turun dari tubuh kakaknya, namun kakaknya yang telah selesai orgasme juga menahan tubuhnya agar tidak bergerak.

“Jangan bergerak, dik. Sakit. Diem dulu.”

Maka mereka bertindihan selama beberapa menit. Kontol Arjuna hanya melemas sedikit, sehingga masih dapat tinggal di dalam memek kakaknya. Arjuna beringsut duduk.

“Jangan dulu, dik,” kakaknya mencegahnya.

“Enggak dikeluarin, kok. Arjuna cuma mau duduk. Kesian kakak ditindih terus.” Setelah duduk, Arjuna mulai mengangkat daster kakaknya. “Buka, kak. Arjuna pengen lihat kakak telanjang.”

Annisa berfikir bahwa sudah tanggung, ia sudah diperawani, maka tidak apa kalau adiknya mau lihat. Maka Annisa membuka dasternya. Annisa kini hanya berbalut BH, dan Arjuna pun minta kakaknya buka. Annisa menurut.

Kini, di hadapan Arjuna kakaknya berbaring telanjang. Teteknya tidak begitu besar, mungkin setengah lebih dibanding tetek ibunya yang sebesar buah kelapa yang diparut. Namun bentuknya beda dengan ibunya. Kalau ibunya berbentuk tetesan air mata, tetek kakaknya hampir bulat sempurna dan padat. Belum menggantung ke bawah. Apalagi pentil kakaknya tampak kecil sekali, bahkan hampir rata dengan lingkaran bagian dasar pentilnya itu yang berwarna coklat kemerahan.

Arjuna segera menaruh tangannya di samping tubuh kakaknya, lalu dengan menopang tubuh menggunakan kedua tangan itu, ia mulai meneteki kakaknya. Annisa sudah pasrah. Ia membiarkan saja adiknya mengenyoti teteknya. Lama kelamaan perasaan geli itu muncul lagi. Dan ia merasa kontol adiknya makin lama juga makin besar.

Lidah adiknya bermain liar di puting kirinya. Annisa merasakan lidah adiknya yang basah menyapu-nyapu diselingi dengan hisapan-hisapan mulut adiknya itu. Badannya terasa geli. Bukan geli yang tidak enak, tetapi geli yang menjalar ke seluruh tubuh yang bermula dari pentilnya itu, yang terasa sangat nikmat. Perlahan ia merasakan memeknya mulai basah sedikit demi sedikit. Annisa merasakan mulut adiknya mulai menjelajah menuju payudara yang sebelah kanan.
Sepanjang jalan, mulut itu sibuk sekali menjilati dan mengenyoti dadanya. Kenyotan adiknya makin lama makin buas, sehingga ketika sampai ke payudara yang sebelah kanan, adiknya seakan binatang yang kelaparan yang sedang asyik menggerogoti mangsanya.

Mulut adiknya terasa menjepit, menyedot dan menjilat dengan keras. Ada sedikit rasa sakit yang Annisa rasakan, namun di lain pihak, ia merasakan kenikmatan yang teramat sangat menguasai tubuhnya sehingga akhirnya ia mendekap kepala adiknya erat-erat.

“Sedot tetek kakak, Jun… sedot terus… mulut kamu pinter amat…”
Pada saat itu, Annisa merasakan adiknya menggoyangkan tubuh sehingga ia dapat merasakan gesekan antara dinding memeknya dengan batang kontol adiknya.
Ada rasa ngilu, namun karena adiknya bergerak perlahan, ada rasa nikmat juga di situ.

“Aaaah…” erang Arjuna, ”Memek kakak sempit banget. Benar-benar enak.” Lalu Arjuna menerjang bibir kakaknya dengan bibirnya. Mereka kembali berciuman dengan penuh nafsu. Lidah mereka saling menari, bersentuhan dan berjilatan. Ludah mereka bercampur menjadi satu sehingga lama kelamaan kedua mulut mereka sudah basah juga oleh campuran liur itu.

Sementara itu, memek Annisa kini sudah banjir oleh cairan kewanitaan dan membasahi kedua selangkangan mereka. Arjuna yang sudah mahir ngentot, mulai mempercepat permainannya. Kontolnya kini bagaikan piston yang mengaduk-ngaduk liang senggama kakaknya.
Annisa perlahan mulai belajar untuk mengikuti irama. Lama kelamaan tarian seks mereka menjadi harmonis. Mereka mendorong dan menarik pada waktu yang bersamaan sehingga kini terdengar irama selangkangan beradu yang teratur.

Bau tubuh gadis muda mulai santer tercium. Memek Annisa mengeluarkan bau tubuh gadis remaja yang khas. Bau tubuh perempuan yang belum dewasa benar, namun bukan juga bau matahari seperti bau anak yang masih bau kencur. Bau ini membuat Arjuna makin horny saja sehingga kini pantatnya mulai menekan kuat-kuat yang menyebabkan bunyi plok plok plok suara selangkangan beradu semakin keras terdengar.

Kini Arjuna sudah tidak memikirkan apa-apa lagi selain seks. Tubuhnya kini seratus persen menindih kakaknya. Kedua tangannya memegang kepala kakaknya menahan laju tubuh perempuan itu ketika ia menyodok kuat-kuat.

Annisa baru kali ini merasakan dientot. Yang pertama kali tadi adiknya hanya mengentotinya sebentar, kini barulah Annisa merasakan enaknya dientot lelaki. Walaupun perasaan perih itu masih ada, namun ia begitu menikmati hujaman demi hujaman penis adiknya yang seakan mengocoki memeknya yang basah.

Kedua tubuh mereka kini sudah mandi keringat. Keringat mereka berpadu, seperti halnya mereka yang sedang menjadi satu tubuh. Mereka bersatu pada bagian kelamin dan pada bagian mulut, dan tubuh mereka menempel tanpa ada penghalang. Tidak ada jarak di antara mereka lagi. Mereka kini bagaikan suatu unit yang menyatu. Yang memiliki irama dalam berciuman dan bersenggama yang serasi.

Sampai akhirnya mereka mencapai klimaks. Arjuna menghujamkan penisnya sekuat tenaga ketika ia merasakan kakaknya merangkul erat dirinya. Dinding kemaluan kakaknya bergetar tanda orgasme dan pada saat itu pula Arjuna mencapai klimaksnya juga. Hujaman Arjuna yang keras itu membuat ujung kontolnya masuk ke dalam rahim melampaui dinding memek Kakaknya itu. Kepala kontolnya masuk ke rahim kakaknya lebih jauh daripada ketika memasuki rahim ibunya dikarenakan kakaknya itu lebih pendek dari ibunya.

Annisa yang sedang orgasme merasakan kontol adiknya menembus liang senggamanya dan kepala kontol adiknya itu memasuki rahimnya.
Dengan terkejut, Annisa merasakan orgasmenya seakan bertambah jadi ketika hal itu terjadi.

“Arjunaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…” teriak Annisa. Ia merasakan kontol adiknya yang besar itu berdenyut-denyut dan setelah itu Arjuna lemas sambil masih menindih kakaknya.

“Aaaaaaaaaaahhhhhhhhh… enak banget bisa ngetot sama kakak yang cantik…”

Lalu untuk beberapa saat mereka berdua lemas dengan Arjuna masih mendindih kakaknya.

***

Hubungan antara Annisa dan Arjuna mulai saat itu berubah. Mereka seperti dua orang kekasih yang saling mencintai. Berhubung Arjuna belum pernah punya pacar, sementara Annisa juga walaupun punya pacar di Kalimantan, namun itu hanyalah cinta monyet dan hubungan antara dia dan pacarnya hanya sebatas pegangan tangan dan ciuman.

Dengan Arjuna, walaupun anak laki-laki itu lebih muda darinya, namun Arjuna termasuk anak yang enak diajak bicara dan curhat, selain itu dialah lelaki yang memperawaninya. Pengalaman seks pertama Annisa menjadikan Arjuna seakan-akan pusat dunia bagi Annisa. Namun tidak bisa dikatakan begitu dengan Arjuna, cinta pertama Arjuna adalah ibunya. Di lain pihak, kalau dipikir-pikir, Annisa juga dicintai oleh Arjuna, namun mungkin bisa dibilang Annisa lebih seperti isteri muda Arjuna. Annisa lebih muda, lebih gurih, vaginanya sempit dan tubuhnya masih kencang. Arjuna bisa dikatakan sangat menikmati menyetubuhi kakaknya itu, namun cinta pertamanya adalah ibunya.

Annisa mengkonfrontir Arjuna sehari setelah hubungan seksual mereka. Saat itu, kedua ibu mereka sedang ada di rumah dan sedang ngobrol. Arjuna yang sedang dimabuk kepayang oleh tubuh kakaknya, mengajak kakaknya untuk berjalan-jalan. Tepat di belakang rumah Waluyo, ada sungai kecil di kelilingi pepohonan yang rimbun memanjang di pinggir sungai itu. Bila ada orang yang berjalan-jalan di sana, lalu memasuki daerah pepohonan itu, maka orang itu tak akan terlihat lagi. Tempat ini bagus sekali untuk mojok, pikir Arjuna. Arjuna membawa tikar dan termos air, sementara Annisa membawa rantang, berhubung mereka berencana untuk piknik.

Dewi dan Fauziah semenjak bertemu sudah seperti kawan lama saja. Mereka sangat cocok satu sama lain. Sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk membiarkan anak-anak piknik berdua, sementara mereka berencana untuk ngobrol dan bercerita mengenai kehidupan masing-masing.

Arjuna mengajak kakaknya untuk berpiknik di tempat favoritnya. Tempat itu agak jauh dari rumah, di tempat dimana pepohonan rimbun membentuk lingkaran, sehingga ditengahnya ada celah. Tempat ini sukar ditemui karena dipinggir sungai banyak sekali bebatuan, dan dari arah rumah tersembunyi oleh pepohonan yang lebat.

Mereka memasang tikar, sesekali Arjuna memperhatikan kakaknya. Annisa memakai baju you can see, alias baju kaos lengan buntung dan rok selutut. Sungguh dandanan ABG yang seksi. Setelah tikar selesai dipasang mereka duduk, Arjuna bertanya, “Kakak mau makan dulu?”

“Emangnya kamu mau ngapain?”

Arjuna nyengir, lalu tiba-tiba menerkam kakaknya sehingga mereka bertindihan di atas tikar. Mulut mereka otomatis saling mencari. Dengan rakusnya kedua mulut remaja itu saling melahap bagaikan orang kelaparan. Lidah mereka saling menjilat dengan liar dan nafas mereka mulai memburu.

Arjuna berkata, “Kakak belum mandi, kan? Seperti yang Arjuna minta tadi malam.”

“Baru gosok gigi aja, Jun…”

Lalu Arjuna kembali menciumi bibir basah kakaknya. Sebenarnya tidak perlu Arjuna bertanya, karena dalam kedekatan seperti ini, Arjuna dapat mencium bau tubuh kakaknya perlahan menyapa hidungnya.

“Coba Jun cium keteknya…” Arjuna mementangkan kedua tangan Annisa. Ketek itu dihiasi bulu-bulu halus dan jarang yang sedikit basah, berhubung mereka baru saja berjalan dari rumah ke situ, sementara cuaca panas. Keringat kecil membasahi dahi Annisa berbentuk butiran-butiran air, bibir atas kakaknya itu pun berkeringat. Sungguh pemandangan indah melihat kakaknya pasrah ia tindih.

Annisa merasa ketika hidung adiknya menyentuh keteknya dan ia merasa geli. “Idih, Arjuna! Ketek kok dicium?! Kan bau asem…”

“Ketek Kakak baunya harum bagi Arjuna.”

Hidung Arjuna menekan-nekan ketek Annisa. Annisa merasa geli, apalagi hidung adiknya itu mulai menggeseki ketiaknya. Dapat Annisa rasakan hembusan angin ketika adiknya mengeluarkan nafas dan juga ketika Arjuna menarik nafasnya, mencoba memahami dan mengingat baut tubuhnya.

Kejutan dialami Annisa ketika Adiknya mulai menjilati keteknya. Serta merta Annisa merasa lemas karena geli dan enak akibat sapuan lidah adiknya itu.
Arjuna menghirupi aroma tubuh kakaknya lalu mulai menjilat keteknya. Sedikit masam, namun gurih banget di mulutnya. Arjuna mulai mengenyoti bulu-bulu halus di ketek kakaknya itu. Lidahnya ditekannya ketika menjilat seperti anjing yang sedan minum air. Naik turun ketek kiri kakaknya itu dibasahi dengan air liur Arjuna. Setelah beberapa lama, giliran yang kanan kembali diciumi, disedot dan dijilatinya. Arjuna menjadi bertambah horny. Setiap jengkal ketek Annisa dijelajahi mulut dan lidahnya.
Bau tubuh Annisa yang kini mulai keringatan mulai terkuar dan memasuki hidung Arjuna. Arjuna mulai menekan selangkanganya ke selangkangan kakaknya.

“Buka dulu…” perintah kakaknya. Sehingga kini dengan gerakan cepat Arjuna duduk, membuka kaos dan celananya, sementara Annisa mulai membuka bajunya dan roknya.

“Langsung masukin, dek… Dari pagi kakak udah ga tahan ngebayangin kontol kamu…” Annisa memegang penis adiknya lalu diarahkan tepat ke lubang senggamanya sementara ia ngengkang. Arjuna segera menghujamkan kontolnya ketika dirasakannya pala kontolnya berhenti di lubang kencing kakaknya.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh…” Keduanya mengerang keras ketika kedua kemaluan mereka bergabung. Mereka merasakan begitu nikmat ketika kontol Arjuna memasuki memek Annisa yang sudah basah dan batang kontol itu menggesek dinding vaginanya sepanjang lubang kencing Annisa itu hingga akhirnya kedua selangkangan mereka beradu.

Annisa memeluk adiknya erat-erat. Kedua kakinya menjepit bawah pantat adiknya. “Kocok yang keras…” kata Annisa yang mulai gemetar karena menunggu dientot sudah dari pagi, sehingga kini karena puncak nafsu itu begitu hebatnya, Annisa bagaikan gunung yang siap meletus yang diawali dengan gempa. Seluruh badan Annisa serasa ngilu. Ia butuh dientot dengan keras.

Sambil memeluk kakaknya dengan kedua telapak tangan ditaruh di kedua pipi kakaknya itu, Arjuna mulai memaju mundurkan pantatnya dengan kuat. “Yeeeahhh… lebih keras lagi, sayang… adekku sayang… hajar selangkangan kakak keras-keras… Kakak udah horny banget nih…”

Dengan sekuatnya Arjuna mulai mengentoti kakaknya. Selangkangan mereka beradu keras sehingga terdengar bunyi benturan selangkangan dengan keras. Sambil tetap memegang pipi kakaknya, Arjuna mengeluarkan lidahnya dan menjilati bibir Annisa yang setengah terbuka.

Annisa yang cepat tanggap mengeluarkan lidahnya juga dan membalas jilatan adiknya. Dengan kedua kepala yang miring, bagian atas lidah mereka saling menempel dan saling menjilat menukar air liur. Mereka bergantian saling menyedot lidah satu-sama lain. Ludah mereka bercampur menjadi satu.

Arjuna menikmati lidah kakaknya yang kecil namun terasa seret dan basah. Disedotinya lidah kakaknya itu sementara pantatnya bergoyang maju mundur dengan kuat. Annisa mendekap adiknya erat-erat. Permainan lidah adiknya sungguh nikmat. Permainan yang menambah seru hujaman demi hujaman kontol adiknya di dalam memeknya.

“Minum ludah Arjuna, kak…”

Arjuna lalu melepaskan ciumannya. Ia mengumpulkan air liurnya di mulutnya lalu mulai meludah perlahan ke mulut kakaknya. Annisa membuka mulutnya. Air liur adiknya yang putih dan sedikit berbusa itu perlahan mengalir ke dalam mulutnya dan jatuh di lidahnya. Ketika Arjuna merasa ludahnya akan habis, ia segera menggerus lehernya, sama seperti ketika orang sedang ingin buang dahak, dirasakannya dahaknya walaupun sedikit keluar, lalu ditumpahkannya ke mulut kakaknya.

“Minum ludah dan dahak Arjuna dong…”

Annisa merasakan perbuatan ini sebenarnya jorok, tetapi anehnya kejorokan ini menambahkan suatu sensasi nikmat. Bukankah mereka kakak beradik yang sedang berbuat mesum? Bukankah mereka berhubungan yang jorok, kini ditambah menelan ludah dan dahak adiknya, maka benar-benar hubungan mereka adalah sesuatu yang liar, binal namun sangat sensual. Annisa menelan liur adiknya itu.

Arjuna mulai menciumi leher kakaknya. Tubuh kakaknya, sama halnya dengan tubuhnya itu kini mandi keringat. Arjuna menjilati leher kakaknya itu. Keringat yang sedikit asin, namun keringat asin ini dimiliki oleh cewek cantik yang adalah kakaknya. Dan cewek cantik itu kini sedang ia setubuhi!
Lalu Arjuna mulai mencupang leher kakaknya. Annisa merasakan geli dan linu di sekujur lehernya yang mengakibatkan ia bertambah horny. Annisa lalu menggulingkan tubuhnya. Dengan posisi Woman On Top, ia setengah duduk dengan tangan di samping kepala adiknya, dan mulai menekan selangkangannya keras-keras seirama dengan hujaman penis adiknya.

“Sekarang kamu telan ludah kakak…” Annisa mengumpulkan ludahnya sambil berusaha mengeluarkan dahak juga dari lehernya, lalu ia mengeluarkan ludahnya perlahan sehingga jatuh berbentuk garis lurus tepat di mulut adiknya. Arjuna membuka mulutnya dan merasakan ludah bercampur dahak kakaknya masuk menerpa lidahnya. Rasanya bagaikan busa dan asin namun membuat Arjuna semangat. Setelah menelannya, Arjuna segera memagut bibir kakaknya lagi dan kali ini mereka berciuman lebih buas lagi. Kadang gigi mereka beradu saking serunya menghujamkan mulut pada satu sama lain. Akhirnya mereka berdua mencapai orgasme dalam persenggamaan liar yang cenderung brutal itu.

Kemudian mereka makan siang. Keduanya masih telanjang. Saat itu Annisa mulai bertanya, yang mana yang Arjuna lebih sukai. Ibunya ataukah Annisa. Arjuna terkejut. Ia gelagapan sebentar. Namun akhirnya, Annisa dapat mengorek dalamnya hati Arjuna. Akhirnya Annisa menerima bahwa cinta pertama Arjuna adalah ibunya, baru kemudian Annisa. Annisa pertama-tama sedikit kecewa, namun ia merasakan cinta yang begitu besar kepada adiknya itu. Oleh karenanya akhirnya ia dapat menerima bahwa cinta Arjuna memang sudah terbagi.

Fauziah dan Annisa hanya tinggal enam hari. Namun hari-hari itu Arjuna dan Annisa mengisinya bak pengantin baru. Yang membuat mereka menjadi pasangan yang cocok adalah, mereka kompak dalam berhubungan seks. Ketika salah satu dari mereka ingin seks yang brutal, maka pasangannya mengimbangi. Bila yang satu ingin seks yang romantis yang penuh kelembutan, maka pasangannya pun mengimbangi. Juga, siapapun yang mengajak, maka pasangannya tidak akan menolak.

Arjuna paling suka ketika mereka berhubungan seks di pagi hari. Arjuna dan Annisa beralasan pada orang tua mereka bahwa mereka ingin lari pagi. Maka, jam empat pagi mereka berdua bergegas untuk pergi ke luar rumah. Mereka tidak sepenuhnya berbohong, karena Arjuna dan Annisa benar-benar lari pagi selama setengah jam, lalu mereka menuju tempat favorit mereka di samping sungai yang tertutup oleh pepohonan.

Dengan badan penuh keringat, mereka berdua akan buru-buru melucuti pakaian. Annisa segera tiduran, sementara Arjuna mulai menjilati tubuh kakaknya itu perlahan. Annisa menikmati seks pagi itu. Tubuhnya yang panas dan penuh keringat akan dielus-elus oleh lidah adiknya. Arjuna suka sekali memulai jilatannya pada ketiak kakaknya yang dihiasi bulu ketek yang sedikit, tipis dan keriting. Aroma ketiak kakaknya sungguh harum. Sungguh berbeda bau gadis remaja dengan bau wanita dewasa. Keduanya memiliki aroma yang khas. Arjuna menyukai kedua bau ini.

Lidah Arjuna terasa geli ketika menjilat ketiak kakaknya, bulu-bulu ketek tipis kakaknya akan menggelitik indera pengecapnya itu mengirimkan sinyal geli yang sensual ke seluruh otot Arjuna. Rasa ketek kakaknya yang sedikit asam dan ada sedikit pahit pula menyebabkan Arjuna ketagihan. Annisa biasanya akan segera menyuruh Arjuna pindah tempat bila terlalu lama di keteknya. Maka Arjuna segera menjilat ketek yang satu lagi.

Walaupun udara dingin, namun perbuatan terlarang mereka membuat suasana seakan panas dan keringat mereka masih saja mengalir, walaupun tidak sebanyak bila mereka sedang berolahraga. Bau tubuh kakaknya yang alami dan natural menyebabkan kontol Arjuna menjadi keras bagaikan kayu. Namun Arjuna yang sudah berpengalaman tidak terpengaruh oleh birahinya dan menjadi gelap mata. Arjuna ingin menikmati tiap jilatan yang ia lakukan.

Setelah kedua ketek kakaknya basah oleh campuran liurnya dan keringat kakaknya, Arjuna mulai menjilati leher kakaknya. Jilatan Arjuna tidak seperti anjing yang tergesa-gesa minum air, namun lebih pelan dan sensual. Annisa merasakan geli yang perlahan membangun birahi. Lidah adiknya yang lembek namun sedikit kasar dirasakan membelai kulitnya tanpa tergesa-gesa, seakan adiknya ingin menikmati tubuhnya dengan cermat dan teliti. Arjuna bagaikan seorang ahli minum anggur, yang mengecap anggur secara perlahan dan pasti, menikmati setiap detiknya.

Kemudian, Arjuna mulai menjilati dagu kakaknya. Kemudian ia akan menjilati kedua pipi kakaknya. Arjuna sengaja menghindari mulut, karena ia ingin menjilati seluruh tubuh kakaknya tanpa gangguan. Bila ia jilat mulut kakaknya, Annisa akan segera membalas yang menyebabkan mereka berdua akan berciuman sehingga niat menikmati tubuh kakaknya dengan lidahnya akan gagal.

Setelah itu, Arjuna akan menjilati dagu dan mata kakaknya. Tidak tertinggal hidung kakaknya. Bahkan terkadang lidahnya ia masukkan ke lubang hidung kakaknya. Arjuna memang cinta kakaknya dan ingin sekali mengenal tiap jengkal tubuh kakaknya. Mengenal rasanya di lidah, mengenal baunya dan menjelajahinya.

Sehabis seluruh wajah kakaknya disemir oleh ludah dan keringat, maka Arjuna lalu mulai menjilati perut kakaknya, disedotnya pusar kakaknya yang tampak seksi, menunjukkan celah kecil di antara perutnya yang rata dan ramping. Lalu ia mulai menjilati bagian atas dada kakaknya tanpa menyentuh kedua payudara kakaknya itu.

Sampai di sini Annisa mulai menggelinjang tak karuan. Ingin rasanya untuk langsung ngentot, namun ia tidak ingin merusak kesenangan adiknya itu. Maka diupayakan sekuat tenaga untuk menahan libidonya yang mulai tinggi. Libido yang makin parah tingginya ketika Arjuna mulai menyapu salah satu payudaranya dengan lidahnya. Sampai di sini, Annisa biasanya akan minta untuk dikenyot pentilnya. Dan setelah menjilat seputar pentil tanpa menyentuhnya, maka Arjuna akan mengabulkan permintaan kakaknya.

Saat mulut adiknya mengulum puting susunya, Annisa mulai mengerang tak terkendali. Lidah adiknya memutar-mutar sekeliling pentilnya itu dengan sesekali Arjuna mengenyot perlahan pentil Annisa dengan mulutnya. Maka Annisa akan memohon untuk dikenyot terus teteknya. Arjuna suka sekali melihat kakaknya yang sebelumnya perawan, kini setiap kali mereka sedang intim seperti ini, tampak berubah menjadi seorang gadis yang horny dan ingin lekas-lekas disetubuhi.

Saat ini Annisa mulai memeluk adiknya dengan kedua tangan dan kakinya erat-erat. Arjuna akan mengenyot dan menjilati salah satu payudara kakaknya itu sampai basah dan bau mulutnya sendiri, lalu kemudian akan beralih ke toket yang satu lagi.

Sampai sini, biasanya Annisa akan minta dientot oleh adiknya. Arjuna biasanya belagak tidak mendengar yang membuat kakaknya menjadi tambah penasaran, nafsu dan gemas. Arjuna suka sekali melihat wajah cantik kakaknya kini tampak begitu bernafsu dan memelas minta disetubuhi.
Namun Arjuna tetap saja menjilati tubuh kakaknya. Arjuna lalu duduk di bawah kakaknya, lalu mulai melebarkan kaki Annisa.
Annisa akan senang mengira akan langsung diewe, namun Arjuna malah menjilati betis kakaknya. Permohonan kakaknya kini menjadi makin sering dan memelas, namun Arjuna tidak bergeming. Ia tetap menjilati betis itu, lalu pindah ke betis yang lainnya. Semuanya tidak dilakukan dengan tergesa-gesa.

Setelah habis menggarap betis kakaknya, Arjuna mulai menjilati paha kakaknya, di sini Annisa mulai berteriak kecil memanggil adiknya dan memohon untuk disetubuhi cepat-cepat. Arjuna seakan menjadi lelaki yang tega membuat pasangannya menggila. Namun sebenarnya ini malah membuat Annisa bertambah sayang dan cinta kepada adiknya itu. Ketika lelaki mampu membuat seorang perempuan tidak berdaya, maka lelaki itu akan mendapatkan cinta buta seorang perempuan.

Setelah kedua paha kakaknya selesai dijilati, maka kini giliran selangkangan kakaknya. Arjuna akan mulai menjilati sekitar memek kakaknya untuk membuat kakaknya lebih penasaran lagi, namun saat inilah kakaknya biasanya akan segera mencengkeram kepala Arjuna, lalu menekannya di memeknya, karena ia sudah tidak tahan lagi digoda oleh lidah adiknya yang secara nakal membuatnya menjadi setengah gila karena nafsu.

Mau nggak mau Arjuna akan segera menjilati memek itu dan hanya beberapa menit, biasanya Annisa akan segera mencapai orgasme karena sudah lama menahan-nahan nafsu birahinya. Arjuna senang sekali ketika memek kakaknya mulai mengeluarkan cairan bening yang tak terlihat bagaikan air namun sedikit kental dan beraroma tubuh kakaknya itu. Sungguh cairan vagina memang enak dirasa di lidah, sehingga Arjuna tak pernah bosan menjilati memek.

Bau memek kakaknya yang menjadi sangat santer tercium akhirnya membuat Arjuna tidak tahan juga, maka ia segera memposisikan kontolnya di lubang memek kakaknya, lalu ia menghujamkan pelirnya itu dalam-dalam sambil menindih tubuh kakaknya.

Arjuna mulai memompa memek kakaknya perlahan-lahan namun dengan tekanan yang cukup kuat. Mereka berdua berpelukan dengan tubuh bersimbah peluh dan selangkangan yang beradu. Setelah beberapa saat, Annisa pun mulai nafsu lagi. Sambil menyerang bibir adiknya, ia mengimbangi hujaman kontol adiknya dengan mendorong pantatnya sehingga terdengar bunyi selangkangan beradu.

Lama-kelamaan, kedua insan satu ayah itu mulai ngentot dengan cepat. Bunyi benturan selangkangan menjadi lebih cepat. Peluh mereka mulai keluar dengan deras, sama seperti waktu tadi sedang lari pagi. Ngentot memang adalah olahraga yang tidak hanya baik secara fisik, namun juga menjadi candu bagi jiwa manusia.

Tak lama kemudian, Arjuna dan Annisa mengerang keras dan mencapai orgasme. Arjuna menembakkan peluru pejunya berkali-kali ke dalam rahim kakaknya itu. Setelah beberapa menit mereka berpelukan, akhirnya mereka memisahkan diri dan memakai baju untuk kembali pulang ke rumah.

***

Setelah Fauziah dan Annisa pergi, maka hidup kembali normal. Kehidupan seksual Arjuna kembali lagi seperti sebelumnya. Ia hanya dijatah sekali seminggu. Bila ibunya sedang senang, maka dapatlah Arjuna mendapatkan tubuh ibunya yang sedang hamil itu dua kali seminggu. Tak pernah lebih.

Awal Juli, tiba-tiba Fauziah datang kembali tapi kini sendirian. Arjuna kecewa kakaknya tidak datang. Fauziah mengajak seluruh keluarga untuk kumpul dan mulai memberitahukan tujuan kedatangannya.
Ternyata Annisa hamil. Annisa telah menceritakan siapa ayah bayi dalam kandungannya. Maka ributlah keluarga itu. Dewi merasa dikhianati dan menampar muka Arjuna. Sementara ayahnya marah-marah karena Arjuna telah menghamili dua orang. Apakah Arjuna tidak puas dengan menghamili ibunya?

Fauziah kaget. Barulah ia tahu bahwa anak Dewi itu adalah hasil hubungan ibu dan anak. Ia tak mampu berkata-kata dan hanya terdiam karena shock. Akhirnya ketika ia menanyakan kepada Waluyo kenapa membiarkan hal ini, maka barulah Waluyo mengaku bahwa sebenarnya ia adalah lelaki homo.

Kejadiannya begitu cepat. Akhirnya keluarga memutuskan, untuk nama baik Annisa, maka Arjuna harus ke kalimantan dan menikahi Annisa. Saat itu Dewi menjadi sedih. Walaupun ia kecewa dengan tindakan Arjuna, tapi tetap Arjuna adalah anak yang ia sayangi.
Lagipula, kini Arjuna telah mengisi hatinya yang telah lama kosong. Dewi akhirnya memutuskan ikut pergi ke Kalimantan yang menyebabkan mau tidak mau Waluyo juga harus ikut.

Maka pada minggu berikutnya, Fauziah bersama Dewi dan Arjuna berangkat ke Kalimantan naik pesawat terbang. Waluyo dan Joko tinggal untuk mengurus segala hal seperti penjualan rumah dan lain sebagainya. Fauziah, dengan hartanya yang banyak berhasil membuat surat kelahiran baru bagi Arjuna. Sekarang Arjuna adalah anak dari sahabat dekat Waluyo yang sudah meninggal dunia. Agar orang tidak curiga hubungan mereka, maka dibuat kisah bahwa Arjuna sudah lama ikut Waluyo dan Dewi dan sudah dianggap anak. Arjuna didaftarkan sekolah di Kalimantan. Sementara, Waluyo dan Joko tiba di Kalimantan pada akhir Juli. Tepat seminggu sebelum pernikahan Arjuna dan Annisa.

 

***

Mereka tinggal di rumah mewah milik Fauziah. Kehidupan Arjuna bahagia sekali. Ia punya seorang isteri cantik yang masih muda, walaupun lebih tua beberapa tahun darinya. Isterinya itu cantik dan seksi pula. Pada Bulan Oktober lahirlah puteri pertama Arjuna dan ibunya. Ia dinamai Ayu. Seluruh keluarga berbahagia karena Ayu adalah bayi yang menggemaskan. Arjuna sangat menyayangi anak pertamanya itu. Ia selalu bergantian menjaga anaknya dengan ibunya.

Sementara, Annisa melahirkan anak laki-laki tahun berikutnya pada bulan Februari. Mereka menamakannya Febri. Sungguh lengkap jadinya. Arjuna punya sepasang anak berlainan jenis. Ia merasa berbahagia sekali. Pada usianya yang ke 15, Arjuna sudah memiliki dua anak. Tentu saja bagi orang kebanyakan, Ayu adalah anak Waluyo dan Dewi. Tetapi pada kenyataannya, Ayu adalah hasil hubungan gelapnya dengan ibunya sendiri.

Dewi tinggal di kamar sendiri. Namun, karena seluruh keluarga tahu bahwa Dewi adalah kekasih anaknya, maka Arjuna tidur bergantian tiap harinya. Sehari dengan ibunya, sehari dengan kakaknya. Sampai sebulan setelah ibunya melahirkan, yaitu bulan november, maka Arjuna mulai berhubungan seks dengan ibunya dalam frekuensi yang lebih banyak dibanding sebelumnya. Tampaknya keluarga mereka harmonis. Tetapi, ternyata tidak semuanya bahagia.

Fauziah merasa sedih. Karena di rumahnya sendiri ia tidak menemukan cinta. Semua orang di dalam rumah memiliki pasangan. Waluyo dengan Joko, Arjuna dengan Dewi dan juga dengan anaknya, sementara, ia sendiri tidak punya siapa-siapa. Jauh di lubuk hatinya, Fauziah masih mencintai Waluyo. Tetapi Waluyo itu homo. Tidak ada harapan lagi.

Fauziah terkadang merasa cemburu. Ia cemburu melihat kedekatan Waluyo dan Joko. Ia cemburu melihat Arjuna begitu mesra dengan dua ‘isterinya’. Apalagi terkadang secara tak sengaja, ia melihat Arjuna sedang menggauli salah satu isterinya, entah di kebun belakang ataupun di dapur atau bahkan di mana saja. Tentu saja, saat itu Arjuna mengira bahwa tidak ada orang di dalam rumah, ataupun mungkin Arjuna kira Fauziah sedang tidur. Tetapi Fauziah menjadi hafal ketika Arjuna mulai celingak-celinguk melihat situasi di rumah. Itu pertanda anak itu sedang horny dan ingin mencari kesempatan berhubungan seksual. Fauziah sebal sekali, tampak bahwa Arjuna senang mengentot di tempat terbuka di mana ada kemungkinan terlihat orang lain. Mungkin Arjuna bertambah semangat dengan keadaan seperti ini.

Fauziah tidak sadar bahwa selama ini, Arjuna tahu bahwa Fauziah sering melihatnya berhubungan seks dengan salah seorang isterinya. Justru ini membuat Arjuna makin menjadi, mencari kesempatan untuk berhubungan seks di berbagai tempat di rumah. Sekarang Arjuna punya obsesi baru. Ia sangat menyukai Fauziah. Darah Arab jelas terlihat di raut muka dan postur tubuh perempuan ini. Hidungnya yang mancung, kulitnya yang putih dan bulu matanya yang lentik, membuat lelaki yang memandangnya ingin menjilati seluruh muka perempuan itu. Apalagi bila Fauziah sedang pakai daster. Buah dada yang kelihatan lebih besar dari ibunya, pantat yang menonjol dan lekuk pinggang dan pinggul yang begitu melengkung dan indah cukup membuat Arjuna ngaceng dengan hanya melihatnya saja.

Suatu ketika, Arjuna baru saja menggauli isterinya. Saat itu bulan Januari.
Berhubung Annisa sudah mengandung tujuh bulan, maka mereka bersenggama dengan posisi man on top. Arjuna tidak dapat menindih kakaknya itu, sehingga ia mengentoti kakaknya sambil duduk di tempat tidur. Walaupun Arjuna berhasil ejakulasi, namun Ia belum merasa puas. Maka ia bergegas memakai sarung dan pergi ke kamar ibunya untuk melanjutkan ronde ke dua.

Ketika ia masuk kamar ibunya, ibunya tidak di tempat. Arjuna lalu mencari ibunya. Akhirnya ia sampai pada kamar tidur Fauziah, didengarnya ada suara dua wanita berbicara. Arjuna penasaran, maka ia berdiri di depan pintu dan mulai menguping.

Ternyata Fauziah sedang menangis sambil curhat. Rupanya ia merasa sedih karena tidak mempunyai pasangan. Dewi memeluk Fauziah dari samping dan berusaha menghibur perempuan itu. Cukup lama Fauziah curhat. Hampir sejam barulah perempuan itu pergi. Setelah Fauziah pergi, Arjuna menghampiri ibunya di kamar. Anak mereka sedang tidur di box bayi.
Situasi aman. Ibunya tidur hanya memakai kain seperti permintaan Arjuna. Maka Arjuna segera tidur di sebelah ibunya, lalu menarik kain itu. Lalu mereka bercinta.

Kejadian tadi malam membuat Arjuna berpikir bahwa Fauziah mulai masuk perangkapnya. Perempuan itu pasti horny melihatnya menggarap kedua isterinya di berbagai tempat di rumah. Namun, hidup dengan dua isteri membuat tidak ada kesempatan bagi Arjuna untuk mendekati ibu tirinya, atau bisa dibilang juga ibu mertuanya itu.

Pucuk dicinta ulam tiba. Ketika bulan Juni datang, masa libur sekolah selesai. Apalagi Arjuna telah lulus SMP. Saat itu, Fauziah yang adalah business woman, ingin ke Jakarta karena ada bisnis. Arjuna menggunakan hal ini sebagai alasan. Ia ingin ikut karena belum pernah ke Jakarta, alasannya, padahal ia ingin berduaan dengan Fauziah. Arjuna sudah kepincut ibu tirinya. Kedua isterinya memiliki bayi yang masih kecil, sehingga mereka tidak mau ikut, apalagi Annisa yang baru jadi ibu, ia butuh Dewi yang ikut mengasuh anaknya juga. Begitu pula dengan ayah dan gendaknya, karena mereka sudah puas untuk berduaan saja maka mereka emoh untuk ikut.

Singkat kata, mereka pergi ke Jakarta dan menginap di sebuah hotel yang berbintang. Sayang, saat itu adalah liburan, sehingga tinggal satu kamar yang tersedia. Yang lain sudah penuh. Arjuna jadi senang sekali. Berhubung mereka mengaku sebagai ibu dan anak, maka petugas hotel memberikan mereka satu kamar itu. Dan untungnya mereka ambil, karena setelah mereka ada orang yang ingin menginap tapi ditolak karena hotel penuh.

Hari itu bergerak sangat cepat bagi Arjuna. Tahu-tahu sudah malam, ia sudah mandi dan memakai sarung seperti biasanya dengan singlet sebagai baju, namun ia tidak pakai celana dalam. Lima belas menit kemudian Fauziah baru dari kamar mandi menggunakan handuk yang menutupi hanya dari dada sampai paha, bahkan bagian atas paha dan paha itu mulus sekali. Sesekali Arjuna melihat bulu ketek lebat ibu tirinya itu dan membuat Arjuna langsung konak. Tanpa makeup, kecantikan Fauziah tampak begitu alami. Kecantikan perpaduan Indonesia dan timur tengah. Hampir mirip Camelia Malik bercampur dengan Kim Kardashian. Dibalik handuk itu, toket besar tampak menonjol dengan lembah yang agak sempit karena dua tetek yang besar. Sungguh malaikat dari surga, pikir Arjuna. Hanya saja, saat itu tidak terlihat Fauziah sudah mandi, karena rambutnya masih kering dan tidak tercium bau sabun ketika Fauziah melewatinya.

Fauziah berdiri di depan meja rias beberapa saat untuk mengambil CD dan BH yang ia taruh di sana di atas daster hitam yang terlipat rapi, rupanya ia lupa membawa pakaiannya. Ketika Fauziah membungkuk sedikit untuk mengambil CD dan BHnya, tiba-tiba Fauziah berteriak kecil kesakitan.

Arjuna kaget lalu bertanya, “Kenapa, Ma?”

Fauziah memegang punggungnya dengan tangan kanannya lalu berkata,
“Ga tau, Jun. kayaknya salah urat.”

“Waduh… Terus gimana dong?”

“Kamu tolong telpon resepsionis. Biasanya hotel menyediakan jasa pijat. Biar Mama di pijat saja.”

Arjuna bergegas menelepon resepsionis. Sayangnya, hotel itu tidak menyediakan jasa pemijat. Sementara, Fauziah bergegas duduk di tempat tidur sambil meringis kesakitan.

“Gimana nih? Ga ada tukang pijat di sini.”

Fauziah menjadi kecewa dan sebal. Namun, Arjuna yang melihat kesempatan dalam kesempitan ini, segera menawarkan diri. “Ya udah, biar Arjuna pijat aja. Jun biasa kok pijet Ayah kalau Ayah lagi pegel-pegel.”

Fauziah serba salah. Di satu pihak, ia sedang kesakitan karena punggungnya tiba-tiba salah urat, di lain pihak ia sedang dalam keadaan yang nyaris bugil dan hanya berbalutkan handuk. Selama beberapa saat pikirannya berputar-putar ingin mencari solusi.

Arjuna yang tahu ibu tirinya sedang dalam keadaan dilematis karena rasa malu, segera berpikir cepat. Anak ini memang hebat otaknya dalam soal-soal begini. Buktinya, dua perempuan berhasil ia taklukkan. Kini, Fauziah adalah piala ke tiga yang ingin ia incar.

“Kalau Mama malu, begini saja. Biar Arjuna masuk kamar mandi, lalu Mama pakai baju dulu. Terus Mama panggil Jun kalau sudah selesai.” Tanpa menunggu jawaban Arjuna masuk kamar mandi.

Fauziah beringsut untuk berdiri, namun punggungnya ia rasakan nyeri sekali. Fauziah berkutat cukup lama untuk beranjak ke meja rias, tapi akhirnya ia menyerah. Karena terpaksa, akhirnya Fauziah melepas handuknya, lalu berbaring telungkup. Dengan susah payah ia lalu menaruh handuk itu untuk menutupi pantat dan pahanya. Setelah dirasa cukup rapi sehingga pantat dan selangkangannya tidak terlihat, Fauziah memanggil Arjuna.

Arjuna keluar kamar mandi dan mendapatkan pemandangan yang indah. Ibu tirinya itu kini telungkup dengan punggung telanjang. Sayangnya pantatnya tertutup handuk, juga kedua tangan Fauziah ditekuk di sebelah badan sehingga menutupi pinggir payudara perempuan itu. Tetap saja, sedikit jendolan di pinggir badan Fauziah cukup membuat batang kontol Arjuna menegang cepat.

“Mama Fauziah bawa body lotion ga? Biar enak urutnya.”

“Di meja rias tuh.”

Setelah mengambil body lotion, Arjuna duduk disamping ibu tirinya itu. Lalu menaruh lotion di telapaknya, dan mulai membalurkannya sepanjang punggung telanjang perempuan itu. Kulit ibu tirinya itu begitu halus, kini setelah dibalurkan lotion, menjadi licin dan mengkilat bak porselen cina saja.
Kemudian Arjuna mulai mengurut perempuan itu.

“Kalau terlalu keras kasih tahu, ya. Soalnya biasa ngurut laki-laki.”

“Coba pelan sedikit, jangan keras seperti itu.”

Maka Arjuna mulai mengurut Fauziah. Untuk permulaan, Arjuna melakukannya dengan serius. Ini untuk menjaga agar Fauziah tidak curiga. Dan karena memang Arjuna sering mengurut Ayahnya, maka sebenarnya ketrampilan Arjuna dalam mengurut itu cukup lumayan. Arjuna dapat menemukan urat yang menjadi problem. Diurutnya daerah itu dengan perlahan dahulu, lalu makin lama setelah uratnya mulai melemas dan tidak terlalu menonjol, maka urutannya diperkeras.

Fauziah tidak menyangka anak tirinya itu jago mengurut. Gerakan tangan Arjuna tidak canggung yang menunjukkan bahwa anak itu memang terbiasa mengurut. Sebelumnya ia agak takut bila Arjuna hanya pura-pura bisa mengurut padahal hanya menginginkan tubuhnya. Tetapi kini Fauziah tidak curiga lagi. Lagipula, pikir Fauziah, Arjuna sudah punya dua isteri. Untuk apa pula anak itu menginginkannya?

Tetapi lama dipikirkan Fauziah malah menjadi sedih. Fauziah merasa bahwa dirinya memang malang. Apakah memang lelaki tidak ada yang mau dengannya? Apakah Fauziah tidak cantik? Apakah ada sesuatu dalam dirinya yang membuat semua lelaki menjauh darinya? Dulu Waluyo pernah bilang bahwa Fauziah itu cantik, tapi, sekarang karena Fauziah tahu Waluyo itu Gay, maka Waluyo tidak dapat menjadi acuan. Betapa malang nasibku, pikir Fauziah.

Fauziah tidak tahu, bahwa banyak lelaki yang sebenarnya menginginkan dia. Namun, Fauziah adalah anak seorang saudagar kaya. Banyak lelaki yang takut duluan. Selain itu, ayah Fauziah terkenal galak dan memiliki banyak centeng, sehingga bagaimanapun juga Fauziah bagaikan permata yang ada di dalam kandang harimau. Banyak yang mau tapi hampir tidak ada yang berani mengambil. Hanya Waluyo saja yang berani. Waluyo adalah orang rantau di Kalimantan dan memiliki pandangan ’nothing to lose’. Sehingga nekat dalam melakukan apapun. Sehingga akhirnya dapatlah lelaki itu meminang Fauziah.

Kini punggung Fauziah sudah tidak sakit lagi. Fauziah melirik ke dinding dan melihat jam, sudah hampir sejam Arjuna mengurutnya. Arjuna melihat gerakan ibu tirinya itu.

“Masih sakit, Ma?”

“Sudah ga sakit lagi, Jun.”

Lalu mereka terdiam. Arjuna tidak menghentikan gerakannya tetapi tetap mengurut Fauziah. Ia ingin melihat respons wanita ini dulu. Makin lama Arjuna mengurut Fauziah makin pelan, sehingga lima menit setelah itu, Arjuna hanya menggosok-gosok punggung ibu tirinya itu saja.

Fauziah tidak pernah diurut sehingga tidak tahu bagaimana seharusnya seseorang itu diurut, sehingga ia diam saja ketika Arjuna mulai menggosok-gosok punggungnya tanpa ada tenaga seperti sebelumnya. Makin lama gosokkan itu menjadi usapan. Arjuna mengusap-usap punggungnya dan gerakannya menjadi teratur dan lebih pelan. Fauziah merasakan tangan Arjuna yang kasar itu mengusapi punggungnya menimbulkan sensasi yang membuat bulu kuduk merinding. Fauziah tidak tahu bahwa sekarang ini Arjuna tak lagi mengurut, namun membelai punggungnya. Belaian Arjuna itu dilain pihak membuat pikiran Fauziah mulai melayang. Fauziah menjadi teringat kembali pengalamannya ketika dulu masih jadi isteri Waluyo, satu-satunya lelaki yang pernah membelainya.
Andaikan saja… Pikir Fauziah. Andaikan saja ia masih jadi isteri orang… Perlahan-lahan usapan itu membawa Fauziah ke alam mimpi.

Arjuna mendengar dengkuran kecil Fauziah saat ia sedang membelai punggung perempuan itu. Kebetulan nih, pikir Arjuna. Si bidadari dari Arab ini telah tidur setengah telanjang. Arjuna yang berpengalaman walaupun masih muda ini, tidak lalu langsung beraksi. Tidak, Arjuna seperti kita ketahui adalah anak remaja yang pintar dan kreatif. Arjuna terus membelai punggung ibu tirinya itu selama beberapa menit setelah suara dengkuran terdengar. Orang yang baru tidur, itu gampang sekali bangun. Tapi kalau sudah pulas, barulah susah bangun. Oleh karena itu, Arjuna harus yakin dulu bahwa Fauziah telah tertidur pulas.

Arjuna memanggil Fauziah. Setelah beberapa kali memanggil ibu tirinya itu dan tidak ada jawaban, maka Arjuna berkata perlahan, “Mama Fauziah… It’s showtime!” sambil tertawa kecil.

Arjuna segera mengambil handuk yang ada di atas pantat Fauziah dan menaruhnya di meja rias. Pantat itu lumayan besar, lebih besar dari pantat ibu kandungnya, namun pantat ini begitu putih dan bulat. Sungguh menantang.
Arjuna menggeser duduknya sehingga kini sejajar dengan paha Fauziah. Perlahan ia menarik kedua kaki ibu tirinya itu sehingga terbuka. Sambil menelan ludah, Arjuna melihat bibir memek ibu tirinya itu. Bibir vagina Fauziah rapat menutup. Tidak ada bulu jembut dipinggirnya. Bulu kemaluan Fauziah ternyata dipotong rapi dan hanya menutupi selangkangan bagian atas. Benar-benar dirawat, pikir Arjuna.

Arjuna lalu merubah posisi sehingga ia kini berbaring di bawah kaki Fauziah dengan kaki terjulur sampai menyentuh lantai, sementara setengah badannya dibaringkan di atas tempat tidur di antara kaki Fauziah. Dengan tangan gemetar menahan nafsu, ia menyibakkan bibir kemaluan ibu tirinya itu.

Vagina Fauziah terlihat berwarna merah dan agak mengkilat karena lembab. Bau tubuh Fauziah samar-samar tercium keluar. Tak sabar, Arjuna langsung menjulurkan lidahnya kedalam memek perempuan itu. Arjuna merasakan pengalaman baru. Ternyata memek itu rasanya berbeda-beda. Memek ibu kandungnya, memek kakaknya dan memek Fauziah memiliki bau dan rasa yang berbeda. Namun, ibaratnya berbagai jenis coklat, maka semuanya enak dan memiliki cita rasa yang khas.

Lidah Arjuna menyusuri lembah kenikmatan milik ibu tirinya dengan perlahan karena Arjuna ingin puas merasakan intisari tubuh ibu tirinya itu. Dinding memek Fauziah yang lembut dan lembab yang memancarkan bau tubuh perempuan keturunan Arab itu sungguh membuat Arjuna bagaikan di awang-awang.

Tiba-tiba Arjuna mendengar suara desahan Fauziah. Arjuna kaget dan menghentikan kegiatannya. Ia melirik ke arah kepala ibu tirinya itu. Setelah ditunggu beberapa lama, Fauziah tidak menunjukkan tanda bahwa perempuan itu telah sadar. Namun Arjuna harus sabar, ia tidak mau berhubungan seks ketika Fauziah sedang terlelap. Ia ingin Fauziah tersadar dan merelakan tubuhnya kepada Arjuna. Saat ini belum saatnya, pikir Arjuna.

Maka Arjuna mengembalikan handuk itu ke tempatnya semula, lalu Arjuna menyelimuti tubuh telanjang Fauziah dengan selimut tempat tidur itu. Lalu Arjuna tidur di lantai yang berkarpet. Paling tidak enggak dingin, pikirnya.

***

Paginya Fauziah bangun dan kaget. Astaga! Ia tertidur dengan hanya tertutup handuk di pantat. Apa yang terjadi tadi malam ketika ia tidur? Namun akhirnya Fauziah lega, karena sekarang ia tidur berselimut, sementara, Arjuna tidur di lantai. Selain itu, ia tidak merasakan tanda-tanda sehabis ditiduri anak tirinya itu. Memeknya tidak terasa pegal atau nyeri. Tampaknya Arjuna cukup gentleman dan tidak memanfaatkan situasi.

Fauziah bergegas ke kamar mandi. Sehabis mandi dan ganti baju, ia membangunkan Arjuna dan meminta anak itu untuk tidur di tempat tidur. Arjuna tampak lelah dan pegal.
Fauziah menjadi kasihan.

“Lain kali tidur di tempat tidur saja, Jun.”

“Ma, Arjuna ga mau ngerepotin. Di lantai saja cukup, kok.”

“Tidak. Nanti malam kamu tidur di tempat tidur dengan mama.” Lagipula, pikir Fauziah, anak ini tidak menunjukkan hasrat untuk berbuat kotor dengannya. Maka, Fauziah mulai merasa nyaman. Selain itu, Fauziah pun berhutang budi karena Arjuna telah membantu untuk mengurut sehingga kini otot punggungnya sudah tidak nyeri lagi.

Hari itu Fauziah dan Arjuna pergi ke salah satu rekan bisnis Fauziah. Hari yang membosankan menurut Arjuna. Mereka makan siang sementara Fauziah dan rekan bisnisnya yang adalah laki-laki membicarakan tetek bengek masalah bisnis. Sementara Arjuna hanya bisa melamun dan berusaha menahan rasa bosannya.

Arjuna memperhatikan bahwa lelaki itu, seorang yang setengah baya, terus memperhatikan Fauziah seakan Fauziah adalah bidadari. Dari gerak tubuhnya terlihat bahwa lelaki ini ingin memakan Fauziah hidup-hidup. Hanya saja, Fauziah seakan tidak menghiraukan bahkan mungkin tidak ada pikiran ke arah situ sama sekali.

Ternyata, rekan bisnis yang ditemui hari itu tidak hanya satu. Ada tiga pertemuan. Ketiganya dengan lelaki paruh baya yang menatap Fauziah dengan tatapan penuh harap dan birahi. Yang jelas, Arjuna menjadi tahu kenapa bisnis ibu tirinya itu lancar. Semua rekan bisnisnya hari itu selalu menyanggupi permintaan-permintaan ibu tirinya tanpa perlu panjang lebar berdebat. Ini adalah kekuatan seorang wanita cantik yang pintar. Arjuna menjadi kagum juga dengan ibu tirinya itu.

Akhirnya setelah makan malam dengan rekan bisnis terakhir untuk hari itu. Mereka berdua kembali ke kamar hotel. Arjuna mandi duluan dan memakai singlet dan sarung seperti biasa setelahnya. Ketika ia keluar kamar mandi, Fauziah sedang mengusap lehernya.

“Mama kenapa? Pegel?”

“Iya nih. Capek juga hari ini ke sana kemari dengan rekan-rekan bisnis Mama. Kayaknya Mama udah semakin tua.”

“Ya sudah. Mama mandi dulu, nanti Arjuna pijitin lehernya.”

Fauziah tersenyum lalu pergi mandi. Arjuna kini berfikir apakah sebaiknya menawarkan untuk mengurut atau tetap memijat saja? Namun Fauziah sedang pegal lehernya, kalau Arjuna menawarkan untuk diurut, maka mungkin saja Fauziah akan curiga. Oleh karena itu, Arjuna memutuskan untuk memijat saja.

Fauziah keluar dengan gaun tidur berwarna hitam. Modelnya seperti daster, tapi gaun ini lebih mewah. Gaun terusan dengan tali tipis melibat bahu putih Fauziah. Gaun itu tidak panjang. Bagian atasnya terbuka sampai terlihat belahan sedikit belahan dada yang besar. Roknya sampai di atas lutut dengan renda-renda yang menghiasinya, menunjukkan paha dan betis yang putih bersih. Arjuna berusaha untuk tidak menatap melainkan belagak sedang membaca dengan ekor mata mengikuti ibu tirinya itu.

Kalau dilihat, Fauziah tidak memakai BH. Sedikit putingnya menyembul dibalik gaun malam itu. Arjuna jadi mengira-ngira apakah Fauziah tidak memakai CD juga yang menyebabkan kemaluannya jadi menegang memikirkan itu.

Fauziah duduk di pinggir tempat tidur. “Kalau bisa sih, Mama duduk di lantai, Arjuna duduk di tempat tidur sehingga gampang mijit leher dan bahunya.”

Fauziah melakukan permintaan Arjuna lalu duduk di lantai. Dengan sigap Arjuna duduk di belakang Fauziah dan mulai memijati leher ibu tirinya itu.
Fauziah merasakan tangan hangat Arjuna mulai memijatnya. Pijatan itu sungguh enak. Mungkin tidak sama dengan para pemijat profesional yang biasa ia datangi. Para pemijat itu menggunakan teknik shiatsu jepang, sementara teknik Arjuna adalah teknik kampung, namun cukup efektif. Sungguh Fauziah merasa beruntung membawa serta anak ini.

Sementara, Arjuna kini menatap dada ibu tirinya dari atas kepala Fauziah. Pentil yang tampak menyembul dari balik gaun seakan menantang lelaki yang melihatnya. Kedua buah payudara besar dengan belahan dada yang rapat menjadi garis lurus yang hilang tertutup gaun. Bukit kembar yang begitu besar sehingga menyembul keluar. Arjuna meneguk ludah beberapa kali.

Setelah cukup lama Arjuna memijat, Fauziah berkata, “Leher Mama sekarang sudah mendingan. Kita tidur saja, ya? Kasihan kamu pasti capek juga dan sekarang malah mijitin Mama. Sebaiknya istirahat.”

“Arjuna sih anak kampung, Ma. Udah biasa. Mama mau dipijit bahunya?”

“Kalau kamu ga capek sih boleh saja. Kamu capek, ga?”

“Kan udah biasa. Belum capek. Gimana, Mama mau Jun pijat bahunya?”

“Ya sudah. Terserah.”

Arjuna mulai memijit bahu Fauziah. Ia benar-benar mengeluarkan jurus-jurus pijit yang dipelajari di kampung.
Di lain pihak, Fauziah kini merasa bagaikan dimanja anak tirinya itu. Pijatan Arjuna membuat segala otot di pundaknya lemas dan tidak keras ataupun pegal lagi. Fauziah sangat menikmati ini.

Setelah sekian lama, Arjuna mulai beraksi. Tangan kanannya mulai memijat begitu rupa, sehingga jari-jarinya mendorong tali gaun di bahu ibu tirinya itu sehingga mulai bergeser ke arah pundak kanan. Lama-kelamaan tali itu mulai menuju ujung pundak Fauziah. Fauziah yang sedang keasyikan menikmati pijatan ini tidak memperhatikan bahwa tali gaunnya mulai menggeser sehingga Arjuna yang selama proses ini deg-degan dan berusaha menggerakan tangannya perlahan menjadi agak tenang. Dan akhirnya tali gaun itu jatuh ke lengan Fauziah.

Tiba-tiba saja bagian puting Fauziah yang bundar menyembul sementara gaun itu kin menutup bagian menonjol putingnya. Warnanya merah muda. Nafas Arjuna menjadi memburu. Sungguh tubuh wanita keturunan Arab ini berbeda dengan tubuh Dewi maupun Annisa.
Pentilnya berwarna merah muda bagaikan aktris bokep yang pernah ia tonton di film-film. Fauziah memang seksi sekali!

Mata Arjuna kini terpaku pada daerah areola puting Fauziah itu. Areola itu bundar dan lingkarnya lebih besar daripada uang logam 100-an jaman dulu. Di atas areola, di kulit teteknya ada tahi lalat kecil menghiasi. Pemandangan ini sangat intim dan pasti tidak banyak lelaki yang pernah melihatnya.
Arjuna ingin menggunakan tangan kirinya dan melakukan hal yang sama. Namun setelah dipikir lebih jauh, ada kemungkinan ketika tali gaun sebelah kiri jatuh ke bawah, gaun itu akan melorot dan memperlihatkan tetek Fauziah. Tentu saja Arjuna ingin melakukan hal itu, namun kemungkinan besar Fauziah akan sadar dan menghentikan sesi pijat ini. Dan mungkin Arjuna tak akan dapat menyentuh tubuh wanita ini lagi.

Maka ia terus memijat bahu Fauziah. Arjuna memikirkan cara bagaimana agar bisa menuju level berikutnya. Namun ia tidak dapat menemukan cara yang tidak membuat Fauziah takut dan menghentikan semua ini.

Arjuna lama berfikir dan memijat, sampai tiba-tiba kepala Fauziah sedikit terkulai dan dengan cepat tegak lagi. Fauziah hampir tertidur.

“Ma,” kata Arjuna, ”daripada nanti tidur di lantai, mending tidur di atas tempat tidur.
Biar Arjuna pijit. Atau Mama Fauziah mau diurut saja?”

Fauziah sudah ngantuk, tapi masih ingin dipijat.
Katanya, “terserah kamu deh, Jun.”

Arjuna bergerak cepat dan mengambil lotion. “diurut bahunya saja ya, Ma?”

Fauziah hanya mengangguk lalu tiduran telungkup di tempat tidur. Arjuna mulai mengambil lotion dan mengurut bahu Fauziah dari samping. Fauziah merasakan kenikmatan ketika otot-ototnya yang sudah dipijit kini diurut pula. Dalam kantuknya, Fauziah ingin sekali tiap hari dimanja oleh Arjuna seperti ini.

Arjuna adalah remaja yang memiliki pengalaman dalam merayu wanita dan mendapatkan wanita. Ibu kandung dan kakaknya sudah menjadi isterinya. Sehingga walaupun Arjuna sudah horny menjamahi ibu tirinya itu, tapi ia dapat menahan hasratnya dan tidak melakukan tindakan blunder. Arjuna mengurut Fauziah sampai wanita itu tertidur. Akhirnya Arjuna pergi ke kamar mandi untuk masturbasi lalu tidur di samping Fauziah yang masih telungkup.

***

Arjuna terbangun horny. Ia bermimpi sedang berhubungan seks dengan ibu tirinya. Ia bermimpi sedang mengentot ibu tirinya dari belakang dengan posisi doggy style. Ibu tirinya telanjang dalam mimpinya, juga Arjuna tidak memakai baju. Hanya saja, kontolnya tidak dapat masuk ke dalam memek ibunya itu melainkan hanya menempel saja di pantat Fauziah. Entah kenapa kontolnya tidak dapat memasuki lubang kemaluan ibu tirinya itu melainkan hanya terus menempel.

Ketika terjaga, Arjuna mendapatkan dirinya sedang memeluk Fauziah dari belakang. Kontolnya yang tegang dibalik sarung sedang menempel pada belahan pantat ibu tirinya itu. Rupanya dalam kenyataannya memang seakan-akan Arjuna dan Fauziah doggy style hanya saja posisinya berbaring menyamping di tempat tidur.

Tiba-tiba Fauziah bergerak. Arjuna menjadi kaget. Arjuna pura-pura masih tertidur dan tidak bergerak. Fauziah bangun kaget juga mendapatkan dirinya sedang dipeluk anak tirinya. Ia merasakan kontol anak tirinya yang besar itu sedang menempel di belahan pantatnya.

“Jun,” panggil Fauziah.

Arjuna pura-pura masih terlelap.

Fauziah memanggil beberapa kali, namun Arjuna tetap tidak bergerak. Fauziah menghela nafas memikirkan apa yang harus dilakukan. Fauziah sudah lama tidak didekap oleh lelaki. Bau tubuh Arjuna yang maskulin, walaupun tidak terlalu keras, namun cukup menggetarkan kalbu Fauziah juga. Tubuh hangat Arjuna yang memeluknya memberikan kenyamanan. Fauziah bingung harus ngapain.

Arjuna, di lain pihak, merasa tersiksa. Ia sudah horny sekali namun kini harus pura-pura tertidur. Masalahnya, kepala Arjuna serasa mau pecah menahan libido. Apa yang harus dilakukannya? Apa lagi kini Fauziah tidak berusaha membangunkannya lagi, melainkan malah terdiam di tempat tidur.

Arjuna yang cerdik berlagak mengigo, “Mama Fauziaaah… mmmm… Mama Fauziah…”

“Jun, kamu sudah bangun?”

Arjuna terus berlagak meracau di tempat tidur, “Mama Fauziaah… Mama sayang Jun, tidak?”

“Jun?”

“Arjuna sayang Mama Fauziah… mmmmmmmmmmm…” Lalu Arjuna belagak sedang memeluk guling dalam tidurnya dan mempererat rangkulannya.

Fauziah terkejut. Rupanya Arjuna sayang pada dirinya. Tampaknya ini yang benar-benar dirasakan Jun, karena Jun berbicara dalam tidurnya. Fauziah agak bingung. Arjuna menunjukkan rasa sayang kepada ibu kandungnya dengan meniduri dan menghamili perempuan itu. Apakah artinya Arjuna juga ingin menyetubuhinya?

Pertama kali pikiran ini melintas, Fauziah merasa jijik dan sebal. Namun semakin dipikirkan, ada rasa aneh menyeliputi dadanya. Fauziah mengingat saat-saat ia lihat Arjuna sedang bersenggama dengan Dewi atau Annisa. Mereka begitu menikmati keintiman itu. Apalagi, kontol Arjuna yang lumayan besar dan panjang. Lama kelamaan memek Fauziah basah juga. Ia menelan ludah lalu mendekap tangan kanan Arjuna yang sedang melingkar diperutnya dengan tangan kanannya sendiri.

Arjuna senang sekali. Kini terbukti bahwa Fauziah tidak membenci atau jijik padanya. Buktinya perempuan itu malah mendekap tangannya. Langkah pertama Arjuna berhasil. Sambil menyeringai lebar, karena Fauziah tidak dapat melihat, Arjuna memikirkan langkah selanjutnya.

Tak lama kemudian Fauziah tiba-tiba memutar badannya, dengan tangan kiri memegang tangan kanan Arjuna sehingga badan Arjuna dan Fauziah tetap berangkulan sampai keduanya berhadapan.

“Jun… Jun… bangun…” Namun suara Fauziah tidak keras melainkan perlahan. Arjuna yang sedang memejamkan mata hanya merasakan tiba-tiba saja tangan kanan Fauziah menyusup di samping kiri badannya antara tubuh Arjuna dan tempat tidur. Sekarang Fauziah memeluk tubuh Arjuna.

Arjuna otomatis beringsut mendekap sambil tetap memejamkan mata. Tadi tubuhnya setengah miring ke kanan dengan tangan kiri di belakang tubuh, kini tangan kirinya ikut menyusup ke bawah dan melingkari tubuh ibu tirinya itu.
Sementara, kaki kanan Arjuna kini di antara kedua kaki Fauziah yang menjepit.

Fauziah menahan nafasnya ketika ia merasakan Arjuna memeluk dirinya. Arjuna berusaha menatap wajah Arjuna namun wajah itu kini menempel di dadanya.

“Kamu sudah bangun, Jun?”

Arjuna pura-pura masih pulas dan tidak menjawab.

Tangan kiri Fauziah mulai mengelus-elus rambutnya. Arjuna mulai frustasi. Ia dapat mencium bau tubuh Fauziah dengan jelas. Fauziah adalah tipe perempuan yang bau tubuhnya tidak menyengat dan dapat dibilang cukup harum tanpa minyak parfum.

Arjuna berfikir bahwa ini saat tepat untuk bangun. Fauziah akan malu, namun Arjuna akan menunjukkan bahwa ia suka dipeluk Fauziah. Arjuna mendongakkan kepalanya dan pura-pura bingung.

“Ma?” Ia menatap Fauziah dengan tatapan bingung. Fauziah gelagapan dan mengendurkan pelukannya. Namun dengan cepat Arjuna mendekap Fauziah erat-erat dan berkata, “Aduh, senangnya dipeluk Mama Fauziah. Jun kirain selama ini Mama Fauziah ga sayang sama Arjuna.”

“Kenapa begitu?”

“Karena kita tidak pernah pelukan kayak begini.”

Fauziah bermaksud melepaskan dirinya. “Jangan dulu dong, Ma. Arjuna sangat senang disayangi Mama Fauziah. Sebentar lagi, ya? Kan tadi Mama Fauziah yang peluk. Jun bangun udah di peluk Mama. Sekarang Jun minta Mama jangan lepasin pelukannya.”

Fauziah bingung. Namun ia hanya terdiam. Dapat dirasakannya dekapan kuat anak tirinya itu. Nafas anak itu di dadanya yang hangat terasa di kulit. Untuk beberapa lama mereka berpelukan. Lalu Fauziah mengelus kepala Arjuna dan berkata, “Udah ya? Kita kan harus bisnis lagi.”

Arjuna mengelus punggung Fauziah dan berkata, “Bentar lagi, dong… Mama harum banget. Lebih harum dari Ibu maupun Kak Annisa.”

Fauziah menjadi sumringah. Wanita mana yang tidak senang bila dibilang lebih baik daripada wanita yang lain? “Mama kan belum mandi.”

“Masa sih. Kok harum gini ya? Ga pakai parfum?”

“Ya enggak, lah. Kan baru bangun.”

“Tapi sumpah deh. Baunya wangi banget.”

Tiba-tiba Fauziah merasakan Arjuna mengendus-endus dadanya, ini menyebabkan Fauziah merasakan bagai disetrum. Seluruh tubuhnya seakan linu dan tak berdaya. Nafas Arjuna di dadanya membuat ia merasakan hal-hal yang telah lama ia lupakan.

Serangan Arjuna yang tiba-tiba datangnya, tiba-tiba pula berhenti. Arjuna melepaskan diri dari pelukan Fauziah. Dan kembali tiba-tiba, Arjuna mencium pipi Fauziah.

“Terima kasih, Ma. Udah mau peluk Arjuna,” kata Arjuna setelah mencium pipi Fauziah,”Arjuna mandi duluan ya.”

Ketika Arjuna meninggalkannya untuk mandi, membuat Fauziah tiba-tiba saja merasakan kekosongan. Ada rasa kecewa menghampiri. Namun Fauziah memutuskan untuk memendam jauh-jauh perasaan itu. Hanya saja, kedekatan mereka berdua sudah tak dapat ditarik kembali. Dan faktanya, Fauziah menyukai kedekatan itu.

***

Hari ketiga mereka di Jakarta, pertemuan bisnis hanya ada dua kali. Sisanya Fauziah mengajak Arjuna untuk shopping di mall. Fauziah membeli banyak oleh-oleh untuk keluarga, namun hadiah yang paling banyak adalah untuk Arjuna. Arjuna gembira sekali, karena ini menunjukkan tidak ada rasa marah dari ibu tirinya itu.

Mereka makan malam di restoran pada pukul enam. Arjuna mengatakan bahwa ia capek dan pegal sehingga waktu makan malam dimajukan. Padahal, ia ingin satu tempat tidur lagi dengan Fauziah. Fauziah menuruti saja karena ia sebenarnya sudah mulai ada rasa juga kepada anak tirinya itu, namun dalam pikirannya ia masih membantah dirinya sendiri.
Jam tujuh mereka sudah tiba di kamar tidur.

“Arjuna sudah capek mau tidur,” kata Arjuna, ”Mama capek ga?”

“Ya Mama capek juga lah.”

“Ya sudah. Mama tidur aja langsung kalau begitu. Arjuna mandi dulu.”

“Masak kamu mau tidur di samping orang yang bau sih?”

“Mama Fauziah itu harum biar belum mandi. Arjuna ga masalah kalau Mama Fauziah belum mandi dan kita berbagi tempat tidur. Malah Arjuna merasa senang. Lagipula Mama Fauziah kan capek.”

“Kalau begitu kamu juga ga usah mandi. Mama juga ga masalah. Kamu kan juga capek.”

Di dalam hati, mereka berdua menyukai bau lawan jenisnya itu. Apalagi sudah tidak sabar untuk mengalami kedekatan seperti tadi lagi.

“Ya udah deh. Arjuna ganti sarung dulu. Mama ganti baju tidur di kamar mandi saja. Arjuna di sini saja.”

Fauziah bergegas mencari gaun tidurnya dan lalu masuk kamar mandi. Namun pintu tidak ditutup rapat. Fauziah mengintip ketika anak tirinya membuka baju hingga hanya singlet dan celana dalam. Lalu Arjuna membuka CDnya dan terlihat burung yang sudah tegak. Fauziah menelan ludah. Sayangnya Arjuna lalu memakai sarung dan bergegas ke tempat tidur.

Fauziah membuka bajunya lalu memakai gaun tidur. Gaun tidur yang lain dari kemarin. Memang Fauziah jarang tidur dengan gaun yang sama, oleh karena itu ia selalu membawa tas besar bila berpergian. Gaun tidur ini transparan di bagian perut dan bagian rok yang pendek, sementara untuk bagian payudara, walaupun transparan pada banyak bagian tapi pada bagian putingnya memiliki kain yang tidak transparan, sehingga tidak memperlihatkan putingnya. Hanya saja bagian dada yang ditutupi hanya setengah payudara, sehingga bulatan atas teteknya dengan belahan dada terlihat jelas. Untuk rok, walaupun transparan, tapi Fauziah memakai celana dalam berwarna merah sehingga tidak menunjukkan bulu jembutnya. Yang unik dari gaun ini adalah, gaun ini tidak punya tali lengan, melainkan jenis koloran.

Fauziah beralasan dalam hati bahwa ia sudah lama tidak pakai gaun ini. Gaun tidur yang mahal karena buatan luar negeri. Maka ia ingin memakainya. Padahal sebenarnya Fauziah berusaha menyangkal suara hatinya yang mengatakan bahwa tidak pantas memperlihatkan tubuh kepada anak tirinya dengan mencari-cari alasan pembenaran tindakannya itu.

Arjuna meneguk ludahnya ketika melihat Fauziah keluar kamar mandi. Tubuh Fauziah yang tinggi dan bahenol sungguh mengundang decak kagum. Walau memakai gaun tidur, namun gaun itu bukannya menutupi malahan menambah aksen keindahan tubuhnya. Arjuna jatuh cinta. Sebelumnya ia memang naksir Fauziah, tapi setelah tiga hari ia merasakan gejolak yang sama ia rasakan ketika ia melihat ibu kandungnya telanjang. Arjuna tahu, ini adalah cinta. Ia cinta ibu tirinya.

Fauziah menyadari bahwa hawa di ruangan tidak dingin lagi.
Dilihatnya AC mati. “Kok AC dimatikan?”

“Jun mau pilek, Ma. Ga apa-apa ya?”

Fauziah hanya mengangkat bahu tanda tak begitu peduli, lalu merebahkan diri di tempat tidur. Selimut bed cover tampak terlipat rapi di bagian kaki.
Arjuna melihat lirikan Fauziah ke selimut itu lalu berkata, “Kalo AC mati dan kita pakai selimut kan jadi panas.
Nanti keringatan.”

Fauziah mengangkat bahu lagi. Lalu menghela nafas, namun tidak berkata apa-apa.

“Mama Fauziah mau dipijat? Keliatannya capek banget.” Padahal, hari ini mereka tidak begitu capek. Fauziah pun tidak terlihat seperti orang yang letih. Bahkan cenderung tampak seperti orang yang sedang fit. Namun, Arjuna mengatakan ini sebagai testing untuk melihat reaksi Fauziah.

“Capek, sih. Tapi kamu kan juga capek?”

“Arjuna kan laki-laki.
Mama Fauziah kan perempuan. Lagian, kan Jun bisa pijit Mama sambil tiduran. Mama Fauziah membelakangi Jun.”

Fauziah menurut saja. Ia suka pijatan Arjuna. Setelah Fauziah membelakangi Arjuna sehingga mereka berdua berbaring miring searah, Arjuna mulai memijat perlahan bahu Fauziah. Fauziah mulai menikmati pijatan itu. Namun ada yang berbeda kali ini. Selain memijat, terkadang Arjuna mengusap dengan telapak tangan terbuka di bahu Fauziah.

Setiap kali Arjuna mengusap, maka bulu kuduk Fauziah merinding. Namun tak pernah Arjuna mengusap berturut-turut dua kali, melainkan hanya sekali lalu memijat lagi. Lama kelamaan Fauziah menikmati usapan itu juga. Ada kenikmatan lain yang ia rasakan ketika telapak Arjuna mengusap perlahan bahunya.

Tak sadar, sekali waktu Fauziah menggumam menunjukkan nikmat ketika Arjuna mengusap bahunya.

“Enak ya, dipijat kayak gini, Ma?”

Fauziah antara malu dan nikmat hanya menggumam setuju. Arjuna akhirnya kini mengusapi kedua bahu Fauziah. Arjuna begitu menikmati kulit licin bahu ibu tirinya itu. Licin dan halus sekali. Kulit yang sering dirawat di salon. Sekali waktu, jemari kanannya menyusup di bawah tali gaun tidur itu, kemudian ia mendorong sambil mengelus ke arah lengan kanan sehingga tali gaun tidur itu terlepas dari bahu dan jatuh ke lengan kanan.

Merinding tengkuk Fauziah ketika dirasakannya tali gaun sebelah kanan telah meninggalkan bahunya. Berhubung gaun itu tipis dan fleksibel, maka kini tali itu hampir menyentuh sikunya. Dengan gerakan sedikit, tali itu dapat terlepas dari tangannya. Berdebar dada Fauziah. Ini sungguh berbahaya. Seharusnya ini dihentikan. Tapi Fauziah sedang menghadapi dilema juga.

Namun, Jun kembali mengusapi bahunya. Tangan kanan itu bahkan kini membelai terkadang dengan jemari bagian atas, kadang dengan jemari bagian bawah.
Jelas sekali ini bukan pijat, tetapi sentuhan erotis. Fauziah menikmati sekali hal ini. Ia mengingat nikmatnya hubungan lelaki dan perempuan sehingga tak kuasa menolak.

“Sekarang Jun pijat tangan kanan Mama.” Jun lalu duduk. Fauziah menjadi kecewa ketika didapatinya Arjuna benar-benar memijat daerah lengan kanannya. Bukan membelai. Namun lama kelamaan ia merasakan tali gaun itu terdorong tangan kanan Jun sehingga mencapai siku.

Saat itu Arjuna berkata, “Sambungan siku bisa dibunyikan, lo.” Lalu dengan tangan kiri, Arjuna menarik lengan kanan Fauziah, namun tangan kanan Jun menahan tali gaun sehingga dalam satu gerakan cepat tali gaun itu lepas dari tangan Fauziah. Berdebarlah jantung Fauziah begitu tahu maksud Arjuna. Kini bagian kanan gaunnya tidak lagi ditahan bahu melainkan sudah terbebas. Untungnya karena tali gaun kiri masih nyantol, maka dadanya belum terekspos.

Arjuna masih belagak memijat tangan Fauziah.
Lalu berkata, “Balik badan, Ma. Yang sebelah kiri.”

Padahal kalau memijat beneran, seharusnya bagian bawah lengan dan telapak juga dipijit. Tapi Arjuna sudah tidak tahan. Fauziah memejamkan matanya lalu membalikan badan menghadap Arjuna. Arjuna memijat lengan kiri itu sebentar lalu dengan cara yang sama dengan tadi melepaskan tali gaun dari bahu dan tangan ibu tirinya.

Setelah memijat beberapa saat, Arjuna berkata, “Ma, balik badan lagi. Mau dipijit kepalanya.”

Fauziah sedikit lega. Karena dari tadi ia sudah merasa malu sehingga harus memejamkan mata sementara kedua tali gaunnya dilepas. Ketika sudah kembali berbaring miring, Fauziah merasakan Arjuna memijat kepalanya dengan kedua tangannya. Namun hanya yang kanan yang terasa memijat. Tangan kiri Arjuna tampak berusaha memijat namun dengan susah payah karena bagian kiri kepala Fauziah tertahan bantal.

“Susah, Ma. Coba duduk deh. Biar semua kepalanya bisa dipijat.”

Fauziah meneguk ludah. Arjuna ternyata pintar sekali mengajak perempuan untuk melakukan hal yang tabu tanpa membuat malu. Namun, Fauziah sudah mulai horny memikirkan semua perlakukan Jun padanya, apalagi ajakan pijat terselubung ini.

Fauziah duduk. Sementara tanpa sepengetahuan Fauziah Arjuna melepas sarungnya lewat kepala sehingga kontolnya bebas. Sementara itu lengan Fauziah tidak mengepit badan dengan harapan gaun tidur jatuh ke bawah, namun kedua payudaranya yang besar menahan gaun itu jatuh.

Arjuna tampaknya paham problem ini, maka setelah hanya beberapa menit pijat kepala, Arjuna segera berkata, “Sekarang punggung ya…”

Arjuna yang duduk di belakang Fauziah dengan leluasa mulai memijat punggung Fauziah . Sesuai dengan cara pijat yang benar, ia memijat dari bawah ke atas. Ia menggunakan teknik dua jempol yang menekan pinggir tulang pinggang dan menyusur ke atas secara bergantian. Namun tiap kali jempolnya menekan dan dilepas, ketika gerakan lepas itu bukan dengan menarik ke belakang, melainkan ke bawah sehingga sedikit menyeret kain itu ke bawah. Berhubung gerakan pijat itu cepat dan cukup kuat, maka ketika kedua jempol belum sampai tengah pinggang maka gaun tidur itu jatuh ke bawah dan berjumbel di pinggang.

Arjuna mencoba sabar dengan terus memijat ke atas sampai bahu. Namun, kalau biasanya tukang pijat akan mengulangi gerakan dari bawah ke atas menggunakan metode yang sama, kali ini ia malah kembali mengelus bahu Fauziah.
 
Fauziah merinding lagi kena belai di pundaknya. Apalagi ia merasakan usapan Arjuna mulai bergerak ke tengah punggungnya. Arjuna tahu-tahu menyusupkan tangan di bawah ketiak Fauziah sehingga telapak tangannya kini memegang pinggir kedua belah payudara Fauziah. Fauziah merintih pelan.

Arjuna yang mendengarnya berkata, “Pegalnya di sini, Ma.”

Lalu Arjuna mulai mengusap-usap gundukan samping payudara Fauziah yang besar itu. Fauziah mulai mendesah bagaikan baru makan rujak. Arjuna lalu merapatkan diri ke depan sehingga kini kedua kakinya di samping kedua kaki Fauziah dan kontolnya menyentuh punggung bawah Fauziah.

Merasakan kontol Arjuna di pinggangnya, Fauziah berkata, “Sssssh… Arjunaaaaa!”

“Wah… kayaknya pegalnya parah, Ma… tapi bukan di situ sumbernya…”
Dengan penuh nafsu Arjuna memeluk Fauziah dari belakang lalu kedua telapaknya meremas kedua payudara perempuan itu.

Fauziah mengerang, “Ohhhh… Juuuuun… Ssssssssssssshhhhhh…”

Arjuna menciumi punggung ibu tirinya yang harum itu sambil meremas kedua teteknya. Kedua telapak tangannya bahkan tidak bisa menggenggam secara penuh payudara yang bulat dan besar itu. Tubuh harum Fauziah sungguh halus dan licin.

“Jun sayang Mama…” kata Arjuna perlahan di antara kecupan-kecupan bibirnya yang menghujami punggung halus Fauziah, ”Jun harus mendapatkan Mama Fauziah…”

Lalu Arjuna menarik tubuh Fauziah hingga perempuan itu berbaring telentang. Gerakan Jun perlahan tapi pasti. Fauziah merasa di awang-awang. Saat ini, Fauziah merasa berada di suatu dataran yang penuh dengan erotisme. Segala sentuhan dari anak tirinya membuat dirinya di mabuk asmara. Fauziah baru menyadari bahwa ia telah jatuh cinta kepada Arjuna.

Memang, pertama kali ia melihat Arjuna ia hanya sekedar melihat bahwa Waluyo memiliki anak yang mirip dengan Waluyo muda. Walaupun tubuhnya masih belum setinggi dan sekekar ayahnya, Arjuna sudah memiliki postur tegap dan kekar. Wajah Arjuna mirip dengan Waluyo juga. Tetapi, kehangatan yang Arjuna miliki lebih besar daripada ayahnya. Bahkan, Waluyo dari dulu bersikap dingin. Hubungan seks yang mereka lakukan selalu monoton dan ada kesan Waluyo hanya melakukan kewajiban sebagai suami.

Sebaliknya, tiap kali Fauziah melihat Arjuna sedang bersenggama dengan salah satu isterinya, Fauziah dapat melihat ada sinar birahi yang menyala pada pandangan Arjuna. Dan Fauziah merasakan kecemburuan melihat betapa Arjuna dan isteri-isterinya begitu menikmati kebersamaan mereka. Ada pancaran kebahagiaan yang keluar dari ketiga manusia itu. Dewi, Annisa dan Arjuna selalu ceria dan tampak tidak ada kesusahan dalam hidup mereka.

Fauziah mulai melihat Arjuna bukan sebagai remaja, melainkan seorang lelaki yang dapat membahagiakan keluarganya. Arjuna begitu menyayangi kedua isterinya dan selalu mendahulukan kepentingan isteri-isterinya. Maka, mau tidak mau mulai tumbuh rasa kagum dalam diri Fauziah terhadap anak angkatnya itu.

Kini Fauziah telah berbaring di tempat tidur dengan tubuh setengah telanjang. Dadanya tersengal-sengal menahan nafsu karena menanti gerakan Arjuna. Arjuna tampak tidak tergesa-gesa. Anak itu tersenyum bahagia. Fauziah dapat melihat binar birahi yang meledak-ledak pada pancaran mata Arjuna yang menyebabkan Fauziah merasa bahagia. Akhirnya pancaran birahi itu kini ditujukan padanya.

Arjuna membuka sarungnya hingga telanjang. Tubuhnya yang mulai menunjukkan otot-otot kelelakian seakan menjanjikan kehangatan dan keintiman yang maskulin. Dengan perlahan Arjuna melorotkan gaun tidur ibu tirinya. Fauziah membantu dengan sedikit mengangkat pantatnya. Kini tubuh Fauziah hanya ditutup oleh celana dalam. Arjuna sejenak menikmati pemandangan ini.

Seorang perempuan keturunan Arab yang cantik, berkulit putih mengkilat dengan dada yang besar, yang karena besarnya dan kencangnya, kedua payudara itu tidak jatuh menggelayut ke samping melainkan tampak tegak menantang dan hanya tampak sedikit melebar ke samping dan melesak ke dalam, namun tetap menunjukkan lekuk bulat yang hampir sempurna. Payudara itu naik turun seiring dengan nafas yang memburu.

Akhirnya Arjuna melorotkan celana dalam Fauziah. Jembut yang rapi tercukur menghiasi selangkangan Fauziah. Bibir memeknya yang rapat tampak menambah kecantikan perempuan itu. Setelah mengagumi tubuh seksi ibu tirinya sesaat, Arjuna mulai menindih Fauziah dengan kepala sejajar sehingga kontolnya jatuh di bagian bawah perut Fauziah yang menyebabkan biji peler Arjuna menekan jembut ibu tirinya itu.

Ketika wajah mereka hanya tinggal kurang dari satu senti, Arjuna berbisik, “Mama Fauziah… Mau enggak jadi isteri Arjuna?”

Kedua mata Fauziah berkaca-kaca karena terharu dan bahagia. Dengan menahan sedikit isak, perempuan itu berkata, “Mama terserah mau diapain Arjuna…”

Dengan itu, Arjuna mengecup bibir Fauziah. Fauziah memeluk kepala anak tirinya itu dan Arjuna balas memeluk kepala ibu tirinya. Ciuman mereka dilakukan perlahan. Arjuna dapat menilai bahwa Fauziah orangnya ingin melakukan sesuatu dengan perlahan dan penuh erotis. Buktinya perempuan itu tak menunjukkan sikap ingin melakukannya dengan brutal seperti Annisa. Fauziah selalu merespon gerakan Arjuna dengan gerakannya sendiri yang juga pelan. Fauziah adalah jenis perempuan yang ingin menikmati sesuatu berlama-lama.

Mereka berciuman penuh dengan perasaan, tidak ada ketergesaan dalam gerakan mereka. Kedua bibir itu saling bertautan seiring seirama seakan mereka sedang bergerak mengikuti musik yang sama. Mereka memang sedang bermain musik, musik percintaan.

Lalu Arjuna mulai merambah mulut ibu tirinya dengan lidahnya. Fauziah yang merasakan lidah Arjuna menyapu-nyapu bibirnya, mulai mengimbangi dengan mengeluarkan lidahnya sendiri dan menyambut serangan lidah Arjuna. Keduanya saling menukar lidah, yang membuat birahi mereka makin meningkat.

Lama-kelamaan ciuman mereka makin hot dan liar. Suasana kamar yang panas karena AC dimatikan menjadikan tubuh mereka yang tadinya kering, mulai mengeluarkan peluh karena selain udara yang hangat, kedua tubuh yang berhimpitan itu masing-masing mengeluarkan panas tubuh yang semakin menjadi.

Bau tubuh Fauziah makin tercium jelas. Bau wangi Fauziah membuat kontol Arjuna berdenyut-denyut minta dimasukkan ke dalam lubang kenikmatan milik perempuan itu. Dengan tak sabar, Arjuna mengangkat tubuhnya, lalu menarik kedua kaki Fauziah ke samping. Arjuna duduk di bawah selangkangan ibu tirinya. Dibukanya bibir kemaluan ibu tirinya dengan kedua tangannya. Memek Fauziah tampak lebih rapat dari memek Dewi. Dan bagian dalam memek itu berwarna pink cerah dan mengeluarkan aroma wangi.

Arjuna menerjunkan kepalanya ke selangkangan Fauziah. Ia mulai menjilati memek yang belum pernah disentuhnya itu. Memek Fauziah demikian legitnya dan bisa dikatakan, lebih terawat daripada memek ibu kandungnya dan bahkan memek Annisa. Dewi adalah orang kampung, sementara Annisa adalah remaja perempuan yang tidak setelaten Fauziah dalam merawat kelamin. Mungkin juga Fauziah sudah mengajarkan cara merawat kemaluan, namun Annisa memiliki sifat yang tidak sabar dan ada sedikit watak liar dalam diri Annisa, sehingga Annisa tidak terlalu memperhatikan hal-hal seperti ini.
Arjuna merasakan memek ibu tirinya yang cantik itu dan memutuskan bahwa memek Fauziah, selain indah juga memiliki rasa yang paling nikmat kalau dibandingkan memek ibu kandungnya maupun kakaknya sendiri. Arjuna berfikir dalam hati bahwa menjilati memek Fauziah setiap hari, adalah salah satu hobby barunya yang akan ia lakukan seterusnya.

“Jun… cukup…” Kata Fauziah. Perempuan itu kini merasakan tubuhnya seakan disetrumi listrik yang nikmat, lidah Arjuna menggelitik memeknya dengan lahap yang membuat vaginanya itu kini sudah basah kuyup tersiram cairan vaginanya sendiri dan juga karena air liur dari mulut Arjuna.

Arjuna memang pintar menggarap daerah sensitif wanita, namun, Fauziah ingin lebih. Katanya lagi, “Masukin, Jun…”

“Masukin apa, Ma?”

“Masukin burung kamu…”

“Kontol Jun mau dimasukkin ke mana, Ma?”

Fauziah adalah perempuan pintar. Buktinya bisnisnya selalu berkembang menjadi lebih besar. Kini, Fauziah tahu bahwa Arjuna adalah lelaki yang suka berbicara jorok bila sedang bersenggama. Sungguh beda dengan Waluyo yang dingin itu. Maka kata Fauziah, “Masukin kontolmu ke dalam memek Mama, Jun… Mama udah ga sabar kamu entot…”

Arjuna nyengir bahagia. Ia segera menaruh kontolnya di lubang memek ibu tirinya itu. Fauziah yang tak sabar setengah bangung untuk meraih pantat anaknya itu lalu dengan kuat menarik pantat Arjuna, Arjuna merasakan tarikan itu ikut menambah dengan mendorong pantatnya ke depan.

Dalam satu gerakan panjang, kontol Arjuna ambles masuk ke dalam kemaluan ibu tirinya itu. Memek Fauziah sangat kencang. Walaupun tidak sekencang memek Annisa ketika pertama kali Arjuna setubuhi, namun memek itu lebih kencang dari memek ibu kandungnya. Arjuna mengerang keras merasakan kini kontolnya diselubungi oleh dinding lubang memek ibu tirinya yang rapat itu. Fauziah pun melenguh nikmat.

“Aaahhhhh… kontol kamu besar banget, Jun…”

“Oooohhhhhhhhhhh… memek Mama Fauziah juga rapat banget… nikmat.”

“Entotin Mama, Jun… entotin Mama…”

Arjuna sedikit mendoyongkan badan ke arah tubuh ibu tirinya yang sedang berbaring itu dan menaruh kedua tangannya di samping perempuan itu. Arjuna masih ingin menikmati pemandangan perempuan Arab yang seksi yang sedang telanjang dan bersetubuh dengannya, lalu Arjuna mengocok memek Fauziah dengan kontolnya. Fauziah mulai memutar pantatnya dan menggerakkan otot memeknya membuka menutup seakan meremas-remas kontol Arjuna sambil terus mendekap pantat remaja itu. Arjuna merasa nikmat sekali mengentot ibu tirinya itu. Matanya menatap kedua toket Fauziah yang basah oleh keringat yang terguncang-guncang mengikuti gerakan persenggamaan mereka berdua.

Maka Arjuna merubah posisi sehingga menggenggam kedua payudara ibu tirinya sambil terus mengocoki kemaluan Fauziah. Sambil meremas kedua tetek Fauziah yang besar, Arjuna terus menghujami liang senggama ibu tirinya dengan tusukan-tusukan kontolnya.

Fauziah sudah berada di surga ke tujuh. Sudah lama tidak ada lelaki yang menafkahinya secara batin. Kini memeknya sedang diaduk-aduk Arjuna dan kedua teteknya diremasi oleh anak tirinya itu. Sungguh Fauziah merasa bahagia sekali.

Kedua selangkangan mereka beradu berkali-kali sehingga menyebabkan terdengar suara tepukan selangkangan berkali-kali. Memek Fauziah yang basah kuyup terus mengeluarkan cairan pelumas. Fauziah dan Arjuna sedang menarikan tarian primitif mahluk hidup. Tarian pembuahan manusia. Tarian perkembang-biakan.

Arjuna kini setengah menindih ibu tirinya dan mulai menjilat dan menyedot payudara kanan ibu tirinya. Rasanya sedikit asin namun tidak dipikirkan lagi oleh Arjuna. Bau tubuh ibu tirinya kini seakan memenuhi benak Arjuna, membuat ia lupa akan segalanya. Yang menjadi satu-satunya hal di pikirannya adalah persenggamaan ini. Apalagi Fauziah adalah perempuan yang paling cantik di keluarga mereka. Paling seksi. Perut perempuan ini rata, tubuhnya yang besar tidak menunjukkan lemak yang berlebih, walau tidak berotot seperti model-model internasional. Namun, lekuk tubuh Fauziah dapat dibilang bagaikan perempuan di usia dua puluh tahunan saja. Hal ini adalah salah satu alasan kenapa Arjuna begitu ngebet ingin menggarapnya pula.

Fauziah merasakan lidah dan mulut Arjuna mulai menggagahi toketnya juga. Sementara tetek yang satu lagi tetap diremas-remas Arjuna. Remasan itu kini makin kuat saja terasa. Apalagi kontol Arjuna mulai bertambah cepat dan benturan selangkangan mereka makin lama makin menguat.
Fauziah meremas-remas rambut Arjuna sambil mendesah dan mengerang kenikmatan.

“Yeaaah… Isep tetek Mama, Jun… isepin sambil setubuhi Mama… entotin Mama terus, Jun… Mama mau nyampe nih… Kocokin memek Mama pake kontolmu yang besar itu, Jun… setubuhi Mama… setubuhi teruuuuus…”

Sambil menyedoti payudara ibu tirinya, sesekali Arjuna menimpali, “Tubuh Mama Fauziah enak… Mmmmmmmm… tetek Mama nikmat disedotin dan dijilatin… mmmmmmmmmmmmmm… Memek Mama rapet dan maknyuuuuuuuus…”

Fauziah sudah sebentar lagi akan orgasme, maka dengan brutal kini ia menarik pantat Arjuna kuat-kuat setiap kali Arjuna menyodok memeknya.
“Entot yang keras, Juuuun… Mama mau sampaiiiiiiiiiii… Yang keras nekannya… teruuus… jangan berhentiiii… Entotin Mama keras-keras… yaaaa… Begitu, Juuuuun… Mama mau sampeeeeee… Dorong kontolmu kuat-kuaaaaaaaaaaaaaaaaat…”

Kini Arjuna menindih ibu tirinya, sementara mulutnya sudah berhenti menjilat dan menyedot.
Mulutnya kini hanya mengenyot puting merah muda Fauziah keras-keras.

Dalam keharmonisan gerakan ngentot, mereka berdua akhirnya mencapai puncak kenikmatan.

“Arjuna sembuuuuuuuuuur memek Mamaaaaaaaaaaaaaaa… terima peju Arjuna, Maaaa… Arjuna mau hamilin Mamaaaaaaaaaaa…”

“Penuhi rahim Mama dengan peju kamu, Juuuuuuuuuuuuun… Mama sampeeeeeeeeee…”

Akhirnya Arjuna lemas dan tiduran masih menindih Fauziah.
Keduanya lemas setelah persenggamaan itu.

***

Semenjak saat itu, Fauziah menjadi salah satu isteri Arjuna. Tiga bulan kemudian ia hamil. Tidak ada pertentangan di keluarga, karena Fauziah adalah pencari nafkah bagi keluarga. Selain itu, Dewi dan Annisa juga sayang pada Fauziah sehingga rela berbagi dengan perempuan itu.

***

EPILOGUE

Pada bagian pendahuluan, aku telah mengatakan bahwa tidak ada orang yang tahu. Tetapi tentunya jadi pertanyaan, kenapa aku tahu? Aku adalah anak dari Arjuna dengan Annisa. Namaku Febri. Ayahku, Arjuna telah meninggal ketika aku berusia dua belas tahun. Itu terjadi lima tahun yang lalu. Kini, aku berusia tujuh belas tahun. Ayahku meninggal ketika dalam perjalanan ke Jakarta bersama Mama Fauziah. Sementara, kakekku Waluyo telah pindah dengan kekasihnya.

Aku tinggal bersama Bunda Dewi (baik Mama Fauziah dan Bunda Dewi tidak mau dipanggil nenek atau Oma), yang kini berusia 46 tahun, ibuku Annisa, 34 tahun, Kakakku, Ayu dari Mama Dewi yang berusia delapan belas tahun dan adikku, Ulfa, berusia 16 tahun. Ketiga isteri Ayahku tidak memiliki anak lagi, karena mereka KB dan takut kebanyakan anak.

Kembali ke pokok pembicaraan, aku tahu sejarah Ayahku karena aku memiliki pengalaman incest juga seperti ayahku itu.
Namun itu adalah cerita yang lain.
 
END PART 1

Author : Pemanah Rajawali

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar