Selasa, 31 Maret 2015

Ekspedisi Borneo



Satu jam kemudian, mereka tiba di suatu tempat terbuka yang di tengah-tengahnya ada pondok kayu, dengan cerobong mengeluarkan asap putih pucat. Beberapa potong pakaian yang sedang dijemur tampak mengepak-ngepak karena tiupan angin lembut. Namun penghuni pondok itu tidak kelihatan.

Sebelumnya mereka selalu menghindar jlka menemui rumah petani, tapi kali ini Erick mengangkat tangan sebagai isyarat untuk berhenti. Para anggota rombongan segera menurunkan barang bawaan masing-masing, lalu duduk di rumput. Tak sepatah kata pun diucapkan.

Minggu, 29 Maret 2015

Penebus Kesalahan



Ketika Amelia berangkat kerja pagi itu, tampaknya semua akan berlalu seperti biasanya. Rama, suaminya, masih tertidur pulas setelah diberinya jatah sehabis subuh tadi. Kebetulan hari ini laki-laki itu tidak ada jadwal mengajar, maka bisa tidur sampai siang.

Amelia bersenandung kecil ketika meluncur ke garasi untuk mengeluarkan mobilnya. Perempuan blasteran Jepang-Indonesia itu masih nampak cantik di usianya yang sudah menginjak 40 tahun. Bekerja sebagai supervisor senior di sebuah perusahaan asing, Amelia bercita-cita untuk mengejar karirnya menjadi manajer pemasaran, karena itulah ia selalu berangkat pagi dan berusaha mengerjakan semua tugas-tugasnya dengan baik.

Sabtu, 28 Maret 2015

Ibu Yang Pura-pura 3



Joko terbangun karena sinar matahari sore menyeruak masuk dari jendela kamar itu, matanya yang masih terasa berat mencari-cari ibunya yang sudah tak ada di sampingnya.

"Ibu sudah bangun rupanya," pikir Joko, selangkangannya terasa lengket karena setelah persenggamaan hebat tadi ia tidak ke belakang untuk mencuci burungnya. Joko bangun dan memakai bajunya, ini kamar ibunya, jam dinding sudah pukul 3. Lamat-lamat Joko mendengar perbincangan perempuan dari ruang tamu. Joko bangun, suara tamu itu seperti dia kenal.
 
"
Kaya suara ibunya Dirgo," pikir Joko, ia menyibakkan kelambu yang menjadi pembatas ruang tamu dan ruang tengah.

Kamis, 26 Maret 2015

Saat Kesepian



Hari yang panas. Angin bertiup kering, menyaput awan yang malasan-malasan bergerak. Daun-daun berguguran mengotori jalanan komplek yang cukup lengang. Sinar matahari terasa menyilaukan, karena itulah Magdalena malas sekali keluar. Apalagi saat ini dia sedang... terangsang!!
.
Niki Liandi, suaminya, tidak ada di rumah. Lelaki itu sudah sedari tadi pergi ke kantor dan baru akan pulang saat malam nanti. Padahal saat ini Magdalena benar-benar ingin mendapatkan sebuah sentuhan, sesuatu yang sangat jarang ia dapatkan dari Niki meski mereka terhitung masih pengantin baru. Sudah hampir 4 hari ia tidak berhubungan seks dengan suaminya dikarenakan kesibukan Niki yang bejibun, bahkan sekedar mendapatkan ciuman pun ia tidak sempat karena Niki selalu pergi dengan terburu-buru.