Rabu, 23 Juli 2014

Rumah Kontrakan 12



Setelah hari itu, hubunganku dengan Mitha menjadi semakin akrab, kalau tidak mau dikatakan berpacaran. Memang tidak ada yang nembak duluan, namun setiap kali kami bertemu, pasti tidak luput spermaku mampir di memek, perut ataupun mulutnya. Lebih dari sekedar berpacaran bukan? Sementara dengan Siska dan Ece Geulis, aku juga masih tetap sama. Dengan adil aku berusaha memuaskan kedua wanita itu, meski sudah tidak bisa sesering dulu karena sekarang sudah ada Mitha.

Mitha sendiri tampak tidak keberatan, ia seperti berusaha menutup mata dengan segala tingkah lakuku. Yang penting aku tetap mencintainya, begitu dia berkata saat kutanya alasannya. Iya, Mith, kamulah satu-satunya cintaku. Siska dan Ece hanya tempat pelampiasan nafsuku. Kepada kamulah kutitipkan hatiku.

Senin, 21 Juli 2014

Tutur Tinular 3



Hak cipta © Buanergis Muryono & S.Tidjab

Sementara itu perjalanan Pranaraja dan dua prajurit bawahannya sudah sampai di wilayah Kurawan. Mereka telah melewati tugu pembatas desa. Mereka melihat seorang lelaki tua sedang membetulkan saluran air di sawahnya. Jarawaha mengarahkan kudanya ke dekat lelaki tua itu yang sibuk membenahi pematang saluran air.

"Hei, Pak Tua! Kau tahu di mana rumah Mpu Hanggareksa?" seru Jarawaha tanpa turun dari punggung kudanya.

Lelaki tua itu tidak menjawab, sebaliknya ia mengomel karena saluran air yang menuju sawahnya telah jebol. "Huuuh! Siapa yang memotong saluran airku ini? Dasar maling!"

Minggu, 20 Juli 2014

Mature Ass And Pussy



Seorang pemuda ditinggal pergi orang tuanya bekerja ke luar negeri selama beberapa bulan. Tanpa disangka, orang tuanya meminta kepada ibu rumah tangga di sebelah rumah mereka untuk merawat pemuda tersebut. Bagaimanakah jadinya bila seorang wanita cantik dan seksi hanya berada berdua saja dengan seorang pemuda yang sudah sejak lama menginginkan tubuhnya? Simak dalam komik berikut.

Sabtu, 19 Juli 2014

Terjebak Nostalgia 3



Episode 7
Love! Fool

2,5 tahun yang lalu...

5 Bulan berlalu setelah kejadian di rooftop tempo hari. Lama aku menunggu, menanti Liz membuka hati, hingga akhirnya di acara Tahun Baru, aku kembali memberanikan diri.

Waktu itu bulan Januari, 2011. Tepat di pergantian tahun, di antara kilauan kembang api, Liz mengangguk ketika aku kembali memintanya jadi pacarku. Kali ini dia tersenyum cerah, memelukku erat-erat di bawah langit yang dipenuhi ribuan cahaya.

Kamis, 17 Juli 2014

Pengantin Baru 8



Aku membuka mataku pelan. Setelah menguap beberapa kali, kulirik tempat di sampingku. Kosong… tidak ada Ferdi di sana. Kemarin sore ia harus ikut Papa untuk pergi ke pulau Bali. Pagi pertamaku tanpa dia ada di sisiku. Aaaaarrrgh… Entah kenapa rasanya sangat menyebalkan. Jadwalku menjadi kacau sekarang. Yeah, seperti yang kalian tahu bagaimana rutinitas pagiku. Membuka mata, menatapnya lalu mengambil kamera dan memotretnya. Setelah itu terjadi pertengkaran kecil dan berakhir jika salah satu dari kami masuk ke dalam kamar mandi atau pergi ke dapur.

Tapi sekarang? Aku tidak bisa menatapnya, memotretnya bahkan bertengkar dengannya. Ahh… aku benci keadaan seperti ini. Kulirik ponselku di samping bantal. Kuambil benda itu
dan mengeceknya. Tidak ada satupun pesan darinya. Apa aku harus menelponnya? Kurasa tidak, ia akan lebih senang jika tidurnya tidak diganggu.