Selasa, 16 September 2014

Perempuan Berbibir Tebal



Mengendap-endap bak maling jemuran, aku merapat ke dinding rumah sebelah.  Persis di samping jendela yang tertutup horden biru laut. Sudah tak sabar rasanya mendengar suara perempuan berbibir tebal, tetangga baruku.  Entah setan mana yang nongkrong di batok kepalaku hingga suara cemprengnya terdengar begitu  mendayu-dayu.  Tapi aku suka.  Jauh lebih suka ketimbang mendengar repetan istriku yang mengalahkan petasan.  Aku menunggu sekian detik. Terdengar suara sendok beradu dalam cangkir.

“Sayang, wajahmu pucat sekali. Apa kau sakit?”

Nah, itu dia suara yang kutunggu-tunggu. Bukan, dia bukan berbicara denganku, tapi dengan suaminya yang pesakitan dan cuma duduk di kursi roda. Jelas tidak gagah seperti aku. Tapi perempuan berbibir tebal itu selalu lemah lembut melayaninya. Sedang istriku? Hah, sehari saja dia tidak meledak, mungkin aku bisa tidur seharian. Tapi ini, oh no!  Hal sepele bisa mengundang amukannya. Menaruh handuk di tempat tidur sehabis mandi?  Itu namanya menabuh genderang perang. Koran tidak dirapikan sehabis membaca?  Wow, alamat ada ceramah mendadak.

Senin, 15 September 2014

Pendekar Romantis 4



Author : Tabib Gila

Episode 2 - Rahasia Lembah Terlarang

1. Asmara Dua Sejoli

Di depan sebuah gua, diantara dua batu besar seukuran manusia duduk bersandar seorang  pemuda berwajah tampan sambil matanya menatap ke atas. Malam tidak hanya diterangi sinar bulan yang bulat dan kuning, tetapi juga jutaan bintang yang tersebar dan berkelipkelip taburkan sinar terangi di heningnya malam. Langit seperti kubah berlampu menaungi suasana sekitar gua tersebut yang sepi dan tenang.

Letak gua tersebut kira-kira berada di ketinggian beberapa puluh kaki di atas permukaan lembah. Sambil duduk bersandar pemuda tersebut dapat melihat keseluruhan lembah itu. Jalan yang menuju ke sana kecil, terjal dan tersembunyi, apabila tidak hati-hati bisa terperosok jauh ke bawah.

Sabtu, 13 September 2014

Buruk Sangka



Ruang tamu Aminah penuh sesak oleh ibu-ibu anggota tahlilan mingguan. Sebelum acara dimulai, seperti biasa mereka kasak-kusuk saling berkicau mengobrolkan hal-hal tak penting. Kali ini pembicaraan mereka terpusat pada Suliha, juragan toko kelontong, yang ditengarai memiliki resep khusus agar cantik mendadak. Suliha yang jadi bahan kekaguman orang-orang sekitarnya duduk kaku sok melamun, padahal telinganya bergerak-gerak kala menangkap bisik-bisik pujian dari dua ibu di sebelahnya.

Aku sendiri asyik mendengarkan hipotesis Yarni dan Nurtini. Sebagai orang yang tahu keseharian Suliha -keduanya jadi pramuniaga di toko Suliha- mereka berkoar-koar memaparkan resep ajaib kemulusan kulit juragannya. Ibu-ibu yang menyimak -termasuk aku- terbengong-bengong sampai tanpa sadar mulut kami terbuka.