Rabu, 26 Agustus 2015

Wasiat Harta Warisan 7



Disadur dari Tuan Tanah Kedawung karya Ganes TH.

Demikianlah sebuah kisah panjang yang dituturkan oleh Nyi Londe kepada Giran, putra sulung Tuan Tanah Kedawung yang mendengarkannya dengan penuh perhatian.
“Begitulah kejadian sesungguhnya yang melanda keluarga besar ayahmu, Giran. Kini terserah kepadamu, mau percaya atau tidak. Yang pasti tugasku kini sudah selesai.” Kata Nyi Londe sambil bangkit dari tempat duduknya.
Pemuda ini terpaku, termenung dalam kebisuan. “Peti pusaka itu telah selamat jatuh ke tangan pewarisnya yang berhak. Kukira Ratna dan Samolo pun tidak perlu ucapan terima kasihmu, andai pun kau mau mempercayai semua kenyataan itu secara jujur. Yang penting bagi mereka cumalah pengertian darimu. Karena betapa pun mereka telah banyak menderita, sengsara, bahkan terlalu banyak, Giran!” sambung pengasuh ini tanpa bermaksud membujuk.

Selasa, 25 Agustus 2015

Pulau Dosa 2



CHAPTER 04 : WELCOME TO PULAU DOSA

Edi adalah orang terakhir yang memasuki ruang tengah kapal Noda Dosa pagi itu. Pemuda beramut ombak itu menggosok-gosok matanya sebelum mengambil piring yang telah disediakan di sudut ruangan.
“Jadi kalian sudah melihat rekamannya?” Aryosh yang baru saja menyelesaikan sarapannya bertanya kepada Enyas.
“Kita sedang makan, Yosh,” Asri memandang kesal ke arah Aryosh. Gadis itu merasa sedikit mual saat Aryosh menyebut tentang rekaman yang mereka terima di kamar masing-masing.
“Ada gambaran, Nyas?” Aryosh bertanya lagi, mengabaikan Asri yang melotot ke arahnya.
“Masih samar,” jawab Enyas sambil meletakkan sendok dan garpunya. “Kita masih butuh banyak sekali petunjuk.”
“Setidaknya ada satu tugas yang mudah, kan?” Nurul yang berada di meja lain ikut menanggapi pembicaraan. “Yah, setidaknya aku sudah menyelesaikan tugas pertamaku,” gadis itu terlihat bersemangat.

Minggu, 23 Agustus 2015

Rumah Kontrakan 14.

Sudah hampir pukul sebelas ketika aku pulang malam itu. Badanku capek sehabis kerja seharian, jadi aku tidak berniat untuk mengunjungi salah satu dari Ece, Siska, maupun Mitha. Aku ingin langsung tidur malam ini. Besok aja kembali kugumuli mereka satu per satu.
Aku melangkah pelan menuju kontrakan. Sebagian besar rumah sudah terlihat gelap, semua penghuninya sudah pada tidur, bahkan termasuk juga rumah Siska.  Hanya ada satu cahaya yang memancar menerangi jalan, dari rumah Ece. Lagi apa dia malam-malam begini?
Tapi aku tak berniat untuk mencari tahu. Maka sambil berjalan mengendap-ngendap, diam-diam aku melangkah mendekati pintu rumah dan berusaha memasukkan kunci tanpa suara. Namun sepertinya aku memang ditakdirkan untuk tak bisa langsung istirahat malam ini karena belum sampai pintuku terbuka, seseorang menyapaku ramah.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Tukang Sampah dan Gadis Amoy Belia 2



Selesai bersiap-siap, aku mendekati Fanny, sepertinya dia masih lemas akibat pencapaian orgasme pertama dalam hidupnya. Aku pun mulai bergerak tanpa memberikannya waktu lebih untuk beristirahat karena lekas ingin melanjutkan pemerkosaan ini.
"Sekarang giliranmu memuaskanku ya, cantik..." Kubuka perlahan celana dalamnya.
Baru kutarik sedikit celana dalamnya turun sekitar 4cm, hampir mempertunjukkan apa yang paling ditutupinya dan dirahasiakannya selama ini, namun tiba-tiba Fanny langsung berteriak dan menutupi bagian intimnya tersebut dengan tangannya yang terikat.
"Jangaaaaann...!!" Dia berusaha menarik kembali celana dalamnya ke atas.
Aku langsung marah besar, kutampar dia dengan keras. Plaaakkk...!!! "Dengar, lonte kecil, jangan egois kamu... kamu sudah aku puaskan tapi masih sombong rupanya," kataku memarahinya.

Kamis, 20 Agustus 2015

Ketika Iblis Menguasai 8



Ustadz Mamat dan Iparnya

Ustadz Mamat bersiap-siap untuk pulang ke desanya di hari Jum'at itu. Sudah beberapa hari ini ia uring-uringan karena Murtiasih, murid kesayangan sekaligus juga simpanannya, sedang sakit sehingga tidak masuk sekolah. Selain itu kedua murid lainnya yang genit dan terkadang dapat dijadikan pengganti Murtiasih di ranjang, yaitu Sumirah dan Rofikah, agaknya lebih asyik dengan dua pejantan lainnya yang telah merenggut kegadisan mereka, yaitu pak Jamal dan pak Fikri.
Kedua pejantan dan kedua pelajar madrasah itu telah terbuai dan tenggelam di dalam lumpur kemaksiatan, sehingga mereka sama sekali tak tertarik untuk menggoda guru mereka yaitu ustadz Mamat. Mereka bahkan saling bertukar dan bergonta-ganti pasangan tidur - tak kalah dengan kehidupan seks selebs di kota besar. Karena itu ustadz Mamat merasakan kekeringan dan berharap agar week-end ini bisa pulang ke desanya untuk menagih jatah kepada istrinya sendiri, yaitu Aida.