Kamis, 29 Januari 2015

Silent Rose Series 5



Case 4 : End of Silence bag.2

Lagu klasik Beethoven mengalun lembut memenuhi ruangan kafe tersebut. Seorang gadis cantik, Evangeline Irene tampak sibuk dengan remote TV di tangannya. Gadis cantik itu mengganti channel televisi berkali-kali, kebosanan tampak jelas di wajah cantiknya.

“Kau tidak akan menemukan nama Ian disebut di televisi,” Mr. Wise berkomentar dingin, jari-jarinya sibuk membersihkan beberapa gelas kaca. “Kau harus bersyukur namanya tidak disebutkan.”

Selasa, 27 Januari 2015

Para Pencari Kenikmatan


Musholla itu tepat berada di tengah-tengah kampung, terbuat dari bata yang diplester sederhana dan beratap rendah. Kebanyakan rumah-rumah warga berdiri sana, mengitarinya bagai musholla itu adalah pusat segalanya. Sikap kekeluargaan antara warga masih kuat. Jika salah seorang warga ditanya, apakah mengenal si A, artinya sama saja menanyakan saudara atau kerabat dekat, atau teman akrab. Semua orang saling mengenal dan hidup berdampingan dalam damai.

Bang Jack bangun dengan badan segar bugar. Ia bangkit dari peraduannya, dari sebuah karpet tipis milik musholla yang tidak terpakai. Dipandanginya jam dinding yang terpaku di pintu kayu. Sudah saatnya ia menjalankan tugasnya. Dengan mengenakan celana panjang dan kain sarung yang dililitkan di pinggang, Bang Jack berjalan keluar untuk mengambil air wudlu. Selanjutnya ia mulai menyapu musholla sembari menunggu waktu shubuh tiba.

Senin, 26 Januari 2015

Ochi, Kakakku yang Seksi 2


Beberapa hari berlalu, kakakku tidak pernah lagi menggodaku secara sadis seperti waktu itu. Pernah aku mencoba memintanya lagi pada kak Ochi, tapi ditolaknya. Ya.. aku tidak mau juga sampai terlalu memaksanya, termasuk mengulangi perbuatan kurang ajar menyemprot wajahnya diam-diam seperti waktu itu. Aku takut nanti hubungaan kami malah rusak. Hmm.. ambil aja positifnya, kalau keseringan onani gara-gara dia bisa-bisa makin menonjol tulang lututku ini, hehe… Meskipun begitu, dia masih seperti biasa hanya mengenakan pakaian seadanya kalau di dalam rumah, termasuk bila ada teman-temanku.

Bila aku betul-betul tidak tahan melihat penampilannya, terpaksa aku hanya onani sendiri di kamar atau di kamar mandi. Sampai saat ini juga masih kak Ochi yang menjadi prioritas objek onaniku, soalnya masih belum ada yang lebih hot dari dia sih, hehe..

Sabtu, 24 Januari 2015

Ibu yang Berpura-pura 1

Bangun pagi seperti biasa, Joko masih malas-malasan di tempat tidur. Lamat- lamat didengarnya suara denting alat dapur, "Ibu," pikir Joko sambil tersenyum.

Belakangan ini Joko sering memperhatikan ibunya. Hal itu bermula ketika Joko tak sengaja melihat ibunya yang sedang ganti baju di kamarnya. "Ternyata ibu gede banget susunya."

Sejak saat itu Joko selalu curi-curi kesempatan untuk melihat tubuh ibunya. O iya, Joko masih kelas 2 smu. Tinggal d sebuah desa yang cukup jauh dari kota. Sumini, ibunya, sudah janda sejak Joko kelas 4 SD. Ayah Joko meninggal karena demam berdarah, meninggalkan sawah luas yang cukup bahkan lebih untuk makan dan kebutuhan sehari-hari mereka berdua. Ibu Joko tergolong cantik, agak gemuk dengan pantat bulat dan dada besar, dari kutang yang pernah Joko lihat berukuran 38. Banyak yang naksir juga tapi Sumini selalu menolak halus dengan alasan bahwa dia sudah tenang hidup berdua dengan anaknya.