Jumat, 19 Desember 2014

Ochi, Kakakku yang Seksi 1



Namaku Fadel, sejak SMA aku tinggal berdua bersama kakak perempuanku Rosi yang biasa kupanggil kak Ochi di sebuah rumah kontrakan. Sedangkan orangtuaku tinggal di kota yang berbeda karena urusan bisnis. Saat ini aku masih kelas 2 SMA sedangkan Kak Ochi sudah kuliah semester tiga. Menurutku kak Ochi cewek yang sempurna, sudah cantik, baik lagi. Idaman semua cowok deh pokoknya, termasuk aku, adeknya, hehe..

Setahuku kak Ochi sekarang sedang jomblo, soalnya dia tidak pernah bilang kalau dia sudah punya pacar lagi sejak putus dengan mantan pacarnya dulu. Soalnya kalau ada apa-apa dia biasanya sering curhat padaku, bahkan sampai ngomongin urusan kuliahnya yang tentu saja aku tidak paham.

Rabu, 17 Desember 2014

Rumah Kontrakan 13



Paginya, Ece masuk ke kamar dengan memakai baju daster yang sangat minim. Bulatan payudaranya seperti mau tumpah saja karena saking ketatnya pakaian itu. Aku yang awalnya masih ngantuk, kontan langsung melek karena tertarik. Tapi badanku juga terlalu capek untuk melayaninya setelah semalaman main dengan Mitha. Maka aku pun berguling untuk sedikit menyembunyikan tonjolan penisku yang ngaceng setiap pagi.

“Heh, ayo bangun. Sudah siang,” Ece berjalan ke tempat tidurku dan dengan satu gerakan cepat menarik selimut yang aku pakai. Mau tidak mau, penisku pun jadi terekspos dengan jelas. Segera aku berusaha menutupinya dengan menggunakan tangan.

Ece tersenyum melihatku yang tidur telanjang dan langsung mengulurkan tangan untuk menepuk-nepuk penisku sambil berbisik, “Kayaknya inimu perlu diurus deh,”

Senin, 15 Desember 2014

Gadis Kontrakan 4



Hidangan Utama

Edwin masih terbaring di ranjang di kamar Okta. Kakinya dibiarkan terjulur ke bawah, menampakkan penis perkasanya yang sudah menggagahi dua cewek sekaligus dalam satu hari. Sekarang, penis itu sedang menunggu hidangan utama yang masih berada di kamar mandi, yaitu dua daging legit vagina milik Okta.

Setelah menyetubuhi Hani si memek kecil dan Arina si jilbab binal, dan kini sedang menunggu Okta si lonte semok, Edwin merasa sangat senang. Ia sama sekali tidak menyesal melepas keperjakaannya di jepitan dua (sebentar lagi tiga) wanita-wanita cantik dan seksi tersebut. Ia jadi teringat saat ia hampir saja melepas keperjakaannya di jepitan vagina pacarnya, Via. Ia yang saat itu sedang menggarap kelamin pacar pendiamnya dengan lidah itu tidak menyangka bahwa Via begitu ‘lemah’ sehingga orgasme pertama yang terjadi langsung membuat Via kehilangan tenaga, padahal saat itu penis Edwin yang sudah tegang siap memberi nuansa lebih di lubang surgawi gadis manis yang sudah dipacarinya selama 3 tahun itu.

Sabtu, 13 Desember 2014

Silent Rose Series 4



Case 4 : End of Silence bag.1

Ian terdiam memandangi tempat dimana dia berada saat ini, terduduk di sebuah kursi single seat sofa yang cukup nyaman berwarna senada dengan sebuah coffee table di depannya.
Dinding-dinding ruangan itu dilapisi wallpaper bermotif daun maple berwarna krem lembut. Beberapa perabot disekitarnya cukup mewah. Sebuah lemari es kecil di bawah televisi plasma tiga puluh dua inci berwarna hitam. Dia berada di sebuah kamar hotel, suasananya cukup nyaman. Satu hal yang tidak membuatnya nyaman adalah kedua tangannya yang terbogol di kedua pegangan kursi.

Di kamar yang berada selisih tiga kamar dari tempat Ian berada, beberapa petugas kepolisian tampak sibuk. Beberapa diantaranya berseragam, beberapa mengenakan sarung tangan karet di tangannya. Garis kuning kepolisian tampak membentang di pintu masuk kamar tersebut. Dean mengamati tim forensik yang tengah memeriksa isi ruangan tersebut, tidak jauh dari tempatnya berdiri Rio tampak asyik memeriksa sisi kamar dekat jendela, sesekali Rio melongokkan kepalanya ke luar jendela.