Minggu, 27 Juli 2014

Mom And Son Love



Kazuki hanya tinggal berdua dengan ibunya. Mereka begitu akrab, hingga tanpa sungkan Kazuki meminta sesuatu yang menarik pada ibunya. Perempuan yang masih kelihatan cantik dan seksi itu sama sekali tidak bisa menolaknya, apalagi saat melihat wajah manis Kazuki yang ternyata begitu menginginkannya.

Sabtu, 26 Juli 2014

Ketika Iblis Menguasai 2



Di sebuah rumah sederhana di daerah pinggiran Kotamadya Bandung…

“Maaf ya, Farah, bukannya kami tidak mau menerima hasil karyamu. Karyamu selalu bagus, kok. Tapi mengertilah, kami sedang dalam kesulitan keuangan. Kami memutuskan untuk sementara memproduksi novel-novel remaja yang bertemakan kisah cinta yang lebih laris di pasaran. Mungkin suatu saat kami akan menerbitkan novelmu, harap bersabarlah. Ditunggu saja ya, pasti akan datang kesempatan.” demikian suara lelaki di ujung telepon yang terdengar agak kurang sabar itu.

“Iya kok, pak. Saya mengerti, terima kasih lho sebelumnya atas perhatian Bapak. Assalamualaikum,” terdengar suara perempuan merdu namun terasa memelas.

Jumat, 25 Juli 2014

Carpe Diem 1



Sore hari, matahari masih malu-malu tertutup awan yang memang seharian tak beri kesempatan untuk bersinar. Yah, ini adalah hari pertamaku di kota ini, setelah dua hari lalu dikontak seoran klien untuk redesign sebuah rumah lama.

Bangunan ini sebenarnya masih tampak gagah, secara struktur masih bagus. si empunya, seorang tua, melihat rumah yang selama ini disewakan untuk kamar kos, melihat peluang bisnis baru dengan merubahnya menjadi wisma atau guest house.
 
Setelah melewati bebrapa perbincangan via telepon dan tukar menukar informasi lewat email, akhirnya sampailah aku di sini.

Aku freelance, bukan sarjana, tapi aku sering dibanggakan sebagai arsitek yang jeli. Memang banyak karya interior maupun eksterior bangunan yang kudesain dan hampir semua diapresiasi bagus oleh klien. Kenapa freelance? Well, selembar kertas tanda kelulusan memang tak kupunyai akibat berbagai persoalanku di kampus dahulu. Dan selembar kertas itulah yang merubah arah hidupku.

Rabu, 23 Juli 2014

Rumah Kontrakan 12



Setelah hari itu, hubunganku dengan Mitha menjadi semakin akrab, kalau tidak mau dikatakan berpacaran. Memang tidak ada yang nembak duluan, namun setiap kali kami bertemu, pasti tidak luput spermaku mampir di memek, perut ataupun mulutnya. Lebih dari sekedar berpacaran bukan? Sementara dengan Siska dan Ece Geulis, aku juga masih tetap sama. Dengan adil aku berusaha memuaskan kedua wanita itu, meski sudah tidak bisa sesering dulu karena sekarang sudah ada Mitha.

Mitha sendiri tampak tidak keberatan, ia seperti berusaha menutup mata dengan segala tingkah lakuku. Yang penting aku tetap mencintainya, begitu dia berkata saat kutanya alasannya. Iya, Mith, kamulah satu-satunya cintaku. Siska dan Ece hanya tempat pelampiasan nafsuku. Kepada kamulah kutitipkan hatiku.

Senin, 21 Juli 2014

Tutur Tinular 3



Hak cipta © Buanergis Muryono & S.Tidjab

Sementara itu perjalanan Pranaraja dan dua prajurit bawahannya sudah sampai di wilayah Kurawan. Mereka telah melewati tugu pembatas desa. Mereka melihat seorang lelaki tua sedang membetulkan saluran air di sawahnya. Jarawaha mengarahkan kudanya ke dekat lelaki tua itu yang sibuk membenahi pematang saluran air.

"Hei, Pak Tua! Kau tahu di mana rumah Mpu Hanggareksa?" seru Jarawaha tanpa turun dari punggung kudanya.

Lelaki tua itu tidak menjawab, sebaliknya ia mengomel karena saluran air yang menuju sawahnya telah jebol. "Huuuh! Siapa yang memotong saluran airku ini? Dasar maling!"